Sebuah Surat yang Menjengkelkan

Saya kasihan pada hujan Januari-Februari yang dilupakan

Tak ada galauan

Atau romantisme picisan

“Bau hujan selalu mengingatkan tentang kita”

Sebelum kamu menenggak habis kopimu, lalu membagikan berita-berita dari media yang tak punya wartawan, hanya mengambil berita lalu menambal dengan kalimat doa, motivasi, dan (ironisnya juga) provokasi, bisakah saya mengajukan beberapa tanya kawanku?

Bisa ya?

Buat kawanku yang PNS, yang digaji dengan uang rakyat, yang Alhamdulillah bisa menabung dan berinvestasi membuat usaha kos-kosan, atau punya rumah kontrakan, atau warung kecil-kecilan. Apakah penghasilan dari usaha-usaha tersebut sudah kalian laporkan dan bayar pajaknya?

Buat kawanku yang kerja di perusahaan swasta atau BUMN, yang pakaiannya necis dan modis, serta gadget terbaru dalam genggaman. Pernahkan mengecek daftar potongan gaji kalian? Apakah sama antara penghasilan yang kalian terima dan bukti potong yang diberi tempat kerja kalian? Tidak sama ya, kawan? Maukah kalian melaporkan penghasilan sebenarnya, sebagai dasar bagi teman-teman kerja saya yang pundaknya letih dibebankan target penerimaan negara, sebagai bukti awal memeriksa tempat kerjamu kawan? Berani tidak? Memang revolusi tidak semudah mengetik tombol like dan share di media sosial kita.

Buat kawanku yang mengerti hukum, para advokat yang hebat-hebat niat, sudahilah silat lidah soal undang-undang pajak yang tidak adil di sana-sini itu. Ah saya pun sadar itu tetapi izinkan saya bertanya, penghasilan yang kalian dapat dari para klien itu sudahkah dilaporkan secara benar di laporan pajakmu, kawan?

Buat kawanku notaris-notaris yang gagah dan cantik-cantik. Mari jujur sajalah, kadang begitu banyak transaksi yang bukan harga sebenarnya, bukan? Tetapi sudahlah, tak usahlah dibahas lebih jauh. Toh saya tahu kawan-kawan hanya menerima keterangan dan bukti SPPT PBB saja. Tetapi izinkan kawanmu ini bertanya, apakah fee atas setiap jasa kalian sudah dilaporkan secara benar? Atau hanya asal lapor saja?

Buat kawanku yang dokter baik hati dan suka menolong, yang waktu sekolah saya tahu buku adalah teman setianya. Selain gaji dan penghasilan dari rumah sakit, sudahkan melaporkan penghasilan dari klinik atau tempat praktek kalian, kawan? Apakah benar jumlahnya atau asal lapor saja?

Buat kawanku yang pengusaha. Maaf mesti kuajukan tanya ini juga, apakah omset yang kalian laporkan sudah wajar?

Banyak nian tanyaku ya, kawan?

Oiya buat kawan-kawanku yang dilisannya ada sumpah jabatan tetapi akhir-akhir ini sibuk debat di media sosial pada jam kerja. Kurang-kurangilah itu. Malu. Nanti dibilang tak kerja padahal saya tahu kalian sudah mati-matian kerja siang sampai malam demi negara. Kasihan orang-orang yang mengira kalian tidak kerja, mereka bisa kena dosa karena kita yang tak waspada.

Oh iya, kawan, mungkin kopimu sudah habis, dan mulai mengomeli tulisan tidak mutu ini. Silakan masuk ke akun media sosial atau grup sosial dunia mayamu, mulai menggerutu lagi dan perang opini lagi.

Saya memilih menikmati jatuh cinta

Pada rinai hujan yang ada kenangan tentang kita.

NB : Sungguh, kawan, saya hanya takut ketika semua data mengarah ke kalian, lalu mesti berhadapan dengan saya atau teman-teman saya, dan pada saat itu saya membuat kalian kecewa karena saya hanyalah pelaksana undang-undang dan terikat sumpah jabatan.