HTI

Sebenarnya, kenapa sih kita girang sekali Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan? Mereka ngapain? Angkat senjata? Mengganggu keamanan? Mereka kan cuma organisasi yang tak punya kekuatan politik apa-apa, kok kita harus keder? Apa justru tak lebih mengganggu, ormas-ormas yang suka membubarkan acara orang lain itu? Atau karena mereka meracuni generasi muda dengan ideologi anti-Pancasila? Memangnya ideologi bisa dibunuh dengan pembubaran? Kira-kira, pesan apa yang ingin disampaikan negara sebenarnya?

Jangan salah paham, saya tidak berminat sedikit pun membela fasis semacam HTI. Namun, bukan berarti kita lantas mengglorifikasi apa yang dilakukan oleh negara. Yang sedang terjadi dalam masalah tersebut sejatinya hanyalah fasisme negara melawan fasisme HTI. Dua-duanya sama fasisnya, sama buruknya, sama-sama harus ditolak. Fasis yang baik adalah fasis yang mati.

Namun, membubarkan HTI tak akan menghapuskan fasisme mereka. Organisasi boleh bubar, tidak gagasannya. Mereka tinggal ganti nama dan tetap bisa bergerak bebas di akar rumput. Pembubaran oleh negara justru akan membuat mereka semakin heroik di mata penggemarnya. Tak mungkin negara tidak tahu soal itu. Kalau ketakutan kita cuma soal gagasan mereka yang mengancam Pancasila, dasar negara macam apa yang gampang sekali terancam? Lagian, apa yang sudah kita lakukan untuk membendung gagasan mereka? Mereka mengorganisir diri, kita ngapain? Bikin status Facebook?

Gagasan, mi amor, cuma bisa dilawan dengan gagasan. Dengan pendidikan. Dengan pemahaman. Kalau gagasan mereka dianggap berbahaya, sebenarnya gagasan apa pun bisa dianggap berbahaya oleh negara. Mainkan saja isu komunis. Apa pun tuntutan kita, dari perkara HAM, kelayakan upah, hingga diskusi akademik, juga gampang saja dibubarkan.

Kita menolak sawah kita diserobot untuk pembangunan bandara baru? Mainkan saja isu komunis, kita sudah bisa digulung karena anti-Pancasila. Kita mau menuntut kebebasan pers di Papua? Mainkan saja isu separatis, kita akan diciduk Babinsa karena anti-NKRI. Alasan bisa dibuat. Apalagi di negeri yang masyarakatnya bersumbu pendek, gampang disulut isu-isu sektarian, komunistofobik, dan NKRI harga mati. Gampangnya: jangan macam-macam, kalian juga bisa kami bubarkan. Mau kiri atau kanan.

Ormas-ormas yang melarang diskusi buku, yang komunistofobik, yang menolak pendirian rumah ibadah agama lain, yang membubarkan perayaan agama lain, yang suka tawuran berebut lahan parkir, yang memalak warteg-warteg, mereka justru lebih mengganggu ketimbang HTI. Mereka lebih berbahaya karena sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan sebagai proxy oleh siapa saja untuk menghantam kita. Toh kita nyaman-nyaman saja dengan ormas-ormas itu.

Dan barangkali sekarang kita begitu girang HTI dibubarkan hingga melupakan ketimpangan sosial, terpenuhinya hak-hak publik, eksploitasi alam oleh korporasi ekstraktif, korupsi e-KTP baru-baru ini, penggusuran dan perebutan ruang, pendidikan murah, dan masalah-masalah lain yang lebih riil dan mendesak.

Kita tak semestinya memuja fasisme satu hanya karena ia telah memangsa fasisme yang lain. Sesat pikir semacam itu yang justru akan menjadi kanker bagi demokrasi. Kehebatan demokrasi, mi amor, adalah justru karena ia harus tetap berlaku demokratis bahkan bagi lawan-lawan yang ingin membunuhnya. Dan kalau tiap hari teriak-teriak demokrasi tetapi girang dengan fasisme negara cuma karena tak suka dengan fasisme HTI, ya berak sekebon saja!