Notula Tax Cafe 2

“Ini seperti Laskar Dumbledore, ya?” ujar seorang teman yang baru pertama kali ikut Tax Café. Saya meringis, mengangguk pelan, kemudian menjawab, “Bedanya, ini tidak rahasia.”

Bagi Anda yang kurang familiar dengan dunia Harry Potter, Laskar Dumbledore itu semacam geng, yang terdiri dari Harry Potter dan teman-temannya sesama murid di Hogwarts. Secara sembunyi-sembunyi, mereka mengadakan pertemuan untuk saling belajar dan mengajari ilmu sihir untuk mempersiapkan diri melawan Voldemort.

Tax Café lebih-kurang seperti pertemuan Laskar Dumbledore, memang. Sebuah tempat disediakan secara khusus untuk berkumpul bersama-sama membahas suatu materi. Bedanya, tentu saja, Tax Café tidak sembunyi-sembunyi. Siapapun bisa ikut. Dan, kurang pas rasanya menyebut Tax Café ajang untuk saling belajar dan mengajari, karena pada dasarnya ini kegiatan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Jika di dalam pendapat tersebut ada ilmu baru, silakan diserap. Tapi percayalah, tak ada yang akan menggurui yang lainnya. Yang ada hanyalah “pemantik diskusi” dan moderator.

Dari Senopati menuju Kemang

Sejujurnya Tax Café 2, yang dilaksanakan hari Kamis, 26 Januari 2017 lalu itu, terasa kurang “kafe”. Saat saya tahu Tax Café 2 akan berlokasi di gedung Colony, Kemang, Jakarta Selatan, saya hanya berpikir “Suatu kemajuan, ya, yang tadinya di kafe pinggir bilangan Senopati sekarang pindah ke nadi Kemang. Pasti sewa tempatnya mahal.” Seumur hidup saya belum pernah masuk ke Kenobi Space, jadi saya tidak membayangkan kalau tempatnya sekadar ruangan kosong berisi deretan kursi-kursi bak seminar.

Yah, anggaplah yang barusan itu kritik. Jika ada hal yang terasa kurang pas, akan selalu diperbaiki di Tax Café berikutnya. Saya pribadi juga sama sekali tidak menyesal. Salah satu penyebabnya adalah karena Muhammad Fajar Nugraha (a.k.a. Ajay) menjadi pemantik diskusi pada Tax Café kali ini. Mas Ajay ini ketua kelas kami di DIV PKN STAN, lho. Beberapa teman sekelas turut hadir untuk menyaksikan ketua kelas sekaligus pegawai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ini menyampaikan paparannya mengenai refleksi 2016 dan outlook 2017 di bidang makroekonomi. Mendampingi Ajay adalah Nala Kurniawan. Jika pembahasan Ajay lebih kental tentang makroekonomi secara komprehensif, mas Nala sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) lebih spesifik membahas refleksi 2016 dan outlook 2017 di bidang perpajakan.

Walaupun datang sekitar 18.50 atau 20 menit terlambat dari jadwal yang tertera di publikasi, ternyata diskusi belum dibuka. Saya duduk di deretan kursi paling belakang, bukan karena ingin dekat-dekat dengan suguhan kopi dan kue-kue yang digelar di meja belakang saya, tetapi karena beberapa teman saya duduk di deretan paling belakang. Sekitar pukul 19.00, Yanuar Falak Abiyunus sebagai moderator pun membuka acara.

Yustinus Prastowo, direktur eksekutif CITA, mengawali acara dengan menyampaikan sambutan yang lebih-kurang sama seperti yang ia sampaikan di Tax Café 1 sebulan sebelumnya—yakni bahwa Tax Café ini adalah ajang untuk diskusi, dan semuanya bebas berpendapat dan berbicara.

“[…] karena hanya dua yang pasti di dunia ini, yakni pajak dan kopi. Jadi, lebih bagus jika ngomongin pajak sambil ngopi,” ujarnya yang disambut gelak tawa oleh para peserta. Ia menyebutkan, Tax Café telah membentuk tradisi baru, yakni diskusi perpajakan yang dilakukan di ruang publik agar lebih banyak orang yang bicara tentang pajak.

