Catatan Kecil Penugasan Kedua

Awal bulan November, Bandung hampir setiap hari diguyur hujan. Banjir terjadi di beberapa daerah. Semua orang berharap situasi jadi lebih baik. Aku, siang itu, melaju menuju Bandara Hussein Sastra Negara yang terlihat lebih tertata daripada beberapa tahun lalu. Ada kesan sebagaimana bandara seharusnya. Lain dulu yang serupa terminal Bus antar kota. Bandara ini milik angkatan udara.

Penerbangan terjadwal pukul 13.15. Aku membawa satu tas ransel dan dua koper besar. Isinya keperluan sehari-hari: baju, buku, sepatu, dan printilan lain yang totalnya 25 kg lebih. Ternyata waktu boarding tepat dengan jadwal. Setelah menyeruput teh pahit, aku memasuki gate 5, menyerahkan boarding pass, dan berjalan menuju badan pesawat.

Itu adalah kursi nomor 28 C, posisinya dekat dengan kamar kecil dan lorong orang berjalan. Kursi 28 A dan 28 B kosong. Aku sendirian. Tidak seperti orang lain yang harus berbagi tempat dan bersentuhan kulit dengan penumpang lain. Aku menjadi lebih leluasa.

Selama beberapa menit, aku sempat tertidur. Aku menyadari bahwa pesawat sudah mencapai Surabaya ketika terjaga. Orang yang duduk di dekat sayap kanan pesawat, tampak sibuk melihat ke arah luar. Membuka gawai dan mengambil beberapa gambar. Aku penasaran. Aku kemudian pindah ke kursi 28 A, dekat jendela.

“Ya Allah, bagus amat!” batinku saat melihat jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Kapal-kapal bermacam ukuran berbaris seperti semut. Satu persatu mereka berjejer memasuki pelabuhan. Lekukan pantainya begitu indah, berpagut dengan laut biru yang tenang. Aku tersenyum kemudian mengambil buku yang dari tadi belum dibaca. Bali Tempo Doeloe, disusun oleh Adrian Vickers. Aku membaca bagian yang menarik. Saat Chinkak, seorang kapten dagang negeri Siam, bertemu dengan Raja Klungkung, keturunan langsung Raja Gelgel pada tahun 1846. Chinkak menceritakan keramahan raja, pertunjukan wayang kulit yang serupa di negerinya dan adat istiadat yang memuliakan wanita.

Saya bertanya kepada kapten (bawahan Raja Klungkung) kenapa laki-laki dan wanita tidak bisa melakukan jual beli di tempat yang sama. Kapten menjawab bahwa itu sudah menjadi adat istiadat Pulau Bali. Ketika seorang wanita berjalan keluar rumah untuk berbelanja, mereka yang bukan orang tuanya, saudaranya, sepupu, atau suami tidak boleh menyentuhnya. Jika seorang lelaki yang bukan saudara, suami atau sepupu menyentuhnya maka wanita tersebut akan berteriak dan membunyikan lonceng peringatan. Kemudian, kerabat wanita itu akan mengetahui apa yang terjadi. Mereka akan segera berlari ke luar rumah dengan sebilah keris untuk membunuh lelaki yang berani menyentuhnya. Tindakan seperti ini tidak akan dikenakan hukuman. (The Statement of Chinkak on Bali. A nineteenth-century Siamese Accounter Bali, diterjemahkan Charnvit Kaset-Siri dan Elizabeth Graves, Indonesia Volume 7, 1969, hlm. 90-101)

Aku kagum. Bagaimana bisa Bali pernah menerapkan hukum adat seketat ini. Mirip dengan peraturan syariah dalam versi yang berbeda. Bagaimana kondisi Bali hari ini? Apakah wanita masih dimuliakan seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab di lain kesempatan.

Ini bukan kedatanganku kali pertama ke Pulau Dewata. Di akhir 2009, aku kuliah dan bekerja di tempat ini sebelum akhirnya melanjutkan kuliah pada kurun 2014-2015. Berarti kurang lebih aku tinggal di Bali selama lima tahun. Jujur, awal menginjakan kaki di negeri ini, ada banyak hal yang mengundang pertanyaan. Bagaimana umat Hindu Bali melakukan persembahyangan? Mengapa ada banyak banten (sajen) di depan rumah, perempatan, bawah pohon besar, jembatan, dan gerbang Pura? Mengapa tidak boleh menjemur, maaf, celana dalam tinggi-tinggi? Mengapa setiap pengemudi membunyikan klakson ketika melewati jembatan? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terkadang membuatku merasa terasing.

