Java Jazz yang Selalu Dekat

Gerombolan kami berjumlah empat orang. Mas Yoyon, yang paling senior di antara kami, menyukai musik sesuai usianya: hits era 80-an akhir hingga 90-an. Niczen, seorang tua berpenampilan remaja, terobsesi pada segala yang berbau Korea, termasuk lagu-lagunya dan keinginan keras menjalani operasi plastik. Lalu Lucki, remaja tanggung yang lebih suka lagu indie daripada lagu India. Dan tentu saja saya, penikmat pop stadium akut. Berempat, kami mencoba menikmati festival musik dengan genre yang tidak sering kami konsumsi: Java Jazz Festival.

Kami datang Sabtu, hari kedua dari durasi tiga hari perhelatan musik itu. Dibandingkan Jumat dan Minggu, yang tampil Sabtu biasanya adalah artis-artis yang paling dikenal. Kepada mereka, kami rela mempersembahkan malam Minggu yang semestinya bisa digunakan untuk bercinta.

Sejak sore, arena JIExpo Kemayoran sudah dipadati pengunjung. Mungkin malam Minggu juga yang membuat orang tak henti-hentinya berdatangan sejak pintu gerbang baru dibuka. Di dalam, dentum pelantam terdengar di mana-mana. Tak kurang dari 14 panggung disiapkan untuk memuaskan dahaga jiwa khalayak akan sentuhan-sentuhan dari para artis. Jumlah ini lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya menyediakan 11 panggung.

denah venue java jazz (dari javajazzfestival.com)

denah venue java jazz (foto dari javajazzfestival.com)

Banyaknya jumlah panggung jelas membuat kami bingung. Sebagai pemegang teguh prinsip ekonomi, tentu kami ingin menonton sebanyak mungkin pertunjukan. Tapi, kecuali menguasai ilmu menggandakan diri, jelas keinginan itu mustahil belaka. Belum lagi komitmen awal kami untuk menjelajah belantara Java Jazz ini bersama-sama. Kami pun akhirnya lebih sering terlibat baku-omong untuk menentukan panggung mana yang harus disasar berikutnya.

Dengan kapasitas pengetahuan jazz yang tidak terlalu bagus (untuk tidak dikatakan ambyar), kebanyakan baku-omong tadi hanya menghasilkan mufakat untuk menonton artis-artis yang sudah jamak dikenal. Sebenarnya saya sempat mengusulkan nama-nama yang tidak terlalu banyak dilirik. Tapi demi menghormati penganut indie dan k-pop garis lurus yang baru mempelajari jazz itu, saya mengalah saja.

Oleh karenanya, begitu masuk, kami langsung memutuskan menuju Hall D2 dan menyaksikan Yamaha Music Project yang berisi Tulus, Armand Maulana, Yura Yunita, Saykoji, dan Glenn Fredly—alih-alih menonton Cyrille Aimee atau Amelia Ong. Sebuah pilihan yang saya kira benar karena penontonnya sungguh banyak. Di negara ini, bukankah kita terbiasa merasa benar kalau didukung orang banyak? Wong urusan sebuah aksi saja, yang dibahas melulu perkara jumlah, bukan?

DSCF9786

Yamaha Music Project (foto: dokumentasi penulis)

Tetapi soal kepuasan adalah lain hal. Penampilan Yamaha Music Project justru membuat saya tidak terlalu puas. Walaupun berhasil menyedot animo penonton, menaruh lima musisi kenamaan dalam satu panggung jelas bukan pilihan bijak. Permasalahannya, bukan performa mereka yang buruk, melainkan keserbatanggungan yang hadir. Dalam durasi satu jam, mereka harus membagi rata kesempatan tampil. Hasilnya apalagi kalau bukan ketidakmampuan mereka menggiring saya mencapai musicgasm karena terlalu sering bergantian mengisi panggung. Highlight penampilan mereka, saya kira, ialah saat Tulus dan Saykoji berduet membawakan “Bebas” dari Iwa K. Selebihnya, tak ada yang istimewa. Termasuk ketika semua penyanyi berkolaborasi dan membawakan “Earth Song”.

