Patah Hati

peluk
Ilustrasi diedit dari foto Paruhum Hutauruk https://www.instagram.com/p/BNqsUpwDnDL/

Islam agama yang baik, saya percaya itu. Jika tidak, pasti sudah saya tinggalkan. Nyatanya, saya masih Islam sampai sekarang. Hanya saja, saya sering dibuat patah hati. Bukan, bukan. Tentu bukan Islam yang membuat saya patah hati. Namun, tingkah laku sebagian saudara seiman kita yang membuat saya patah hati. Mereka kelewat sering membuat wajah Islam terlihat buruk. Mereka memaksakan keinginannya, mengintimidasi, memusuhi yang berbeda. Bukan hanya yang berbeda agama, bahkan kepada sesama Islam juga sering begitu.

Satu dari sekian banyak contoh yang membuat saya patah hati adalah kejadian yang menimpa Ibu Saeni pertengahan Juni lalu. Pengusaha warteg itu dirazia oleh Satpol PP kota Serang karena berjualan di siang hari di bulan Ramadan. Reaksi kita terbelah. Ada yang menyayangkan, termasuk saya. Ada juga yang mendukung razia. Yang mendukung, beralasan Ibu Saeni tak menghormati orang yang berpuasa. Tak menghormati bulan suci Ramadan. Atau tak menghormati entah apa namanya. Sedikit-sedikit, saya juga tahu fikih. Yang saya tidak tahu adalah, ayat Alquran maupun hadis yang melarang membuka warteg saat orang berpuasa. Barangkali ada yang sudi memberitahu? Karena tanpa dalil, memaksa warteg tutup adalah bidah (bid’ah). Setahu saya, sekarang ini zamannya orang gemar mengutuki yang serba-bidah.

Memang ada perintah menghormati orang berpuasa dengan tidak makan di depannya. Tetapi makan di warteg tentu lain perkara. Lagipula, pemilik warteg juga paham untuk menutup jendela dengan tirai. Barangkali benar, warteg semacam itu memfasilitasi orang yang tidak mau berpuasa. Namun, menutupnya dengan paksa juga bukan amar makruf nahi munkar. Jika memang ada yang malas puasa dan makan di warteg, harusnya yang malas puasa ini yang dirazia. (Tapi benarkah orang puasa bisa dipaksa?) Warteg tentu tidak hanya melayani orang-orang yang malas berpuasa, tetapi juga yang tidak sanggup berpuasa: yang sedang sakit, menstruasi, nifas, anak-anak, dan yang bukan muslim. Sekalipun tak banyak, mereka tak boleh diabaikan. Membiarkan mereka ikut kelaparan seperti orang yang sedang berpuasa, tak pernah ada tuntunannya. Tak ada dalilnya. Serba-bidah.

Tentu saya masih percaya Islam agama yang baik meski saya sendiri belum setaat saudara-saudara sesama Islam yang lain. Islam agama yang damai. Kalau ada yang buruk, pasti orangnya. Bukan Islamnya. Dan yang buruk itu, tak akan pernah menjadi representasi Islam. Bukan tipikal seluruh umat Islam. Mereka hanya sebagian kecil dari Islam. Kita semua pasti sepakat tentang itu. Dan kalimat-kalimat semacam itu yang terus kita ulang-ulang setiap insiden terorisme terjadi. Bulan lalu, misalnya, teroris melemparkan molotov ke gereja. Molotov itu membakar empat orang balita. Tiga selamat, satu meninggal dunia. Namanya Intan Olivia Marbun. Kita pun kembali mengulang-ulang kalimat itu: terorisme bukan Islam, Islam agama damai.

