Dengarkan, Jane

Dengarkan, Jane. Ayahmu yang selalu terlihat sibuk ini, akan menceritakan sesuatu untukmu. Tutup bukumu. Tegakkan sedikit kepalamu. Ini kubawakan biskuit kesukaanmu.

Dengar dan lumatlah cerita dari kepala ayahmu yang sekarang telah merasa tua ini.

Sesungguhnya dahulu kita hidup di surga. Kita diciptakan untuk menjadi ciptaan yang amat mulia dan berbeda. Tuhan kita yang Maha Pencipta menakdirkan seperti itu, Jane. Kamu sudah hafal nama-namaNya kan, Jane? Kudengar ibumu senang menandungkannya untuk menidurkanmu dulu. Suara ibumu memang sangatlah sejuk. Ayah dengar ibumu pernah juara satu lomba mengaji antar kampung. Tapi ayah tak pernah melihat satu piala pun yang dipajangnya. Seolah ibumu mengubur semua ego pribadinya untuk membuat ayah merasa jadi juara di rumah. Sedang ayahmu terlalu enggan berkompetisi sehingga tak pernah juara, Jane. Ayah mengakui itu. Hanya di rumahlah ayah merasa menjadi juara, Jane.

Sebenarnya kita terlahir di surga, Jane. Tuhan menciptakan kita hanya untuk menghuni sebuah tempat amat mulia yang namanya surga. Ini sangat mencengangkan ayah juga pada awalnya. Ayah sering menangisi kebodohan-kebodohan, yang sebenarnya tak perlu ayah lakukan dulu ketika menyesal telah terlahir di dunia kita yang serba tak adil ini. Kau bayangkan, ada sungai yang mengaliri surga dengan limpahan susu, Jane. Bisa jadi itu jenis susu coklat kesukaanmu itu. Susu yang biasa ayah bawa untukmu di hari ayah menerima upah bulanan.

Kita memang bukan keluarga yang kaya, Jane. Maafkan aku. Tapi ingatlah bahwa selalu kusediakan waktu luangku di malam hari untuk berdoa kepada sang pencipta, untuk memayungi keluarga kita dengan ketaatan.

Manusia diciptakan begitu mulia namun ternyata tangan-tangan mereka sendiri yang menistakan hidup mereka. Terkadang ketika manusia merasa salah di situlah bertambah tingkat keikhlasan menjalani hidup. Kau pasti sudah paham tentang kata ikhlas yang sering ayah lagukan ketika kita sedang berjamaah itu kan, Jane?

Jangan pernah sekali-kali menyembah selain Dia. Jangan pernah. Kita semua makhluk pendosa dan wajib terus mencoba. Sungguh amat tak layak jika kita berpaling ke berhala dan melupakan sang pencipta. Kau ingat itu, Jane.

Kau tahu kenapa ayah tak pernah mengajakmu ke keramaian, Jane? Ayah tak mau kau kehilangan ketenanganmu. Engkau kudidik dengan membangun sebuah tempat yang tenang, Jane. Tempat yang jauh dari ingar bingar keduniaan modern. Bahkan televisi kujauhkan dari rumah kita. Karena dunia tempat kita hidup sekarang bukanlah tempat sesungguhnya Jane. Kita pasti akan menuju surga. Dunia pasti akan hancur. Waktu pasti terus berlalu. Demi waktu.

Manusia itu makhluk penuh dosa, Jane. Itulah kenapa setiap saat ayah selalu menjejalimu dengan kajian yang ayah dapat dari guru ayah itu. Kau pasti ingat bukan tentang orang tua yang sering datang itu.

Meskipun aku khawatir bau badannya yang mengandung semacam mesiu itu merusak hidungmu. Tapi aku tak bisa menolak permintaannya untuk berkenalan denganmu.

Kau tahu, Jane, ada sebuah cara yang diajarkannya pada ayah. Cara untuk kembali ke surga. Cara untuk bertemu Dia Yang Maha Indah dalam waktu yang amat dekat. Ayah diajarkan bahwa dengan menekan sebuah tombol, ayah akan langsung menuju surga.

Syakaratul maut yang nanti ayah hadapi akan berlangsung sangat cepat dan mudah. Ayah akan mati syahid, Jane. Tolong kau dengarkan itu. Dengarkan kisah yang diceritakan oleh ibumu yang pendiam itu. Ayahmu seorang mujahid, Jane. Dengarkan itu.

Sekarang tutuplah matamu. Habiskan susumu. Ayah akan pergi.

Selamat tinggal dan berlaku baiklah kepada ibumu, Jane.

Aku selalu menunggumu di tempat sebenarnya kita berasal, anakku Janiqro Birobbil Samudra.

Perdhana

Jarang menulis. Senang berduskusi. Suka membaca. Benci hura-hura.