Fotokopi Mbak Latifah

“Mau berapa rangkap, Mbak?”

“Tolong 10 bendel ya, Mas. Sekalian dijilid.”

Disodorkannya sebuah dokumen. Sampul hijau. Logo sebuah kementerian. Deretan nama instansi. Tahun 2011. Tak kupedulikan. Pelanggan pertama pagi ini, sama dengan pelanggan pertama hari-hari sebelumnya. Dan beberapa bulan sebelumnya.

“Mas, udah baca berita pagi ini?” suara manisnya memecah deru mesin fotokopi.

Sejenak aku melemparkan pandangan ke arahnya, dari balik penutup mesin fotokopi. Kuarahkan telunjuk ke arahku sendiri. Tanpa kata.

“Iya. Mas-nya …”

Setelah tiga bulan, keluar juga percakapan dari Mbak-Mbak berseragam itu. Bukan ucapan selamat pagi, atau sekedar menanyakan harga kertas dan pensil. Seperti pelanggan lain. Tiga bulan lalu, kali pertama kami bertemu, dia datang tergopoh-gopoh dengan meminta nota kosong. Aku menanggapinya dingin.

***

“Mas, ini tolong dikopi 10 eksemplar ya. Saya tinggal. Tolong sekalian dibuatkan nota. Tapi dicap aja. Jangan diisi dulu, boleh? Bisa nggak, Mas? Saya buru-buru, nih. Nanti saya ambil jam 1 siang ya. Tolong ya, Mas.”

Seorang perempuan muda menenteng seabrek dokumen. Pelanggan ribet lagi, pikirku. Basi. Malas juga. Sepagi ini, kopi Masih setengah, sudah ada pelanggan bawel. Ini hidup.

“Iya, Mbak. Nanti notanya minta di kasir aja.”

Aku memang ketus. Bagiku, pelanggan adalah seonggok daging yang membawa kertas. Datang untuk mengantarkan uang kami. Sebagian adalah robot berjalan. Ada baterai di punggungnya. Punya sensor yang sensitif dengan uang. Cih!

Tanpa terimakasih, dia pergi begitu saja. Masuk ke mobil pelat merah. Dan setelah berlalu, yang tertinggal hanya sesosok abang becak di seberang jalan yang tadi tertutup oleh mobilnya. Kakek renta itu tertidur damai.

***

“Mas kok bengong? Fotokopian saya sudah selesai?” matanya sayu menatapku. Ada harapan di situ. Atau minta tolong yang sangat.

“Belum sih, Mbak. Emang kenapa?”

Kucoba fokus pada lembar-lembar dokumen. Antara suara deru tujuh mesin di ruangan, dan teriakan staf yang kebingungan mencari cutter. Ah, kertasnya habis. Shit!

“Masnya rajin membaca koran nggak?” si Mbak kembali bertanya. Dia Masih terus menatapku.

“Jarang sih. Paling kalau lagi makan di angkringan depan. Itupun kalau penjualnya sudah beli koran,” kujawab sekenanya.

Ini kertas berat amat. Satu kardus berisi 5 rim. Kuangkat, kubuka, kuambil 1 rim dan kumasukkan ke mesin fotokopi. Bagian ini yang paling kubenci dari seluruh pekerjaanku.

“Oh, kenapa nggak langganan koran aja, Mas? Biar bisa baca setiap pagi?”

Dalam hati: bawel amat sih! Ini dokumen 235 halaman, Mbak. Ditambah obrolan tidak penting, jadi 15.000 halaman rasanya. Bayar dobel mau? Tapi yang keluar dari mulutku nyatanya bukan itu.

“Nggak, Mbak. Gaji nggak seberapa mau langganan koran. Mending buat makan lah.”

Halaman 75, gambar-gambar grafik yang tidak jelas. Halaman 89, tabel-tabel angka. Aku tak mengerti tapi rupiahnya jelas milyaran. Sampai halaman 200, sepertinya ini dokumen laporan sebuah proyek. Aku tak berani membuka-buka lebih lanjut. Selain melanggar SOP kami, malas juga. Si Mbak tidak melanjutkan pertanyaannya. Entah karena melihatku ketus, atau memang sudah habis. Pandangannya kesana kemari, gelagat normal pelanggan kalau lagi menunggu.

Si Mbak berjilbab. Lumayan tinggi. Manis juga, mirip salah satu pemain film “Ayat-Ayat Cinta”. Sekali itu aku melirik ke arahnya. Pas sekali, dia menoleh ke arahku juga. Anjing!

