Warkop DKI Reborn: Dua Bintang

Seusai menonton film, saya terbiasa melakukan tiga hal: menulis skornya di IMDB, meng-update momen di Path, lalu menulis skor dan ulasan singkatnya di Letterboxd. Alay, ya? Terserah. Saat di Letterboxd saya menorehkan skor dua bintang (hanya dua bintang dari maksimal lima bintang!) untuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, hanya mas Gita dan Andre yang berkomentar di Facebook. (Kok jadi Facebook? Iya, soalnya akun Letterboxd saya tersambung ke Facebook, jadi skor saya akan otomatis muncul di Facebook).

Kejam~,” kata Andre.

trailer-warkop-dki-reborn-jangkring-boss-part-11

Di Path, saya juga tidak menulis hal bagus tentang film ini. Saya menulis, “Researched, well-acted, well-written, tapi bad directing aja sih.” Tak banyak yang berkomentar. Ya apa atuh, saya mah posting di Path isinya film melulu. Lumrah  saja kalau teman-teman malas menanggapi.

Sepemantauan saya, tidak sedikit yang juga berkomentar negatif di media sosial. Beberapa berpendapat, komedi dalam film ini, lebih banyak yang meleset daripada yang tepat sasaran. Saya menonton film ini bersama kedua orangtua dan adik saya. Saya yang mengajak. Awalnya, mereka juga tidak terlalu antusias. Sepanjang film, mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi di perjalanan pulang dari bioskop, ayah berkomentar, “Filmnya tidak jelas. Tidak ada ceritanya. Lebih bagus ‘My Stupid Boss’ tempo hari.”

Sang Legenda

Rasanya tak perlu lagi saya bercerita tentang Drs. H. Wahjoe Sardono alias Dono, Drs. Kasino Hadiwibowo alias Kasino, dan Drs. Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro. Semua orang tahu, mereka bertiga adalah Warkop DKI, legenda film komedi layar lebar Indonesia. Sama tak perlunya menjelaskan DKI dalam Warkop DKI adalah singkatan nama ketiga personelnya. Ada 34 film komedi (termasuk 1 film yang juga dibintangi Nanu Mulyono, sebelum hengkang dari Warkop) yang telah mereka bintangi. Film terakhir mereka Pencet Sana, Pencet Sini rilis 1994.

Berpulangnya Kasino (1997), disusul oleh Dono (2001), meninggalkan Indro sendirian. Perjalanan Warkop DKI (atau Warkop Millenium, perubahan nama yang digunakan sejak sepeninggal Kasino) sempat terhenti di kancah hiburan tanah air. Pun begitu, film-film mereka selalu jadi langganan putar-ulang di televisi sampai sekarang. Apalagi di hari libur.

Sebegitu legendarisnya Warkop DKI, Falcon Pictures memutuskan menghidupkan kembali trio lawak ini (termasuk Indro yang masih sehat wal-afiat dan belakangan gandrung jadi juri pencarian bakat komika). Di awal film, Anggra Umbara (sutradara film ini) menayangkan teks berisi dedikasi dibuatnya film ini kepada almarhum Dono dan Kasino. Berangkat dari tayangan yang cuma sekejap itu, dimulailah haru-biru rekor 2 juta penonton dalam 5 hari.

Jika niatan dibuatnya Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (anjir! Panjang amat judulnya. Berikutnya, kita ringkas saja jadi Jangkrik Boss!) sebagai dedikasi untuk trio Dono-Kasino-Indro, niat tersebut sudah terlaksana dengan sempurna. Usaha ketiga aktor utama, Abimana Aryasatya (sebagai Dono), Vino G. Bastian (sebagai Kasino), dan Tora Sudiro (sebagai Indro), sangat patut diapresiasi. Mereka mungkin bukan aktor terbaik untuk di-casting memerankan trio Dono-Kasino-Indro (apalagi Tora yang dengan bantuan tata rias dan tata rambut pun tak bisa menyerupai Indro). Tapi melihat mereka berperan, khususnya Abimana, sungguh menggugah hati saya. Mereka, aktor-aktor muda ini, membuktikan akting tetap layak disebut sebagai seni serius yang butuh pendalaman dan kemampuan.

Ini lho, Guys, bintang film bagus itu bukan cuma Reza Rahardian atau Lukman Sardi!

Tapi saya sepakat dengan opini ayah saya, plot film ini tidak jelas. Kerangka utama diadaptasi dari film Warkop DKI berjudul Chips (1982), di mana trio Dono-Kasino-Indro menjadi anggota CHIPS, suatu tim swasta yang bertugas melayani masyarakat layaknya polisi. Begitu juga dalam Jangkrik Boss!, trio Dono-Kasino-Indro bekerja sebagai anggota CHIPS. Bos mereka diperankan oleh Ence Bagus. Selanjutnya ya gimana ya …, sisanya kekonyolan-kekonyolan belaka.

Jangkrik Boss! terkesan cuma dipanjang-panjangkan agar sederet bintang seperti Hannah Al Rasyid, Tarzan, Nikita Mirzani, Hengky Solaiman, Agus Kuncoro, termasuk gerombolan komika seperti Arie Kriting, Mongol Stres, dan Ge Pamungkas, serta tak lupa Indro sendiri (yang perannya sebagai ‘Indro di masa depan’ terbilang mengganggu) punya durasi untuk tampil.

