Notula Tax Cafe 1

“Yak, singkat saja. Pertama, terimakasih atas kehadiran teman-teman semua. Saya menyambut baik kita bisa berkumpul. Jarang sekali orang-orang pajak bisa berkumpul, kecuali ada makanan. Jadi kalau orang Yunani berkumpul kan karena makan dan minum. Itu yang penting, perayaan itu kegembiraan. Kita ingin membuat pajak itu menjadi momen kegembiraan. Maka kita merintis, mengajak teman-teman untuk membuat satu forum lah. Supaya pajak itu bukan sekadar wacana atau isu elitis yang ada di Gatot Subroto, yang ada di Lapangan Banteng. Gitu, kan? Tapi menjadi isu orang-orang di Gatsu dan orang-orang di Lapangan Banteng dan dibawa keluar.”

Persis setelah dipersilakan oleh Meidiawan Cesarian Syah (Memed), Yustinus Prastowo langsung membuka diskusi. Tanpa podium dan pengeras suara, ia membawa peserta ke kisah-kisah para pemikir zaman klasik dan renaisans untuk menjelaskan kenapa harus Tax Cafe? Lebih tepatnya, kenapa harus Cafe? Barangkali ia berharap Tax Cafe akan seperti Café de Flore atau Les Deux Magots Café di St-Germain-de-Prés, Paris. Sepasang cafe legendaris yang menjadi tempat nongkrongnya Pablo Picasso, Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, Brigitte Bardot, Albert Camus, Simon de Beauvoir, dan lain-lain. Barangkali Yustinus berlebihan, barangkali juga tidak. Namun, jika boleh berandai-andai, ketimbang menjadi seperti Café de Flore atau Les Deux Magots Café, kenapa tidak sekalian seperti cafe Le Procope di mana JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot merencanakan revolusi Perancis?

Lapangan Banteng yang dimaksud Yustinus adalah Kementerian Keuangan. Sementara Gatot Subroto (Gatsu) adalah Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (KP DJP). Hanya lima belas menit naik motor dari markas besar DJP itu, diskusi Tax Cafe perdana digelar. Tepatnya di Ruang Mezzanine, Anomali Cafe, Jalan Senopati No. 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebenarnya diskusi baru dimulai 18.30, tetapi ruang berdinding kaca itu sudah penuh saat daftar hadir baru dibuka setengah jam sebelumnya. Rata-rata peserta datang tepat waktu. Di antaranya, tampak Akbar Saputra dan Marli Haza Fauzi. Hanya satu-dua peserta yang datang menyusul saat acara sudah setengah jalan.

“Dan cafe adalah pilihan karena cafe itu identik dengan rileks, yang lebih menyenangkan. Akrab. Kita ingat dulu juga para pemikir zaman pencerahan, mereka berkumpul di salon, di cafe, merayakan pemikiran. Nah kita berharap begitu. Kita menyambut baik inisiatif itu. Saya pribadi hanya akan memfasilitasi. Tut wuri handayani, mendorong dari belakang. Saya menggunakan metode kebidanan saja. Membantu untuk melahirkan gagasan, membantu melahirkan ide-ide yang brilian. Karena sudah saatnya dunia perpajakan itu dilibati oleh semakin banyak orang. Karena pajak semakin penting. Itu impian kami enam tahun lalu ketika saya meninggalkan Ditjen Pajak dengan tekad mainstreaming isu pajak. Tax justice harus jadi isu. Bagaimana caranya? Ya harus ada gerilya, itu kerja politik. Dan saya senang karena akhir-akhir ini semakin banyak orang bicara pajak. Itu adalah ikhtiar kita bersama. Dan kita akan melakukan ijtihad itu, saya kira. Eksperimentasi. Ini laboratoriumnya. Anda semua adalah narasumber di sini. Jadi tak ada narasumber, tak ada peserta. Kita sepakat, semua harus bicara. Sehingga saya juga tidak akan bicara lagi supaya kalian bisa banyak bicara. Nah itu yang saya kira penting.”