Beruntungnya, manusia adalah makhuk adaptif. Dalam waktu beberapa bulan, aku sudah memahami semua itu. Narasumbernya adalah pegawai sekantor denganku yang beragama Hindu. Rasa terasing itu kini berubah menjadi rasa syukur. Karena aku bisa bertugas pada sebuah prototipe surga dengan harmoni budaya dan alam yang tidak bisa dipresentasikan melalui citra fotografi.

16.00 WITA, aku mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Cuaca sangat cerah. Matahari terik menyengat. Aroma laut tercium, dibawa angin yang menerpa pantai. Selama perjalanan menuju conveyor, aku membangun rencana di dalam pikiran. Kapan harus mengunjungi pantai Kuta, kapan harus melihat-lihat Beach Walk, kapan harus menikmati damainya Ubud, dan sebagainya, dan sebagainya. Sampai aku bingung sendiri.

Setelah mengambil bagasi, aku berjalan menuju konter taksi. Memesan tiket perjalanan menuju Kantor Bea Cukai setempat. Untuk menuju jarak yang sangat dekat – bandara dan kantor terletak di satu ruas jalan yang sama – aku dikenakan harga Rp 70.000! Terlalu mahal ya? Mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya taksi yang menguasai bandara.

Waktu tempuh bandara-kantor ternyata hanya lima menit. Lima menit untuk tujuh puluh ribu. Aku berdiam di pos satpam dan mulai menghubungi beberapa kawan untuk meminta bantuan. Kisah selanjutnya adalah hal-hal yang tidak menarik: berkeliling mencari indekos, makan malam di warung jawa, sholat, dan istriahat. Tidak perlu buang tenaga untuk dikisahkan di sini.

Ubud

Yang selalu kurindukan dari Bali bukanlah pantai dengan segala keriuhan dan ketelanjangannya. Bagiku, sunyi adalah bahasa terindah yang membuka tabir antara nurani dan pikiran. Oleh karena itu, Ubud merupakan ‘pertapaan’ yang selalu kukunjungi.

Ubud adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Gianyar. Waktu tempuhnya sekitar dua jam dari Kuta. Kamis itu begitu terik. Aku berkendara dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dan tiba saat makan siang. Sepanjang jalan, aku melihat rumah-rumah yang diubah menjadi showroom kesenian. Mulai dari perbatasan Ubud, aku melihat penjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, dan beberapa restoran.

Tiba di jalan utama Ubud, aku memutuskan makan siang di sebuah restoran dengan gaya tradisional. Setelah mengisi perut, aku melanjutkan perjalanan ke Museum Seni Neka. Museum ini terletak di daerah Campuhan. Berdiri pada tanggal 7 Juli 1982. Pendiri dan pemiliknya adalah mantan guru, pencinta, dan kolektor lukisan, Wayan Suteja Neka. Museum ini memiliki enam buah bangunan pameran yang berarsitektur Bali. Pemajangan lukisan dikelompokan berdasarkan tema, gaya, dan prestasi sang seniman.

Bangunan pada gedung pertama memajang karya-karya lukis yang dipamerkan secara historis. Diawali dari seni lukis tradisional wayang klasik yang diangkat dari epos Ramayana, Mahabrata, dan legenda-legenda Jawa-Bali. Lukisan tertua di ruangan ini bertajuk Gugurnya Abimanyu (akhir abad XIX). Lukisan terbaru adalah karya Nyoman Mandra dengan tema kehidupan dalam beragama (1989).

