Surat untuk Parada

[Kemarin, seorang kawan yang tidak mau disebut namanya mengirim pesan kepada kami. Dia memilih pseudonym dengan nama Castro Abraham. Pesan tersebut berisi pemberitahuan sidang dan proses hukum atas pembunuhan Fransriano Toga Parada Siahaan dan Sozanolo Lase, Jurusita Pajak dan tenaga honorer di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sibolga yang meninggal dalam tugas karena dibunuh oleh Agusman Lahagu di Nias 12 April 2016 lalu. Saat ini, sidang atas kasus tersebut sedang berlangsung. Tulisan tersebut kami angkat sebagai upaya untuk terus mengingat mereka. Kami menolak lupa. Bahwa masih banyak yang harus dibenahi di lembaga ini, di negara ini.]

Halo, Parada.

Sudah sembilan bulan sejak kau mangkat. Surat ini kutulis untuk mengabarkanmu soal banyak kenyataan yang tidak memihak pada harapan, juga soal harapan yang masih bisa kita perjuangkan. Aku tahu, kau sama sekali tidak membutuhkan kabar-kabar itu. Dimensi kita sudah berbeda, ruang dan waktu disekitar kita pun tidak lagi sama.

Parada, sebagai kawan, meski ini tidak mungkin, rasanya aku ingin bertemu untuk sekadar minum kopi dan berbincang tentang entah apa saja. Atau untuk sekadar menertawakan nasib seadanya. Tapi sayangnya, kita tidak ditakdirkan untuk pernah bertemu. Bahkan untuk bersitatap sejenak sekalipun. Hanya namamu saja yang sering kudengar. Fransiano Toga Parada Siahaan, lengkap dengan kabar tentang kematianmu saat itu. Kabar yang membuat emosi menjungkirbalikkan kewarasanku.

Parada, beberapa waktu setelah kau meninggal, banyak umbaran harapan meluncur dari lisan-lisan petinggi negeri ini. Mulai dari pembenahan kinerja institusi, janji penegakan hukum yang lebih bertaji, bahkan Presiden kita juga turut berkomentar dengan berencana memberi perlindungan bagi kita pegawai pajak. Aku cuma bisa berharap semua janji itu terlaksana dan aku akan mengingat selalu bahwa ada jejak kehidupanmu di balik semua wacana itu. Lepas dari darah yang sudah terlanjur tumpah, di mataku, kehidupanmu berakhir indah, Parada. Bukankah sebuah keindahan adalah ketika kehidupan kita menjadi jalan terwujudnya suatu perbaikan?

Parada, tetapi aku juga mau cerita bahwa keindahan itu nyatanya tidak lama menetap di benak sebagian pegawai instansi tempat kita sama-sama pernah bernaung. Aku melihat usai elegi hidupmu, tidak ada perubahan cara pandang mereka dalam memaknai pekerjaan yang akhirnya menuntut nyawamu. Laku mereka tetap sama. Muak aku melihat mereka saling lempar pekerjaan, hanya karena pekerjaan itu diluar job desc atau mungkin karena tidak ada honornya. Padahal take home pay mereka sudah belasan atau bahkan puluhan juta. Beda jauh di banding kita yang masih sesama pelaksana ini. Kerja aman, gaji nyaman. Begitu mungkin prinsip mereka. Tapi tidak mungkin juga kuamuk mereka yang nuraninya sudah terlanjur tumpul, teronggok begitu saja di atas busa empuk jabatan dan kekayaan.

Parahnya lagi, kusaksikan kebodohan semacam ini mulai menjangkiti level yang lebih rendah. Benar dugaan orang di luar sana, gaji besar tidak lantas membuat seseorang konsisten bekerja lebih baik. Apalagi kalau kita bicara keadilan, cerita yang sama yang dulu bisa jadi pernah kau dengar. Soal ketidakjelasan mutasi itu tetap ada. Seolah tidak terdeteksi, entah mengapa ada yang dalam satu dekade sama sekali tidak beringsut dari kantor yang sama. Ada yang pakai jalur cepat: merapat ke pejabat, lalu diangkat, dan kemudian jemawa seolah telah meraih kuasa itu dengan tangannya sendiri. Sayangnya, di tengah itu semua, para pesohor lembaga ini masih sibuk selfie-selfie seolah lupa bahwa itu tiada berdampak sama sekali bagi organisasi. Mungkin cuma kiamat yang bisa membenahi laku manusia macam mereka.

