Arisan

Saya kira apa yang terjadi di arena Kongres IKANAS STAN 2016 kemarin (Sabtu 12/11/2016), adalah sebuah atraksi politik yang lebih mirip dengan drama komedi. Ratusan delegasi terkaget-kaget melihat ending yang antiklimaks. Kongres tersebut telah mengkhianati amanat ribuan alumni yang memercayakan suaranya kepada para delegasi.

Sejak awal, yang terjadi sebelum kongres ini sebenarnya adalah kontestasi yang menarik. Aroma politik yang kental menguar mirip kuah rawon yang tengah diaduk di atas tungku arang. Sementara di sisi lain, ada pihak yang menolak aroma perpolitikan berbumbu kalimat santun penuh kata bijak namun artifisial tersebut. Gerilya gagasan mengendap lewat media sosial, merayap lewat percakapan instan di gawai, hingga adu argumen di lingkungan perkawanan. Hey, inilah politik. Inilah adu gagasan. Inilah demokrasi yang sebenarnya.

Semua pihak punya hak mengemukakan pendapat. Semua difasilitasi. Baik pasangan calon yang akan dipilih, maupun para pemilih, punya hak yang sama untuk adu gagasan. Ada yang tendensius. Ada yang berusaha menolak salah satu pasangan calon dengan segala retorikanya. Sementara golongan lainnya bersemangat menggerakkan mesin politiknya sendiri. Dan tanpa disadari, publik alumni STAN pada akhirnya mengerti dan merasa memiliki IKANAS lewat pasangan calonnya masing-masing.

Tapi sayang, belakangan muncul aroma-aroma ganjil dari kuah rawon itu. Kegairahan politik dan adu gagasan yang semula ramai, tiba-tiba sirna dengan dagelan yang dilakonkan pada Kongres IKANAS 2016. Macam Sidang Umum MPR (SU MPR) tahun 1999 dengan Poros Tengahnya. Saya kira demokrasi IKANAS sampai pada sebuah titik balik: 2010 dengan mekanisme delegasi, 2013 dengan one man one vote, dan 2016 tiba-tiba presidium a la arisan.

Tahun ini kamu ketuanya, tahun depan gantian kamu, tahun depannya gantian kamu!

Proses ini bahkan lebih menyedihkan daripada pemilihan presiden era Orde Baru. Kita semua tahu pemilihan presiden a la Orde Baru adalah formalitas belaka untuk melegitimasi Soeharto agar bisa terus menjadi presiden. Tapi sebagai proses yang berulang, SU MPR tetap melibatkan anggota MPR sebagai pemilih, mereka yang bermusyawarah.

Sementara di Kongres IKANAS 2016, yang bermusyawarah justru pasangan yang mencalonkan diri. Orang-orang yang seharusnya dipilih. Dan ratusan delegasi, yang seharusnya memilih, cuma disuguhi nasi kotak sambil termangu menatapi kotak suara yang nasibnya serupa mannequin di etalase-etalase toko pakaian. Pajangan semata.

Kongres IKANAS 2016 lebih purba daripada era orde baru. Bayangkan saja, saat ribuan alumni ITB sudah memilih ketuanya dengan e-voting, ribuan alumni STAN kembali pada kata bijak bestari ‘musyawarah untuk mufakat’ (baca: musyawarah para pasangan calon sendiri, untuk mengangkat dirinya sendiri) yang maha agung dengan segala pembenarannya.

Hasil kongres kemarin, selain cacat demokrasi (kronologis yang lebih lengkap bisa dilihat di tulisan Meidiawan), juga melawan arah logika zaman. Gairah akan harapan tetang keterbukaan untuk memberikan suara, diberangus begitu saja. Pantas saja banyak delegasi yang tidak puas dan kemudian mundur gelanggang. Saya heran, IKANAS ini kan dipenuhi orang terdidik. Mulai yang gelarnya serba panjang, hingga mantan menteri yang murah senyum. Mulai dari CEO perusahaan besar, sampai pejabat teras pemerintahan. Mulai dari politisi nasional, sampai penulis cum pemikir kenamaan. Semua ada. Tapi belajar berdemokrasi saja sulitnya minta ampun, untuk memberikan sebuah legacy yang bisa menjadi panutan saja gagap.

Ketika kongres baru dibuka pagi harinya, seorang pria berpeci dan berbaju koko membacakan doa yang redaksinya begitu tendensius: seolah sedang ada perpecahan dalam tubuh IKANAS. Padahal yang ada selama ini terjadi hanya adu argumen biasa saja. Ikatan alumni ini kan isinya ulusan STAN yang ngakunya orang-orang terdidik, harusnya tidak kaget dengan dialektika semacam itu. Tidak ada perpecahan sama sekali dalam IKANAS. Saya yakin kedewasaan dan kesadaran politik para alumni STAN, sudah seperti Natsir dan IJ Kasimo. Adu gagasan sengit dalam parlemen, tapi berangkulan erat di luar parlemen. Kalau ada yang merasa sedang terjadi perpecahan, ah, itu kan perasaan adek saja.