Dua ruang lainnya dalam gedung ini, memaerkan lukisan khas Ubud yang sudah mendapat pengaruh barat. Pada 1920-an, Walter Spies dan Rudolf Bonner tinggal di daerah ini dan memperkenalkan teknik estetis Eropa tentang pencahayaan, bayangan, perspektif, dan anatomi. Walau mendapat pengaruh Eropa, pelukis lokal seperti I Gusti Ketut Kobot masih tetap mengangkat tema-tema tradisional. Disusul oleh Anak Agung Gde Sobrat, Ida Bagus Made Dewa Putu Bedil, dan Ida Bagus Rai, yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari dan upacara keagamaan.

Di ruangan terakhir adalah karya lukis para seniman daerah Batuan. Lukisan-lukisan yang kurang mendapat pengaruh Barat ini, bercirikan padatnya kanvas oleh figur dengan aktivitas yang beragam. Lukisan yang dipajang adalah karya Ida Bagus Togog, Ida Bagus Wija, Made Budi, dan Wayan Bendi.

Gedung selanjutnya adalah Paviliun Arie Smith, dedikasikan sebagai penghargaan bagi jasa seniman kebangsaan Belanda yang namanya dipakai sekaligus untuk nama paviliun. Gedung ketiga, ruang pameran foto tentang Bali pada 1930-an dan awal 1940-an karya Robert Koke dari Amerika.

Paling menarik adalah paviliun Gusti Nyoman Lempad. Pelukis legendaris Bali ini memiliki gaya khas yang berbicara melalui 18 karyanya. Lukisannya rata-rata bercerita tentang epos Ramayana, Mahabrata, dan cerita budaya Bali. Lukisan Lempad terasa sangat kuat dengan rincian para tokoh yang sangat memukau. Walau tidak kaya dengan warna, lukisannya memiliki aura mistis yang bergabung dengan erotisme dan kejenakaan. Salah satu karyanya berjudul Perang di Langkapura (1960), menggambarkan Anggada yang membantu Raja Rama untuk menyelamatkan Dewi Sita di Kerajaan Langkapura. Lukisan itu dipenuhi oleh sosok monster dan tentara kera dengan tonjolan alat kelamin yang menjadi sasaran perkelahian sekaligus senjata dalam mengalahkan musuh. Sepertinya tidak perlu diceritakan detil, aku takut pikiran pembaca terlalu melambung jauh menyentuh hal-hal banal. Biarlah lukisan ini yang berbicara sendiri.

Hari sudah sore. Aku melewati sepintas lalu dua gedung terakhir tanpa minat. Sebenarnya niatku berkunjung ke museum seni adalah mencoba pengetahuan estetika yang didapat dari buku Sejarah Estetika-nya Martin Suryajaya. Aku kira setelah membaca kitab itu, selera seniku akan meningkat dan membuatku betah melihat segala macam lukisan. Ternyata minatku hanya terpaku pada lukisan-lukisan gaya Ubud yang menggambarkan alam, budaya, dan mitologi Bali dengan warna-warna redup yang menenangkan.

Beberapa meter dari restoran The Bridge, ada sebuah Pura yang terletak di lembah hijau dengan aliran sungai yang jernih. Di belakang Pura itu, sebuah anak tangga dari batu mengarah ke sebuah bukit. Orang sekitar menyebutnya Bukit Campuhan karena letaknya di Desa Campuhan. Bukit ini dikelilingi oleh semak hijau setinggi lutut orang dewasa. Di sebelah kanannya, ada lembah dengan kumpulan pohon kelapa, angsana, bayan, dan lain-lain yang saling berebut tempat. Aku berjalan bersama serombongan orang asing yang begitu terperangah melihat keajaiban itu. Bukit yang hijau, langit cerah yang biru, angin yang membawa aroma daun, dan lembah yang menenangkan.

Aku sudah sering ke tempat ini. Mengantarkan beberapa kerabat atau teman kantor. Pemandangan biasa bagiku yang tinggal di daerah pegunungan. Tapi Bali selalu beda, bukit ini tampak terawat. Tidak ada gubuk-gubuk pedagang jagung di jalurnya. Mungkin bukit ini disucikan. Mungkin juga dijaga oleh peraturan daerah atau awig-awig. Entahlah. Ada rasa syukur ketika melihat bukit ini tetap seperti dua tahun lalu.