Benar bahwa di beberapa bagian, saya sempat tertawa. Ambil contoh, adegan bersama Hengky Solaiman atau Tarzan, saya akui lucu. Tapi selebihnya, saya lebih banyak melirik reaksi adik, ibu, atau ayah saya: mereka kelihatan bosan atau terhibur? Menurut saya, banyak bagian dalam film ini terasa garing. Jangankan tertawa, bisa bikin meringis atau senyum saja sudah bagus—kecuali, maaf, kalau Anda menurunkan sedikit selera humor.

Apa yang salah? Jelas bukan para pemainnya. Seperti yang pernah saya tulis di Path, rasanya Anggy (nama panggilan sang sutradara) belum berhasil mengarahkan komedi dengan baik. Boro-boro meniru film-film Warkop DKI, untuk menjadi komedi yang berdiri sendiri saja, Jangkrik Boss! belum berhasil.

Saya mengaku salut untuk naskahnya. Sepertinya, pembuat naskah benar-benar melakukan riset serius terhadap film-film Warkop DKI: gaya komedi slapstick, kutipan-kutipan dialog, tokoh-tokoh wanita yang seksi, dan cuplikan-cuplikan kekonyolan (perhatikan tulisan-tulisan di bak truk yang jadi filler antar-adegan) yang jadi ciri khas Warkop DKI. Tapi pengarahan Anggy yang banyak memasukkan efek visual yang tidak perlu, atau peletakan kamera yang justru gagal memaksimalkan humor (adegan perkenalan karakter Hannah Al Rasyid itu … ugh, fail banget!), seperti menyurutkan hasrat saya menanti “Part 2”-nya.

Dan, perlukah setiap adegan diisi efek musik?

Yang saya ingat dari film-film Warkop DKI adalah penempatan musik komedik disertai pencepatan ritme adegan, khususnya saat adegan kejar-kejaran, atau adegan lain yang ingin dibuat lucu. Dan itu sukses: hasilnya beneran lucu. Kesuksesan itu tidak berhasil diulang oleh Anggy, hampir semua adegan selalu diiringi musik—entah itu musik lepas atau reka-ulang musik dari film-film Warkop. Lagu Nyanyian Kode yang dipopulerkan Kasino, misalnya. Anggy benar-benar gagal menghidupkan kembali kelucuan lagu ini, gara-gara adegan di bandara Malaysia yang entah apa tujuannya. And why Malaysia? Apa karena kelebihan budget dan bingung mau menambahkan production value apa lagi?

Kebanggaan

Sudah, Bar, sudah. Iya, maaf.

Memang kalau menceritakan keburukan orang, eh, film, rasanya lancar sekali lidah ini. Eh, tangan ini. Jika di antara pembaca ada yang tak sependapat dengan uraian saya, tak apa. Yang di atas tadi, hanya two cents saya saja. Selera humor saya yang terlalu rendah. Mungkin. Dan daripada cuma berakhir menjadi ghibah, saya sengaja mengkhususkan bagian akhir tulisan ini untuk mengapresiasi Jangkrik Boss! dari raihan jumlah penontonnya. Kepada orang-orang yang bertanya tentang film ini—terlepas dari komentar negatif—saya selalu bilang, “Tapi tonton saja, ya. Datang ke bioskop. Mumpung lagi hype.”

Saat cuap-cuap ini belum selesai ditulis, Jangkrik Boss! tengah bersaing dengan Sully karya Clint Eastwood dan The BFG karya Steven Spielberg di jaringan bioskop 21/XXI, CGV Blitz, atau Cinemaxx. Pada akhirnya, kedua film Hollywood itu yang justru menyingkir, tak mendapat lebih banyak jam tayang dibanding karya Anggy ini.

Sebuah kebanggaan? Ya, saya lebih suka menyebut ini sebagai kebanggaan. Terlepas dari kualitasnya, film ini membuktikan minat orang Indonesia menonton film di bioskop semakin tinggi. Lupakanlah kasus penonton yang live-show BIGO di sepanjang durasi film (yha~). Lupakan mereka-mereka (yang katanya) lebih suka menunggu film ini tayang di televisi saat lebaran atau tahun baru. Yang jelas capaian 3 juta penonton di hari ketujuh tayang adalah sesuatu yang jarang terjadi di Indonesia, khususnya film bikinan anak negeri. AADC 2? Jelas kalah.

Dan terlepas dari kritik tajam yang sungguh saya jadikan sekadar opini tadi—atau syukur-syukur dibaca pembuat filmnya—yuk, sama-sama kita ramah terhadap film Indonesia. Barangkali kualitas belum bisa dikasih thumbs-up, tetapi niat Jangkrik Boss! untuk mengapresiasi dan menyematkan lencana penghargaan bagi para legenda (trio Dono-Kasino-Indro, Warkop DKI, dan orang-orang di balik kesuksesan film-film yang mereka beberapa dekade silam) adalah niat mulia yang harus kita dukung. Dengan menonton filmnya, atau mengritik kualitasnya.

Jadi, Anda sudah nonton belum?

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r