Kartini*

“Pemberian pengajaran yang baik kepada rakyat sama halnya dengan pemerintah memberikan obor ke dalam tangannya agar ia menemukan sendiri jalan yang benar menuju tempat nasi itu berada.”

— Kartini, kepada Stelle Zeenhandelaar

Setiap 21 April, kita akan dengan mudah menemukan kutipan Kartini dihambur-hamburkan orang seperti di atas. Semua orang mendadak ingat kepadanya meski tak lebih dari seminggu. Dalam seminggu itu, segala tentangnya dicari-cari kembali. Ia dikutip. Dipotong. Dipilih sisi yang paling aduhai. Dibentuk mana suka pengutipnya. Dipoles semengkilat mungkin. Untuk kemudian dijajar di media apa pun layaknya dagangan di etalase toko-toko barang mewah. Tak lama kemudian, kutipan-kutipan itu menguap begitu saja dari ingatan semua orang, Kartini tak lagi jadi tokoh utama pembicaraan.

Tapi itu nantilah. Sekarang, biarkan semua orang menikmati Kartini sepuasnya. Kartini memang lebih dari sekadar nama. Ia hidup dalam memori kolektif semua orang dalam segala bentuk asosiasi makna dan relasi tanda: perempuan, emansipasi, gender, pendidikan, lenggak-lenggok kebaya, atau sekadar lomba-lomba. Namun, kita menemukan cara berbeda untuk mengenang Kartini akhir-akhir ini, yaitu kegaduhan antara dua kubu yang saling oposisi biner dalam melihat Kartini. Kubu pertama menempatkan Kartini sebagai pahlawan yang progresif. Dan kubu kedua menggugat mempertanyakan kelayakan Kartini sebagai pahlawan.

Menarik mengikuti kegaduhan ini. Banyak benarnya, banyak juga juga ngawurnya — sesuatu yang sebenarnya bukan kebetulan. Kita adalah generasi yang tumbuh di era Orde Baru. Dan semua maklum, di bawah Orde Baru, pemikiran kritis adalah barang haram. Kanonisasi gagasan ditetapkan sepihak oleh pemerintah secara sistematis, di sekolah-sekolah, di media cetak maupun elektronik, di ruang-ruang publik, bahkan hingga di ranjang orang tua kita. Termasuk soal Kartini. Dulu, tak akan kita temui orang meributkan heroisme Kartini seperti sekarang. Tak ada ruang untuk sekadar menimbang-nimbang. Pasca-tumbangnya Orde Baru, semua orang seperti macan yang lepas dari kandangnya. Ruang bersuara terbuka lebar, tak hanya untuk pemikiran kritis, gagasan paling tolol sekalipun mendapatkan panggungnya. Termasuk untuk mempertanyakan bagaimana wajah Kartini seharusnya.

Dan di masa Orde Twitter ini, banyak yang membandingkan Kartini dengan wanita-wanita hebat lainnya. Sama-sama wanita, sama-sama hebat, sama-sama ditelanjangi di muka umum hanya untuk dibandingkan satu sama lain. Layaknya lembaga pembuat fatwa, semua beramai-ramai mencari celah mana yang bisa dipakai untuk menjatuhkan vonis kepada Kartini atas predikat yang disandangnya. Entah apa yang dirasakan wanita-wanita hebat itu, dibanding-bandingkan tanpa bisa membela diri.

Padahal, sependek yang saya tahu, kebanyakan wanita (dan pria) tak suka dibanding-bandingkan.

Korban Sejarah

Berbagai macam persepsi soal Kartini, tak lain adalah ketidaklengkapan sejarah yang berkelindan dengan muatan politik. Pada setiap zaman, Kartini dihadirkan dalam berbagai-bagai riasan. Ia adalah korban sejarah. Ia ada untuk menjadi subjek sekaligus objek dari sebuah cerita yang panjangnya melampaui rentang usia hidupnya sendiri. Ia adalah martir yang menjadi prasyarat dialektika zaman. Baik pada zamannya sendiri maupun zaman-zaman jauh setelahnya.

Kartini lahir tepat di zaman terjadinya benturan antara feodalisme dan kolonialisme, tradisional dan modern. Ia lahir dari keluarga ningrat Jawa yang akrab dengan bule-bule Belanda, di masa ketika hanya anak-anak ningrat yang berhak mencicipi manisnya pendidikan a la Eropa. Ini pun harus dipersempit lagi, hanya anak-anak ningrat laki-laki. Dalam tradisi feodal Jawa (dan doktrin sebagian agama), haram hukumnya perempuan melampaui laki-laki dalam segala hal, termasuk pendidikan. Kebetulan Kartini-lah satu di antara sedikit sekali perempuan yang pertama mencicipi bangku sekolah.

Namun, apakah ketidaksetaraan antar-kelamin yang di dalam tembok keraton itu juga berlaku di luar tembok?

