Arung Palakka

Pada 1666, Jonker dan pasukannya dilibatkan dalam perang di Minangkabau. Selain pasukan Ambon, terdapat juga pasukan Bugis yang dipimpin oleh Arung Palakka di pihak VOC. Dalam ekspedisi militer itu VOC dengan bantuan pasukan Ambon dan Bugis berhasil menang di Minangkabau.

Sukses di Minangkabau dan adanya perang VOC dengan Gowa-Tallo di Makassar membuat Jonker dilibatkan lagi dalam Perang Makassar, 1667. Pasukan Bugis pimpinan Arung Palakka tentu juga dilibatkan. Arung Palakka sudah lama menunggu-nunggu perang tersebut. Ada urusan harga diri dan kemerdekaan yang harus ditegakkan Arung Palakka. Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin, dianggap telah menjajah Bone, kerajaan Arung Palakka.

Menurut Leonard Andaya dalam Warisan Arung Palakka (2004), pasukan pimpinan Jonker dan Arung Palakka yang dikomandoi Laksamana Speelman itu tiba 17 Desember 1666 di Tana Keke, dan dua hari kemudian di Makassar. Awalnya perang itu agak sulit bagi Jonker dan Arung Palakka, namun banyak sekutu Gowa mundur yang membuat mereka berhasil dikalahkan. Perjanjian Bongaya pun ditandatangani, yang membuat Arung Palakka menjadi penguasa terkuat di Sulawesi Selatan.

Tiga alinea di atas saya pinjam dari tulisan Petrik Matanasi di Tirto.id. Petrik menjuduli tulisannya Hikayat Kapiten Jonker.[1] Sayang sekali, Petrik mengambil sudut pandang artikel ini justru melalui tokoh Kapiten Jongker. Padahal kalau sudut pandangnya digeser sedikit ke tokoh bernama Arung Palakka, pasti akan lebih ciamik. Barangkali akan ada cerita bagaimana Arung Palakka marah melihat rakyat dan bangsawan Bone dijadikan budak oleh Sultan Hasanuddin untuk membangun benteng Jum Pandang (benteng Ujung Pandang, sekarang Fort Rotterdam). Bagaimana Arung Palakka memberontak dan gagal, lalu dibuang dan menjadi bajak laut paling ditakuti oleh kapal-kapal lintas negeri. Bagaimana Perjanjian Bongaya mengubah konstelasi politik antarbangsa Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan lainnya. Bagaimana kemunculan gelar kebangsawanan Andi pada bangsa Bugis berkaitan erat dengan perjanjian ini. Bagaimana pula gelar itu mengalami inflasi pasca-Orde Baru.

***

Bapak mertua saya seorang Bugis. Meski telah menanggalkan gelar kebangsawanannya, banyak orang masih memanggilnya Andi. Begitu juga setiap menerima surat-surat undangan pernikahan sanak famili dan handai taulan, gelar itu tetap disertakan. Beliau masih keturunan bangsawan Bone. Di akta kelahiran anak-anaknya, termasuk istri saya, juga tidak disertakan gelar Andi. Berbeda lagi dengan ibu mertua, gelar Andi masih tertera mendahului namanya.

Saya tak tahu pasti kenapa bapak mertua saya tak lagi memakai gelar itu. Situs-situs kebudayaan Bugis punya aturan berbeda tentang gelar. Soppeng adalah komunitas Bugis yang paling ketat, dibatasi keturunan bangsawan ketiga saja yang boleh menggunakan Andi. Sedangkan bangsawan Bone dan Wajo, sampai keturunan ketujuh masih boleh memakai Andi. Saya tak terlalu paham bagaimana dengan Pangkajene, kampung halaman ibu mertua saya. Barangkali karena ini juga, bapak mertua saya dan anak-anaknya tak lagi memakai Andi. Tapi tidak menutup kemungkinan ada pertimbangan lain.