Tulus dan Saykoji menyanyikan "Bebas" dari Iwa K (dokumentasi penulis)

Tulus dan Saykoji menyanyikan “Bebas” dari Iwa K (dokumentasi penulis)

 

Armand Maulana sebagai bagian dari Yamaha Music Project (dokumentasi penulis)

Armand Maulana sebagai bagian dari Yamaha Music Project (foto: dokumentasi penulis)

 

Yura Yunita sebagai bagian dari Yamaha Music Prioject

Yura Yunita sebagai bagian dari Yamaha Music Project (foto: dokumentasi penulis)

Setelahnya, kami menuju hall sebelah karena penasaran dengan Manna Trio feat Jacky Bahasuan yang membawakan tribute to Al Jarreau. Mereka tampil baik walau beberapa kali sang vokalis tidak berhasil menerjang nada sehebat Al. Tentu ini bukan salahnya. Menyanyikan lagu-lagu Al Jarreau adalah sebuah perjuangan ekstra keras karena teknik Al mengolah nada memang luar biasa. Suaranya adalah instrumen musik itu sendiri.

DSCF9875

Manna Trio feat Jacky Bahasuan (dokumentasi penulis)

Manna Trio feat Jacky Bahasuan (foto: dokumentasi penulis)

Bosan, kami pun tidak berlama-lama menonton Manna Trio dan bertolak mencari panggung lain.

Menyoal panggung, satu hal yang saya sukai dari perhelatan Java Jazz adalah, meski jumlah panggung terus bertambah, pengelolaan semua panggung dilakukan dengan baik sehingga tetap mampu memberikan tata suara terbaik. Bayangkan saja: 14 panggung yang terdiri dari 10 panggung di dalam ruangan (indoor) dan 4 panggung di luar ruangan (outdoor), dengan letak panggung yang tidak terlalu berjauhan, direka sedemikian rupa sehingga hingga suara dari satu panggung tidak akan mengganggu panggung lainnya. Menurut saya, ini luar biasa.

Tapi, kualitas suara yang optimal justru menambah daftar kebimbangan kami menentukan artis yang bakal kami tonton selanjutnya. Di tengah kebingungan itu, Lucki, yang juga merasa dua penampil awal kurang memuaskan, mengajukan usul sekaligus berbagi pengalaman Java Jazz-nya tahun lalu.

“Tahun lalu ada band dari Tokyo yang memainkan Ska, Mas. Performa mereka seru sekali. Atraktif,” ujarnya.

“Tokyo Ska Paradise?” jawab saya.

“Nah itu. Aku seneng yang ngono-ngono kuwi, Mas. Kita nonton yang kayak gitu aja. Yang fusion-fusion gitu. Jangan yang pure jazz.”

“Cah gemblung. Ke festival jazz kok malah nyari yang nggak jazz ki karepmu piye?” ujar saya sembari menahan keinginan memasukkan kepalanya ke dalam tanjidor.

Tapi Lucki tidak sepenuhnya salah. Sudah sejak lama Java Jazz tidak melulu menghadirkan musisi-musisi jazz murni. Tahun lalu saja, bintang tamu utamanya adalah David Foster, Sting, Robin Thicke, dan Chris Botti. Belum lagi deretan artis yang mengisi panggung biasa yang kebanyakan malah berada di luar jalur jazz.

Menyadari itu, giliran saya yang ingin mengalungkan tanjidor ke leher sendiri. Tapi, untunglah, segala perdebatan itu berakhir sebelum kami benar-benar menemukan tanjidor. Kami tiba pada keputusan yang meski absurd tetapi tetap bisa disebut wajar untuk penikmat music Indonesia kebanyakan: menonton Afgan di pertunjukan berikutnya. Padahal, seorang peniup terompet kewarganegaraan Kuba yang mengantongi 10 Grammy Award, Arturo Sandoval, sedang tampil dengan trengginas di panggung lain. Tapi apa mau dikata, teriakan gemes dari panggung Afgan jauh lebih menggoda.

DSCF9967 (1)

Afgan (dokumentasi penulis)

Afgan (foto: dokumentasi penulis)

Daripada dua penampil sebelumnya, menonton Afgan terasa lebih memuaskan. Mungkin karena pengaruh penonton yang memenuhi hall dan durasi yang ia monopoli sendiri. Selain lagu-lagu andalan dari entah-berapa-sih-album-yang-sudah-dikeluarkan-Afgan, saya menikmati momen saat Kirk Whallum ikut mengiringi Afgan bernyanyi “Versace on the Floor” dan “Jalan Terus”.

Penampilan Afgan pun menjadi hidangan pembuka sebelum menikmati suguhan jazz paling prima sepanjang malam itu, Incognito. Dengan personilnya yang lengkap – juga berasal dari pelbagai negara – mereka membawa para penonton menikmati lagu-lagu terbaik dari 25 tahun perjalanan karir mereka.

