Mengoreksi Mas Misbakhun

Apa kabar, Mas Misbakhun?

Semoga kebaikan dan kebahagiaan senantiasa terlimpah untuk Mas Misbakhun dan keluarga. Saya panggil “mas” boleh ya? Biar lebih intim. Lagian, sebagai pihak yang mendaku representasi golongan MUD4, tentu sapaan “mas” lebih enak didengar ketimbang “pak”. Kalau “pak” kan kesan yang terbangun jadi berjarak, birokratis, tua, dan sangat Orde Baru.

Belakangan ini, saya tanpa sengaja mengikuti perkembangan pemilihan ketua Ikatan Alumni STAN (IKANAS) yang Mas Misbakhun ikut maju menjadi salah satu calonnya. Kenapa saya pakai frasa tanpa sengaja? Karena saya memang tak pernah benar-benar berusaha cari tahu. Teman-teman yang telah berbaik hati membagikan segala hal tentang ingar-bingar itu melalui akun Facebook mereka maupun grup-grup WhatsApp. Kendati demikian, saya benar-benar tertarik mengikuti.

Termasuk adu argumen antara Mas Misbakhun dan Pak Sudirman Said, juga menarik diikuti. Bagaimana tidak? Wawasan Mas Misbakhun sungguh luas sekali. Merentang dari Nietzsche, Giddens, Robison, hingga Gramsci. Memang nama Gramsci tidak benar-benar disebut, Mas Misbakhun cuma meminjam istilah “hegemoni”-nya saja. Itu baru di Kegagapan Memaknai Perubahan. Di tulisan yang lebih awal, IKANAS Mencari Manusia, Mas Misbakhun juga mengundang Habermas, Arendt, Locke, hingga Hobbes, untuk ikut serta menghangatkan diskusi. Jarang sekali lho, alumni STAN tahu nama-nama yang susah ditulis dan diucap itu. Kita tahu lah bacaan kawan-kawan, paling-paling Tere Liye, Sadono Sukirno, Gregory Mankiw, Donald Kieso, Ippho Santosa, atau komik Pengen Jadi Baik. Yang begitu-begitu lah.

Tanpa merasa perlu mengurai, Mas Misbakhun mengambil kutipan para pemikir besar tadi setelah terlebih dulu melucuti teks dari konteks. Memadu-padankan dengan diksi-diksi akademis. Menghiasnya dengan frasa pseudo-sastrawi di sana-sini. Lalu menjahit kesemuanya sedemikian rupa sehingga sangat enak (baca: lentur dan longgar) untuk dikenakan.

Mas Misbakhun pernah baca Majalah Tempo, bukan? Ada semacam pemeo bahwa cara membaca Majalah Tempo yang paling benar justru dari belakang. Karena di halaman paling belakang itu, ada Catatan Pinggir (orang lebih sering menyingkatnya jadi Caping), rubrik yang disediakan khusus untuk tulisan-tulisan Goenawan Mohamad (GM). Dan gaya tulisan Mas Misbakhun mengingatkan pada sang sastrawan gaek. Saking miripnya dengan GM, tulisan Mas Misbakhun layak untuk predikat #HampirCaping.

Namun, sebagai sesama ‘tukang jahit’, garapan Mas Misbakhun ternyata belum sehalus GM. Banyak kontradiksi yang gampang sekali terlacak. Juga istilah-istilah otoritatif tetapi tidak cetha maksudnya. Di Kegagapan Memaknai Perubahan, Mas Misbakhun menulis, “Rezim Orde boleh saja berlalu. Represi fisik boleh saja tidak laku. Namun despotisme pikiran yang merasuki alam bawah sadar masih menjadi pilihan.” Saya kok bingung ya, bagaimana frasa despotisme pikiran itu harus ditafsirkan? Bagaimana sesuatu yang masih dalam pikiran, bisa jadi despotik?

Mas Misbakhun yang baik,

Tanpa ada paksaan, ancaman, maupun aparatus represif lainnya, gagasan tak pernah bisa dituduh despotik. Akan lebih cocok jika frasa despotisme pikiran diganti saja dengan hegemoni pemikiran. Iya, Hegemoni. Kata yang Mas Misbakhun pakai untuk menuding relasi-kuasa yang tengah dipraktikkan oleh Pak Sudirman Said. Pak Sudirman Said memang hegemon, dan sangat mungkin menghegemoni orang lain. Tetapi siapa sih yang tidak?

Mas Misbakhun juga hegemon, begitupun pasangan calon lainnya. Dan itu bukan dosa. Di masyarakat dengan relasi patron-klien sangat kuat seperti Indonesia, praktik hegemoni lumrah belaka. Selama tak ada paksaan atau ancaman, maka perang gagasan adalah ejawantah dari kebebasan mengutarakan pendapat—seberapa pun buruknya pendapat itu. Toh Mas Misbakhun tetap bisa menghindar, menangkis, menyelinap, menjegal, lalu menyikut balik Pak Sudirman Said—dengan gagasan juga, tentunya. Bukannya memang seperti itu demokrasi seharusnya dijalankan? Tentu Mas Misbakhun lebih paham soal ini.

Dan terlalu mencemaskan hegemoni, Mas Misbakhun, rasanya kok seperti meremehkan publik. Seolah-olah publik alumni STAN benar-benar tak mampu berpikir sendiri dengan genah. Tak mampu sekadar menimbang-nimbang benar-tidaknya sang hegemon. Bukannya Mas Misbakhun juga membaca teori strukturasi-nya Giddens? Bukannya dalam teori itu, Giddens mengangkat dualitas agensi: manusia tidak hanya dipengaruhi tetapi juga memengaruhi struktur?