Sebenarnya ada yang menyedihkan dari Ubud. Daerah yang terkenal dengan wisata pesawahan yang dapat dinikmati dengan bersepeda ini tampaknya harus berjuang melawan nafsu kapitalisme. Di beberapa daerah, sawah-sawah mulai ditutupi rumah, villa, restoran, yang berusaha mencuri pemandangan subak yang indah itu untuk kepentingan komersil. Itu masalah pemandangan. Belum lagi masalah lingkungan yang akan muncul saat ruang terbuka mulai ditumbuhi pohon beton. Aku kira Ubud dengan kekentalam agama dan budayanya tidak akan mencapai titik itu. Aku juga berharap Ubud tidak menjadi Bandung yang ditumbuhi perumahan dan hotel mewah di perbukitannya, belum lagi ladang warga yang menggantikan pohon penyerap air dengan sayur mayur segera panen. Tidak heran jika Bandung kerap diterpa longsor dan banjir. Semoga Ubud tidak seperti itu. Semoga tidak.

Saat malam tiba, toko-toko di sepanjang jalan raya Ubud terlihat seperti kumpulan kunang-kunang eksotis di sebuah pekuburan tua. Pemiliknya memiliki cita seni yang tinggi. Barang-barang yang mereka jajakan dipasang pada sebuah display kaca dengan terang warna yang tidak menyilaukan mata. Orang-orang berjalan di atas bahu jalan yang ditata apik sambil sesekali melihat ke arah toko. Mereka yang tertarik memutuskan masuk dan menambah pundi-pundi uang bagi warga.

Di perempatan pertama jalan raya itu, sebuah puri besar memamerkan umurnya yang sangat tua: Puri Saren Agung, kediaman keluarga Kerajaan Ubud. Dindingnya terbuat dari batu bata yang ditata rapi. Dua gapuranya yang juga tua, bertahtakan sosok-sosok mitologis. Halaman utamanya luas. Ada sebuah arena kesenian di depan gapura besar lapis kedua yang dilengkapi dengan pintu kecil ukiran Bali. Kamboja dan beringin berlatar tembok coklat penuh lumut, menguarkan kesan angker dan angkuh.

Pukul 19.30, para wisatawan bisa menikmati pentas kesenian di halaman puri. Harga tiketnya seratus ribu rupiah. Jenis tarian disajikan berbeda setiap harinya. Kebetulan hari itu adalah Kamis dan aku menikmati sajian Legong Trance: Paradise Dance Programe, dikelola oleh Panca Artha Group.

Kursi plastik biru ditata mengelilingi arena tari dari segala penjuru. Di bagian paling depan, disediakan karpet merah untuk wisatawan yang tidak kebagian kursi. Seorang nenek tua hilir mudik menawarkan bir atau air mineral. Logatnya Inggris rasa bali. Langit berbintang. Mendung mulai menurunkan rintik hujan. Hebatnya, ketika para barisan penabuh gamelan memasuki arena, hujan seakan tertahan.

Dari sebuah pintu kecil di kanan gapura, muncul seorang pendeta dengan pakaian serba putih membawa air suci. Dengan kuas yang terbuat dari tumbuhan, sang pendeta memercikan air itu ke wajah setiap penabuh gamelan. Satu per satu dengan khidmat. Setelah itu, sebagai pembuka, para penabuh gamelan memainkan nada indah yang saling bersahutan. Selang beberapa menit, seorang pendeta gemuk dengan pakaian putih datang membawa kemenyan dan genta. Pendeta itu diiringi dua wanita paruh baya yang membawa mahkota bertaburkan bunga kamboja. Di belakangnya ada dua orang gadis suci yang diangkat oleh empat pria dewasa. Gadis-gadis itu sangat cantik dengan pakaian anggun berwarna keemasan.

Diadakanlah prosesi doa yang ditandai dengan duduknya sang pendeta dihadapan mahkota bunga sembari membunyikan genta. Setelah itu, mahkota dipakaikan kepada dua gadis perawan secara khidmat. Pendeta kembali memainkan genta ke arah gadis yang usai dipasangkan mahkota. Ritual selesai. Pendeta beserta para pengiring meninggalkan arena tari.

