Menyikapi Pemotongan Anggaran 2016

berita7345ilustrasi-potongan-dana_20151210_190727

Rabu siang (27/7), banyak senyum mengembang. Optimisme membuncah saat Presiden mengumumkan reshuffle kabinet jilid 2 dengan bintang utama Sri Mulyani. Bertepatan dengan musim transfer liga-liga Eropa, bergabungnya Bu Ani ke kabinet Jokowi ibarat Lionel Messi bergabung dengan Arsenal. Seperti ‘Sang Messiah’ yang diharapkan mampu membawa Arsenal juara setelah sekian lama puasa, Bu Ani juga diharapkan mampu membawa ekonomi Indonesia juara di tengah pertumbuhan yang lesu. Sebelumnya, 12 paket kebijakan sudah diluncurkan, Tax Amnesty disetujui parlemen, dan Rp 50 Triliun APBN dipotong. Namun ekonomi tetap loyo, malah cenderung semakin suram. Setidaknya menurut haters Jokowi.

Pemotongan APBN sebesar Rp 50 Triliun yang diteken melalui Instruksi Presiden Mei lalu, rupa-rupanya belum cukup. Bu Ani, yang belum genap satu minggu kembali menjabat Menteri Keuangan, menyampaikan akan ada pemotongan anggaran kembali sebesar 133 Triliun. Jumlah yang sangat besar. Rata-rata pelaku birokrasi kita yang terkenal inefisien, menerapkan sistem input-proses-output, dan manajemen proyek yang khas, tentu tidak bahagia. Namun menurut hemat saya, terdapat langkah-langkah yang bisa dicoba sebagai pelipur lara sambil menunggu tahun anggaran berikutnya:

1. Merenung, membaca buku, sambil memanfaatkan kembali perpustakaan instansi

Membaca buku penting bagi setiap birokrat golongan apapun. Di level pejabat menengah, buku-buku bertema reinventing goverment dan reformasi birokrasi bisa menjadi eye opener. Bagi level pejabat tinggi, membaca publikasi laporan semisal Laporan Eksaminasi Publik 20 Kasus Tindak Pidana Korupsi bikinan ICW juga tentu tak kalah menarik. Atau sempatkan membaca buku yang direkomendasikan penulis Birokreasi Gita Wiryawan dan Pringadi Abdi Surya.

2. Konsolidasi internal

Kalau dulu, dengan anggaran jumbo, Anda sibuk mengurus berbagai kegiatan hingga lupa menyapa bawahan, apalagi berdiskusi dengan mereka. Kini, sempatkan! Ajak mereka mengobrol terutama di waktu-waktu yang senggang ke depan. Jika biasanya program kerja tahun berikutnya dibuat dengan buru-buru oleh segelintir orang, kini ajak semua pihak berdiskusi. Cari tahu apa yang menjadi keluhan mereka, apa ide brilian untuk kebaikan instansi, apa inovasi terliar yang mereka punya. Hasilnya bisa jadi sangat positif.

3. Olahraga

Banyak kantor pemerintahan punya fasilitas olahraga yang cukup baik. Manfaatkan! Jika dulu tak punya waktu untuk olahraga hingga stres memikirkan besarnya anggaran dan khawatir tidak terserap, kini sempatkan waktu untuk olahraga. Lemak jahat yang dulu menyelimuti hati nurani, mudah-mudahan luruh. Akal sehat yang dulu gelap berkabut, juga bisa kembali segar bugar.

4. Mencoba sesuatu yang mustahil: menjalankan kegiatan tanpa anggaran

“Kalau tidak ada anggaran ya tidak bisa jalan,” begitu pola pikir birokrat pada umumnya. Kini, saat benar-benar tidak ada anggaran, cobalah buat program/kegiatan tanpa alokasi budget. Manfaatkan sumber daya yang ada. Bukankah listrik, internet, ATK, dan lain-lain masih tersedia? Kegiatan semacam pengumpulan data bisa memanfaatkan data sekunder yang seabreg tersedia di internet. Manfaatkan media sosial alih-alih bikin website yang tidak jelas. Dorong sharing (hibah) sumber daya antar instansi, tak perlu lagi gengsi sektoral. Jalin kerjasama. Semisal sistem informasi yang sudah jalan dengan baik di instansi lain, bisa dipakai di instansi sendiri, tak perlu buat lagi. Manfaatkan alat pengolah data yang ada dikantor, jangan cuma dipakai main Dota!

Demikianlah empat tips yang bisa dicoba, kapan-kapan kita bahas tips yang lain. Semoga para birokrat semua dapat melewati tahun anggaran ini dengan baik dan selamat. Intinya, tahun depan, mari kita come back stronger. Karena what doesnt kill you makes you stronger!