Saya yakin tidak. Dominasi laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai aturan protokoler yang ketat semacam itu, hanya berlaku di dalam keraton. Bagi rakyat jelata, relasi gender nisbi lebih egaliter. Laki-laki dan perempuan sama-sama turun ke ladang, istri berbicara ngoko kepada suaminya. Tak seperti Kartini yang ningrat, di mana istri wajib menyembah suaminya seperti setengah dewa, berbicara dalam bahasa krama inggil seperti abdi dalem kepada ndoro-nya. Kalau Kartini harus dibandingkan dengan Cut Nyak Dhien, Malahayati, atau perempuan hebat lainnya, pertanyaan pertama yang layak diajukan adalah apakah yang semacam itu juga terjadi kepada mereka?

Yang terjadi pada Kartini itulah yang kemudian dijual oleh Belanda. Belanda merasa perlu menunjukkan kepada bangsa Eropa lainnya bahwa mereka bukan hanya penjajah, parasit yang mengisap segala sumber daya tanpa memberi timbal balik apa-apa untuk masyarakat yang dijajah. Eropa saat itu memang sedang gencar tuntutan tentang politik etis, terutama dari kalangan liberalnya. Penjajahan Inggris di India telah ‘melahirkan’ Mahatma Gandhi, sementara Belanda? Belanda perlu figur untuk menyelamatkan mukanya dari tuduhan pengisapan dan pembodohan. Nama Kartini-lah yang paling cocok. Bisa dikatakan, Belanda adalah pihak yang numpang terhormat, Kartini adalah pihak yang dimanfaatkan namanya.

Lantas bagaimana wajah Kartini pasca-kolonialisme? Muhidin M. Dahlan menuliskannya dalam Kartini Berapi, sebuah perspektif tentang Kartini dari golongan Kiri masa Orde Lama:

Oleh Presiden Sukarno, Kartini dianugerahi “Pahlawan Nasional” bersama Tjoet Nja’ Meutia dan Tjoet Nja’ Dhien, Mei 1964 dan sekaligus 21 April sebagai Hari Kartini.

Saya tidak tahu seberapa besar keterlibatan langsung gerakan Kiri dalam pengukuhan Kartini sebagai “Pahlawan Nasional”. Yang saya tahu, koran/majalah Kiri semacam Harian Rakjat, Bintang Timur, Warta Bhakti, dan tentu saja Api Kartini, sejak tahun 1960 habis-habisan mempromosikan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Tiga tahun sebelum Kartini jadi “Pahlawan Nasional”, eseis Lekra, Pramoedya Ananta Toer, memimpin tim kerja penyelidikan “sedjarah Kartini jang objektif-revolusioner”. Kisah tim kerja ini memburu data dituturkan Hersrat Sudijono secara detail dalam “Dari Bumi Kehidupan Kartini” (1964). Tim kerja ini bolak-balik Blora-Jepara-Rembang-Solo-Semarang untuk wawancara dan menggali dokumen untuk menghidupkan api dalam kehidupan Kartini.

Hasilnya, dua jilid buku atas nama Pramoedya Ananta Toer dan dibubuhi judul Panggil Aku Kartini Sadja (NV Nusantara, 1962). Buku ini kemudian menjadi buku pegangan utama tafsir orang-orang Kiri atas Kartini.

Tak hanya Lekra yang menghidup-hidupkan Kartini. Bahkan salah satu famili ideologis PKI, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), menabalkan nama Kartini menjadi majalah resminya sejak 1959. Namanya: Api Kartini. Rubrik “Pertjikan Api Kartini” disediakan secara khusus.

Kartini adalah “Perintis djalan ke kemadjuan dan kebebasan bagi kaum wanita Indonesia,” seru Api Kartini (No 4 Th 2, 1960). “Kami kaum wanita Indonesia adalah merupakan pewaris2 Ibu Kartini. Dan memang demikianlah kenyataannya.” Pernyataan resmi DPP Gerwani pada 1963 itu menabalkan keyakinan bahwa Kartini adalah role model bagi pergerakan perempuan paling progresif di Indonesia ini.

Setelah Orde Lama ditumbangkan oleh Suharto, Kartini tetap ‘hidup’. Hanya saja wajahnya sudah jauh berubah. Oleh Orde Baru, ia dikerdilkan dalam perayaan-perayaan simbolik: adu cantik, pamer kebaya, lomba konde, masak, PKK, arisan dharma wanita, dan lain-lain. Dan dari sanalah kesalahkaprahan itu bermula, banyak yang lantas mengasosiasikan Kartini sebatas kebaya, mengeja Kartini sebagai perempuan yang selalu patuh terhadap laki-laki dan tradisi usang — sesuatu yang justru digugat olehnya.

