Rizieq, Firza, dan Kecabulan

Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah: barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui. (Hadits Riwayat Al Baihaqi)

1485781503655

Konsekuensi hukum atas suatu perbuatan banyak diatur dalam Islam. Kita tak akan kekurangan contoh hukuman yang bisa membuat rambut di bagian belakang kepala kita bergidik. Sebut saja: pancung, potong tangan, rajam, jilid, dan banyak hukuman lainnya. Namun kenapa mesti memberi udzur sampai 70? Kenapa tidak langsung sat-set saja?

Saya bukan ahli hadis dan tidak pintar-pintar amat soal fikih, tetapi untuk menjatuhkan suatu hukuman kepada seseorang, Islam tetap mengharuskan adanya pengadilan, bukti, dan saksi. Jika tak punya semua itu, hadis di atas adalah sebaik-baik hal yang bisa kita lakukan. Alih-alih menuruti nafsu menghakimi, Nabi memerintahkan kita memberi toleransi atas kesalahan-kesalahan orang lain yang kita tidak tahu benar. Anda boleh menganggap ini nasehat, anjuran, atau perintah. Namun jika muslim, anda tak punya alasan untuk tidak mematuhinya. Jika bukan, anda tetap perlu melakukannya atas nama kewarasan.

Sudah baca gosip perselingkuhan Habib Rizieq dengan Firza Husein? Sudah dapat foto-foto telanjang Firza? Atau malah sudah ikut-ikutan share di media sosial? Anda percaya?

Silakan kalau mau stalking sampai kuota internet anda habis. Anda bisa klik-kanan-save-as foto-foto Firza sebanyak yang bisa anda temukan untuk bahan ‘aktivitas pribadi’ anda. Anda boleh percaya bahwa gosip perselingkuhan itu benar. Kepercayaan adalah urusan batok kepala masing-masing. Tak ada yang bisa mengubah kepercayaan anda pada sesuatu kecuali anda sendiri. Namun sebenci-bencinya anda pada Habib Rizieq, tak ada alasan yang bisa membenarkan anda berbuat semaunya untuk melakukan pembunuhan karakter dengan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Saya beri tahu satu rahasia kecil tetapi anda harus janji tidak akan memberi tahu orang lain. Ini antara kita-kita saja ya: capture percakapan WhatsApp ternyata bisa direkayasa. Anda bisa membuatnya melalui situs Fake WhatsApp maupun aplikasi lain. Misalkan anda ingin membubarkan hubungan mantan anda dengan kekasihnya saat ini, anda juga bisa memanfaatkan aplikasi ini. Buat saja capture dialog fiktif antara anda dan mantan, tambahkan foto mantan anda yang bisa memprovokasi kemarahan kekasihnya, terakhir kirimkan capture dialog fiktif itu ke kekasih dari mantan anda. Tentu saya tidak benar-benar bermaksud menyarankan anda melakukan itu. Selain tidak etis, toh mantan anda tetap tidak akan kembali. Yang ingin saya katakan adalah, aplikasi semacam itu ada dan akibatnya bisa betul-betul keparat. Jika capture dialog anda dengan mantan bisa direkayasa, maka dialog Habib Rizieq dengan Firza Husein tak ada bedanya.

Tapi kan ada rekaman suara Firza curhat tentang perselingkuhan mereka?

Saya tak berani meremehkan pengetahuan anda dengan memberi tahu bahwa suara juga bisa direkayasa. Saya tak mengatakan ada sound engineer yang merekayasa suara mirip dengan suara Firza (dalam hal anda adalah jenis orang yang terbiasa memelintir omongan orang, atau cuma tidak beres prosedur berpikirnya, informasi tersebut tentu perlu dilampirkan). Saya cuma mau mengatakan suara bisa direkayasa. Kalau anda mau, bukan tidak mungkin dibuatkan rekaman mirip suara anda tengah bertelepon ria dengan Soeharto kemarin sore, meskipun kita semua tahu jenderal dari Kemusuk itu telah lama mati. Zaman sekarang ini, apa sih yang tak bisa dipalsukan?

Termasuk foto Firza yang diam-diam anda simpan itu, juga boleh anda cek keasliannya. Sekalipun nanti terbukti foto itu asli, anda tetap harus ingat satu hal: semua orang punya masa lalu. Barangkali itu benar foto Firza tetapi diambil sekian tahun lalu, siapa yang tahu? Atau foto itu memang dibuat baru-baru ini, tetapi siapa sih yang tidak pernah khilaf? Siapa sih yang tidak punya dosa? Anda?

