Tugas Mengarang

Pada sebuah Sekolah Dasar negeri, seorang guru wanita memasuki kelas yang berisi tiga puluh murid. Sekolah itu berdiri di atas tanah sengketa antara Pemerintah Daerah dengan keluarga menak setempat, yang mengklaimnya sebagai warisan turun temurun. Seringkali murid-murid membolos karena segerombolan pria kekar menyegel gerbang sekolah dengan kawat berduri dan papan kayu ala kadarnya.

Jadwal pelajaran hari ini adalah Bahasa Indonesia. Guru wanita duduk di depan kelas sebelah kanan. Mejanya adalah satu-satunya yang berlapis taplak, yang tampak murahan dengan motif kembang menghiasi sudut-sudut taplak itu. Saat lonceng berbunyi, salah seorang murid berdiri dan berteriak lantang, “Berdiri! Beeeriiiiii saaaaalam!” Kelas pecah oleh teriakan murid bocah yang cempreng menyambut bu guru.

“Asssssalamualaikum warahmatullahi wabaraaaaaakaaaaaatuuuuuuh,” ucapan itu terasa begitu lama dengan nada panjang yang tidak perlu di beberapa bagian. Begitulah bocah-bocah.

Tanpa memeriksa kehadiran, bu guru maju ke arah papan tulis hitam dengan debu kapur yang bisa menyebabkan paru-paru manusia remuk dimakan TBC. Mistar besar di tangan kanan. Dia berdehem pendek dan memulai pelajaran.

“Anak-anak, kesehatan ibu sedang tidak baik. Sekarang ibu kasih kalian tugas mengarang. Tolong siapkan secarik kertas kemudian tulis pengalaman bahagia kalian bersama keluarga. Selesaikan sekarang yah. Nanti kalian maju satu per satu membacakan karya kalian.”

Murid-murid sigap mencabut kertas dari tengah buku catatan. Kertas bergaris merek Mirage itu, dibelah dua dengan penggaris besi, dan dibagi untuk dua orang. Ada murid yang langsung menulis dengan antusias. Ada yang menerawang ke langit-langit seolah ada inspirasi yang siap disalin. Beberapa melihat pekerjaan teman sebelahnya, yang dengan segera ditutup dengan telapak tangan sebagai bentuk resistensi. Ada juga yang izin ke kamar kecil. Lama sekali. Entah apa yang dilakukannya di sana.

Tidak terasa, satu jam berlalu. Bu guru kembali berdehem halus dan memberi instruksi.

“Nah, sudah ya anak-anak. Sekarang tolong ketua kelas kumpulkan. Ibu mau periksa dulu. Nanti ibu panggil siapa yang membacakan ke depan.”

Bu guru memeriksa tulisan cakar ayam dengan noda tip-ex pada beberapa bagian. Dengan saksama, ia meneliti kesalahan tulis, penggunaan kata yang kurang tepat, dan tentu identitas murid. Setengah jam berlalu, diakhiri dengan mata berkaca-kaca dan mulut terbuka lebar—pertanda kantuk. Bu guru melihat tajam ke arah murid.

“Nah, yang pertama maju adalah Ainun. Ayo, Ainun, bacakan karyamu ke depan!”

Ainun duduk di pojok belakang, di bawah potret Pangeran Dipenogoro yang tirus karena malaria. Ia belum pernah bicara di depan kelas. Ia adalah anak yang pemalu. Setelah jam pelajaran usai, ia tidak pernah bermain lompat tali atau masak-masakan dengan teman sejawat atau anak-anak komplek. Dalam pikirannya, hanya ada sekolah untuk belajar dan rumah untuk belajar. Belajar dan belajar. Hanya belajar.

Saat berada di depan, Ainun berdiri kaku. Matanya berkunang-kunang. Denyut jantungnya bertambah kencang. Keringat membanjiri dahi dan telapak tangan. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum bercerita.

“Teman-teman, aku akan bercerita hal yang paling membahagiakan bersama keluargaku. Liburan semester lalu, aku bersama mamah, papah, dan kakak jalan-jalan ke Eropa …,”

Mendengar kata Eropa, seluruh kelas menjadi riuh dengan suara tepuk tangan bercampur gemuruh cieeee cieeee cieeeee. Ainun semakin gugup.

“Anu …, anu …, iya, Eropa. Di sana, aku berjalan-jalan ke menara Eifel, makan di restoran yang umurnya sudah ratusan tahun, dan menemani mamah membeli baju dan tas banyaakkk sekali. Papah tidak belanja, ia cuma senyum-senyum saat menemani kami. Dia membayar belanjaan kami tapi mukanya kelihatan aneh setiap melihat dompet.”

Karena kepolosan itu, seisi kelas kembali gaduh. Tawa bahak beberapa siswa bertukar dengan teriakan histeris tanda riang. Bu guru berusaha menenangkan dengan isyarat tangan. Mendengar  tawa temanya, Ainun semakin kehilangan kepercayaan diri. Keringat di tubuhnya semakin deras. Ia menjadi pucat dan pusing. Darah merangkak turun dari lubang hidungya.

“Ainun! Kok kamu mimisan? Ketua kelas, cepat bawa Ainun ke UKS! Cepat!”

Kegaduhan itu berhenti menjadi kengerian. Ketua kelas dibantu beberapa anak lainnya, memapah Ainun ke UKS. Murid yang tertinggal di kelas menunduk tanda bersalah. Bu guru cepat-cepat mengambil alih kelas.

“Anak-anak yang saleh, kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita. Jangan menertawakan kesalahan orang lain. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita tertawakan. Tidak pernah ada manusia yang luput dari kesalahan. Paham, anak-anak?”