Dibanding umat Islam yang baik, teroris sangat kecil jumlahnya. Masalahnya, yang kecil itu merasa sedang membela Islam. Melempar molotov atas nama Islam. Apakah cukup dengan mengatakan “terorisme bukan Islam” dan “Islam agama damai”? Setelah itu, lalu apa? Kalimat yang rajin diulang-ulang setiap ada aksi terorisme itu, jadi lindap ketika berhadapan dengan kasus kekerasan yang berbeda. Saat Gereja Batak Karo Protestan Runggun Pasar Minggu dipersulit dan mendapat tekanan dari kelompok intoleran, misalnya, kalimat itu tak terdengar. Saat masjid jamaah Ahmadiyah di Batang dirusak orang, kalimat itu juga tak terdengar. Saat kerusuhan berdarah yang menewaskan satu orang Syiah Sampang, kalimat itu lagi-lagi tak terdengar.

Ketidakkonsistenan semacam itu yang membuat saya patah hati. Saya jadi sinis terhadap gerakan yang mengaku sedang membela Islam. Saya sulit percaya kepada orang-orang yang bilang Islam agama damai. Tentu saya percaya kepada Islam, tapi tidak kepada orang yang mengatakan (tolong ini jangan dipelintir). Lagipula, saya tak tahu Islam harus dibela dari apa. Seolah-olah banyak sekali masalah yang patut membuat umat Islam jadi paranoid sendiri. Takut pada banyak hal, takut pada musuh yang sebenarnya tidak ada. Kalau dipikir-pikir, Islam adalah agama mayoritas di negeri ini, apa yang perlu ditakutkan sebenarnya? Komunis? Cina? Kristen? Yahudi? Freemason? Atau Illuminati?

Tapi kemudian saya sadar, umat Islam menjadi paranoid adalah lumrah belaka. Islam memang dominan di negeri ini tetapi bukan di seluruh dunia. Di pergaulan internasional, umat Islam serba-ketinggalan. Akses ekonomi, aspirasi politik, penguasaan teknologi, pendidikan, dan banyak lainnya, didominasi oleh kuasa kapitalisme yang (sering disalah-tuduhkan sebagai ‘Barat’) semakin transnasional. Di mana kepentingan kapitalisme tersebut hampir selalu berseberangan dengan aspirasi-aspirasi Islam. Mereka melihat bagaimana dunia Islam tak punya posisi penting dalam percaturan ekonomi-politik internasional. Palestina tak kunjung merdeka dari Israel. Negeri-negeri Timur Tengah melulu dilumat oleh perang. Pendidikan dan teknologi yang berkiblat ke Barat, membuat wibawa agama semakin terlihat seperti mitos. Budaya layar yang dijangkiti wabah Amerikanisasi. Di dalam negeri, orang miskin kebanyakan beragama Islam (meskipun itu bisa dijelaskan secara statistik). Sementara sembilan dari sepuluh orang terkaya di Indonesia juga bukan dari golongan Islam.

Islam adalah minoritas di dunia internasional. Dan menjadi minoritas memang sering membuat orang paranoid. Umat Islam jadi defensif agar tidak semakin tersisih. Takut pada yang liyan, yang ‘bukan mewakili Islam’. Entah itu komunis, Cina, Kristen, Yahudi, Freemason, Illuminati, dan hal lain yang selalu terbukti sebagai tahayul belaka.

Di sisi lain, Islam juga agama mayoritas di Indonesia. Dengan posisi itu, umat Islam lebih leluasa mengekspresikan ke-paranoid-annya. Sayangnya, umat Islam bingung. Alih-alih melawan formasi kapitalis transnasional yang membuat mereka tersisih di pergaulan internasional, ketakutan-ketakutan mereka justru salah alamat. Sebagian bentuk paranoid itu mewujud dalam berbagai tindakan intoleransi kepada agama lain, sekte lain, maupun sesama Islam yang berseberangan dengan nilai islami yang diyakininya. Tindakan intoleransi diklaim sebagai amar makruf nahi munkar. Sebagian lainnya, menyediakan pembenaran, menjadi pemandu sorak, atau sekadar mendiamkan tindakan intoleran yang dilakukan saudara-saudaranya.