Parada, aku sudah mulai maklum bila banyak orang memandang sinis korps yang kita cintai ini. Target tidak tercapai, tukin dipotong. Lalu banyak dari kita menyesali untuk tidak lama kemudian lupa lagi. Iya, bagaimana mau tercapai bila kapasitas internal instansi ini masih begini-begini saja. Kita sibuk menjual drama dan tuturan kisah sedih bahwa kita bersih, tetapi sejatinya mental kita belum sepenuhnya berubah. Benar, banyak dari kita sudah lebih berintegritas. Namun, sinergi dan totalitas sudah bagai hiasan dinding belaka. Bagaimana rakyat mau mendukung dan melihat bahwa kita pantas diposisikan lebih tinggi bila kita sendiri tidak berjuang untuk itu? Kita ini terlalu sibuk menghias ruang tamu sampai lupa dapur kita sudah penuh jelaga dan sarang laba-laba.

Parada, kabar tentangmu mulai tidak seramai dulu. Baru-baru ini saja kembali ramai jelang pembacaan tuntutan terhadap pelaku yang keji itu. Aku tahu surat ini tidak akan pernah kau baca, Bos! Sampai pun tidak. Tetapi sebagai kawan, aku ingin kau tahu bahwa aku akan menjadi satu di antara sedikit manusia negeri ini yang akan mengingat namamu. Bahkan ketika zaman pelan-pelan menggusur panggung yang sudah kita bangun. Parada, bila kelak ada kesempatan berjumpa dengan anakmu, izinkan aku bercerita tentang kisah heroikmu yang gugur dalam tugas.

Oya, besok jadwal sidang penuntutanmu digelar kejaksaan. Bagiku, itu bukan sekadar sidang tetapi gelaran di mana wibawa negara dipertaruhkan. Kematianmu seharusnya menjadi pemantik soal harga diri ibu pertiwi yang tercabik oleh laku lancung anak kandungnya sendiri. Hak negara yang kau perjuangkan dalam tugas nyatanya dengan hina telah disepelekan oknum bernama Agusman Lahagu. Menurut kabar, ia masih saja menempati rumah yang seharusnya sudah kau sita* karena utang pajak yang belum juga ia bayar. Kemenangan negara dalam sidang itu adalah harapanku juga mereka yang tidak ingin menyia-nyiakan nyawamu. Dan sejujurnya, itu juga akan menjadi pengobat duka istri dan keluargamu. Aku bisa membayangkan itu.

Aku terlalu jauh dari pusat kekuasaan itu, Parada. Aku hanya bisa menulis surat ini dengan sebuah titah bahwa negara tidak boleh kalah. Dan dalam episode hidupmu, hidup kita adalah cerita tentang harus tegaknya sebuah marwah. Boleh saja orang lain menganggap surat ini sangat utopis, sunyi, dan tak bernyawa. Namun, surat ini mengandung harapan semoga umbaran semangat perbaikan yang dulu meluncur masif menyusul kematianmu, benar-benar mendapat tempatnya. Tempat itu setidaknya dimulai dari tuntutan dan vonis yang setimpal bagi Agusman Lahagu, juga bagi siapapun yang memandang rendah nyawa dan harga diri kita para petugas pajak.

Parada, cukup sekian surat yang bisa kutulis. Semoga Tuhan yang maha pengasih senantiasa menjaga anak dan istrimu. Kami, kawan-kawanmu, sebisanya akan mengingat pengorbananmu sebagai pahlawan pajak. Dan setidaknya di mataku dan orang-orang sepertiku, kematianmu tidak akan sia-sia.

*) Catatan redaksi: menurut kabar, plang sita memang sudah dilepas. Dan lagi, sita tidak mengubah status kepemilikan harta Wajib Pajak. Wajib Pajak tetap dapat meninggali rumah meski telah disita. Hak kepemilikan baru beralih setelah rumah tersebut dilelang (Wajib Pajak tidak melunasi utang pajaknya sampai rumah tersebut dilelang).