Dari Ratusan Hujan yang Kusaksikan

Hujan, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menikmati dan memaknainya. Rintik air yang jatuh terkadang memberikan rasa damai. Namun, suaranya terkadang juga meninggalkan sedih yang mendalam. Bagiku, hujan bisa sesadis lagu Afgan. Ia kerap mengingatkanku pada kehilangan-kehilangan. Kurasa ini bukan hanya soal waktu sebab perasaan semacam itu terulang berkali-kali, lebih sering ketimbang perasaan damai yang ia bawa.

Kau tahu bagaimana caraku menikmati hujan? Beranjak ke kasur, memutar lagu Raisa, dan otakku akan berkeliaran membayangkan apapun. Kau ingin kuterjemahkan perasaanku saat hujan turun sore itu? Persiapkan hatimu karena mungkin ini sedikit menguras energi.

Sore itu, aku memikirkan kehilangan yang pernah kualami dan mulai menerka-nerka apakah orang lain pernah mengalami hal yang sama? Apakah mereka pernah mencoba mengikis, mengupas, dan melepas sedikit demi sedikit perasaan itu?

Seperti yang orang tau, kehilangan hampir selalu berhubungan dengan kesedihan. Nyeri yang muncul saat kita tak bisa lagi merasakan kehadiran dan keberadaan sesuatu yang pernah kita miliki. Mulai dari robot-robotan waktu kecil, layang-layang yang putus di tanah lapang, kehilangan anggota badan karena kecelakaan, atau seseorang yang kita sayang.

Sangat manusiawi ketika kita pernah merasa memiliki sesuatu, sesuatu itu hilang baik dengan tiba-tiba maupun perlahan, kita sedih. Kita panik dan tak bisa menerima kenyataan. Semua menjadi serba berbeda. Barangkali kita coba terus mencari-cari sampai air mata tak dapat lagi keluar tetapi ia tak akan pernah kembali. Menurutmu, pantaskah kita bertanya mengapa semua itu hilang? Mengapa harus ada kehilangan? Di awal-awal kehilangan, yang muncul adalah kecewa. Lalu menyalahkan keadaan. Namun, perlahan aku tahu semuanya rencana Allah.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadid ayat 22-23).

Jelas sudah bahwa sifat manusia memang tidak dapat menerima bila nikmat yang telah berada di tangannya, diambil atau tidak sampai kepada apa yang diinginkannya. Namun, kita tidak pernah tahu ada hikmah apa di balik semua kehilangan itu.

Ika Natassa bercerita dengan apik mengenai ini dalam Critical Eleven. Alur yang mengalir bercerita tentang Tanya Baskoro dan Aldebaran Risjad, sepasang suami istri yang sangat bahagia menyambut kehadiran buah hati yang sudah dinanti-nanti. Menjelang bulan kelahiran yang telah diprediksi, kebahagian belum menjadi milik mereka. Bayi dalam kandungan Tanya tak dapat diselamatkan. Tentu mereka sangat sedih dan merasa kehilangan. Tak cukup sehari-dua untuk merelakan. Bulan demi bulan rasa kehilangan itu terus mengikuti.

Bagi Tanya, kehilangan bayi yang ia kandung berbulan-bulan adalah pukulan besar. Sedangkan bagi Aldebaran Risjad, kerinduan seorang ayah yang ingin menggendong buah hati tidak terbalaskan. Mereka telah memiliki ekspektasi tinggi dengan mempersiapkan kamar bayi, membelikan mainan, bahkan sebuah nama. Namun, sekali lagi semua harus direlakan.

Bahkan ketika kita merasa telah berhasil merelakan sedikit demi sedikit, rasa kehilangan itu sesekali muncul lagi ke permukaan. Bagaimana caranya? Ketika Tanya mulai menata hati, banyak hal yang membuatnya teringat pada kehilangan itu. Saat sahabatnya tengah mencarikan nama untuk bayi salah satu sahabat mereka yang tengah hamil, kehilangan itu muncul kembali. Mengapa? Terkadang hati kita belum merasa siap. Belum cukup kuat. Kita masih sering membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Milik kita dan milik orang lain. “Seandainya aku menjadi dia.”

Lantas, apa obat yang tepat untuk sembuh dari kehilangan? Menurutku, bersyukur bahwa kita pernah memiliki. Walaupun tidak seutuhnya menyembuhkan, mungkin ini bisa sedikit mengikhlaskan. Dalam kasus Tanya dan Aldebaran, kehilangan itu mengajarkan mereka untuk saling menguatkan. Bukan saling menyalahkan.

Bagi yang baru patah hati, kehilangan mengajarkan kita tidak gegabah mencari yang terbaik. Bagi yang kehilangan anggota badan karena kecelakaan, ia mengajarkan, tubuh yang sempurna adalah nikmat Allah yang tidak terganti. Jika saat ini aku kehilangan sosok yang namanya selalu kusematkan dalam doa, mungkin nanti aku akan bersama dia yang selalu menyebut namaku dalam doanya.

Dari ratusan hujan yang kusaksikan, hujan kali ini lebih menenangkan. Akhirnya aku sadar ini semua bukan karena titik air atau darai suaranya. Namun, ada sebagian kisah yang kemarin belum diikhlaskan.