Rush Money?

Belum cukup dengan demonstrasi 4 November 2016, beberapa hari kemudian, muncul ajakan melalui media sosial kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk melakukan Rush Money: menarik uang tunai dari bank secara serentak pada 25 November 2016 nanti. Tujuannya, menekan ekonomi sebagai respon kepada pemerintah yang dianggap lamban dalam mengusut kasus Ahok.

Secara teori, Rush Money memang bisa memberi tekanan berat terhadap ekonomi negara. Dunia perbankan tak lagi punya dana, tak ada kredit yang bisa disalurkan, dunia usaha ambruk, proses produksi terhenti, pengangguran besar-besaran, daya beli masyarakat jatuh, komoditas langka di pasaran, harga-harga melambung tinggi, nilai mata uang terjun bebas, ekonomi dicekik krisis, dan seperti yang selalu terjadi: hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Sebagai orang yang sering mendaku ‘anak kiri’, harusnya saya menyambut isu ini dengan riang gembira. Meski reaksioner, gerakan Rush Money tentu akan memberi pukulan telak bagi para kapitalis. Yang kemudian bisa diarahkan menuju revolusi proletariat.

Tapi saya bohong!

Rush Money hanya isu receh yang tak perlu diseriusi—seperti tulisan ini yang tidak serius, ditulis oleh orang yang tak serius, juga dimuat oleh media yang tidak serius. Bukannya mau mendukung kapitalisme atau sekadar ngayem-ayemi Sri Mulyani ya, tetapi … Kelas Menengah Muslim itu? Melakukan Rush Money? Ayolah, Akhi! Namun, siapa pun yang pertama kali mengusulkan gerakan ini, harus diakui punya daya khayali yang sungguh aduhai.

Sebelum bicara Rush Money lebih jauh, ada baiknya kita membahas dulu kesalehan Kelas Menengah Muslim. Yang saya maksud dengan Kelas Menengah Muslim dalam tulisan ini, terbatas pada ‘kebanyakan Kelas Menengah Muslim perkotaan di Indonesia saat ini’. Kenapa Kelas Menengah dan perkotaan? Memangnya siapa lagi yang punya rekening di bank dan bisa melakukan Rush secara serempak kalau bukan Kelas Menengah perkotaan? Tentu pengkategorian ini tetap tidak akurat dan terlalu menyederhanakan masalah.

Gambaran umum Kelas Menengah di Indonesia, kalau boleh diringkas, setidaknya dibentuk oleh hal-hal berikut: 1) selain menumbangkan Suharto, reformasi juga meninggalkan sebuah lubang besar—kebebasan berekspresi—yang coba diisi secara geragapan oleh masyarakat Indonesia; 2) perkembangan teknologi-informasi yang semakin memungkinkan kebebasan berekspresi tersebut; 3) pertumbuhan ekonomi meledakkan populasi Kelas Menengah (termasuk di dalamnya, Kelas Menengah Muslim) secara signifikan; dan 4) pengaruh kapitalisme global yang luas dan mendalam terhadap gaya hidup masyarakat.

Jumlah Kelas Menengah yang besar (tersebar luas tapi tidak terorganisir) itu, yang kemudian diperebutkan oleh banyak kepentingan (semisal politik post-otoritarian, ekspansi kapitalisme global, serta perkembangan teknologi media baru). Mereka adalah pangsa pasar yang sedang berkembang pesat dan terlalu sayang dilewatkan. Sebuah lembaga kajian media dan komunikasi, Remotivi, pernah membuat video menarik yang berjudul “Mendadak Halal”:

Bisa saja mereka ‘terlihat’ sangat taat beribadah. Salat lima waktu selalu berjamaah di masjid, ditambah salat sunah rawatib, duha, dan tahajud. Puasa Ramadan sebulan penuh, sekalian puasa Daud dan Senin-Kamis sepanjang tahun. Berzakat dengan mengumpulkan warga dan disorot kamera wartawan. Pergi ke tanah suci berkali-kali. Mereka akan girang setengah mati jika ada bule memeluk agamanya, atau anak band tiba-tiba berjenggot dan pakai gamis. Mereka tak pernah bosan me-share konten dari ‘situs-situs islami’ meski situs tersebut terbukti sering menyebar HOAX. Kelas Menengah Muslim itu juga pasti tersinggung, bahkan dimobilisasi untuk demonstrasi besar-besaran, ketika simbol-simbol agamanya dilecehkan.

