Arrival: Film Alien, Tentang Manusia

If a lion could talk, we couldn’t understand him.” (Ludwig Wittgenstein, dalam Philosophical Investigations)

Dalam banyak film tentang invasi alien ke bumi, kedatangan alien selalu diartikan sebagai kemusnahan umat manusia. Penaklukan adalah motivasi tunggal makhluk-makhuk asing tersebut. Hal ini boleh jadi mulanya dipengaruhi oleh zeitgeist era Perang Dingin yang penuh dengan xenofobia dan syak wasangka. Simak saja film-film alien klasik seperti The Invasion of Body Snatchers (1956) dan The War of the Worlds (1953). “By depicting these aliens as monsters, they can find excuses for their slaughter,” demikian kata penulis Sam J. Lundwall dalam sebuah eseinya di tahun 1969. Sayangnya, film-film alien kiwari macam Independence Day (1996) dan sekuelnya (2016), Battleship (2012), hingga The 5th Wave (2016) masih membeo keklisean ini. Alien mampir ke bumi hanya sebagai sasaran tembak militer dan/atau si tokoh utama.

Karena fungsi alien begitu generik bak cecunguk-cecunguk dalam film laga, jarang sekali ada eksplorasi mengenai apa dan bagaimana manusia bersikap terhadap kedatangan liyan dari luar angkasa ini. Moncong senjata hampir selalu menjadi respons yang ditawarkan manusia. Tapi bagaimana jika mereka sebenarnya datang dalam damai? Bagaimana kita tahu mereka datang dalam damai? Arrival, film karya Denis Villeneuve, berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang lebih fundamental semacam itu.

Dua belas pesawat makhluk luar angkasa turun di berbagai tempat di seluruh dunia. Mereka tidak menyerang. Mereka nyaris tak melakukan apa-apa selain melayang beberapa meter di atas permukaan tanah dan membuka pintu pesawatnya bagi manusia yang ingin tahu. Pemerintah Amerika Serikat yang kebingungan, yang direpresentasikan oleh Kolonel Weber (Forest Whittaker), meminta bantuan profesor linguistik Dr. Louise Banks (Amy Adams) dan profesor fisika Dr. Ian Donnelly (Jeremy Renner) untuk mencari jawaban tentang tujuan mereka di bumi. Namun seperti yang kutipan Wittgenstein di atas, komprehensi manusia atas bahasa mereka yang benar-benar asing adalah nihil.

Bagaimanapun, kedatangan Dr. Banks membawa kemajuan signifikan. Dr. Banks menemukan bahwa alien tersebut (yang disebut heptapod karena wujudnya seperti cumi-cumi bertentakel tujuh) memiliki bahasa lisan dan bahasa tulisan yang berbeda. Masalahnya, kerja linguistik perlu waktu lama. Perlu bangunan kosakata yang cukup agar apa yang diujarkan para heptapod tidak disalahartikan. Sementara itu masyarakat yang panik mulai membikin kekacauan. Mereka tak percaya kepada respon pemerintah yang dianggap lambat. Di sisi lain samudera, Tiongkok dan beberapa negara lain mulai gatal ingin menyerang pesawat heptapod, sesuatu yang justru berpotensi menghasilkan serangan balik. Tekanan dari berbagai pihak mendesak Dr. Banks dan koleganya untuk segera memahami bahasa heptapod dan mencegah terjadinya konflik yang lebih luas. Di saat yang sama, kematian anak Dr. Banks karena kanker membayangi dan menghantui pikirannya.

Tentang Komunikasi dan Bahasa

Meskipun alien dalam Arrival bisa dibilang masih tetap karakter satu dimensional saja, Arrival unik karena memosisikannya sebagai alat introspeksi bagi manusia. Alien dalam Arrival membalikkan lokus permasalahan dari sesuatu di luar manusia ke dalam manusia itu sendiri. Ia memeriksa hal mendasar yang seringkali menjadi akar terjadinya konflik, yakni komunikasi. Kedatangan alien adalah sekunder, yang lebih penting adalah: bisakah kita menahan diri untuk tidak menyerang, dan alih-alih mencoba untuk memahami satu sama lain? Lebih dari itu, lewat penggambaran hubungan internasional yang neorealis dan carut-marut, film ini menanyakan hal yang sama kepada manusia – sebagai makhluk yang terbagi dalam kelompok yang memiliki interest yang berbeda-beda: bisakah kita mengesampingkan dulu kepentingan pribadi, dan bekerja sama demi kepentingan semua umat manusia? Dalam film ini juga, Villeneuve turut menyelipkan kritiknya pada kaum Sayap Kanan Amerika. Para pundit konservatif, pro-senjata, dan conspiracy theorists yang digambarkan makin memperkeruh suasana dalam Arrival amat relevan dengan kondisi Amerika Serikat pasca-menangnya Donald Trump.

