Ghostbusters: yang Dulu Dipuji, yang Kini Dibenci


Who you gonna call? Ghostbusters!

Ghostbusters

Minggu-minggu pertama “Ghostbusters” karya sutradara Paul Feig ini rilis di berbagai penjuru dunia, IMDb mencatatkan skor 4,4 untuknya. Di Youtube, trailernya menorehkan sejarah sebagai trailer yang paling tidak disukai sepanjang masa—dengan total 960 ribuan thumbs-down berbanding 270 ribuan thumbs-up saat tulisan ini rilis. Leslie Jones, aktris Afrika-Amerika yang menjadi salah satu pemeran utamanya, belakangan menjadi sasaran bully di Twitter. Selain rasis, aksi bully juga sarat nuansa misoginis yang tergolong sangat parah hingga Jack Dorsey, CEO Twitter, turun tangan langsung menutup paksa beberapa akun yang dianggap menjadi pelaku.

Kita semua tentu tahu Ghostbusters. “Who you gonna call? Ghostbusters!”—kita sudah paham slogan tersebut. Beberapa dari kita kenal baik dengan serial televisinya, beberapa yang lain mengenal Ghostbusters melalui serial animasi (spin-off) yang rutin tayang di salah satu saluran televisi swasta, tetapi sebagian besar mengenalnya berkat film “Ghostbusters” yang pertama rilis tahun 1984—salah satu film klasik yang begitu dipuji dan dicintai di zamannya—dibintangi Bill Murray dan Dan Aykroyd. Apapun versi yang familiar bagi kita, yang kita ketahui Ghostbusters adalah tim pembasmi hantu yang terdiri atas sekumpulan ilmuwan—pria—dengan seragam ala pemadam kebakaran, peralatan berteknologi canggih berupa tembakan yang memancarkan sinar bergulung-gulung, dan mobil berlogo hantu putih dalam bulatan bersilang merah.

Begitu familiarnya kita dengan ciri-ciri di atas, hingga tiba-tiba di awal Januari 2015, Sony mengumumkan rencana pembuatan film reboot “Ghostbusters”, dengan empat wanita alih-alih pria yang dipasang sebagai pemeran utama. Ini yang menurut media menjadi alasan mengapa “Ghostbusters” yang dulu begitu dicintai kini justru begitu dibenci. Perdebatan panjang nan dramatis tentang “Ghostbusters versi wanita” ini terus mewarnai proses pembuatan film hingga akhirnya rilis 22 Juli 2016 lalu—menjadikannya pantas dengan predikat sebagai film paling kontroversial tahun ini.

Plot dan Pemeran

Walau dipoles menjadi berbeda, inti ceritanya tetap sama. Erin Gilbert (diperankan oleh Kristen Wiig), Abby Yates (diperankan oleh Melissa McCarthy), dan Jillian Holtzmann (diperankan oleh Kate McKinnon) adalah ilmuwan yang dipecat dari universitas mereka karena menggeluti dunia perhantuan yang dianggap sangat tidak ilmiah. Mereka, ditambah Patty Tolan (diperankan oleh Leslie Jones) yang merupakan mantan petugas kereta bawah tanah yang tidak punya latar belakang akademis tetapi mengaku hafal benar seluk-beluk kota New York, bergabung membentuk tim pembasmi hantu yang dilengkapi senjata berteknologi canggih.

Awalnya, Ghostbusters bukanlah nama yang mereka inginkan; mereka menyebut diri mereka “Department of Metaphysical Examination”. Media yang menamai mereka Ghostbusters. Mereka menyewa satu ruangan di atas restoran Tiongkok dan merekrut Kevin (diperankan oleh Chris Hemsworth), pria tampan bertubuh ideal tapi bodohnya tidak keruan, sebagai sekretaris karena selain penampilannya menarik, ia satu-satunya pelamar yang datang. Terserah Anda mau menafsirkan ini sebagai sindiran yang sengaja disisipkan untuk membalas seksisme para pem-bully, kalau iya, apakah ini boleh dianggap sebagai seksisme juga? Misandri?