“Di kafe, tidak sekadar menyeruput kopi atau makan kue, tapi juga sekaligus diisi dengan diskusi yang berbobot,” jelasnya. Ia juga menyampaikan rencananya untuk membawa Tax Café dalam suatu tur di beberapa kota, dengan mengundang mahasiswa-mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, agar diskusi tentang pajak ini semakin meluas.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ajay dan Nala. Berbeda dengan pemaparan Erikson Wijaya dan Andreas Rossi Dewantara sebagai pemantik diskusi di Tax Café 1, saya merasa pemaparan Ajay dan Nala ini lebih panjang. Mungkin karena presentasi mereka yang kaya akan tabel dan statistik, di samping topik “Refleksi 2016 dan Outlook 2017” itu sendiri yang memang komprehensif.

Namun, patut diakui, data-data inilah yang kami tunggu-tunggu dari pemantik diskusi yang merupakan “pelaku langsung”, alias orang yang pekerjaannya sehari-hari adalah berkutat dengan data-data penentu kebijakan.

Tax Amnesty

Namun, sementara materi diskusi digelar sebegitu komprehensifnya tentang makroekonomi, agaknya peserta diskusi lebih suka membahas perpajakan. Terbukti, diskusi lebih kental membahas Tax Amnesty, NPWP, hingga sistem informasi DJP. Berkaitan dengan Tax Amnesty, bahasan tentang evaluasi pelaksanaan Tax Amnesty di tahun 2016 hingga kebijakan pemerintah pascaberakhirnya Tax Amnesty di tahun 2017 masih ramai digeluti peserta Tax Café 2—membuat saya sedikit teringat dengan materi Tax Café pertama Desember lalu.

Sebagaimana kita tahu, di 2017 ini Tax Amnesty akan memasuki periode terakhir. Peserta diskusi kritis tentang tindak lanjut yang akan diambil pemerintah selepas 31 Maret 2017, alias saat Tax Amnesty berakhir. Apakah pemerintah akan konsekuen dengan “ancaman” untuk melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang tidak berpartisipasi dalam Tax Amnesty tetapi terbukti memiliki harta yang belum dilaporkan? Apakah pemerintah memiliki daftar yang berisi nama-nama Wajib Pajak yang tidak jujur ini? Lalu bagaimana dengan pemanfaatan data aset yang diungkapkan selama Tax Amnesty?

Pertanyaan terakhir ini membawa diskusi ke wilayah yang lebih luas lagi, yakni tentang kualitas sistem informasi DJP. Di tahun 2018, pemerintah menggaungkan dilaksanakannya Automatic Exchange of Information (AEoI) sebagai senjata untuk mengungkap data Wajib Pajak-Wajib Pajak yang tidak jujur. Apakah AEoI akan berjalan efektif, melihat sistem informasi DJP yang kini dinilai belum tersinkronisasi dengan baik?

Diskusi tentang pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi konsentrasi utama peserta diskusi. Tentu saja, moderator dan pemantik diskusi—khususnya Nala—sigap mengarahkan pembahasan untuk menghasilkan argumentasi yang solutif. Sekitar pukul 21.30, Yustinus Prastowo menutup acara dengan serangkaian pernyataan penutup, khususnya tentang pentingnya melakukan identifikasi masalah sebagai landasan berdiskusi, agar kesimpulan yang diambil pun valid dan memberikan pencerahan. Tak lupa, cinderamata diberikan kepada peserta diskusi yang aktif menyampaikan opininya. Acara pun ditutup dengan foto bersama.

Untuk mengetahui isi diskusi Tax Café 2 dengan lebih lengkap, silakan unduh Notula Tax Café 2 di bawah ini. Bagi Anda peserta Tax Café 2, jangan lupa melengkapi kuesioner Evaluasi Tax Café 2 yang telah dikirimkan ke email Anda masing-masing.

Nantikan Tax Café 23 di Februari ini, ya!

Notula Tax Cafe 2