Hal lain yang menjadi keunikan dari film ini adalah fokusnya tentang bahasa, alih-alih teknologi canggih yang dimiliki para alien. Arrival diangkat dari cerpen Story of Your Life dari Ted Chiang, yang memang menempatkan linguistik sebagai tesis sentralnya. Salah satunya adalah tentang bagaimana bahasa itu multiinterpretatif dan tidak selalu netral. Di dalam film, ahli-ahli bahasa dari Tiongkok menerima seperti pesan-pesan antagonistik dari para heptapod karena mereka memakai catur dan mahjong – permainan yang mengandung unsur menang-kalah – sebagai alat bantu komunikasi. Sementara Dr. Banks, yang menggunakan medium yang netral, mendapatkan pesan yang relatif netral pula. Apa yang bisa diartikan sebagai “peralatan”, ternyata bisa diterjemahkan juga sebagai “senjata”. Dan, satu kata saja yang disalahartikan bisa memicu perang. Mengingat Jepang pernah dua kali dibom atom karena salah terjemahan, boleh jadi apa yang diajukan Arrival tidak terlalu jauh dari kenyataan.

Yang turut penting dalam film ini adalah hipotesis Sapir-Whorf. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahasa ikut menentukan/memengaruhi bagaimana manusia melihat realitas. Di dunia nyata pun, boleh jadi hipotesis ini benar. Suku Aborigin Guugu Yimithirr, misalnya, memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam navigasi karena bahasa mereka memiliki kalimat-kalimat yang sangat spesifik untuk menyatakan lokasi. Suku Jahai di Malaysia memiliki kemampuan penciuman yang lebih kuat karena mereka memiliki banyak kosa kata tentang bau. Orang-orang Turki dan Rusia bisa membedakan lebih banyak warna karena mereka memiliki lebih banyak kosa kata tentang warna (atau sebaliknya, orang dari suku Himba tidak bisa membedakan warna karena mereka hanya mengenal 5 warna dasar). Pada akhirnya, sungguh menyenangkan melihat bagaimana linguistik menggeser fisika dan matematika sebagai ilmu yang sentral dalam sebuah film sains fiksi.

Dari segi teknis, Villeneuve secara rapi memadukan kisah personal Dr. Banks (yang difilmkan secara non-linear) dengan hal-hal yang lebih besar di luar dirinya. Montase-montase yang bernuansa Malickian dan komposisi orkestra On the Nature of Daylight memang sesekali membawa film ini ke arah melodrama. Untungnya, Villeneuve mampu memaksimalkan akting Amy Adams. Adams, lewat karakter Dr. Banks, secara apik menunjukkan insekuritasnya melalui ekspresi emosi yang beragam. (Hal yang sama kurang lebih berhasil ditunjukkan Emily Blunt dalam film Villeneuve yang lain, Sicario.) Dari segi sinematografi, musik, dan editing, Arrival pun dibuat dengan baik. Begitu pula dari caranya menggambarkan sains, ia terasa lebih realistis dan well-grounded dibandingkan Interstellar (2014).

Jika ada yang kurang dari film ini, salah satunya adalah karakter Dr. Ian Donnelly dan Koloner Weber yang underused. Resolusi konflik di bagian denouement juga lemah, untuk tidak mengatakannya terlalu dipaksakan. Hal ini ikut membuat gagasan filosofis lain yang dibawa film ini – yaitu tentang kehendak bebas dan predeterminasi – gagal berdiri sekokoh gagasannya tentang bahasa dan komunikasi.

Arrival memang tidak seklise film-film yang saya sebutkan di paragraf pertama tulisan ini, tetapi ia juga tidak sedekonstruktif District 9 (2009) atau Avatar (2009), yang membalik relasi agresor-terjajah antara manusia dan makhluk luar angkasa. Dari segi filmis, Arrival ini lebih dekat dengan film seperti Contact (1997) – film yang memaknai kedatangan makhluk luar angkasa dengan lebih personal, intim, dan meditatif. Melihat perspektifnya yang baru dan bagaimana ia digarap dengan baik, bagi saya, Arrival adalah satu film sains fiksi terbaik dalam beberapa tahun belakangan.

Bahkan, salah satu film terbaik 2016.

arrival-poster-russiaSutradara: Denis Villeneuve
Pemeran: Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, Michael Stuhlbarg, Mark O’Brien, Tzi Ma
Penulis Naskah: Eric Heisserer, berdasarkan cerpen Story of Your Life dari Ted Chiang
Sinematografi: Bradford Young
Penata Musik: Johann Johannsson
Produksi: Lava Bear Films, 21 Laps Entertainment, FilmNation Entertainment
Tahun: 2016