Selanjutnya adalah tentang bagaimana Ghostbusters melawan hantu-hantu yang lepas dari gerbang dunia gaib karena ulah seorang petugas hotel korban bully yang berencana menghancurkan kota, seraya terus menciptakan peralatan baru dan bertahan di tengah intimidasi Walikota yang ingin merahasiakan kasus hantu ini dari hadapan publik.

Sudah, begitu saja. Selebihnya, “Ghostbusters” bertabur kameo dari bintang-bintang komedi maupun non-komedi Hollywood. Selain Andy Garcia, Sigourney Weaver, dan Ozzy Osbourne, tampil juga Bill Murray, Dan Aykroyd, Annie Potts, dan Ernie Hudson—mungkin sebagai bentuk penghormatan terhadap film perdana “Ghostbusters” tahun 1984 silam beserta serial televisinya. Rombongan serial-parodi “Saturday Night Live” seperti Cecily Strong, Neil Casey, dan Steve Higgins, serta Matt Walsh dari serial komedi “Veep” dan Zach Woods dari serial komedi “Silicon Valley”, juga turut meramaikan.

Balas Dendam

Pertama, saya rasa “Ghostbusters” kali ini tampil lebih mencekam. Ada beberapa adegan jump scares yang lumayan memacu jantung, serta penampakan hantu (yang lebih terkesan fantastis alih-alih seram) yang sengaja ditampilkan penuh menuju layar, seolah ingin memaksimalkan efek 3D (selain format 2D, “Ghostbusters” dirilis juga dalam format IMAX 3D). Saya memuji tim efek visualnya yang sangat berhasil menampilkan hantu-hantu yang berlendir dan dikelilingi kabut-kabut elektrik—suatu ciri yang khas dari hantu-hantu “Ghostbusters”.

Tetapi, walaupun mencekam, saya akui “Ghostbusters” juga kocak. Yang paling kocak di sini justru Chris Hemsworth, yang tidak begitu dikenal sebagai pelakon komedi, melalui tingkah-polah Kevin yang kelewat konyol. Kate McKinnon dan Leslie Jones (dua-duanya dari “Saturday Night Live”) terkarakterisasi dengan baik dan turut menyumbangkan sedikit tawa kepada penonton. Kristen Wiig dan Melissa McCarthy yang dipasang lebih memimpin dari Kate dan Leslie justru tidak begitu berhasil berkomedi; lelucon mereka tak jarang terasa garing dan hambar, atau setidaknya tidak instan menimbulkan tawa apalagi bagi kita yang tidak terbiasa dengan lelucon Amerika. Tak jarang dialog mereka mereferensi produk budaya pop lain yang tidak mudah dicerna oleh audiens global. Bisa jadi karena mereka diniatkan untuk lebih menggaungkan nuansa drama-persahabatan alih-alih komedi, terutama menjelang akhir film.

Terlepas dari itu, saya melihat ada nuansa ‘balas dendam’ yang kental dalam “Ghostbusters”. Sejujurnya, dengan sekian panjangnya kisah dramatis di balik pembuatan filmnya, saya meniatkan diri saya untuk sekadar menonton film ini seolah-olah ini film yang baru, yang segar, yang orisinil, yang tidak didaur-ulang dari film yang pernah ada. Nyatanya, Paul Feig dan Katie Dippold (penulis naskah) tidak mengizinkan itu. Mungkin dengan bayang-bayang kontroversi yang mengiringi sepanjang pembuatan film, mereka seperti ingin menjadikan “Ghostbusters” kali ini sebagai ajang pembuktian dan selebrasi. Seperti ingin membuat sesuatu yang baik, tetapi terlanjur diolok-olok sehingga niatnya jadi menyimpang.

Kita mulai dari Chris Hemsworth. Sungguh, saya berusaha berbaik sangka. Tetapi, tidakkah terbersit dalam kepala kita setelah selesai menonton film ini bahwa karakterisasi Chris Hemsworth sebagai seseorang yang penampilannya menawan tetapi otaknya dungu itu adalah bentuk pembalasan atas karakterisasi wanita yang distereotipkan serupa di sebagian besar film yang pernah diproduksi Hollywood? Seolah-olah wanita yang telah berkali-kali diobjektifikasi dalam berbagai produk sinema seharusnya berbangga dengan hadirnya “Ghostbusters”. Di satu sisi, wanita tampak berbangga—setidaknya menurut IMDB. Dan filmografi Paul Feig jelas-jelas menyatakan bahwa ini hal yang akan selalu berulang dalam film-film bertema feminisme berikutnya yang akan dia buat. Tetapi, seiring berjalannya durasi, nuansa selebrasi feminisme seperti ini semakin kental (dan mengganggu?), baik dari dialog-dialog yang terkesan menyindir maupun adegan puncak di akhir film saat mereka melawan hantu yang mewujud dalam karakter laki-laki.

