Dari Stalin, hingga Kampret Kecilnya

Saat ini, saya sedang membaca Stalin: Kisah-Kisah yang Tak Terungkap. Saya sudah berada pada bab pertengahan saat Hitler mengirim utusannya, Joachim von Ribbentrop, kepada Stalin. Mereka mengadakan perjanjian nonagresi Jerman-Soviet. Sambil memperkaya bacaan, saya juga surfing dengan bacaan dari internet. Wikipedia dan Youtube jadi referensi kaya. Saya mulai dengan mencari tokoh-tokoh terdekat di samping Stalin (tokoh-tokoh seperjuangan Stalin pada masa Lenin berkuasa) yang ternyata juga dibantai sendiri oleh Stalin.

Saya mencari tahu siapa Vyacheslav Molotov, Alexander Poskrebyshev, Lenin yang diawetkan, Genrikh Yagoda, si penjagal Nikolai Ivanovich Yezhov—pernah menjabat sebagai Kepala NKVD (Polisi rahasia Soviet zaman Stalin), Kepala NKVD terkejam: Lavrenti Beria. Nasib dua nama terakhir adalah ironis belaka. Yezhov dibantai Beria. Beria ditembak mati oleh Khrushchev.

Di saat bersamaan, saya menonton Band of Brothers. Mini seri 10 episode itu menuntun saya mencari informasi tambahan. Dari Hitler, Rommel, Prisoner of War pasukan Jerman di Amerika Serikat, hingga vila peristirahatan Hitler di Berchtesgaden, pegunungan Alpen. Saya juga menonton video analisis tentang bunuh diri Hitler. Dan masih banyak lagi lainnya.

Saya jadi tahu akun Instagram milik penulis buku yang sedang saya baca, Simon Sebag Montefiore. Saya follow akun itu. Ternyata Simon sudah menulis buku baru tentang Klan Romanov, Tsar di Rusia. Sayang sekali belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya juga jadi tahu musim dingin The Last Romanov Family. Saat-saat terakhir Nicholas II di pengasingannya, hingga dibantai bersama istri dan kelima anaknya oleh pengikut Bolshevik pada 17 Juli 1918 atas perintah Lenin. Tak peduli itu perempuan atau anak-anak, yang penting hancur.

Setelah Band of Brothers habis, saya kembali menelusuri jeroan buku tentang Stalin itu. Kembali membacai Wikipedia tentang Khrushchev, tentang akhir Beria, tentang Svetlana anak Stalin. Kemudian saya menemukan RBTH (Russia Beyond The Headlines), situs bagus untuk mengetahui tentang Rusia. Saya jadi tahu pelarangan jilbab dan pemberlakuan jilbab di Rusia, serta masjid-masjid yang ada di sana. Penjelahanan saya belum berhenti, saya masih ingin tahu sampai era setelah Stalin. Bagaimana Khrushchev berkuasa dengan menyingkirkan Beria. Saya ingin tahu tentang Leonid Brezhnev hingga Mikhail Gorbachev. Saya kenal betul dengan istilah waktu SMP dulu saat Uni Sovyet bubar: Glasnot dan Perestroika. Sekarang jadi ingat lagi.

Tidak berhenti di situ. Dari tautan-tautan yang bertebaran di ensiklopedia internet itu, saya menyasar ke Leon Trotsky, seorang Marxis sekaligus musuh utama Stalin. Teman seperjuangan saat masih bersama Lenin itu, kemudian begitu dibenci oleh sang diktator bengis. Makanya pada saat teror diberlakukan, Stalin membersihkan partainya dari unsur Trotsky—di samping unsur Zinoviev, Kamenev, antek Jerman, dan sebutan apa saja yang dikehendaki Stalin—dengan melakukan pembantaian tanpa belas kasihan yang sering kali menyasar orang-orang tidak berdosa. Bahkan untuk setiap provinsi, Stalin menargetkan berapa ribu orang harus mati layaknya Indeks Kinerja Utama sebuah perusahaan. Khrushchev beruntung bisa selamat dari teror itu. Namun, sebagai free pass yang menjamin nyawanya, ia membantai penduduk Ukraina. Jangan heran jika 30-40 juta orang mati saat Stalin berkuasa.

Para penjilat bokong Stalin seperti Khrushchev, berlomba-lomba melakukan semua perintah Stalin yang lama-kelamaan menjelma monster. Padahal, tidak ada jaminan para penjilat ini bakal selamat sekalipun berada di samping Stalin. Jangan pernah berharap aman walau sudah merasa paling dekat dengan Stalin. Bahkan istri dan anak-anak, orangtua serta mertua mereka sekalipun, tak ada jaminan selamat.

Makanya, saya tertawa ketika membaca sebuah artikel tentang pemerkosaan wanita Jerman oleh Tentara Soviet saat mereka masuk ke Jerman. Para prajurit minta izin kepada komandannya untuk memerkosa wanita Jerman. Dalam artikelnya yang berjudul Cerita Kelam Perempuan Jerman Setelah Nazi Kalah Perang, majalah spesialis sejarah Historia menulis,

Memerkosa perempuan Jerman merupakan hukuman balasan atas kejahatan bangsa Jerman. “Banyak serdadu Soviet ingin membalaskan dendam mereka akibat penderitaan yang telah ditimbulkan (oleh Jerman, red.) di negeri mereka,” tulis Michael Jones dalam Total War: From Stalingrad to Berlin.

