Menggilir IKANAS

Setelah jadi alumni STAN, saya masuk ke dalam gerbong alumni yang apatis terhadap IKANAS. Bukan tanpa sebab, banyak hal yang membuat organisasi ini, seolah tidak menjadi bagian dari kehidupan pasca-kampus saya. Lebih-kurang, mungkin kebermanfaatan IKANAS yang sampai sekarang tidak pernah saya rasakan langsung.

Pasalnya, dari awal, IKANAS di mata anak muda semacam saya terlihat seperti ‘hanya’ kumpulan para alumni yang telah hebat. Yang kemudian kembali pulang di setiap acara “Home Coming”, sembari bercerita sekarang sudah menjadi apa. Apalah saya yang masih serpihan rengginang di kaleng Khong Guan ini.

Lalu IKANAS yang besar pun lebih tampak seperti Event Organizer acara reuni, seminar, bakti sosial, dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak lebih.

Sementara saat saya dahulu di tahun 2011, saya dan ribuan teman lain yang hanya berkesempatan masuk D-I karena pada tahun itu tidak ada penerimaan D-III, IKANAS sebagai representasi alumni STAN tak bersuara sedikit pun. Walau sebenarnya tidak mengapa juga. Keinginan saya dan 1.500-an rekan lainnya untuk meringankan orangtua dalam biaya kuliah, dan janji manis PNS Kementerian Keuangan, tidak menyurutkan kami walau hanya mencicipi kuliah selama sepuluh bulan. Toh, kalaupun ada penerimaan D-III, belum tentu juga saya bisa masuk.

Tahun berikutnya (2012), STAN tidak membuka penerimaan sama sekali. Sehingga adik-adik kelas yang sudah jauh-jauh hari berharap bisa mencicipi kuliah keuangan negara, harus memupuskan asanya. IKANAS juga tetap sama sunyinya.

Belum lagi setelah lulus D-I, saya dan rekan-rekan lain lulusan tahun 2012, harus menunggu sebelas bulan tanpa kejelasan status. Tak jelas kapan kami diangkat menjadi PNS karena saat itu berbenturan dengan aturan moratorium PNS. IKANAS lagi-lagi tak peduli sedikit pun.

Itu semua dibiarkan hanya menjadi urusan kami sendiri yang masih polos dan culun waktu itu. Padahal saat itu kami telah menjadi alumni STAN—yang harusnya secara otomatis menjadi bagian dari IKANAS—nyatanya tetap tidak dipedulikan juga. Jangankan mengadvokasi, atau menjadi penyambung lidah ke stakeholder, menanyakan kondisi kami pun tidak.

Seolah tak ada keterikatan antara kondisi kampus dengan organisasi alumni yang kerap bikin reuni ini. Sebab-sebab semacam itulah yang membuat saya apatis soal IKANAS. Tidak terasa faedahnya. Pun saat ketua angkatan menawarkan mandat menjadi delegasi pada kongres pemilihan ketua IKANAS tahun ini, saya termasuk yang mengabaikan tawaran itu.

Tetapi semarak postingan media sosial, soal kampanye pasangan calon ketua-wakil ketua dan gelaran kongres tahun ini yang berbeda dari sebelumnya, akhirnya bisa mengikis sedikit rasa apatis saya terhadap IKANAS. Konsep, gagasan, dan janji-janji manis para pasangan calon, terdengar seperti harapan baru bagi IKANAS. Tentang IKANAS yang lebih bergelora, yang lebih peduli permasalahan kampus dan alumninya. Tidak hanya sekadar mengurusi seminar dan reuni.