Tapi barangkali memang ada yang gagal memaknai, salah kira bahwa perdebatan dan adu gagasan pasti dan selalu menimbulkan perpecahan. Atau tunggu dulu, apakah mas-mas pembaca doa adalah cenayang seperti mendiang Mamah Lauren? Yang bisa meramal masa depan bahwa, perpecahan justru akan timbul pasca-kongres?

Sistem dan proses yang buruk tidak akan menghasilkan kepemimpinan yang bisa menjadi teladan. Tidak akan pernah terjadi. Waktu yang akan menjadi legitimasi, cepat atau lambat. Cidera pada prosesi Kongres IKANAS 2016 telah menjadi nyeri yang akan selalu terasa. Sebagai seorang delegasi, saya sebenarnya tidak masalah siapapun ketuanya. Yang jadi masalah adalah saya membawa amanat ratusan orang di angkatan saya, mereka menitipkan suaranya pada saya. Tapi suara itu tiba-tiba dilenyapkan. Suara itu tidak boleh disuarakan.

Saya tidak tahu siapa yang merancang dan berkehendak atas skenario komedi ini, tapi saya tak perlu tanya soal itu. Yang perlu saya tanya adalah, siapa pemilik IKANAS sebenarnya? Siapa stakeholder IKANAS sebenarnya?

Pemilik IKANAS adalah saya, kamu, dia, kalian, mereka. Kita semua, ribuan alumni STAN yang tersebar di Indonesia, bahkan penjuru dunia. IKANAS bukan milik seseorang, atau milik golongan yang merancang skenario menggelikan itu. Ketakutan-ketakutan pada pasangan calon tertentu, tidak berarti boleh menjegalnya dengan segala cara. Demokrasi adalah tentang kesempatan yang sama pada semua orang untuk menyampaikan gagasan. Maka rampungkan proses demokrasi itu sampai akhir, jangan divasektomi di tengah-tengah.

Dunia melihat sebegitu bencinya orang Amerika pada Trump, tapi akhirnya dunia menghormatinya sebagai Presiden Amerika. Karena prosesnya memang demikian, fairness sampai akhir. Apakah orang Amerika karena benci pada Trump lantas meminta Obama mengubah Undang-Undang Dasar hanya agar Trump tidak terpilih? Kan tidak. Apalagi IKANAS menganut sistem demokrasi mirip Amerika dengan sistem perwakilannya.

Tapi ini kan Indonesia ya, ada inspirasi bernama musyawarah-mufakat yang Amerika tidak punya.

Kita telah menyaksikan bagaimana panggung menjadi kosong melompong, juga puluhan delegasi keluar dengan kepala penuh tanda tanya: haruskah kita percayakan IKANAS pada presidium yang dihasilkan oleh arisan delapan orang? Yang setiap tahun ganti pemimpin? Sedangkan Pemilu yang lima tahun sekali ganti pemimpin saja, orang-orang sering mengeluh: tiap ganti pemimpin, ganti kebijakan. Lha besok pemimpin IKANAS itu malah tiap tahun ganti, apa tidak lebih runyam?

Kritik yang dilontarkan ternyata berbalik pada diri sendiri, ironis sekali.

Saya menghormati orang-orang yang menjadi presidium, mereka semua orang hebat dan kapabel. Tapi maaf, saya tidak bisa mengatakan “ya” pada presidium karena proses pembentukannya yang mirip operasi senyap para telik sandi. 2019 nanti, saya kira sudah saatnya anak-anak muda bergerak. Jumlahnya banyak dan sudah saatnya mengubah IKANAS menjadi organisasi yang kukuh pada prinsip-prinsip keteladanan dan demokrasi.

Kita telah melihat sebuah proses yang berkhianat. Senior-senior yang biasa menasehati anak muda dengan bijak bestari, dengan ajakan keteladanan dan kalimat penuh bunga, kini diam seribu bahasa. Kediaman yang menjadi contoh tentang demokrasi yang buruk kepada khalayak. Mereka menjadi pion-pion yang justru berjalan terbalik, mundur menjauhi sistem kontribusi yang lebih partisipatoris. Seharusnya Kongres IKANAS 2016 kemarin, adalah legacy yang akan menimbulkan rasa bangga dengan segala prosesnya. Tapi yang terjadi? Rasa bangga saya menguap begitu saja.

Terus terang, saya benar-benar-teramat-sangat-begitu-luar-biasa-kecewa-sekali pada proses Kongres IKANAS 2016. Apa yang harus dibanggakan dari sebuah proses yang cuma ramai dengan retorika namun manipulatif? Tiga tahun ke depan, jika musyawarah-mufakat a la arisan telah jadi usang, model apalagi yang mau kalian gunakan? Bagaimana jika pemimpin seumur hidup saja?

Tabik.

Farchan Noor Rachman, Penilai 17-05

  • Yusrizal

    dengan segala hormat, menyamakan kotak suara dengan mannequin adalah penghinaan besar terhadap mannequin itu sendiri, karena setidaknya mannequin diciptakan memang sebagai pajangan. dia telah memenuhi fitrahnya. sedangkan kotak suara?