Catatan-Catatan Rumahsakit

Pernahkah kau benar-benar sakit?

Bangsal itu sederhana saja, hanya ada empat ranjang lengkap dengan empat pasiennya dan perabot seadanya. Setengah enam, para pendamping pasien—yang biasanya anak, orangtua, suami, atau istri pasien—akan terbangun dengan badan pegal. Kau tahu, lantai bangsal bukanlah tempat yang empuk dan tak ada sofa di sana. Tentu kita tak sedang membicarakan bangsal seperti di shit-netron. Antara pukul tujuh sampai dengan sembilan, ruang dan tubuh pasien akan dibersihkan setelah kursi-kursi roda dijejerkan. Beberapa dari pasian itu akan diobservasi dan dioperasi. Bukankah itu sebuah pagi yang sangat sibuk?

Antara jam-jam itu pula, kantin (atau apa pun namanya yang menjual makanan) ramai dengan pengunjung. Mereka adalah orang-orang yang memesan makanan untuk pendamping pasien, bahkan makanan buat pasien yang sudah bosan dengan makanan rumahsakit. Tentu itu bukan sekadar bosan karena rasa atau penyajian. Lebih dari itu. Ketika mata kita hanya bisa menubruk dinding-dinding putih rumahsakit, setidaknya lidah kita tidak. Setelah jam-jam itu, pengantar makanan rumahsakit datang membawa sarapan seadanya.

Dokter jaga akan berkeliling setelah jam sarapan mereka berlalu, atau setidaknya begitu kukira. Aku tak tahu pasti di tengah kesibukan mereka, bisakah dokter sarapan sebagiamana lumrahnya manusia? Yang sering kita lihat adalah dokter-dokter yang berbicara dengan pasien lima sampai sepuluh menit, tersenyum manis memberi semangat, dan menunjukkan empati. Jelas mereka sudah pasti terlatih melakukannya. Memang, terkadang kita harus menahan geram jika ia datang bersama rombongan calon dokter yang cekikan. Namun, begitulah masa muda, ada tawa dan pesta bahkan ketika seseorang terbujur tak berdaya di depannya. Bukankah begitu seharusnya?

Siang akan datang, kantin akan didatangi lebih banyak lagi pembeli. Sama seperti pagi tadi, mata boleh bosan tetapi setidaknya lidah mesti tetap berwisata. Azan zuhur akan berkumandang. Mesjid akan ramai dengan doa-doa—doa kepada Sang Maha Penyembuh. Antara zuhur dan asar waktu istrahat, beberapa orang akan berbaring di lantai mesjid—setidaknya masih ada udara segar di sana ketimbang di dalam bangsal. Sedangkan pengantar makanan masuk membawakan makanan ke bangsal-bangsal sesuai nama, lalu datang lagi setengah jam kemudian untuk mengambil tempat makan yang seringkali masih ada lauk tersisa.

Sore menjelang magrib, beberapa penjenguk datang membawa kue atau apapun yang bisa mereka bawa. Tak jarang mereka hanya membawa penghiburan yang dimulai dengan basa-basi membosankan laiknya percakapan wartawan televisi: sakitnya sejak kapan, waktu sakit terasa di bagian mana, lho kok kau bisa sakit padahal gaya hidupmu sehat sekali, dan seterusnya. Dan seterusnya. Beberapa pasien berkeliling dengan kursi roda dan pendamping mereka yang setia memegangi kantong infus. Setidaknya bisa melihat koridor, langit, dan warna selain warna kamar yang hanya putih itu.

Magrib mengambang dan mesjid akan lebih penuh lagi. Doa-doa dibiarkan mengetuk langit. Setelah salat, beberapa orang mengaji sementara sisanya hanya berbaring karena letih. Ada yang letih badannya, pikirannya, atau hatinya. Rasanya tak perlu kuberitahu mana yang paling patut dikasihani dari ketiganya.

Lalu isya dan malam datang. Mulailah mereka pulang satu per satu. Hanya tersisa pasien, pendamping mereka yang menatapi dinding putih, dan keletihan berbalut harapan: kapan melihat pintu rumah lagi? Kapan melihat tawa anak-anak lagi? Kapan melihat cucu-cucu bermain lagi? Kapan merasakan nyamannya kamar sendiri?

Di antara semua waktu itu, ada pasien yang pulang dengan kalimat syukur. Ada pula yang pulang dengan tangisan dan teriakan tak tertahankan. Sementara pasien sekamarnya yang tertinggal, hanya bisa berdoa menutup mata. Semoga masih diperpanjang usia, atau semoga arwah mantan rekan sekamarnya tidak tiba-tiba muncul menyapa. Entah saat mimpi atau terjaga.

Pernahkan kau benar-benar sakit? Jika tiba waktumu, semoga kau sudah benar-benar belajar, menjadi manusia kaku dalam pola pikir dan perilaku adalah manusia sakit!