Dalam perang Arung Palakka melawan Sultan Hasanuddin, banyak yang menafsirkan sebagai perang antara bangsa Bugis melawan bangsa Makassar. Nyatanya tidak. Sebelum perang besar itu, Arung Palakka memang berkampanye ke seluruh jajahan Gowa, mengajak bangsawan Bugis dari kerajaan-kerajaan lain untuk membentuk aliansi. Tak semua bersedia, beberapa kerajaan tetap memihak Gowa. Dari sinilah sejarah asal mula gelar Andi. Gelar ini hanya diberikan kepada bangsawan Bugis yang bersumpah setia memihak Arung Palakka, untuk membedakan mereka dengan bangsawan Bugis pendukung Sultan Hasanuddin. Di pihak Arung Palakka sendiri, tidak semua anggota aliansi adalah Bugis, ada juga bangsawan Makassar. Karenanya, menyebut perang ini sebagai perang antara bangsa Bugis melawan Makassar tentu kesalahkaprahan belaka.

Susan Bolyard Millar menyinggung asal-usul gelar Andi dalam Perkawinan Bugis (2009).[2] Sayang, buku itu tertinggal di Makassar saat tulisan ini dibuat (tulisan ini dibuat di Bintaro). Saya hanya berdasar pada ingatan yang tak terlalu bagus. Barangkali ada bagian yang tidak sama dengan Millar. Seingat saya, Millar tak berhenti cuma di asal-usul saja. Dia juga menjelaskan bagaimana popularitas gelar Andi mengalami pasang-surut. Pada masa PRRI/Permesta, posisi bangsawan di Sulawesi Selatan sempat terdesak sejak masa PRRI/Permesta. Mereka yang semula menjadi Tau Matoa (patron masyarakat), sangat dibatasi aksesnya. Fasilitas-fasilitas khusus terkait ekonomi-politik benar-benar dilucuti. Akhirnya, banyak bangsawan diam-diam melepas gelarnya agar kebangsawanannya tidak terlacak.

Kondisi itu tetap tak berubah meski pemberontakan PRRI/Permesta berakhir. Baru pada masa Orde Baru keadaan berbalik. Pasca-G30S, Suharto berhasil mengakhiri Orde Lama dan mengambil alih kekuasaan. Untuk mendukung stabilitas politik di daerah, Suharto merangkul kekuatan-kekuatan feodal-tradisional dan agama (pihak yang pada masa Orde Lama, menjadi lawan ideologi dan politik golongan komunis maupun PRRI/Permesta). Termasuk di Sulawesi Selatan, para bangsawan kembali mengenakan gelar kebangsawanannya. Bahkan khusus untuk gelar Andi, orang jelata ikut beramai-ramai meng-Andi-kan diri agar dapat ikut menikmati akses politik-ekonomi yang disediakan oleh Orde Baru. Dari sini, inflasi gelar Andi dimulai.

***

Petrik menyebut Warisan Arung Palakka (2006), yang ditulis oleh Leonard Y. Andaya, sebagai salah satu sumber tulisannya.[3] Andaya menceritakan bagaimana nasib rakyat dan keluarga kerajaan Bone setelah dijajah oleh kerajaan Gowa. Bone harus menanggung malu berkepanjangan. Puncaknya ketika Gowa membangun benteng Jum Pandang (Ujung Pandang), tak hanya rakyat Bone yang dijadikan budak dalam pembangunan itu, tapi juga para bangsawan. Inilah puncak kemarahan Arung Palakka. Dia memimpin sebuah pemberontakan tapi gagal. Pasukan Sultan Hasanuddin terlalu perkasa untuk Arung Palakka saat itu. Pangeran muda ini dibuang dan terlarang baginya menginjak tanah kekuasaan Gowa beserta jajahannya.

Karena tak bisa menginjak daratan (tanah kekuasaan Gowa), Arung Palakka melanjutkan karirnya sebagai bajak laut. Bersama para bangsawan dan bala tentara Bone yang masih setia, dia menjadi teror paling ditakuti oleh kapal-kapal pedagang lintas negara. Lautan di sekitar Gowa tidak aman, lalu lintas perdagangan internasional yang menjadi sumber ekonomi utama Gowa terganggu. Arung Palakka boleh kalah di daratan, tapi tentara Gowa tak pernah berhasil menaklukannya di lautan. Kehebatan kelompok bajak laut ini terdengar hingga ke Batavia, pusat kekuasaan VOC di Nusantara. VOC lantas merekrutnya sebagai tentara bayaran.

