Fidel

Seorang mahasiswa kedokteran asal Palestina, Adham Motawi, terduduk di sebuah anak tangga. Kedua tangannya menopang kepala yang tertunduk lesu. Di pangkuannya, terbentang poster bergambar seorang kakek dengan seragam militer berwarna hijau: Fidel Castro. Rakyat Palestina mengibarkan bendera setengah tiang untuk memberi penghormatan kepada Fidel atas perintah Presiden Mahmoud Abbas. Presiden komunis itu memang punya tempat khusus di hati rakyat Palestina setelah dukungannya selama ini atas perjuangan mereka melawan Israel.

Musik berhenti di Havana. Pesta perkawinan ditunda. Pintu bar ditutup. Pertandingan bisbol ditangguhkan. Bendera setengah tiang berkibar di seantero negeri. Koran resmi Partai Komunis Kuba, Granma, yang selalu dicetak dengan tinta merah, kali itu dicetak seluruhnya hitam. Begitu juga dengan Juventud Rebelde, koran Pemuda Komunis yang biasanya bertinta biru. Sehari setelah kematian itu, ratusan mahasiswa turun ke jalan dan berkumpul di Universitas Havana. Mereka membawa poster, karangan bunga, dan hati yang terluka.

“Te queremos. Gracias por todo Fidel,” tulisan di salah satu poster yang berarti: kami mencintaimu. Terima kasih atas segalanya, Fidel.

Mahasiswa-mahasiswa itu boleh terus berteriak bahwa Fidel tak pernah mati karena seluruh rakyat Kuba adalah Fidel, bahwa mereka adalah Fidel. Namun, dia bukan cuma milik Kuba. Fidel selamanya adalah milik jutaan golongan radikal, gerakan kiri, para sosialis, dan anti-imperialis di seluruh dunia. Semangat internationale-nya adalah milik semua orang yang masih percaya dunia bisa dan harus jadi tempat yang lebih baik. Komunis tua penuh jenggot dan keras kepala itu membuktikan dirinya adalah revolusioner hingga akhir.

Fidel telah mati. Tubuhnya telah diantar oleh barisan panjang perkabungan. Namun, hantunya akan selalu muncul kembali. Wajahnya akan kembali tercetak di kaos-kaos generasi muda yang gelisah akan penindasan. Namanya akan tetap tertulis di tembok-tembok lusuh. Di pintu-pintu ruko. Di gang-gang becek. Di sudut pasar dan terminal. Di sawah-sawah yang diserobot oleh pemodal. Dari Kuba, hingga Kongo. Dari Palestina, hingga Afrika Selatan. Dari Kolombia, hingga Namibia. Dari El Salvador, hingga Angola. Dari Mozambik, hingga Guinea-Bissau. Dari Aljazair, hingga Indonesia. Dia selalu ada.

Adios, el Comandante!