Riasan Kartini beralih dari seorang ‘berandalan’ menjadi istri dan ibu rumah tangga yang ideal menurut fantasi laki-laki Orde Baru. Wajah yang ayu, perempuan baik-baik, boleh terpelajar, selalu semangat dan periang, tetapi tetap harus menjalani ‘kodratnya’: lemah lembut dan penurut. Bukan perempuan yang banyak menuntut. Sayangnya, riasan Kartini yang itu justru yang banyak terekam dalam memori kolektif generasi kita.

Kita hanya mengenang Kartini sebatas gagasan emansipasi antara laki-laki dan perempuan, itu pun gagasan yang telah disunat Orde Baru di sana-sini. Padahal isi kepala Kartini lebih besar dari itu. Ia berbicara tentang anti-feodalisme, anti-kolonialisme, ketidakadilan, pendidikan, demokrasi, kemanusiaan, patriotisme, sosialisme, internasionalisme, dan banyak lagi yang entah sejak kapan dihapus dari buku-buku sejarah.

Kartini-phobia

Saya sendiri ingin membela Kartini bukan karena mengidolakan dia tetapi karena argumen para pengkritik Kartini yang sudah kelewat dungu. Ada yang mencela karena katanya Kartini ‘produk Belanda’. Ada yang membandingkannya dengan Cut Nyak Dhien dan Malahati. Ada yang mempertanyakan nasionalismenya karena ia hanya mau bersurat-surat ria dengan teman bule-nya. Ada yang mencibirnya sebagai satu-satunya pahlawan yang hari lahirnya diperingati saban tahun hanya karena dia orang Jawa. Dungu yang sungguh-sungguh kelewatan.

Mungkin Kartini memang ‘produk Belanda’ karena mendapat pendidikan a la Belanda, seperti Jenderal Sudirman yang juga ‘produk Jepang’ karena meniti karir dari tentara Pembela Tanah Air (PETA). Atau jika Kartini jadi ‘produk Belanda’ karena dipopulerkan oleh politik etis Belanda, apakah dia yang mengemis-ngemis untuk dipopulerkan oleh pihak yang menjajah? Jika Kartini jadi berdosa karena itu, Che Guevara harusnya juga karena wajahnya tercetak di banyak kaos yang dipakai oleh anak-anak borjuis untuk shoping ke Mall. Ada yang salah dengan nalar jika Belanda yang mencatut nama Kartini, tetapi justru Kartini yang justru dihujani hujatan.

Apa hebatnya Kartini dibandingkan Cut Nyak Dhien atau Malahayati?

Pertama, yang harus diingat adalah mereka semua pahlawan karena alasan masing-masing. Membandingkan-bandingkan mereka layaknya seteru yang saling berebut posisi untuk dihormati adalah bentuk gagalnya nalar. Heroisme tak hanya milik mereka yang turun gelanggang dan angkat senjata. Pahlawan bukan hanya mereka yang membunuh atau dibunuh oleh lawan. Perjuangan Kartini berada di medan gagasan yang tak mampu dilawan dengan bedil. Musuhnya adalah sesuatu yang keris ora ngirisgaman ora mempan. Sesakti apa pun keris dan bedil, tak akan sanggup membunuh kebodohan. Kartini, Cut Nyak Dhien, Malahayati, dan banyak pahlawan perempuan lain punya lawan dan konteks yang sangat berbeda.

Cut Nyak Dhien dan Malahayati juga perempuan, kenapa Kartini lebih layak jadi ikonemansipasi perempuan’?

Heroisme Cut Nyak Dhien dan Malahayati ‘hanya’ mengusir bangsa asing yang menjajah bangsanya, bukan mempersoalkan penjajahan laki-laki terhadap perempuan. Nyatanya budaya di mana Cut Nyak Dhien dan Malahayati hidup ‘mengizinkan’ mereka menduduki jabatan penting, bukan sekadar perempuan pingitan yang harus ber-kromo inggil terhadap suaminya. Mereka boleh memimpin pasukan perang, tak seperti Kartini yang jangankan ikut perang, sekolah saja sulit hanya karena jenis kelaminnya perempuan.

Perkara Kartini hanya mau berkirim surat dengan teman bule-nya di Belanda, memangnya siapa perempuan pribumi Hindia masa itu yang bisa diharapkan menjadi lawan diskusinya? Membicarakan anti-feodalisme, anti-kolonialisme, ketidakadilan sosial, pendidikan, demokrasi, kemanusiaan, patriotisme, internasionalisme, sosialisme, dan lain-lain? Jangankan perempuan yang bicara tentang isme-isme, Dokter Wahidin yang laki-laki itu (meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah) bagaikan “pengembara yang berteriak-teriak di tengah padang pasir” setelah berkeliling Jawa untuk mengajak orang berorganisasi dan gagal.

Seperti Dokter Wahidin, Kartini adalah orang yang lahir jauh mendahului zamannya. Nasionalisme seperti apa lagi yang diharapkan darinya jika ia justru telah memikirkan internasionalisme? Nasionalisme itu basi, Bung!

*) Dimuat kembali dari blog pribadi penulis dengan judul yang sama.