Untuk Abangda Novel Baswedan

Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakhatuuh,

Bagaimana kabar Abangda hari ini? Semoga Allah Yang Mahakuasa menguatkan Abangda sekeluarga dalam perjuangan ‘amar makruf nahi munkar’ ini. aammiinn.

Kami semua terkejut bukan main mengetahui musibah yang menimpa Abangda. Mendadak secangkir kopi di bibir menjadi hambar saat aku melihat foto Abangda terkapar dengan luka pada dahi dan kedua kelopak mata. Kabar musibah Abangda begitu cepat menyebar, jutaan komen dukungan dan simpati mengalir deras pada Abangda. Sungguh itu semua adalah pertanda betapa besar cinta dan dukungan kami pada perjuangan Abangda dan seluruh rekan Abangda di KPK sana.

Oh ya maaf Abangda. Maaf bila aku lancang memanggil dengan panggilan ‘Abangda’. Kita memang tak terlahir dari satu rahim yang sama dan kita pun tak berasal dari satu sekolah kedinasan yang sama, kita bahkan tak saling kenal. Kita hanya sama-sama berjuang melawan sebuah ‘kedholiman’ raksasa yang bernama korupsi. Atas dasar itu, izinkan aku memanggilmu ‘Abangda’. Sapaan ‘Abang’ terasa begitu hangat, sapaan yang biasa terdengar di lingkungan militer kala seorang junior memanggil seniornya. Ada kesan dekat, rasa hormat dan mengayomi dalam kata ‘Abang’ dan tambahan ‘Nda’ entah bagaimana menambah kesan mesra. Bukan begitu Abangda?

Abangda, hari ini kami selain berduka atas musibah yang menimpa Abangda, kami juga marah luar biasa. Sungguh kurang ajar betul itu para pelaku dan dalang-dalangnya. Bahkan Bang Tere Liye yang biasa kalem sampai mengumbar esmosi di halaman fesbuknya. Apa yang menimpa Abangda subuh tadi seolah menampar kami semua, menyadarkan kembali bahwa perang melawan korupsi benar-benar ada dan nyata. Aku yakin tak cuma sekali dua saja Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK mendapat teror macam ini. Aku yakin yang namanya ancaman, teror, santet dan sebangsanya adalah makanan hari-hari Abangda di KPK.

Para koruptor tak pernah diam Abangda. Mereka selalu mengatur strategi, mencari cara memberangus KPK, memberangus orang-orangnya. Strategi mereka penuh muslihat, selicik-liciknya. Mulai dari rencana coba-coba revisi undang-undang KPK hingga kriminalisasi para pemimpin dan pegawai KPK, termasuk Abangda dulu. Mengenai kriminalisasi ini Abangda, saya pribadi paling gemes. Gemes pengen nyubit dan ngeplak! Lha mosok hampir semua pimpinan KPK dikasus? Mulai dari Pak Antasari dengan kasus pembunuhan yang penuh tanda tanya dan drama, Pak Bibit, Pak Chandra, Pak BW, hingga Pak Abraham juga dikasuskan. Yang paling sial Pak Abraham Samad, aih jadi tersangka karena kasus kependudukan. Aduh Mak! Itu polisi sigapnya luar biasa kasus KTP sama KK saja sampe mau bikin orang masuk penjara.  Luar biasa sigap mungkin karena sudah banyak pengalaman ngurusin pelanggaran SIM dan STNK.

Abangda dulu juga pernah mau digaruk, kasus pencurian sarang wallet. Abangda dituduh melakukan penganiayaan atau penembakan terhadap pencuri sarang wallet yang sudah tak berdaya. Syukur Alhamdulillah Abangda selamat, tak harus masuk kotak seperti Pak Antasari Azhar.

Saya jadi berpikir, ini para koruptor sudah pada putus asa sepertinya. Revisi undang-undang mandeg dan upaya kriminalisasi gagal maning-gagal maning. KPK tak jadi lemah, yang terjadi sebaliknya, dukungan publik semakin kuat dan KPK terus tancap gas. Kasus demi kasus terus Abangda usut. Kasus-kasus kakap Abangda, tak main-main tersangkanya ‘orang kuat’ semua, mulai dari anggota DPR, menteri, elit partai, kepala daerah, semuanya Abangda garuk. Luar biasa Abangda! Lebih-lebih kasus e KTP ini Abangda, hmmm 2,3 Triliun Abangda. Kemana saja duit mengalir Abangda? Coba kalau duit itu dibelikan nasi padang dengan lauk kikil plus peyek udang, kenyang penduduk Indonesia Abangda.

Para koruptor sedang galau mencari cara menghentikan Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK. Mereka berpikir untuk menusuk KPK langsung ke jantungnya. Jantung KPK ya penyidik, ya Abangda. Mereka bersiasat bagaimana menghentikan atau setidaknya menghambat denyut nadi penyidikan KPK.  Mereka menempuh segala cara hingga cara-cara pengecut macam menyiram air keras ke wajah Abangda. Mereka sedang ketakutan, takut akan dosa yang telah mereka perbuat sendiri. Ah masak iya para koruptor masih takut dosa?

Ini memang risiko Abangda, risiko. Tentu Abanda jauh lebih paham. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perjuangan. Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK adalah para ksatria dan para ksatria Abangda, hidupnya di medan perang. Perang melawan korupsi  mungkin akan kian sengit, kian brutal, akan tetapi aku yakin Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK adalah orang-orang yang setrong, orang-orang tulus berbuat untuk bangsa, orang-orang yang tak mempan suap tak takut mati. Tak takut mati Abangda. Ya benar Abangda, seorang ksatria memang tak sepantasnya takut mati. Toh bagaimana kita mati itu tidaklah penting, yang terpeting ialah bagaimana kita hidup.

Abangda dan rekan-rekan di KPK adalah orang-orang luar biasa. Aku benar-benar ingin menjadi seperti Abangda, menjadi bagian dari KPK. Minggu lalu seorang dosen yang pernah menjabat Menteri ESDM pada Kabinet Kerja, menugaskan kami menyusun visi misi dan rencana karir pribadi. Pada lembar visi tugasku Abangda, kutulis “Menjadi Bagian Baris Depan dalam Upaya Pemberantasan Korupsi dan Pengamanan Keuangan Negara”. Itu visiku Abangda, aku kepingin bisa ikut barisan Abangda, barisan penumpas kedholiman raksasa. Baris Depan Abangda tak main-main. Doakan aku ya Abangda?

Terakhir Abangda, terakhir. Yakinlah bahwa Abangda tidak sendiri. Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK tidak sendiri. Jauh tersebar di Indonesia, di kota-kota besar hingga ke pelosok-pelosok, ada banyak orang-orang yang juga berjuang melawan korupsi seperti Abangda, ada banyak orang yang juga menginginkan negara ini lebih baik. Kami rakyat berdiri bersama Abangda. Tak hanya rakyat saja Abangda, tapi Allah juga bersama Abangda.  Teruslah tegar dan berani Abangda!

Garuk para rampok negara!

Garuk Abangda!

Terakhir lagi Abangda, Semoga Abangda lekas pulih. Doa dan harap kami mengiringi setiap langkah perjuangan Abangda dan rekan-rekan Abangda di KPK.

Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakhatuuh.

Adik Abangda,

Dedy Nurmawan Susilo

Auditor Investigasi BPKP yang sedang menjadi mahasiswa PKN STAN