Gubrakk!

Beberapa lembar yang sedang kutata terjatuh, aku terkejut. Payah. Dia tersenyum ke arahku tadi. Ah, malas jadinya. Untung dia tetap biasa saja. Aku, jongkok, mengambil lembar-lembar kertas tadi, dan segera melarikan diri dari potongan adegan itu. Lumayan, bisa menghindar dan sembunyi di balik meja pembatas. Fiuh, kenapa jadi kikuk begini?

Si Mbak, beda sekali dengan pelanggan yang lain. Masih muda, tapi tak seperti anak seusianya, tangannya tidak sibuk memencet tombol-tombol gawai. Lima orang di samping kanan-kirinya asyik dengan gawainya masing-masing. Muka-muka gawai, yang dengan mudah berubah raut, terbeli oleh isi chat masing-masing. Cih!

“Mbak, ini sampulnya mau warna apa?”

Alamak, kenapa aku harus bertanya? Sial! Dia jadi melihatku lagi.

“Hmmm, apa ya, Mas, yang bagus? Merah atau biru cocok nggak menurut Mas?”

“Eh, ya terserah Mbak saja. Kalau merah nanti apa nggak terlalu mencolok?”

“Iya juga sih. Ya sudah, biru muda saja, Mas.”

Segera kubawa segepok dokumen itu ke dalam, ke bagian penjilidan. Sedikit instruksi, lalu aku kembali ke depan. Duduk, mengembalikan dokumen asli ke pemiliknya, lalu mengambil kalkulator.

“Mas Arga, ya?” Lagi-lagi si mbak sok ramah.

Nampaknya dia membaca nama di ID Card yang kukenakan. Sudah kubilang, ini tanda pengenal bakalan bikin repot. Si bos ngeyel. Lagian kenapa sih, tukang fotokopi saja pakai tanda pengenal. Sudah seperti pegawai bank saja. Menyusahkan.

“Lho, Mbak kok tahu?”

Dia menunjuk ke arahku. Ke arah ID Card. Aku mengangguk. Iya, aku pura-pura aja untuk menjaga wibawa. Cool.

“Mas, beneran jarang baca koran ya?” dia tanya lagi.

“Iya, Mbak. Memangnya ada apa sih kok nanya itu terus? Mbaknya sendiri tiap hari baca koran ya?”

Kali ini, kucoba bersabar. Sambil sedikit mengambil kesempatan melihat wajahnya. Ah, kompromi. Hari itu banyak potongan live scene yang seperti mimpi.

“Enggak, Mas. Makanya saya tanya ke Mas, udah baca berita hari ini apa belum? Karena memang saya nggak tahu, Mas?”

Aneh. mbak-mbak ini, dari penampilannya, seperti pegawai pemerintahan. Memangnya ada ya, instansi yang tidak langganan koran? Setidaknya menonton televisi, internet kek, facebook, atau apa. Bisa-bisanya, nggak bener nih!

Melihatku diam kebingungan, dia menyambung lagi.

“Beneran, Mas, saya ini di kantor serasa di tempat primitif. Nggak ada koran. Nggak ada televisi. Internet aja, sekarang diputus aksesnya. Saya jadi nggak tahu berita-berita atau perkembangan yang terjadi, Mas.” Gayanya seperti anak kecil sedang merengek.

Aku makin bingung, kenapa jadi ngobrol begini. Saat tak ada pelanggan lain datang pula, aku bingung harus pakai alibi apa untuk menghindar.

“Lah, Mbaknya nggak punya Blackberry? Android? Atau Iphone gitu? Kan bisa browsing nyari situs-situs berita?”

“Enggak, Mas. Saya nggak punya.”

Idih! Ini benar-benar absurd. Mau tanya kenapa, takut menyinggung perasaannya. Diam barangkali akan jadi jurus yang jitu, tapi aku benar-benar penasaran.

“Oh, nggak punya ya.”

Kumasukkan gawaiku ke laci perlahan. Pelan-pelan sekali.

“Emang Mbak ini kantornya di mana ya? Kok aneh. Itu kantor apa penjara sih?”

Telunjuk mungilnya menunjuk sebuah bangunan. Letaknya di seberang, sekitar 300 meter dari sini. Itu adalah gedung yang cukup tinggi. 4-5 lantai. Megah. Tapi menurutnya primitif.