Namun, berbeda dengan santri maupun orang-orang yang belajar agama dari lembaga formal selama bertahun-tahun, Kelas Menengah Muslim itu tak berlatar belakang pendidikan agama sama sekali. Ghirah (bahasa Indonesia menyerap kata ini menjadi “gairah”) mereka menjalankan agama, adalah hasil belajar otodidak dalam waktu yang nisbi singkat. Acak berdasarkan apapun yang disediakan media (cetak, elektronik, maupun internet). Sekaligus selektif berdasarkan selera masing-masing.

Sementara selera sendiri adalah sesuatu yang bisa dibentuk. Kita bisa melihat bagaimana industri pertelevisian menambah jumlah slot untuk acara ceramah agama. Seiring dengan ustaz cum selebritis bertarif mahal yang nyaris serentak bermunculan. Juga ormas dan partai politik petentang-petenteng membawa simbol-simbol agama dengan misi yang tak pernah monolitik. Dan yang tak jauh lebih ramai, tentunya, adalah ‘kajian’ agama di internet. Pada akhirnya, ghirah mereka bukanlah bentuk kebangkitan spiritual yang tumbuh dari kedalaman ilmu agama. Ghirah mereka hanyalah kebangkitan ekonomi belaka.

Dan jika kesalehan semacam itu harus berhadapan dengan kuasa kapital, ya nanti dulu!

Jangankan Rush Money, memberi uang untuk pengemis saja berpikir seribu kali. Banyak ‘tokoh’ agama nyaman saja naik Alphard dan Rubicon ketika remaja-remaja putri diintai industri prostitusi. Banyak yang lebih gelisah ketika orang miskin pindah agama ketimbang orang miskin digusur rumahnya. Banyak yang memilih naik haji berkali-kali ketimbang menaikkan gaji pegawainya. Banyak fatwa untuk melayani industri tetapi tak ada yang membahas perlindungan buruh migran. Banyak yang berdemo ketika agama (katanya) dinistakan tetapi tak banyak yang peduli pada nasib Petani Sukamulya dan Mekar Jaya.

Atau kenapa Rush Money tidak dari dulu saja dilakukan? Alih-alih cuma untuk memenjarakan Ahok, Kelas Menengah Muslim bisa menggulingkan kapitalis perbankan lalu memulai revolusi dan menegakkan negara berbasis agama seperti yang melulu dikampanyekan oleh ustaz-ustaz media sosial. Nyatanya, mereka justru berasyik masyuk mencari dalil agar bunga bank tak digolongkan sebagai riba, atau mendukung kapitalis perbankan edisi syariah.

Kesalehan Kelas Menengah Muslim adalah semata politik identitas yang bersanding dengan ketaatan formal-individual dan simbolik. Adalah perkara eksistensial ketimbang sosial. Di mana naik haji berkali-kali, tetap jauh lebih menguntungkan ketimbang mewakafkan harta untuk proyek-proyek emansipatoris. Sering berderma kepada si miskin, jauh lebih murah ketimbang memperjuangkan agar si miskin tak lagi miskin. Bersedekah bukan cuma harus ada uang, tetapi juga harus ada orang yang bisa disumbang. Untuk itu, orang miskin harus tetap miskin dan mereka harus tetap kaya. Lagi-lagi, kita akan selalu diingatkan pada penggalan lirik sebuah lagu dari boyband One Direction, “When I give food to the poor, they call me a saint. When I ask why they are poor, they call me a communist.”

Kelas Menengah (yang Muslim maupun bukan) selamanya adalah, meminjam istilah filsuf kondang Slovenia, Awkarin, golongan yang menginginkan “a revolution without revolution”. Watak semacam itulah yang menyebabkan Kelas Menengah Muslim tidak akan sudi memutus sendiri urat nadi kapitalisme (perbankan) yang telah membuat mereka mapan. Rush Money sama tahayulnya dengan Dimas Kanjeng atau Aa Gatot. Tidak perlu diambil pusing. Yang berbahaya bagi ekonomi justru kekhawatiran para pejabat negara, komentar-komentar lebay mereka di media lebih punya kekuatan memicu sentimen negatif di masyarakat.

Namun, tenang. Sebagai bentuk solidaritas, saya pasti ikut gerakan Rush Money. Bahkan karena tak sabar menunggu 25 November segala, saya melakukan Rush Money sejak awal bulan. Selalu awal bulan. Persis setelah menerima gaji, saya langsung transfer sebagian besar ke istri dan orangtua dan kemudian sedikit untuk saya tarik tunai. Sekarang, tersisa lima puluh ribu rupiah lebih sedikit di rekening.

Saya yakin, banyak yang ikut Rush Money dengan cara seperti saya. Rekening sudah seperti stasiun Citayam saja: uang memang akan selalu datang tetapi untuk pergi lagi. Secepat laju kereta.