Selain postingan di media sosial, saya sempat menyambangi acara kampanye yang diadakan oleh salah satu calon: Pak Misbakhun. Saya panggil ‘pak’ karena beliau hanya dua tahun lebih muda dari ayah saya. Kampanye itu diadakan di sebuah kafe dekat kosan saya di bilangan Menteng. Awalnya, niat saya datang adalah sekalian menghilangkan suntuk, karena sang calon juga menghadirkan seorang pelawak kondang. Namun, acara yang semula saya ekspektasikan biasa-biasa saja ternyata berlangsung sangat seru. Terjadi penyampaian gagasan dan diskusi hangat yang sekaligus menggebu-gebu. Mungkin laiknya perkumpulan serikat pekerja yang sedang memperjuangkan nasibnya. Aspirasi dan keluhan yang selama ini tak terlalu dibahas banyak di forum resmi IKANAS—seperti STAN yang hanya meluluskan golongan II, kenaikan pangkat alumni STAN yang menyusahkan, dan lain sebagainya—juga dijawab dengan janji-janji kepedulian bersama. Hal yang selama ini, jangankan diperjuangkan oleh ketua-ketua IKANAS sebelumnya, dijanjikan saja tidak. Acara tersebut menjadi ajang curahan hati kami, sebagian alumni STAN yang selama ini tak punya tempat bercerita.

Saya, yang semula apatis dan pesimis tentang IKANAS, menjadi salah satu orang yang menunggu-nunggu hasil kongres kali ini. Optimisme akan sebuah wadah alumni yang bisa memberi manfaat nyata selama tiga tahun ke depan.

Sampai pada acara kongres tersebut. Walau saya tidak hadir dan melihat langsung prosesnya, tapi kabar cepat tersebar. Baik di grup-grup chatting, hingga media sosial. Acara pemilihan yang harusnya khidmat, justru menjadi ajang pemupusan harapan. Jelang pra-kongres yang terasa alam demokrasinya, penuh sportifitas, dan persaingan ide luar biasa dari masing-masing calon, justru berakhir dengan dagelan musyawarah-mufakat yang tidak jelas dasar hukumnya. IKANAS akhirnya dipimpin secara presidium, dijabat bergiliran setiap tahun.

Bagaimana cara menggilir IKANAS yang sebesar itu—yang anggotanya dari Sabang sampai Merauke—bahkan beberapa berada di sudut-sudut negeri lain? Bagaimana bisa seorang ketua presidium yang hanya punya waktu satu tahun itu, mengkonsolidasikan kekuatannya dan merealisasikan program-programnya? Dari satu tahun itu berapa waktu efektif yang dipunyai untuk memimpin IKANAS Nanti?

Belum lagi para presidium tersebut kebanyakan merupakan orang-orang yang juga sibuk di bidangnya masing-masing. Jangankan memperjuangkan aspirasi para alumni, menyerap aspirasi saja belum tentu ada waktunya.

Ketua Presidium tentu tidak sama dengan ketua BEM kampus yang seluruh anggotanya adalah mahasiswa dan bisa dikatakan homogen. Anggota IKANAS terdiri dari alumni-alumni dengan berbagai umur, pemikiran, dan latar belakang pekerjaan. Menyatukan dan mewadahi semuanya dalam jangka waktu satu tahun, adalah pekerjaan mustahil. Bisa saja dilakukan, jika yang menggilir jabatan ketua itu, bisa saling berkomunikasi secara berkesinambungan. Namun, menyamakan persepsi begitu berganti ketua, pun bukan pekerjaan mudah.

Bahkan dari semua persoalan itu, malah bisa jadi muncul pertanyaan lain: kenapa IKANAS tidak pernah begitu peduli pada kami, para alumni yang (istilahnya) sedang tertindas? Kemungkinan IKANAS memang tidak dirancang untuk semua alumni. IKANAS adalah permainan beberapa orang. Jangankan pada saya yang tak pernah sekali pun datang pada acara IKANAS. Wong para delegasi yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan lain-lain, juga tidak dihargai suaranya. Untuk itu, bisa jadi apatis adalah sikap yang benar. Karena dari awal, mungkin kita sejatinya tidak memiliki sama sekali IKANAS.

Salam,

Elam

D-I 2011