Banyak dari saudara kita sesama Islam, gagal melihat kapitalisme sebagai sebab distribusi kesejahteraan tidak merata. Dan korbannya bukan hanya umat Islam, sebenarnya. Di negara Cina, yang miskin mayoritas etnis Cina. Di Brazil, orang Kristen banyak yang miskin. Di Amerika, Yahudi miskin tidak sedikit. Sedangkan Indonesia yang mayoritas Islam, lumrah golongan miskinnya kebanyakan Islam. Bahkan masyarakat adat juga menjadi korban aktivitas kapitalisme ini. Masyarakat Kendeng di Jawa terancam oleh industri semen. Hutan adat suku Moi di Papua diincar oleh industri sawit, seperti yang sudah terjadi pada suku Yei. Orang Rimba di Jambi juga sudah dirampas hutannya sejak 1990 oleh industri sawit dan pembalak liar. Hutan adat masyarakat Dayak di banyak titik di Kalimantan dikuasai oleh industri sawit, tambang, dan minyak. Juga hutan adat komunitas Marga Benakat di Sumatra Selatan. Dan banyak lagi.

Hanya saja umat Islam terlanjur dipenuhi prasangka, demografi ekonomi Indonesia sering dilihat sebagai: kafir kaya, Islam miskin (kadang-kadang Cina kaya dan pribumi miskin). Fantasi yang diciptakan sendiri itu kemudian diamini bahwa Islam sedang ditindas. Islam harus dibela. Islam harus melawan. Sambil tetap bingung siapa yang harus dilawan dan apanya yang harus dibela. Bahkan ketika para buruh berdemo memperjuangkan haknya, tak sedikit dari umat Islam yang menghujat. Bukannya mayoritas buruh ini juga beragama Islam? Apakah karena tak membawa identitas Islam karenanya tak didukung?

Solidaritas pilih-pilih, komitmen damai angin-anginan. Hal-hal semacam itu yang membuat saya patah hati. Saya terlanjur susah percaya. Jika selama ini saya sering terkesan mengolok-olok gerakan Islam, yang seperti itulah sebabnya. Termasuk aksi 212 yang disebut-sebut ‘super’ damai, barangkali mayoritas pesertanya memang tulus ingin membela agama. Namun, narasi yang dibentuk setelahnya—tentang betapa damai, rapi, dan indahnya aksi tersebut—terlalu dihebat-hebatkan dan terasa semakin artifisal. Seolah begitu terobsesi membuktikan kepada dunia bahwa Islam benar-benar agama yang damai. Bahwa umat Islam bukan pecandu kekerasan. Kalaupun kemarin umat Islam berhasil membuat aksi ‘super’ damai, saya ragu komitmen ‘super’ damai itu bisa berlangsung lama.

Tentu itu hanya perasaan saya. Umat Islam bisa mengumpulkan (konon) tujuh juta orang ‘tanpa ada sehelai rumput pun yang rusak’ adalah prestasi luar biasa. Umat Islam telah menetapkan standar begitu tinggi yang sulit dicapai oleh aksi massa lainnya. Namun, jangan ketika tersudut saja baru bikin aksi ‘super’ damai sambil tetap mendiamkan sesama Islam yang sewenang-wenang. Baru-baru ini, misalnya, massa Pembela Ahli Sunnah membubarkan Kebaktian Kebangunan Rohani Natal di Bandung. Atau di Jogja, Forum Umat Islam meminta manajemen Universitas Kristen Duta Wacana menurunkan baliho yang memuat gambar mahasiswi berjilbab. Seandainya yang tujuh juta itu juga berani bersuara menolak tindakan intoleran saudara-saudaranya sendiri (yang cuma beberapa gelintir saja itu), tentu akan menjadi langkah yang sangat baik untuk melanjutkan semangat ‘super’ damai 212 kemarin. Saya menunggu tujuh juta umat Islam mengulang kembali kalimat “Islam agama damai”.

Dengan begitu, barangkali orang-orang seperti saya tidak lagi patah hati suatu saat nanti.