Kedua gadis itu sekarang menjadi pusat perhatian. Mereka mengawali gerakan dengan memegang kipas yang terbuka dan mengatupkan kaki. Alunan gamelan mulai berataluan. Gadis-gadis itu menari diiringi gamelan dengan memejamkan mata. Mereka menari dengan anggun. Gerakan tangan dan kaki mereka sungguh rumit. Hebatnya, walaupun menutup mata, mereka tidak pernah salah dalam bergerak atau bertabrakan saat berganti posisi. Semuanya sangat presisi dan indah. Mungkin sesuai dengan judul tariannya (Legong Trance), mereka dikuasai kekuatan adikodrati dengan cita seni yang tinggi. Setelah terkesima selama beberapa menit, akhirnya gadis-gadis itu sontak membuka mata. Pandangannya begitu tajam dengan lirikan-lirikan sulit yang hanya bisa dicapai dengan latihan. Kini gerakan tari masih berlanjut namun diiringi juga dengan kelihaian memainkan kerlingan mata.

Tarian selesai, para gadis terengah-engah kembali ke posisi semula. Iringan pendeta datang kemudian melakukan ritual singkat. Mahkota dikembalikan kepada para wanita paruh baya dan para gadis dibawa oleh empat lelaki dewasa kembali ke pintu kanan gapura. Pertunjukan pertama usai, gemuruh tepuk tangan penonton membahana.

Pertunjukan kedua adalah Tari Jauk. Penarinya adalah seorang pria dengan topeng berwajah pucat bermulut lebar dengan kumis tebal. Tubuhnya tinggi tegap. Ia menggunakan jubah kebesaran dengan ornamen rumit. Sosok itu membawa keris besar di belakang punggung. Kukunya panjang mencuat dari sela-sela jari. Tarian ini menggambarkan sosok raksasa yang menikmati waktu bagi diri sendiri di hutan belantara. Ia menari mengikuti alunan gamelan kesana kemari. Berinteraksi dengan para penonton dan menentukan kapan alunan gamelan dimulai dan berhenti.

Pertunjukan ketiga adalah Kebyar Trompong yang dibawakan oleh seorang penari pria dengan jubah feminin. Tugasnya menari dan menabuh gamelan besar dihadapannya. Sebuah kombinasi unik yang baru kali ini kulihat.

Hari sudah malam, tarian-tarian selanjutnya tidak aku perhatikan. Mungkin aku sudah bosan. Sudah sering aku ke Ubud menyaksikan tari-tarian. Mulai dari Fire Dance di Pura Desa Ubud hingga tarian Legong biasa di Puri ini. Bagi wisatawan yang kali pertama datang, tentu tari-tarian itu sangat mengagumkan. Namun, bagi yang sudah sering, barang tentu kehilangan minat. Ada satu tarian yang belum sempat aku lihat, Tarian Calon Arang. Biasanya dilaksanakan di setra (kuburan) pada waktu-waktu tertentu. Menurut keterangan seorang kawan yang asli Bali, tarian itu merupakan arena unjuk gigi bagi penganut ilmu leak. Penonton harus hati-hati. Salah-salah bisa menjadi korban. Sebagai pencinta misteri, lain kali aku tidak boleh melewatkan tarian Calon Arang.

Bagi yang pertama kali mengunjungi Ubud, kusarankan menginap semalam di sana. Ubud menawarkan banyak akomodasi murah dan strategis. Di jalan-jalan kecil sekitar jalan utama, seperti Jalan Bisma, Jalan Kajeng, Jalan Suwata, Jalan Gotama, Jalan Sriwedari, Jalan Sandat, Jalan Tirta Tawar, dan sebagainya. Banyak rumah warga dialihfungsikan menjadi homestay dengan harga Rp100.000 hingga Rp300.000 rupiah. Jika tidak memiliki kendaraan, lokasi ini bisa ditempuh dengan shuttle kura-kura jurusan Kuta-Puri Ubud dengan hara Rp80.000 sekali jalan.

Di pagi hari, kau bisa menyewa sepeda dan menikmati pesawahan yang hijau di punggung bukit. Jika memiliki energi lebih, kau bisa membawa sepeda naik turun tangga menuju bukit Campuhan dan mengitari Ubud dari satu bukit ke bukit lain. Pukul sembilan pagi, toko-toko disekitar jalan utama mulai bergeliat. Rata-rata mereka adalah restoran yang menjual makanan Eropa, toko buku, pasar baju, dan kafe-kafe unik. Setelah lelah bermain sepeda, kau bisa santai sejenak memanjakan lidah.