Di Batavia, sang pangeran menjalin persahabatan dengan Kapiten Jonker dan Cornelis Speelman. Speelman adalah petinggi VOC. Jika Kapiten Jonker adalah pangeran dari Ambon, Arung Palakka adalah pangeran dari Bone (dia baru dinobatkan sebagai Arung setelah memenangkan perang dengan Sultan Hasanuddin. Ini adalah gelar bagi penguasa tertinggi dalam tradisi Bugis). Jika Kapiten Jonker adalah budak VOC yang kemudian menjadi prajurit untuk terlepas dari status budaknya, Arung Palakka bergabung dengan VOC sebagai tentara bayaran sekaligus punya misi pribadi untuk mengalahkan Sultan Hasanuddin. Trio Arung Palakka-Kapiten Jonker-Cornelis Speelman ini yang menjadi ujung tombak VOC dalam banyak peperangan.

Tak ada jalan lain bagi Arung Palakka untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Sultan Hasanuddin, selain bergabung dengan VOC. Setelah digempur terus-menerus oleh pasukan gabungan Arung Palakka-Kapitan Jonker-Cornelis Speelman, keperkasaan Gowa bisa ditaklukkan. Sultan Hasanuddin harus mengakui kekalahannya dan menandatangani Perjanjian Bongaya, perjanjian yang sekaligus menandai kemerdekaan kerajaan Bone. Misinya berhasil. Lebih dari itu, dia bersama VOC menjadi matahari kembar di Sulawesi Selatan: lautan dimonopoli VOC, daratan dikuasai Arung Palakka.

Tentu harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Sebelum menjadi orang terkuat di Sulawesi Selatan, Arung Palakka harus membantu menggilas lawan-lawan VOC. Bersama Kapiten Jonker dan Speelman, dia berhasil menumpas musuh-musuh VOC di berbagai tempat di Nusantara. Di Sumatera, mereka menumpas perlawanan rakyat Minangkabau, menaklukkan sepanjang pantai barat Sumatera, dan memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. VOC berhasil memperluas kekuasaannya hingga Ulakan di Pariaman. Atas jasanya itu, Arung Palakka diangkat sebagai raja Ulakan. Di Madura, mereka meredam pemberontakan Trunojoyo. Kebetulan kubu Trunojoyo dibantu oleh Karaeng Galesong, pemimpin pasukan pengungsi dari Makassar. Didukung oleh keberhasilan Arung Palakka dan Kapiten Jonker, pamor Speelman naik hingga akhirnya berhasil menduduki jabatan Gubernur Jenderal.

Kalau tidak salah ingat, saya membaca buku Andaya kira-kira dua tahun silam. Saya pinjam dari Farchan. Andaya menggali sumber informasi bukan hanya dari tradisi sejarah Bugis saja, tapi juga Makassar. Dia juga melacak dokumen-dokumen VOC yang tak mudah diakses hingga ke Belanda. Sumber yang begitu kaya, membuat kajian Andaya berbeda dengan kajian sarjana-sarjana Nusantara dan Eropa. Andaya berhasil meletakkan Arung Palakka pada posisi yang lebih proporsional sekaligus ironis: di satu sisi, dia pembebas bangsanya dari penjajahan Sultan Hasanuddin; di sisi lain, dia juga membantu VOC menaklukan bangsa lain.

***

Bangsa Minangkabau dan trah Trunojoyo boleh benci setengah mati pada Arung Palakka, pemerintah boleh memilih Sultan Hasanuddin sebagai pahlawan nasional. Tapi patung Arung Palakka sudah berdiri gagah di Bone, jauh sebelum patung raksasa Sultan Hasanuddin dibagun di bandara Makassar (yang sebenarnya terletak di Maros). Berpelesirlah ke Watampone (ibukota Kabupaten Bone), Anda akan disambut oleh gapura bertuliskan, “Selamat datang di kota Watampone, kota beradat bumi Arung Palakka.”