“Pahammm, Bu …,” jawab mereka serempak, penuh penyesalan.

“Nah, sekarang kita doakan Ainun lekas sembuh ya.”

Bu guru kembali mengambil kertas hasil karangan para murid. Ditariknya selembar kertas kusam dengan garis berwarna biru yang tidak teratur, dari bagian tengah tumpukan. Bu guru membaca nama yang tertulis di kertas itu.

“Zul-ki-fli. Nah, ini dia. Ayo, Zulkifli, kamu maju ke depan! Bacakan untuk teman-temanmu yah!”

Zulkifli, Oh Zulkifli. Anak ini terkenal sangat badung. Hampir setiap hari, ia datang terlambat. Bajunya kusam dengan kerah kusut dan sobek di bagian lipatannya. Penampilannya urakan. Rambutnya dipotong tipis bagian pinggir, dan bagian tengahnya dibiarkan panjang, disisir ke kiri menutupi mata.

Tapi Zulkifli selalu percaya diri, termasuk saat itu. Ia berdiri lalu menuju depan kelas dengan riang. Begini ceritanya:

“Selamat siang, kawan-kawan,” senyumnya mengembang. Matanya berbinar.

“Aku tidak tahu apa itu keluarga bahagia. Aku tinggal dibantaran Sungai Cidurian, hanya beberapa meter dari Borma Antapani. Ibuku seorang buruh cuci. Tetangga-tetangga sering meminta tolong kepada ibu untuk mencucikan pakaian mereka. Ibu mencuci pakaian itu dengan tangan. Sepulang sekolah, aku membantu mengantarkan pakaian yang sudah selesai dicuci ke rumah pemiliknya. Aku senang karena kadang-kadang mereka memberi uang jajan. Bapakku seorang kontraktor. Aku tak tahu bapak kerja di mana. Dia selalu pergi bekerja pukul dua siang dan kembali besok lusanya. Tanpa membawa apa-apa. Bapak tak pernah membawa uang. Aku pernah minta robot-robotan, dia malah memaki aku dengan kasar. Kedua kalinya, aku minta dibawakan buah jeruk, malah asbak penuh abu rokok dia lemparkan ke dahiku. Ketiga kalinya, aku tak berani minta apa-apa lagi kepada bapak. Pernah juga ketika musim layangan, aku minta layangan dan benang gelasan. Dia cuma diam lalu menarik tanganku. Aku diseret ke kamar mandi, disiram dengan air dingin, sambil dibentak-bentak. Sampai sekarang, aku tak mau minta lagi.”

Bu guru dan semua murid tercekat mendengar kisah pilu yang dibacakan dengan nada tanpa kesedihan itu. Zulkifli melanjutkan:

“Suatu hari, ketika hujan deras, Sungai Cidurian meluap. Air membawa sampah dari atas. Aku sedang di kamar, menyelesaikan tugas matematika. Bapak pulang entah dari mana. Dia masuk ke ruang tamu tanpa mengetuk pintu. Ibuku tiba-tiba membentak bapak. Aku masih ingat, kata-katanya: Anjing, kamu! Suami babi! Udah miskin, masih aja selingkuh! Kamu ga mikir apa, hah? Bukannya cari duit yang bener, malah main perek!

“Gelas kaca bergambar kembang sepatu kesukaanku, dilempar ibu dan menghantam kusen pintu. Pecahannya terpencar ke bawah sofa, ke atas karpet ruang tamu, dan keset di depan pintu. Aku hanya berani mengintip dari balik tembok yang retak karena gempa beberapa tahun lalu. Kulihat ibu menangis. Mukanya merah. Bapak cuma diam. Setelah lama ibu memaki, saat hujan mulai reda, bapak berdiri dan mengambil kunci motor yang tergantung di samping kulkas. Ibu membentaknya lagi, bertanya hendak kemana. Bapak masih diam dan berjalan ke arah motor bebek kami satu-satuya. Ibu terus membentak sambil bertanya hendak kemana. Bapak tetap diam. Tidak membalas dengan bentakan seperti biasanya, menoleh juga tidak. Bapak menyalakan motor dan pergi entah kemana. Itulah terakhir kalinya aku melihat bapak.”

Bu guru merasa begitu bersalah, bukan hanya karena telah memberi tugas mengarang, tapi juga karena ia getol sekali memaki Zulkifli selama ini. Anak gak punya masa depan lah. Anak bodoh lah. Ia punya banyak dosa pada anak ini. Zulkifli melanjutkan ceritanya:

“Kemarin malam, saat sedang bermain sepeda di Braga, aku melihat banyak orang ribut-ribut. Aku mengintip dari balik kerumunan. Ada laki-laki gimbal bersimbah darah. Pakaiannya kotor penuh noda tanah. Ia membawa karung berisi gelas plastik yang disusun-susun. Aku melihatnya lebih dekat. Dekat sekali. Hidungnya mirip dengan hidungku. Tiba-tiba aku teringat asbak yang pernah membuat dahiku robek, juga makian yang menyakitkan hatiku. Laki-laki itu bapakku. Bapak yang dulu pergi entah kemana itu.”

Zulkifli berhenti. Wajahnya berubah sendu. Ia melihat jendela. Langit lagi mendung di luar sana. Awan kelabu memeluk gunung-gunung hijau Kota Bandung. Ia tidak lagi peduli pada seiisi kelas, pada gurunya, pada Ainun yang tadi mimisan, pada teman-teman lain yang jadi beku di kursinya. Ia diam. Hanya diam. Ingatannya melayang-layang pada kisah bersama bapak dan ibu yang pernah indah. Saat bapak masih jadi pegawai bank. Saat mereka masih tinggal di komplek mewah sekitar Dago.