“Saya ini sibuk sekali, Mas, di kantor. Barangkat pagi-pagi, pulangnya biasa malam. Di kos-kosan, nggak ada tv. Pulang kerja nggak sempat ngapa-ngapain, udah capek. Langsung istirahat. Nggak ngerti juga sih, kenapa kepala kantor kami melarang koran, tv, atau internet. Mungkin karena orang gaptek kali ya? Pikirannya kolot. Herannya, pegawai-pegawai yang lain juga nggak bermasalah dengan itu.”

“Oh, begitu ya, Mbak. Kenapa Mbaknya diam saja? Nggak ngasih kritikan gitu?”

“Enggak, Mas. Takut. Lama-lama saya pun terbiasa tanpa berita. Tapi ya itu, saya jadi takut, Mas.”

Matanya makin sayu. Posisi duduknya belum bergeser sedikitpun. Anjing! Ini yang sedang menjilid juga kenapa jadi lama betul? Kagak kelar-kelar.

“Hm … emang takut kenapa, Mbak?”

Aku juga mulai terbawa obrolannya. Cih!

“Ya takut aja, Mas.”

“Takut tua mendadak ya, Mbak? Hehehe.”

Aku? Mengajak bercanda pelanggan? Oh Tuhan, tolong aku!

“Hehe. Mas bisa aja.”

Tawa kecilnya membuat matanya jadi sedikit berisi. Tak lagi kosong.

Hari itu segera berlalu seperti hari-hari lain. Kalau saja ada penghargaan untuk tukang fotokopi terbaik, tentu saja aku. Yah, apapunlah, aku makin sebal dengan ID Card ini.

Dua minggu berlalu, hampir tiap hari mbak itu datang untuk fotokopi. Hanya saja, tidak sebanyak tempo hari saat dia datang dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu. Tapi dia masih diantar oleh mobil dinas seperti kemarin-kemarin.

***

Ini adalah Senin. Dan sebagaimana lazimnya awal pekan yang selalu menyisakan kantuk. Tak peduli seberapa derajat kekenyangan perutmu, Senin tetap saja hari yang ngantuk. Dan entah kenapa di pagi yang ngantuk itu, aku membeli koran. Sebuah harian yang cukup terkenal di kotaku. Ada pedagang koran asongan di perempatan. Kubeli koran itu saat lampu merah.

Barangkali iseng. Atau barangkali tanpa sadar aku memang ingin memberi sepucuk koran kepada si Mbak? Kasihan juga kalau dipikir-pikir, dia ibarat katak dalam tempurung, tanpa sedikit pun celah informasi. Mungkin saja dia tidak tahu saat ini sedang berlangsung Piala Eropa. Atau pemilihan Puteri Indonesia. Atau adanya wahana wisata baru di kota ini. Paling tidak, seorang perempuan butuh informasi tentang artis-artis pujaannya. Heran juga dia bisa tahan tak menonton infotainment. Lagian kan sekarang lagi heboh skandal artis dengan anggota DPR. Boleh jadi si Mbak juga tidak tahu.

***

Sudah jam 10. Biasanya jam segini si mbak sudah tergopoh-gopoh membawa beberapa bendel dokumen. Tumben. Apa sekarang semua pekerjaannya sudah selesai? Atau si mbak tidak masuk kerja? Entahlah, pelanggan juga lagi sepi. Baca koran pasti enak nih. Tiba-tiba mataku terbelalak membaca sesuatu di koran. Ini betulan tidak ya? Pelan-pelan, kata demi kata, aku baca satu artikel di koran itu. Iya, betulan. Sedang ada diskon besar-besaran di toko telepon genggam terbesar di kota.

“Wah, bisa ganti gawai yang lebih canggih nih!” pikirku.

Belum juga ada pelanggan yang datang. Aku lanjut membaca.

“Mas …,”

Aku kaget. Hampir segelas kopi di depanku tumpah ke mesin fotokopi. Di balik koran yang kubentangkan, terlihat si Mbak yang diam-diam kutunggu.

“Aduh! Kok bisa nggak denger ya suara mobilnya?” batinku

Seperti biasa, sang sopir hanya mengawasi dari balik kaca mobil.

“Aduh, Mbak, Ngagetin aja!”

Sambil melipat koran, kuterima dokumen dari tangannya.

“Tolong dikopi 11 ya, Mas. Nanti saya ambil jam 1 siang seperti biasa.”