Tanyalah masyarakat Bugis perihal siapa putra terbaik bangsa Bugis sepanjang masa, nama Arung Palakka akan disebut dengan hormat yang penuh seluruh. Bagi masyarakat Bugis, Arung Palakka adalah inspirasi pembebasan dan lambang harga diri. Tapi Arung Palakka adalah nama yang juga menuntut perlunya pemaknaan ulang atas sejarah: apa itu kemerdekaan? Apa itu penjajahan? Siapa itu pahlawan? Siapa penjajahnya? Apakah penjajah adalah mereka yang berkulit putih saja? Apa sebutan yang cocok untuk yang telah dilakukan Sultan Hasanuddin atas Bone?

Dalam sejarah sekolahan yang disponsori negara, Sultan Hasanuddin selalu menjadi protagonis karena melawan VOC. Tapi sekaligus mengeliminir fakta Sultan Hasanuddin juga menjajah tetangga-tetangganya sendiri. Sejarah sekolahan mengajari anak-anak Indonesia, bahwa nenek moyang kita selalu kalah melawan bangsa Eropa karena politik devide et impera. Setiap kali bangsa-bangsa Nusantara bertikai, kambing hitamnya selalu penjajah yang Eropa. Eropa selalu salah seolah-olah tanpa kedatangan mereka di tanah air, kita tak akan bertikai satu sama lain. Nusantara akan selalu adem ayem tata tenterem kerta raharja gemah ripah loh jinawi.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” kata Bung Karno seperempat abad lalu.

Nyatanya sebelum Bung Besar bilang begitu, bangsa-bangsa di Nusantara juga sudah saling jajah. Bung Besar sendiri memuja Sriwijaya dan Majapahit dengan eufimisme semacam ‘pemersatu nusantara’. Kalau berani jujur, frasa ‘pemersatu nusantara’ sebenarnya boleh juga diartikan sebagai ‘negara yang paling banyak menjajah tetangganya, sesama bangsa Nusantara’. Sikap Bung Besar tetap boleh dimaklumi. Bangsa Indonesia memang sangat perlu diangkat moralnya saat itu, persatuan nasional perlu dibangun dalam rangka berhadap-hadapan dengan imperialisme Eropa dan Jepang.

“Mandi darah saudara-saudara sendiri,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Dan saya lebih setuju dengan Pram ketimbang Bung Besar. Pram mengatakan itu dalam Maaf, Atas Nama Pengalaman, kalimat yang sebenarnya dia pinjam dari Benedict Anderson untuk menyinggung penjajahan sesama kulit coklat di Nusantara. Dalam esai yang tak bisa dibilang ringkas namun legit itu, Pram juga menambahkan, “Tanpa penjajahan (bangsa Eropa), negeriku akan tiada henti mencucurkan darah putera-puterinya.”[4]

Sejarah Arung Palakka bukanlah glorifikasi atas peperangan, bukan juga puja-puji pada feodalisme yang purba, apalagi pledoi untuk imperialisme Eropa. Arung Palakka adalah dekonstruksi atas pascakolonialitas dan nasionalisme kita. Dekonstruksi atas sejarah versi negara yang melulu hitam-putih: bangsa Nusantara melawan bangsa Eropa. Bangsa Nusantara selalu protagonis, bangsa Eropa yang antagonis. Jika bangsa-bangsa Nusantara saling bertikai, pasti karena ulah Eropa. Pokoknya penjajahan selalu dilakukan bangsa lain. Pokoknya yang salah melulu bangsa lain. Pokoknya bangsa lain itu jahat.

Kamu? Kamu mah nga pernah jahat. Kamu cuma dosa terindah yang tak hendak kusesali.

Catatan:

  1. Matanasi, Petrik. (2016). Hikayat Kapiten Jonker. Diambil dari https://tirto.id/hikayat-kapiten-jonker-bK16;
  2. Millar, Susan Bolyard. (2009). Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya. Makassar: Ininnawa;
  3. Andaya, Leonard Y. (2006). Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17. Makassar: Ininnawa;
  4. Toer, Pramoedya Ananta. (1991). Maaf, Atas Nama Pengalaman. Diambil dari http://pembebasan.org/essay-pramoedya-ananto-toer-maaf-atas-nama-pengalaman.html.