La La Land: Musikal yang Melepaskan

Terlepas dari keinginan yang menggebu, saya tak pernah berani berharap La La Land akan tayang di Indonesia. Meski begitu dipuji kritikus sejak perdana tayang di Festival Film Venesia, Italia, Agustus lalu, La La Land adalah film musikal. Film musikal tetaplah film musikal, yang seingat saya, bukan genre yang akan laris terjual di Indonesia. Bioskop kita mungkin akan pikir-pikir untuk menayangkannya.

Namun, saya salah. Mungkin akibat antusiasme yang begitu besar dari blogger dan para penikmat film di Indonesia, salah satu jaringan bioskop ternama di negeri ini akhirnya menayangkannya pada pemutaran malam, Sabtu (7 Januari 2017) lalu. Dan, ya Tuhan, betapa itu adalah pengalaman menonton yang sangat menyenangkan!

Hingga saya menulis ulasan ini, anda bisa katakan saya masih mabuk dan terbuai oleh La La Land yang begitu manis, ceria, sekaligus  memesona. Isi pemutar musik saya adalah lagu-lagu tema La La Land, grup-grup obrolan di gawai saya ramai akan diskusi tentangnya, dan berita-beritanya di media sosial selalu saya ikuti—termasuk saat ia menyabet 7 piala Golden Globes (terbanyak sepanjang sejarah) di perhelatan Minggu malam waktu Amerika.

Klise

Apa yang spesial dari La La Land? Dari segi cerita, jangan berharap ada kejutan atau gebrakan yang belum pernah anda saksikan di film manapun. Premisnya sangat sederhana: seorang pianis jazz jatuh cinta dengan seorang wanita yang ingin jadi aktris. Premis itu kemudian diisi adegan-adegan klise bahkan tak logis, diiringi lagu-lagu yang tiba-tiba berputar entah dari mana dan orang-orang menari begitu bebasnya tak kenal tempat.

Bahkan, bisa dibilang karakterisasi kedua tokoh utamanya miskin dimensi. Si pianis bernama Sebastian, diperankan oleh aktor Ryan Gosling. Sementara si wanita bernama Mia, diperankan oleh aktris Emma Stone. Dalam premis di atas, tentu keduanya harus hidup susah payah. Sebastian adalah musisi yang kesulitan mencari nafkah kecuali rela melawan idealismenya sejenak untuk sekadar memainkan Jingle Bells di kafe menjelang Natal. Sementara Mia, yang bekerja sebagai pelayan pada sebuah kedai kopi di studio Hollywood, berkali-kali ditolak audisi untuk berperan di acara televisi atau film. Namun, keduanya punya mimpi: Sebastian ingin buka kafe bertema jazz, sementara Mia—tentu saja—sangat ingin menjadi aktris.

Guratan takdir mempertemukan mereka secara singkat. Bermodalkan logika film yang menasbihkan dunia ini begitu sempitnya, mereka bertemu lagi di tempat dan waktu yang tak terduga—sekali, dua kali, lalu berkali-kali. Witing tresna jalaran saka kulina. Musim berganti, pertemuan terjadi, dan asmara dimulai. Ditampilkan dalam nyanyian dan koreografi, mereka memadu kasih, seraya berupaya mengejar mimpi dan mencari penghidupan.

Sampai di sini, rasanya saya sudah memberi cukup gambaran kepada anda bahwa, pada dasarnya, La La Land sama sekali bukan film serius. Sementara disiplin ilmu akuntansi kita mengedepankan prinsip substance over form, bagi saya, La La Land adalah contoh form over substance: ia tiga perempat form, seperempat substance. Ia mengedepankan rasa, kesan, dan penampilan dengan bermodal cerita hanya segenggam. Pun demikian, sangat dekat dengan kita.

Sihir

Cerita tentang orang yang mengejar mimpi, lalu berkali-kali gagal hingga ia harus berkompromi dengan mimpi tersebut, adalah cerita yang sangat biasa. Kita semua bahkan sudah tahu cerita seperti ini biasanya happy-ending karena tidak banyak hal baru yang bisa diselipkan ke dalamnya. Namun, menurut saya, hal ini yang justru memberi nyawa bagi La La Land: semangat pantang menyerah dalam mengejar mimpi ditampilkan secara bebas dan hiperbolis, dengan lagu dan tarian sebagai perkakas utamanya.