Artikel yang sama menyebutkan bagaimana Stalin tak pernah mau menghukum prajuritnya yang memerkosa perempuan Jerman. Sebagai statistik, dua juta wanita Jerman telah diperkosa dan rata-rata seorang perempuan Jerman mengalami duabelas kali perkosaan. Stalin maklum, mengingat beratnya tugas yang diemban oleh prajurit yang keberadaannya ribuan kilometer dari tanah airnya. Saya tertawa karena, bagaimana mungkin Stalin bisa kasihan kepada keluarga musuh, sedangkan kepada kawan akrabnya di partai, kawan makannya, kawan paling baik hatinya, para pengabdi di sekelilingnya, bahkan rakyatnya sendiri, dia tidak pernah punya belas kasihan?

Yang ada hanya lumat dan bantai!!!

Kembali kepada Trotsky. Saya menemukan Jassen Monard, utusan Stalin untuk membunuh Trotsky di pengasingannya di Meksiko. Dari Wikipedia, saya jadi tahu Goenawan Mohamad (GM) pernah menulis di Catatan Pinggir, Tempo (1989), yang jadi rujukan Wikipedia. Namun, Wikipedia sendiri tidak menuliskan pranala luar itu berasal dari GM. Kalau kita baca-baca Catatan Pinggir, ternyata Trotsky sering menjadi bahan tulisan GM.

Dari pranala luar Wikipedia juga, saya menemukan situs lain, Marxist Internet Archive Seksi Bahasa Indonesia di mana arsip-arsip PKI bertebaran. Salah satunya pidato agitasi Aidit saat ulang tahun PKI ke-43 pada 26 Mei 1963, Ayo, Ringkus, dan Ganyang Kontra Revolusi. Sebuah agitasi mengerikan terhadap kaum kanan (sebutan Aidit buat lawan politiknya, termasuk di dalamnya kaum agamawan). Dari sana juga, saya membaca dokumen Brigadir Jenderal Soepardjo, Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat yang memiliki peran penting dalam peristiwa G30S/PKI. Dokumen itu merupakan bagian dari berkas rekaman persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa untuk Soepardjo pada 1967, Beberapa Pendapat Yang Mempengaruhi Gagalnya “G-30-S” Dipandang dari Sudut Militer. Dari dokumen tersebut, saya jadi tahu apa sebab dan bagaimana G30S/PKI gagal. Soepardjo dinyatakan bersalah karena terlibat dalam kudeta gagal itu dan ditembak mati.

‘Ala kulli hal, dari satu orang bernama Stalin, ujung pembacaan saya sampai kepada Trotsky dan Soepardjo. Tentu ini belum berakhir, masih ada pembacaan-pembacaan lainnya. Buku tentang Stalin ini masih saya baca. Belum selesai. Ini buku tentang tokoh komunis setelah buku bagus Mao: The Unknown Story karya Jung Chang, yang saya pinjam dari perpustakaan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Kelak, buku tentang Mao itu akan saya baca ulang.

Dari kedua buku itu, saya mengambil banyak pembelajaran. Stalin dan Mao sama-sama diktatornya. Puluhan juta orang tewas di tangan mereka. Keji tanpa belas kasihan. Tanpa memandang kawan, keluarga, atau sahabat. Kalau sudah jadi musuh menurut kata hatinya, mesti dihancurkan dan dibantai. Revolusi, kudeta, dan teror adalah jalan buat partai komunis untuk berkuasa. Itu yang mau ditiru oleh kampret (baca: kamerad) kecilnya di sini: Aidit dengan PKI-nya. Alhamdulillah akhirnya tidak terjadi.

Lalu, saat ini, mau-maunya kita diam saja saat Sekretaris Kabinet Pramono Anung dengan santainya bilang, “Maka tidak bisa kemudian Polisi dan juga termasuk aparat TNI itu over acting melakukan sweeping. Tidak bisa. Ini negara demokrasi.”

Wow, hebat banget! Sudah tidak cocok dengan era demokrasi katanya. Padahal komunisme jelas diametral dengan demokrasi itu sendiri. Bahkan pernyataan itu keluar pada Ketetapan MPRS Nomor XXV tahun 1966 yang masih berlaku. Pasal 2 beleid itu menyebutkan,

Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau  mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan faham atau ajaran tersebut dilarang.

Dari sejarah kita mesti belajar, mereka (komunis, red) menghalalkan darah tumpah untuk berkuasa.

***

Post Scriptum: versi asli tulisan ini dapat dibaca di blog penulis.

  • Ogin

    Dari sejarah kita mesti belajar, mereka (komunis, red) menghalalkan darah tumpah untuk berkuasa.

    Yup, dari sejarah pula kita belajar bagaimana tentara dan sipil menghalalkan darah tumpah ribuan atas nama pembersihan PKI.

    Perlu melihat adil tidak hanya dari satu sisi untuk segala hal apalagi terkait politik dan kekuasaan.

    Ideologi hanya alat. Manusia semua saja dimana-mana. Pembantaian atas nama pribadi, atau ideologi, atau agama. Konflik itu abadi.