Bahkan jika gosip perselingkuhan Habib dengan Firza terbukti, apa urusan anda? Biar saja itu jadi urusan Habib Rizieq, Firza Husein, pasangan sah mereka, dan tuhan masing-masing. Dan tak perlu dihubung-hubungkan dengan hak politik Habib maupun Firza akhir-akhir ini. Mereka tetap punya hak yang sama dengan anda. Justru pihak yang membongkar rahasia privat mereka kepada publik itulah yang mesti diperkarakan.

Masih ingat dengan video Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari sekian tahun lalu?

Banyak orang menuntut Ariel dipenjara karena dianggap telah merusak moral bangsa, atau alasan-alasan dungu lainnya yang bisa diproduksi oleh otak mereka. Barangkali anda juga termasuk golongan orang-orang itu. Atau barangkali anda berada pada posisi yang berseberangan.

Seandainya saya ada di Jakarta saat itu, rasanya ingin sekali mendengar konsep yang privat dan yang publik menurut orang-orang yang sangat bernafsu mengirim Ariel ke penjara itu. Harusnya bukan Ariel yang mereka tuntut untuk dihukum, tetapi orang yang menyebarkan video privat itu kepada publik. Tentu saya tidak sedang berbicara tentang “bagaimana hukum positif kita yang ada saat ini”, tetapi “tepatkah hukum positif kita saat ini” memandang seks. Penentuan domain privat atau publik selamanya adalah diskursus filosofis-etis. Melampaui perkara legal-formal. Melampaui hukum.

Saya ingin berdiskusi dengan mereka tentang itu tetapi saya tak mungkin melakukannya. Selain sedang tidak di Jakarta, saya juga ragu mereka siap untuk hal-hal semacam itu. Saya tak yakin isi kepala mereka diciptakan untuk berdiskusi. Mereka lebih cocok dijadikan bahan percobaan mesin waktu, dikirim ke abad pertengahan di mana orang yang berbeda pemikiran bisa dibakar hidup-hidup. Tentu tak perlu dijemput kembali karena mereka akan cepat beradaptasi.

Hubungan seks yang dilakukan dengan sadar, tanpa paksaan, dan tidak di bawah umur, selamanya adalah urusan privat. Jangankan anda, negara saja tak berhak menjatuhkan vonis apa-apa pada urusan privat seseorang. Firza dan Habib bisa berbuat salah, begitupun anda dan saya. Semua orang bisa salah tetapi jangan membiasakan diri mencampuradukkan yang tidak ada hubungannya sama sekali. Apalagi cuma untuk membunuh karakter seseorang.

Begini, anda pasti juga jengkel jika aktivitas seks anda direcoki FPI, bukan?

Jika sampai di sini anda sudah sepakat, berarti anda berada di jalur yang tepat. Pertahankan jalur itu saat anda bertemu dengan kasus-kasus serupa, siapa pun yang diduga menjadi pelakunya. Belajarlah konsisten. Jangan pilih kasih. Jangan membeda-bedakan apakah pelakunya seorang Habib, selebritis, aktivis, liberal, komunis, ateis, kafir, mahasiswa, pejabat, borjuis, maupun kaum kere. Adil sejak dalam pikiran itu memang lebih gampang dikatakan (atau ditulis di media sosial) ketimbang dilakukan. Tetapi teruslah mencoba biar anda bisa genap menjadi manusia.

Kalaupun anda tidak sepakat, tidak masalah. Pun jika anda sekaligus menuduh saya anggota FPI atau penggemar Habib Rizieq karena membuat tulisan ini. Tidak apa-apa. Selain terkenal sebagai orang yang pemaaf, saya sudah pernah mengalami yang seperti itu. Saya pernah dituduh sebagai simpatisan PKS karena mendukung kalimat Fahri Hamzah. Itu terjadi setelah saya menulis soal Munyuk. Di kolom komentarnya, anda bisa melihat contoh sekelompok primata yang merasa telah menjadi manusia cuma karena kebetulan bisa mengetik dan punya kuota internet. Sekali lagi tidak apa-apa, saya punya banyak sekali pemakluman untuk entitas biologis semacam itu. Saya yang harus maklum.

Yang sama-sama spesies manusia saja, proses evolusinya bisa menghasilkan perkembangan otak berbeda-beda. Apalagi dibandingkan dengan sebangsa beruk.