Dan seperti biasa pula, potongan adegan basi itu terjadi: Dia berlalu. Masuk kembali ke mobil. Dan mobilnya menghilang. Menampakkan kembali kakek pengayuh becak di seberang jalan, kali ini dia sedang merokok.

Tumben, biasanya dikopi 10. Kenapa ini 11 ya? Ah, biarlah. Bukan sesuatu yang pantas untuk dipikirkan. Apalagi menjadi galau. Satu per satu dokumen kuperbanyak, sebuah laporan proyek lagi. Seperti biasa. Dipikir-pikir, lebih enak jadi tukang fotokopi. Kerjanya tak perlu banyak berpikir, tak perlu bingung membuat laporan seperti ini, cukup jadi orang yang menggandakan saja. Lagian, ini angka di dalam laporan pasti bakalan bikin stress yang buat, ribet sekali pakai rumus-rumus, dan grafik yang sangat menjemukan itu. Bangganya jadi tukang fotokopi, sudahlah ganteng, cekatan pula.

Di percetakan ini, aku memang paling ganteng. Beda sekali sama yang di sebelahku ini, si Lanjar. Sudahlah ngantukan, lelet, dan ceroboh. Pernah suatu kali dia didamprat pelanggan gara-gara salah memasang sampul. Dokumen pengadaan dari sebuah instansi, sampulnya ketuker sama skripsi mahasiswa tata boga. Sudahlah wajahnya menggelikan, tingkah lakunya juga konyol. Lanjar memang kombinasi yang aneh. Tapi dia baik, sohibku yang setia. Di manapun seorang tokoh utama, sang pahlawan, atau jagoan, selalu butuh teman konyol dan banyol. Kalo si Shrek punya keledai, aku punya Lanjar.

Eh, apa ini? Secarik kertas terjatuh di sela-sela laporan yang sedang aku kopi. Jantungku tiba-tiba makin kencang berdetak. Rasa penasaranku pada si mbak semakin menjadi-jadi. Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan perempuan itu?

“Mas, ini aku pesankan langganan koran untuk Mas Arga. Mohon dibaca setiap hari ya. Kemudian tolong satu eksemplar kopi laporan ini Mas simpan. Nanti kalau ada berita tentang saya, kirimkan laporan itu ke alamat di balik kertas ini. Oh ya, jangan lupa dibuatkan nota untuk 10 laporan saja, yang satu itu nanti saya bayar sendiri. Terima kasih Mas Arga. Ttd, Latifah.”

Namanya Latifah. Pesan yang misterius, sama misteriusnya dengan Mbak Latifah. Kertas itu masih kupandangi seakan aku adalah siswa kelas satu Sekolah Dasar yang masih belajar mengeja. Iya, benar. Memang seperti itu. Ada sebuah alamat di balik kertas itu. Alamat itu menunjuk tempat yang tidak jauh dari sini tapi aku tidak tahu siapa yang tinggal di sana. Entahlah, pesan yang ganjil itu membuatku bingung.

Tepat pukul satu, yang datang bukan Mbak Latifah. Bukan seperti yang kuharapkan. Segepok pertanyaan di benakku, yang urung tersampaikan. Yang datang adalah seorang ibu-ibu, dengan seragam yang sama seperti yang dikenakan Mbak Latifah biasanya. Aku tak berani bertanya-tanya, entah ada kekuatan apa yang menyuruhku diam. Menjaga dan melakukan pesan rahasia dari Mbak Latifah.

Satu eksemplar laporan itu, kini tersimpan rapi di lamari kamarku. Aku masih teringat kata-kata yang diucapkan Mbak Latifah ketika terakhir kali dia membawa laporan itu untuk difotokopi.

“Tolong ya, Mas, jangan dibaca laporannya.”

Iyalah, Mbak. Aku juga tak bakalan paham. Malas juga membaca yang seperti itu. Memang aku dulu sempat kuliah manajemen tapi keburu DO di semester tiga gara-gara memukuli dosen ekonomi makro. Dosen itu memang pantas dihakimi secara massal. Masak satu kelas diberi nilai F cuma gara-gara dia kepleset kulit pisang di kelas?

Ah, kalo diingat-ingat selama hampir empat bulan sejak kemunculan Mbak Latifah di percetakan, aku jadi sering memikirkannya. Walau aku berusaha jutek, tapi dia selalu memasang senyum manis kepada siapa pun di tempatku bekerja. Antara jam 9 sampai jam 10 pagi, dia datang hampir setiap hari. Dia akan langsung menujuku, bukan ke yang lain. Aku sempat merasa GR. Lanjar berkali-kali memohon bertukar tempat agar bisa melayani Mbak Latifah juga tapi tak pernah kuberi.

