Raffles di Singapura

Singapura, 28 Agustus 2016. Di tengah siang yang terik saya menatap patung putih Sir Thomas Stamford Raffles yang berdiri kokoh. Beberapa orang tampak berlalu lalang, seorang bocah lelaki berkaos merah melintas menggunakan sepeda. Patung marmer Raffles ini, menurut informasi yang saya dapatkan, merupakan satu dari dua patung yang dibuat untuk mengenang Raffles. Satu patung lagi terbuat dari perunggu, ada di depan gedung Victoria Theatre and Memorial Hall. Jaraknya tak jauh dari tempat saya berdiri.

raffles_3497409k
sumber http://www.telegraph.co.uk/expat/expatnews/11987012/Raffles-wives-inspire-Singapore-expat-to-pen-historical-novel.html

Bagi Singapura, Raffles berada pada posisi puncak. Sang pendiri. Bernard H. M. Vlekke (2016; 262) mencatat, Raffles mengibarkan bendera Britania Raya di Singapura pada 29 Januari 1819, setelah ia membeli tanah itu dari Sultan Johor (yang ia bantu dalam perebutan kekuasaan). Seperti halnya kepulauan Nusantara, Singapura adalah salah satu wilayah yang diperebutkan dua imperium Eropa, Inggris dan Belanda, untuk mengamankan perdagangan dan pengaruh kekuasaan di wilayah yang strategis.

Namun perlu dicatat, penilaian strategis terhadap Singapura datang belakangan setelah daerah itu tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pelabuhan yang sangat menguntungkan. Singapura dulunya, atau setidaknya saat pertama kali Raffles menginjakkan kaki di wilayah ini, merupakan tanah yang meskipun dikenal oleh para saudagar tetapi bukanlah “tempat yang menarik”.

Dalam taraf inilah, Raffles memperoleh peran vitalnya. Ia yang memproyeksikan Singapura sebagai basis perdagangan internasional. Pemerintah Inggris yang mulanya memandang ‘miring’ terhadap Raffles dan keputusannya menguasai Singapura, justru berubah pikiran dan memberi dukungan. Apalagi pada 1820-an, Singapura menjelma pusat perkapalan pengusaha dari Indonesia dan Eropa, serta pelabuhannya dinyatakan bebas cukai (Vlekke, 263). Sejak itu, Singapura sama sekali tak dapat diabaikan.

***

Namanya terdiri dari dua suku kata: Thomas Raffles. Lahir 6 Juli 1781 di geladak kapal Ann, tidak jauh dari pelabuhan Port Morant, pulau Jamaika. Ayahnya, Benjamin Raffles, adalah seorang kapten kapal. Dan ibunya bernama Anne Lyde Linderman. Kedua orang tuanya bukan bangsawan sehingga dapat dipastikan bahwa Raffles bekerja keras, atau setidak-tidaknya ia menjalani hidup dengan cara yang ‘pintar’ untuk mengantarkannya menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah kolonialisme Eropa di Asia. Selain dikenal sebagai administrator ulung, dalam Encyclopedia of World Biography (Gale Research, 1998), Raffles dianggap telah memberikan “incalculable contributions to the knowledge of the Malay Archipelago and to the British overseas empire”.

Di luar kenyataan bahwa Raffles yang merupakan representasi penting dari kekuasaan kolonial Inggris (ia pernah menjadi Gubernur Jenderal di Jawa pada periode 1811-1816), secara personal ia tipikal manusia yang mencintai pengetahuan—dan tentu pengetahuan sangat bisa menjadi alat kekuasaan. Ia mewariskan karya tebal The History of Java dan penemuan-penemuan jenis tumbuhan serta binatang baru yang ia namai, salah satu di antaranya, dengan namanya sendiri. Salah satu yang paling dikenal, dan barangkali yang paling saya ingat ketika sekolah, adalah Rafflesia Arnoldii.

Salah satu peristiwa paling menyedihkan yang dialami Raffles adalah ketika kapal yang ditumpangi saat pelayaran ke Inggris pada 2 Februari 1824, tenggelam. Raffles dan keluarganya memang selamat pada saat itu, tapi kerugian secara ‘pengetahuan’ cukup banyak. Saya akan mengutip keterangan dari Thomas Jefferson (2001) yang menuliskan biografi Raffles (h. 280):

Raffles tidak mendapat kesulitan dalam menghitung kerugiannya. Ia telah kehilangan segalanya. Semua surat-surat resminya dan benda berharga, misalnya cincin yang diberikan oleh Puteri Charlotte telah hilang; catatan-catatan untuk sejarah Sumatera dan Borneo; cerita tentang pembentukan koloni Singapura; buku tata bahasa, kamus, peta, spesimen sejarah alam dengan 2000 gambar. ‘Ada beberapa binatang langka, burung atau ikan atau tumbuhan, yang tidak kami bawa bersama perahu; tapir yang masih hidup, macan spesies baru, burung kuau yang menyenangkan. Semuanya, telah mati.’ Pekerjaan, beasiswa, penelitian bertahun-tahun, hancur dalam semalam! Tidak ada yang diasuransikan, karena hal itu tidaklah mungkin di Bencoolen.

Kejadian ini, dalam keterangan Jefferson, tidak membuat Raffles patah arang untuk mengumpulkan bahan-bahan bagi penelitiannya lagi. Ia membuat peta-peta baru dan menyuruh orang-orangnya untuk mencari koleksi hewan lagi di hutan-hutan. Hingga kematiannya yang mendadak pada 1826 di London dalam usia relatif muda, Raffles tetap tampil sebagai pribadi yang tekun bekerja dan belajar. Spirit seperti inilah yang, saya kira, penting untuk dikembangbiakkan bagi siapa saja di segala zaman.