“Dan ini forum sederhana, masih kecil. Embrio. Kita harus besarkan bersama-sama juga. Saya minta komitmen kita semua supaya ini menjadi forum yang tidak perlu besar tetapi signifikan pengaruhnya dalam pemikiran. Maka sambil kita masih mencari dukungan banyak orang supaya ini berjalan. Ini adalah komunitas epistemik. Di sini berpikir serius. Jadi jangan dikira kesini mau santai ya. Kalau yang terlanjur mau santai, salah. Tapi kita diskusi pembahasan serius tapi secara santai, serta menyenangkan. Gembira. Karena saya tahu Anda semua di kantor pasti tertekan dengan segala alasan, dengan segala kondisi, maka di sinilah momen kebebasan. Momen katarsis. Dan saya mengharap kita bisa berkontribusi dan konsisten. Kita ingin setiap bulan dulu. Rutin. Nanti bisa di PUSPA, bisa di kantor kami, bisa di DJP, dan lain-lain. Itu soal tempat. Dan empat bulan sekali, saya mengharapkan nanti kita bisa membuat skenario yang besar. Sukur makin banyak orang tahu. Nanti kita bisa bikin di kampus STAN, di UIN, misalnya.”

“Karena kita tadi sudah mengawali dengan berdoa, saya kira itu baik, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang yakin beragama, ada yang yakin tidak beragama. Itu urusan masing-masing. Karena Anda tidak akan menjadi kanan tanpa ada kiri. Jadi tak usah kuatir. Teori-teori kiri itu penting supaya Anda sempurna menjadi kanan. Atau sebaliknya. Nah, itu pilihan.”

Saat Yustinus melempar guyonan soal keyakinan, entah siapa yang sedang ia lihat. Kenyataannya, peserta yang hadir memang sangat beragam. Ada yang berhijab lebar, yang moderat, juga yang kekiri-kirian. Namun, setidaknya kami telah memulai sebuah niat baik, pada waktu yang baik, juga dengan cara yang baik. Kamis malam, doa, dan teman-teman. Apa lagi yang bisa lebih baik dari itu?

Cappuccino dan kentang goreng terhidang di meja. Beberapa gelas peserta terlihat hampir kosong bahkan saat Yustinus belum juga selesai dengan pembukaannya. Luas ruangan yang kurang-lebih hanya lima kali lima meter, dinding sepenuhnya kaca, ketiadaan pendingin udara, dan jumlah peserta yang tak sedikit, jelas kombinasi aduhai untuk ‘menghangatkan’ udara. Menurut daftar hadir, ada empat puluh orang lebih peserta. Dua kali lipat dari yang kami rencanakan. Nyatanya, tetap tak merusak semangat diskusi. Semua riang gembira meski dempet-dempetan.

“Saya kira itu saja, selamat berdiskusi selama dua jam ke depan. Dan sekali lagi terimakasih. Saya akan mengambil foto dan kirimkan ke Sri Mulyani malam ini karena saya waktu bikin Tax Cafe saya minta izin beliau. Saya mau bikin ini, mewadahi teman-teman muda. Nanti bisa pegawai pajak, pegawai BKF, bisa pegawai Bea-Cukai, bisa yang bukan pegawai, masih pengangguran, segala macam. Nah itu boleh, itu boleh ikut terlibat di sini. Jadi silakan digunakan, ini komunitas kita. Kira-kira itu. Sekali lagi terimakasih, selamat berdiskusi.”

“Saya juga berterimakasih kepada teman-teman yang dari awal merintis ini, sudah berkontribusi. Mas Taufiq. Mas Taufiq ini sebenarnya kiyai yang nyamar menjadi …, dia ini sebenarnya ya seperti Syekh Siti Jenar lah. Saya nanti akan mendatangkan adiknya sebenarnya kapan-kapan, supaya bisa berdua berdebat di sini. Di sini banyak yang membantu. Ada Mas Memed, Andre, Erik, Nala, Gita, dan banyak lagi. Yanuar di sana. Teman-teman CITA juga ada beberapa yang dateng. Yang cewek-cewek itu semua masih single jadi siapa tahu mau kenalan. Itu saja dan terimakasih, saya kembalikan kepada Mas Memed.”