Sudahlah, nanti juga lupa. Mungkin dia cuma iseng menggodaku. Mungkin dia naksir denganku dan itu semua adalah caranya mendekatiku. Aku senang sekali kalau memang begitu. Tapi aneh juga caranya. Misterius.

***

Hampir tiga minggu berlalu, Mbak Latifah tidak muncul lagi ke percetakan. Dan setiap hari pula, kehadirannya digantikan oleh abang tukang koran. Persis seperti yang dipesankan Mbak Latifah. Mau tidak mau, aku harus membaca semua berita yang ada di koran setiap hari. Teman-teman sampai terheran-heran melihatku jadi rajin baca koran. Lanjar malah curiga aku mau pindah kerja, dan sedang cari lowongan. Sepertinya dia tidak rela.

Selama tiga minggu ini, aku tak juga menemukan berita tentang dirinya. Ada rasa yang aneh menyelimutiku, mengganggu tidurku. Setiap kali mau berangkat dan pulang, laporan itu kutengok. Memastikan bahwa ia masih ada di tempatnya, sebuah benda yang mengingatkanku pada Mbak Latifah.

Hari ini, aku bolos kerja. Rasa penasaran menuntunku menyelidiki perihal Mbak Latifah ke kantornya. Menggeber sepeda motor kesayangan, aku menuju bangunan megah tapi norak orang-orangnya itu. Kantor itu berada di kawasan Kebon Pisang, tidak jauh dari tempatku bekerja. Pukul 7 pagi aku sudah nangkring di warung bubur ayam, tepat di seberang kantor pemerintahan itu. Masih sepi. Hanya terlihat beberapa satpam yang masih terkantuk-kantuk, sesekali menghirup rokok. Cih!

Sambil menikmati semangkuk bubur ayam, aku memperhatikan dari kejauhan. Satu per satu pegawai datang. Tidak salah lagi, ini kantornya. Mereka menganakan seragam yang sama dengan Mbak Latifah, setelan cokelat gelap. Ada lencana di pundaknya, yang entah itu menandakan pangkat atau hanya assesoris saja. Degup jantung ini menantikan apakah Mbak Latifah akan datang pagi ini. Selang duapuluh menit, dia muncul. Dari arah selatan, berjalan kaki. Menenteng tas laptop, membawa sebuah map. Jalannya santai, sepertinya dia menikmati pagi ini. Cantik!

Aku sembunyi di balik selembar koran, menghindari dia melihat ke arahku. Nampaknya Mbak Latifah cukup dihormati, beberapa orang menyalaminya. Satpam yang dari tadi bermalas-malasan juga langsung berdiri sekadar menyapa. Siapa dia sebenarnya ya? Makin penasaran. Dia masuk ke gedung. Hanya itu hasil pengamatanku hari ini. Tidak menjawab apa-apa kecuali sedikit merasa lega, Mbak Latifah baik-baik saja. Setidaknya secara fisik.

Satu setengah bulan, aku mulai bosan membaca koran. Beritanya itu-itu saja, tentang korupsi, skandal pejabat, kisruh PSSI, lumpur Lapindo yang tidak berniat kelar, perampokan, dan lainnya. Bad news is a good news. Media sepertinya senang sekali dengan yang begini, dapur mereka tetap mengepul berkat bobroknya pemerintahan. Entah, apakah itu ada hubungannya atau tidak. Kebebasan berarti kamu bisa mendapatkan uang dari setiap hal, mengatasnamakan kebebasan pula kamu bisa mengekang orang lain. Menjadi orang yang up to date juga tak terlalu membanggakan. Pusing. Cih!

***

Setahun berlalu, tak ada apapun yang terjadi. Tak ada kengerian, tak ada kejutan, tak ada hal-hal yang selama ini diam-diam aku duga. Hari-hari berjalan seperti biasa, abang koran juga masih saja mengantarkan korannya. Sekarang malah dua harian sekaligus. Aduh, Mbak Latifah ini, ada atau tidak ada selalu merepotkanku. Apa sih maunya? Itu koran sampai menumpuk di kamar. Mataku sepertinya juga mulai minus saking banyak baca koran.