Damien Chazelle, sebagai penulis naskah dan sutradara, melukiskan pahit-getir yang dirasakan Sebastian dan Mia di dunia hiburan Hollywood nan kejam melalui warna-warni mencolok, lensa fisheye, dan gerak kamera yang lincah. Selipan humor ringan di dalam dialog menambah riasan pada naskah. Naskah La La Land yang sejatinya ringkas menjadi, tidak hanya dekat, tetapi juga menyenangkan dan jauh dari kesan membosankan. Dibanding Whiplash (yang sama-sama disutradarai Damien Chazelle), La La Land adalah sebuah loncatan yang jauh. Tentu saja!

Lebih dari itu, La La Land juga mengembuskan angin nostalgia bagi penontonnya. Mungkin anda pernah nonton opera, atau kabaret, atau mungkin film Singin’ in the Rain-nya Gene Kelly? Ada kesan klasik yang kental dalam La La Land. Bahkan, jika tidak diingatkan oleh adegan yang melibatkan ponsel pintar dan kanal Youtube, saya hampir terkecoh dari fakta bahwa La La Land mengambil latar waktu di masa modern.

Satu hal yang saya kira perlu jadi perhatian: harap maklum jika beberapa kali muncul adegan nan canggung. Misalnya saat Sebastian dan Mia terbang ke angkasa dan berdansa di tengah bintang-bintang (anda melihat potongan adegan ini di trailer filmnya), saya sendiri tidak bisa tidak meringis menahan kikuk. Klise sekali! Tetapi di sanalah letak sihir La La Land. Ia meresonansi emosi sederhana yang tertuang dalam fragmen cerita ke frekuensi yang paling tinggi—seolah ingin membuat kita mabuk melihat Sebastian dan Mia yang juga tengah mabuk dilanda asmara. Oh ya, mumpung saya ingat, pujian juga harus saya alamatkan kepada Ryan Gosling dan—terutama—Emma Stone yang mampu berakting melebihi karakterisasi yang diisyaratkan naskah, sembari mewujudkan chemistry yang begitu lekat, hingga mampu memainkan emosi penonton.

Gairah

Adegan pertemuan pertama antara Sebastian dan Mia terjadi pada suatu siang terik di jalan layang. Mereka, dalam mobil masing-masing, berbaris dalam kemacetan bersama puluhan mobil lainnya. Adegan ini, yang juga menjadi pembuka film, diiringi lagu tema Another Day of Sun dan ditampilkan dalam satu kali rekam tanpa cut. Orang-orang keluar dari mobil mereka lalu bernyanyi, menari, bahkan berlompatan dari satu mobil ke mobil lain. Dalam satu hentakan koreografi yang sinkron, adegan ditutup, kemudian teks judul ditampilkan. Dalam gedung bioskop Sabtu lalu itu, saat para penonton lain berdecak kagum, saya bertepuk tangan. Ya Tuhan, betapa itu adalah pembukaan yang indah!

Selain lagu yang menyenangkan, sepotong adegan itu telah melepaskan fantasi saya. Beberapa hari ke depan, saya kira, saya tak lagi bisa melihat kemacetan yang tiap hari saya temui di jalanan Jakarta sebagai hal yang membuat frustasi. Imajinasi saya telanjur dibebaskan. Saya akan melihat jam tangan sembari membayangkan pada detik ke berapa, orang-orang pada suatu sore yang macet di jalan Sudirman atau arteri Pondok Indah, dengan warna-warni pakaian mereka, dan pelbagai asal suku mereka, akan secara serentak keluar dari mobil masing-masing. Dan bernyanyi. Dan menari. Dan berlompatan. Dari mobil satu ke mobil lainnya. Saya harus berterimakasih kepada La La Land atas adegan pembukaan yang cantik itu.

Menonton La La Land berarti melepaskan diri dari kepenatan hidup sehari-hari yang keparat. Akan terlintas dalam benak anda keinginan mengejar kembali cita-cita yang telanjur terkubur oleh pekerjaan kantor dan tagihan bulanan. La La Land mewakili keinginan tersebut dengan penuh semangat. La La Land menyentuh sisi-sisi kehidupan anda dengan penuh gairah, dan itu akan membuat anda senang. Perkenankan ia menutup logika anda sejenak dan membuat anda terbuai.

Sungguh, saya tak sabar untuk segera menontonnya lagi!

la-la-land-1Sutradara: Damien Chazelle
Pemeran: Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, Rosemarie DeWitt
Penulis Naskah: Damien Chazelle
Sinematografi: Linus Sandgren
Penata Musik: Justin Hurwitz
Produksi: Gilbert Films, Impostor Pictures, Marc Platt Productions
Tahun: 2016

 

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r