Setelah Yustinus selesai bicara, ditambah Memed berbual-bual sedikit, waktunya pemantik diskusi bicara. Mereka adalah duet Erikson Wijaya (Erik) dan Andreas Rossi Dewantara (Andre). Keduanya duduk di depan, bersebelahan dengan Memed yang dipercaya menjadi moderator. Kedua pematik bicara bergantian, disambung tanggapan oleh peserta. Diskusi berjalan dua arah, jauh sekali bedanya dengan seminar-seminar yang seringkali membosankan karena panggung didominasi oleh narasumber. Antusiasme peserta tak mau kalah dengan Andre dan Erik. Bertanya dan berdebat. Hangat juga karib. Intim sekaligus meriah. Beginilah seharusnya sebuah diskusi dijalankan.

Gita Wiryawan, Paruhum Hutauruk, Fanny Perdhana, dan Ahmad Taufiq, terpaksa harus keluar ruangan agar peserta yang datang belakangan mendapat tempat duduk. Kelimanya mengikuti jalannya diskusi sambil berdiri di depan pintu sampai akhir acara, hanya sesekali masuk untuk mengutarakan pendapat lalu keluar lagi. Farchan Noor Rachman baru datang saat diskusi sedang panas-panasnya. Berkali-kali kata voluntary dan enforced compliance disebut oleh peserta diskusi. Begitu juga investasi, penegakan hukum, penerimaan negara, penyederhanaan birokrasi, self assessment, office assessment, dan lain-lain.

Tanpa terasa jam tangan sudah menunjuk angka 21.00, yang berarti diskusi harus berakhir. Namun, terlihat wajah-wajah yang belum puas. Mereka masih ingin bicara. Banyak teman yang bertahan dan melanjutkan diskusi hingga pukul 23.00, dua jam setelah Tax Cafe resmi ditutup oleh moderator! Cafe sudah close order. Berdiskusi tanpa ada minuman tentu bukan keputusan yang bijak. Bahkan sesaat sebelum berpisah di parkiran sekalipun, kami masih menyempatkan berdebat. Seperti belum rela untuk usai, belum ingin untuk sudah.

Entah di sudut lain, tetapi di depan cafe tempat kami berkumpul, lalu lintas sudah begitu jarang. Hanya satu-dua mobil yang melintas sesekali. Ganjil rasanya melihat Jakarta yang angkuh menjadi begini sunyi. Tukang parkir terkatuk-kantuk di samping tempat sampah. Perempuan paruh baya melintas dengan karung plastik besar yang penuh dengan kemelaratan. Untuk orang-orang seperti merekalah, pajak harus bisa berbuat banyak. Ada lolong anjing di jauh sana memperingatkan bahwa malam semakin larut, sementara usia memaksa kami segera beringsut.

Tentu tak semua kemeriahan bisa kami tuangkan ke dalam tulisan secara utuh. Namun, Nala Kurniawan setidaknya telah mencoba meringkas dan meringkus kemeriahan itu dengan apik untuk kita semua. Anda bisa mengunduh notula diskusi tersebut (bonus paparan materi dari Erik dan Andre) melalui tautan di bawah. Pada akhirnya, Tax Cafe pertama berjalan sukses. Dan seperti cinta pertama, ciuman pertama, maupun segala hal lain yang serbapertama, lumrahnya kami pun banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu, kami meminta maaf dan pasti berusaha memperbaiki. Janji! Terimakasih kepada teman-teman yang bersedia hadir dan turut serta berkontribusi. Persiapkan diri anda untuk ikut terlibat pada Tax Cafe kedua yang akan digelar Januari ini (tunggu tanggal mainnya)!

Unduh Notula Tax Cafe I di sini.