“Saya teringat akan Teori Strukturasi yang pernah dipopulerkan oleh Anthony Giddens. Yang dimasyhurkan dalam kontek keindonesia-an oleh Richard Robison. Transisi demokrasi di Indonesia hanya menyisakan perubahan struktural dengan pergantian kekuasaan, tanpa merubah paradigma tentang transisi itu sendiri,” tulis Mas Misbakhun.

Nuwun sewu, sepertinya Mas Misbakhun kebingungan membedakan antara teori strukturasi-nya Giddens dan pendekatan strukturalisme-nya Robison. Teori strukturasi tidak sama dengan teori strukturalisme. Dan keduanya tidak mengada untuk saling menguatkan satu sama lain. Tidak dalam konteks ke-Indonesia-an, atau konteks apapun. Giddens mengusulkan teori strukturasi sebagai ‘jalan ketiga’, justru sebagai kritik atas pertentangan tak terdamaikan antara teori fungsionalisme-struktural dan teori konstruksionisme-fenomenologis. Giddens juga telah ‘murtad’ dari tradisi Marxisme layaknya golongan Kiri Inggris.

Sedangkan Robison adalah seorang Marxis Ortodoks (beberapa menyebutnya Black Marxist) yang juga telah teruji ke-strukturalis-annya. Pendekatan yang dipakainya adalah strukturalis (sebagaimana yang dia gunakan untuk menganalisa Indonesia dalam Political History of the New Order). Bagaimana ceritanya, seorang Marxis kolot, Kiri totok, malah menyokong Giddens? Jangankan Robison, golongan kanan saja ogah memakai teori strukturasi-nya Giddens!

Dan mari kita kembali ke tulisan yang lebih lama, IKANAS Mencari Manusia. Mas Misbakhun bilang, “John Locke bisa saja menyebut manusia itu pada dasarnya baik. Namun Thomas Hobbes menyanggahnya dan memproklamirkan sebutan homo homini lupus.”

Benar belaka Locke sangat optimistis memandang sifat alamiah manusia. Dia percaya sifat alamiah kita pada dasarnya sebersih kertas kosong. Tabula rasa. Locke menuangkan gagasannya dalam Two Treatises of Government (judul aslinya panjang sekali), terbit pertamakali pada Desember 1689. Sedangkan Hobbes membahas homo homini lupus dalam Leviathan or The Matter (judul aslinya juga tak kalah panjang) yang terbit pada 1651. Homo homini lupus-nya Hobbes sudah ada tiga puluh delapan tahun sebelum tabula rasa-nya Locke. Artinya bukan Hobbes yang menyanggah Locke, Mas Misbakhun. Justru Locke yang mengoreksi Hobbes.

Sekilas urut-urutan itu terlihat tidak penting. Namun, bisa sangat berbahaya jika ikut membentuk persepsi kita dalam memandang orang lain. Mas Misbakhun adalah anggota legislatif, lembaga yang kerjanya membuat undang-undang. Tentu Mas Misbakhun lebih paham soal lex posterior derogat legi priori. Produk hukum yang baru mengalahkan produk hukum yang lama. Jika pemikiran Locke dan Hobbes boleh diumpamakan sebagai produk hukum, maka kesalah-kaprahan urutan itu menuntut kita selalu mencurigai orang lain: semua orang adalah serigala buas yang siap mengunyah tenggorokan kita sewaktu-waktu.

Saya tak berani menyebut Mas Misbakhun cuma ingin pamer daftar bacaan, atau memanfaatkan kuasa pengetahuan demi political correctness seperti yang sering dilakukan GM. Namun, apa tidak mubazir? Membangkitkan kembali para pemikir yang telah lama mati itu, menumpuk-numpuk mereka dari kanan ke kiri, cuma untuk playing victim?

Mas Misbakhun yang baik,

Rasanya cuma itu saja yang fatal. Koreksi lainnya tak terlalu prinsipil dan bisa dimaklumi. Seperti kesalahan redaksi kutipan Tan Malaka yang seharusnya berbunyi, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Mas Misbakhun ‘memparafrasa’ itu menjadi, “Idealisme adalah kemewahan yang kita miliki.” Atau kata merubah pada kalimat “[t]ransisi demokrasi di Indonesia hanya menyisakan perubahan struktural dengan pergantian kekuasaan, tanpa merubah paradigma tentang transisi itu sendiri.” Kata merubah artinya menjadi rubah. Kata yang benar mengubah. Tanya saja Ivan Lanin!

Secara keseluruhan, adu argumen antara Mas Misbakhun dan Pak Sudirman Said tetap patut diapresiasi. Dialektika yang terbangun adalah pembelajaran politik yang baik untuk junior-junior seperti kami. Meski sesekali fallacy, masing-masing mengutarakan pendapat dengan tertib. Tepat di sekeliling argumen yang saling meringkus itu, khazanah pengetahuan berceceran, siap dipungut siapa saja. Dan intervensi kecil ini hanya ingin meluruskan yang bengkok. Menyaring yang keruh. Menambal yang bopeng. Tak pernah sekalipun dimaksudkan membela atau melemahkan pihak mana pun. Mohon maaf dan silakan dilanjut kembali diskusinya.

Selamat hari Sumpah Pemuda untuk kita semua.

Ahmad Taufiq

D I Pajak 2006