Di siang hari, kau bisa mengunjungi beberapa museum seni. Di antaranya, Museum Antonio Blanco yang memamerkan lukisan erotis wanita bali dengan payudara yang aduhai. Beberapa meter dari sana, ada Museum Puri Lukisan yang secara resmi buka pada tahun 1956. Museum ini memiliki koleksi lukisan wayang kuno yang terinspirasi dari Kitab Mahabrata di atas kain tua. Selain itu, dipajang juga karya-karya pelukis Bali lain seperti I Gusti Nyoman Lempad yang legendaris itu.

Selain museum lukisan, kau juga bisa mengunjung Monkey Forest yang sebenarnya adalah setra warga sekitar. Hutan rimbun dengan monyet memenuhi jalan ini, merupakan lokasi yang bagus untuk melihat harmoni antara hewan dan manusia. Hutan dijaga sediakala, hewan diberi makan hasil retribusi pengunjung sehingga tidak merusak pemukiman warga, dan warga sekitar mendapat keuntungan dari ramainya pengunjung.

Terakhir, dan yang tidak akan kujabarkan lebih lanjut, adalah wisata-wisata lain yang bisa dikunjungi bila kau menambah waktu bermalam di Ubud. Di antaranya, Museum Arma, Puri Peliatan, Runa Museum, Rumah Topeng, galeri seni di sepanjang tegalalang, spa, toko buku indie, toko-toko kerajinan tangan, rumah yoga yang tersebar dibeberapa lokasi, gua Gajah, Tirta Empul, dan Istana Tampaksiring.

Indekos

Pencarian indekos pertamaku adalah pada akhir 2009. Aku berangkat ke Bali bersama Ibunda dan Nenek. Beruntung ada Pak Wayan, mantan supir perusahaan Bibi, yang membantu mengantar ke lokasi kuliah. Walau sudah tua, ia tidak kehilangan keramahannya.

Kesan pertama saat mencari indekos di daerah Renon adalah kekumuhan. Kebetulan waktu itu, kami memasuki sebuah perumahan dengan cat pagar kumal, jemuran dengan BH dan celana dalam tergantung semerawut, anak-anak kecil ingusan berlari sambil berteriak, ayam-ayam berkeliaran bersama, dan anjing buluk yang penuh curiga. Aku pun menunda pencarian hari itu. Kembali ke hotel di daerah Kuta.

Kenapa begitu sulit bagiku untuk mencari indekos? Pertama, sebagai seorang muslim, aku harus memastikan indekos tidak didiami anjing. Menurut ajaran agamaku, malaikat yang membawa rahmat enggan mengunjungi rumah yang memiliki anjing. Kedua, aku tidak mau tinggal di indekos yang penuh dengan patung dan ukiran makhluk bernyawa. Alasannya hampir sama, karena itu di larang dalam agamaku. Ketiga, aku tidak ingin tinggal di tempat jorok, dipenuhi kehidupan keluarga, bising, dan semerawut.

Esoknya, aku mendaftar kuliah di Balai Diklat Keuangan. Kami bertemu dengan seorang calon mahasiswa dari Sragen. Setelah berkenalan, akhirnya kami putuskan mencari indekos bersama. Syukur, satpam kampus memiliki info mengenai indekos terdekat. Lokasinya di Jalan Badak Agung. Aku, bersama kawan baru itu, akhirnya menetap di sana sampai kuliah usai.

“Mas tolong jemurannya jangan digantung di atas,” tegur Bapak Kos setelah mengetuk pintu kamar.

Itu adalah salah satu gegar budaya yang kualami. Ternyata, bagi masyarakat Bali, haram menempatkan pakaian dalam sejajar dengan pelinggih karena itu sama saja dengan menodai kesucian tempat sakral. Aku mulai terbiasa dengan itu. Mulai terbiasa pula dengan absennya suara adzan di kala shubuh, banten (sajen) dengan dupa menyala di jalan masuk, dan pelinggih setiap pagi dan sore, serta ditolaknya pemberian daging sapi hasil kurban oleh Ibu Kos. Aku baru tahu kalau beberapa umat Hindu mensakralkan hewan ini karena merupakan tunggangan suci Dewa Wisnu.