Sampai detik ini, aku belum sekalipun membuka laporan yang dititipkan padaku, semua masih tersimpan rapi di lemari, tumpukan paling atas. Lengkap dengan secarik kertas berisi pesan itu. Entah apakah aku benar-benar punya kekuatan untuk menjaganya, atau aku cuma takut, atau malah malas. Sesekali kutengok, kubaca sampulnya saja. Sebuah logo kementerian dan jejeran nama instansi. Tahun 2011. Iya, setahun berlalu. Apa maksud dari semua ini? Godaan untuk membukanya selalu datang namun selalu mampu kutepis. Jangan, tolong jaga rahasia ini!

Tapi bagaimana aku bisa tahan dengan semua ini? Bagimanana jika laporan itu berisi file pembunuhan seseorang? Bagaimana jika laporan itu adalah bukti kejahatan ? Bagaimana jika laporan itu ternyata berisi mantra-mantra jahat? Atau laporan itu sesungguhnya adalah bom waktu, ternyata Mbak Latifah adalah teroris yang diburu datasemen 88?? Eh, tapi kan yang menjilid temanku. Teka-teki ini semakin memusingkanku.

Mbak Latifah, siapa dia? Kenapa hari-hariku menjadi terbayang-bayang, antara takut dan penasaran. Penyelidikanku di depan kantornya beberapa kali, tidak juga membuahkan hasil. Dari abang tukang bubur nasi di depan kantornya, aku sedikit tahu bahwa Mbak Latifah ini memang pegawai yang belum lama, tapi mempunyai pengaruh yang kuat. Cuma itu saja. Aku pernah mencoba mengikuti dia ketika pulang namun selalu gagal. Dia selalu diantar jemput oleh sebuah mobil merah, Honda Jazz. Nampaknya dia sudah tidak ngekos lagi, selalu saja aku kehilangan jejak saat membuntuti mobil itu. Apalagi pulangnya selalu malam hari. Malas jadinya.

Menyesakkan juga suatu kali melihat sosok yang keluar dari Honda Jazz itu ternyata seorang pria muda, tampan, tinggi pula. Sebenarnya aku tak kalah, yang membedakan hanya kendaraan yang kami punya. Semoga saja dia memang hanya seorang supir. Supir yang ganteng. Bukan pemilik mobil itu. Dan tentu saja bukan sesorang yang istimewa bagi Mbak Latifah. Eh, kok jadi berpikir seperti ini? Cih!

Satu tahun satu bulan. Nekat, kukirimkan laporan itu ke alamat yang tertera di secarik kertas dari Mbak Latifah. Aku bosan bertanya-tanya, dan aku lebih bosan membaca dua koran setiap hari. Memang  aku bertambah pintar tapi itu malah menyusahkan. Hari itu juga, laporan kubungkus rapi, lalu kuantar ke jasa pengiriman barang. Sempat bingung apakah aku harus mencantumkan nama pengirim atau tidak. Aku takut terjadi hal-hal yang buruk jika kutuliskan nama Latifah sebagai pengirimnya. Pakai namaku jelas tak mungkin. Aku juga tak sebodoh itu.

Laporan sudah aku kirim. Tapi aku malah jadi takut, apa langkah yang kuambil ini benar? Apakah ini akan membahayakan Mbak Latifah? Atau malah menjerumuskanku dalam situasi yang tak pernah kuduga? Entahlah. Aku hanya bisa berdoa semua akan baik-baik saja. Bodohnya aku, kenapa malah terlibat dalam situasi aneh dan menggelikan ini. Harusnya waktu itu langsung aku tolak, atau paling tidak aku kembalikan semua laporan itu. Ah, sedang main film saja rasanya.

***

Januari 2013. Harian Rakyat Berdaulat. Halaman 3. Lembar khusus kriminal. Luka parah, tukang fotokopi lolos dari upaya pembunuhan. Lima butir peluru bersarang di tubuhnya. Aku terbaring di ICU. Menjemput takdir, takdir yang tidak kumengerti sampai detik ini.

Maret 2015. Remote televisi ini benar-benar menjengkelkan. Tombol untuk mengecilkan volumenya mati. Suara siaran berita jadi kencang sekali. Oh, benar. Itu Mbak Latifah yang datang beberapa tahun yang lalu. Kini dia sudah menjadi Direktur Jenderal di sebuah Kementerian. Bahkan diberitakan pula dia calon kuat menteri dalam kabinet yang akan di-reshuffle. Dia Masih tampak manis. Sayang, aku kini tak menghiraukannya lagi. Kumatikan televisi. Beranjak keluar bersama kursi roda ini.