Incognito yang tampil memikat (foto: dokumentasi penulis)

Incognito yang tampil memikat (foto: dokumentasi penulis)

Incognito (foto: dokumentasi penulis)

Incognito (foto: dokumentasi penulis)

Jujur saja, saya memang tidak hapal semua lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Saya hanya mencatat nomor-nomor seperti “Talkin’ Loud”, “Smiling Faces”, “Labour of Love”, “1975”, dan “N.O.T” dinyanyikan selain, tentu saja tembang wajib sing-a-long: “Still A Friend of Mine” dan “Don’t you Worry bout A Thing”.

Bluey Inccognito (foto: dokumentasi penulis)

Bluey Incognito (foto: dokumentasi penulis)

 

Di sela-sela lagu, Bluey, leader Incognito yang bernama asli Jean-Paul Maunick, berbicara pada penonton sambil menebarkan pesan-pesan kedamaian. Agaknya, mereka merasa ikut terpapar tensi panas dari kebencian yang melingkupi dunia. Persoalan Trump, sentimen rasisme, hingga persebaran hoax tak luput ia angkat sebagai isu yang patut diperhatikan.

“I am happy to make all of you smiling in the middle of this confusing world,” ujarnya, “the most beautiful nation is called Love.”

Ia juga meminta para penonton mengutamakan cinta di atas isu-isu yang berusaha memecah-belah. Segera setelahnya, lagu “One Love” dari Bob Marley mengalun sekaligus menjadi lagu terakhir mereka sebelum benar-benar pamit.

Incognito menjadi pertunjukan terakhir yang kami tonton bersama-sama. Setelah itu, kami memang sempat menonton Chick Corea. Tapi, Mas Yoyon dan Lucki hanya tinggal sebentar. Mereka memilih menutup malam dengan melantai bersama Soundwave, sedangkan saya dan Niczen tinggal sedikit lebih lama sebelum akhirnya keluar, berniat untuk segera pulang.

Rick Braun dan Terompetnya (foto: dokumentasi penulis)

Rick Braun dan Terompetnya (foto: dokumentasi penulis)

Ketika mengira malam saya juga telah selesai, tiba-tiba terdengar alunan terompet yang indah tepat di hall sebelah Chick Corea manggung. Saya, bersama Niczen yang penasaran, masuk ke sana dan mendapati Rick Braun sedang mengajak berdansa melalui musik yang ia tumpahkan dari mulut terompet. Lewat pendekatan pop, latin, dan sedikit funk, ia membuat saya terkesima. Saya rasa, ia sangat pantas didengarkan lebih banyak orang. Sayangnya, saat itu, penonton yang hadir tidak lebih dari empat baris. Sekitar 100-an orang saja. Mungkin yang lain sedang melihat Naughty by Nature, pikir saya.

Sedikit banyak, hal yang mengganjal bagi saya malam itu adalah tentang persebaran penonton. Seperti Rick Braun, besar kemungkinan artis-artis tidak mendapatkan apresiasi berupa jumlah penonton yang cukup. Contoh lain misalnya ketika Incognito atau Afgan sedang tampil, panggung lain hampir pasti sepi penonton. Bertarung dengan nama besar mereka tentu sia-sia. Padahal, secara kualitas, saya tidak bisa sangsi terhadap setiap pengisi festival jazz terbesar di belahan bumi bagian selatan ini.

Rick Braun betul-betul menutup malam itu dengan sangat manis. Energinya sungguh luar biasa walau waktu sudah mematuki usianya yang ke-61 itu. Mungkin karena paham bahwa penontonnya cuma sedikit, ia mengucapkan terima kasih banyak-banyak dan meminta pendengarnya untuk menyimak dan menyebarkan kabar baik dari album yang baru saja ia keluarkan, “Around The Horn”, sebelum kembali ke belakang panggung dan menyudahi penampilannya.

Seiring pamitnya Rick Braun, saya juga menutup Java Jazz tahun ini dengan sukacita. Meskipun melewatkan banyak musisi, saya tidak kecewa dengan penampilan yang telah kami pilih. Berempat, kami sepakat bahwa Java Jazz tetap memberikan nuansa “kedekatan” yang besar.  Baik antar sesama artis (saya beberapa kali memergoki artis yang menonton artis lain yang tampil), artis dan penggemar, juga sesama penggemar – kapan lagi bisa nonton jazz sambil bersantai di bean bad sambil mengobrol.

Bahkan saya merasa kalau aura “kedekatan” ini lebih besar dari yang pernah ia hadirkan lima tahun silam, saat saya berkunjung ke sana seorang diri dengan menenteng keperjakaan. Dan, tentu saja, tiket seharga setengah juta yang saya tebus sehari sebelumnya terasa tidak sia-sia.