Jarak antara indekos dengan lokasi kuliah lumayan jauh. Sialnya, tidak ada kendaraan umum menuju sana. Jalanan sekitar kampus yang terletak di pusat pemerintahan itu sangat tertib dan asri. Lokasinya berada di antara Lapangan Puputan Renon, Kantor Gebernur, Gedung DPRD, dan jajaran SKPD-SKPD Kota Denpasar. Karena tertib dan asri, aku bisa memaklumi ketidakadaan angkutan umum. Bukankah dibeberapa kota, angkutan umum menjadi biang kesemerawutan?

Kuliah telah usai dan aku harus melanjutkan kerja di Kantor Bea Cukai. Lokasi sangat dekat dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai. Indekos pertamaku seharga Rp1.500.000, ditempati tiga orang karena pertimbangan mahalnya harga. Parahnya, tidak ada kesesuaian antara harga dan fasilitas. Kamarnya sempit, kamar mandinya jorok, kecoa di mana-mana. Akhirnya, aku dengan seorang kawan memisahkan diri dan mencari indekos lain.

Jodoh kos akhirnya tertambat di Jalan Mandala. Di depan sebuah tanah kosong yang menjadi lumpur saat hujan ada sebuah indekos yang dikelola oleh seorang Jawa. Tidak ada anjing, tidak ada ukiran. Sayangnya, kami kurang cermat. Ternyata air kamar mandi mengandung cacing kecil berwarna merah yang kemudian tinggal di sela-sela tembok. Menjijikan. Belum lagi tetangga dengan anak kecil yang setiap siang berlarian sambil berteriak. Kami tidak tahan dan memutuskan mencari indekos baru.

Di belakang kantor wilayah, tepatnya di Jalan Nusantara III, kami mendapatkan sebuah indekos yang tertib dan bersih. Sayangnya, ada dua ekor anjing yang aku pikir tidak menggemaskan. Tapi bagaimana lagi? Sudah tidak ada pilihan pikirku. Nanti kita bisa pindah dan mencari tempat yang lebih baik. Alhamdulillah, keberadaan anjing itu bisa ditutupi oleh ramahnya pemilik kos, banyaknya kawan-kawan sekantor, dan akses yang dekat dengan warung makan.

Akhir 2016, setelah dua tahun menimba ilmu di Tangerang Selatan, akhirnya aku harus kembali berurusan dengan indekos di Bali. Pencarian melalui media internet tampaknya tidak mewujudkan hasil yang nyata. Banyak harga yang tidak cocok dan keadaan yang tidak sesuai dengan gambar di iklan. Di hari pertama kedatangan, aku mengunjungi kawan yang indekos di jalan Nusantara, tempat kami dulu di tahun 2010. Ternyata bapak kos membangun indekos baru di daerah Desa Adat Kelan. Syukurlah. Walau masih beberapa hari lagi kos itu kosong, aku bisa menginap sementara di kos teman.

Bangun Bali tolak reklamasi

Sayang Bali tolak reklamasi

Bangun Bali tolak dibohongi

Rusak Bumi dan anak negeri

Lirik lagu ini terdengar kencang diiringi alunan gitar dari indekos sebelah. Saat itu tengah siang, panas matahari sedang tidak bersahabat. Aku berusaha tidur siang sambil mengelap keringat yang bercucuran tiada berhenti. Kos baruku bersih dan berada di lingkungan yang terbuka. Tidak ada anjing atau ukiran makhluk hidup Tidak ada satu pun tetangga yang kukenal. Rata-rata mereka berpasangan, terlihat dari sepatu yang bertengger di muka pintu.

Satu lagi masalah yang harus diperhatikan saat indekos di Bali adalah, kita harus paham berada di desa adat mana dan di wilayah banjar mana. Biasanya pecalang (unit pengaman banjar) akan melakukan inspeksi mendadak ke beberapa indekos untuk mencari penghuni pendatang yang belum mendaftarkan dirinya. Beruntung bagi mereka yang ditahan KTP dan harus mengambil di kantor banjar. Lebih memalukan lagi jika harus dibawa menggunakan mobil dengan kursi panjang di bagian belakang seperti mobil SATPOL PP. Seperti gelandangan dan pengemis terkena razia. Dari pendaftaran ke kantor banjar itu dibuatkanlah Kartu Identitas Penduduk Sementara. Biasanya diperpanjang tiga bulan sekali. Biaya lagi, biaya lagi. Tapi bagaimana lagi? Sebagai penduduk pendatang kita harus memegang pitutur: di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.

Kuta

Langit biru cerah tanpa penghalang. Ombak menampar pantai, menyemburkan buih yang terbawa angin, diterpa hujan. Bangsa Eropa berkulit pucat memamerkan ketelanjangan di tepi pantai. Mereka membawa buku yang dibaca menggunakan kacamata hitam. Beberapa berciuman dengan mesra tanpa peduli orang sekitar.

“Massage, Mr? Massage? seorang nenek dengan topi lebar dan kotak peralatan pijat menghampiri bule satu per satu.

Kadang kala satu bule disemuti banyak orang. Pedagang gelang, pedagang baju, pedagang panah dan busur, pedagang minum, dan nanas segar. Banyak penolakan terjadi. Tapi demi sesuap nasi, para pedagang itu bersikukuh, memelas, bahkan memaksa.

Kuta selalu indah walau gangguan itu kian menjadi-jadi. Para wisatawan asing menjadikan pantai ini sebagai tujuan utama perjalanan mereka. Tidak ada tradisi lokal yang kuat di sekitar pantai. Pantai dipenuhi oleh para pedagang, lelaki kulit hitam dengan rambut gimbal berwarna merah yang menawarkan bir sambil menyanyikan music reggae. Di hadapan pantai, berdiri hotel-hotel yang berlomba dalam kemewahan. Pusat perbelanjaan juga dibangun, Beach Walk, yang memiliki arsitektur serupa rumah keong raksasa di pinggir pantai.

Kuta adalah rumah bagi wisatawan untuk menikmati budaya mereka: minum alkohol, pesta, dan seks di negeri dewata. Rata-rata pengunjung adalah kawula muda yang mencari kebebasan. Sebuah pijakan pertama bagi muda-mudi Australia yang menjajal sensasi wisata luar negeri.

Suatu ketika, pantai ini belum memiliki pagar yang membatasi jalan dengan hamparan pasir. Para wisatawan bisa melihat laut dari mobil sewaan mereka. Ada dua pedagang masakan yang kerap aku kunjungi. Pedagang nasi asal Jawa yang menjajakan makannya dengan piring rotan beralaskan kertas, dan pedagang nasi padang yang menyajikan ikan asam padeh dengan es jeruk yang nikmat. Aku bisa makan sambil menikmati indahnya pantai. Melihat birunya langit sambil sesekali melihat bule wanita yang bertelanjang dada.

Kini, ada batas antara jalanan dengan pantai. Penjaja makanan itu sudah tidak ada. Namun para pemijat, pedagang kain, pedagang gelang, masih berjualan di sana dengan membayar sekian rupiah kepada pihak desa. Bule wanita sudah tidak ada lagi yang berani telanjang dada. Biasanya ada rombongan besar pemuda dengan celana jeans dan baju berwarna mencolok yang meminta berfoto dengan bule yang sedang bersantai. Mungkin ketelanjangan yang hilang itu akibat gangguan dari para turis lokal yang kerap minta swafoto.

Bagaimanapun kondisi pantai ini kelak – meski dibanjiri sampah dari Tukad Badung, atau diancam bom oleh kelompok radikal – Kuta tetap akan jadi lokus perasaan yang selalu diingat setiap orang. Setiap bulir pasirnya adalah kenangan. Setiap deru ombaknya adalah cinta. Begitulah Andre Hehanusa mendendangkan lagunya yang legendaris,

Semua berlalu dibalik khayalku

Kenangan yang indah berdua denganmu

Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku

Di Kuta Bali cinta kita.

Badung, Desember 2016