Masyarakat Amerika—khususnya Hollywood—sangat vokal tentang isu feminisme. Dan integrasi agenda ini dalam karya-karya sinematik salah satunya diwujudkan dalam bentuk daur-ulang film populer yang pernah rilis dengan pemeran utama yang seluruhnya pria menjadi seluruhnya wanita. Tidak hanya “Ghostbusters”, film “Ocean’s Eleven” juga belakangan dikabarkan akan didaur-ulang dengan pemeran utama yang seluruhnya wanita. Tetapi, dalam “Ghostbusters”, ini justru jadi bumerang yang mengiris pipi tema lainnya: rasisme. Dari empat pemeran utama wanita, hanya peran Leslie Jones yang bukan seorang ilmuwan. Ia sekadar warga keturunan Afrika-Amerika bersuara lantang, dengan tubuh paling besar, yang bergabung dalam Ghostbusters karena ia yang paling tahu tentang kota New York. Stereotip lagi, bukan? Selebrasi berlebihan atas agenda yang sudah jelas-jelas digarisbawahi sejak diumumkannya perombakan pemeran utama pria menjadi pemeran utama wanita di awal pembuatan film tanpa sadar melukai agenda lainnya.

Ketawa-Ketawa Bego

Sepanjang film, tim Ghostbusters selalu dipandang sebelah mata oleh publik. Video penampakan hantu yang mereka rekam dan unggah ke Youtube justru dianggap hoax oleh masyarakat. Pemerintahan setempat juga mencibir aksi mereka menumpas hantu gentayangan. Dalam dunia “Ghostbusters”, hantu adalah hal yang sangat tidak rasional yang jika digeluti atau diyakini justru seperti menunjukkan kedangkalan akal sehat seseorang—perhatikan bagaimana Erin, Abby, dan Jillian didepak dari universitas karena mempelajari eksistensi hantu. Bahkan Bill Murray di sini berperan sebagai public figure yang menertawakan tim Ghostbusters saat ditanya pendapatnya tentang video penampakan hantu yang mereka unggah.

Dan selalu, sikap mereka setiap menghadapi rintangan seperti ini adalah mengabaikan. Abaikan yang media tulis, abaikan yang orang-orang katakan, mereka hanya melakukan apa yang mereka impikan sejak kecil.

Ini terkesan seperti analogi atas pembuatan film “Ghostbusters” itu sendiri, bahwa walau mereka dicemooh, dicibir, diabaikan, dan dibenci, mereka akan terus melaju membuat apa yang telah mereka rencanakan. Benarkah demikian? Bagi saya, ini bentuk pernyataan bahwa sebenarnya si pembuat film gamang dan tidak percaya diri dengan apa yang ingin mereka buat.

Begitupun, saya terhibur oleh “Ghostbusters”. Bagi saya, uang dan waktu yang saya gunakan untuk menontonnya di bioskop sama sekali tidak terbuang sia-sia. Kasarnya, nonton “Ghostbusters” ini sekadar untuk ketawa-ketawa bego saja, bukan untuk merenungi filosofi atau pesan moral apapun yang terkandung dalam materi ceritanya. Karena, sungguh, menurut saya materinya itu … kosong. Drama persahabatan keempat anggota Ghostbusters ditempel seadanya, konflik antara media dan pemerintah tentang kasus hantu yang dirahasiakan dari publik (yang sebenarnya potensial untuk diangkat menjadi subplot) juga disajikan sambil-lalu saja. Memang, ia memberikan penghormatan yang memadai untuk “Ghostbusters” sebagai legenda klasik di dunia sinema dan pertelevisian, tetapi—terlepas dari fakta bahwa saya bukan fans berat “Ghostbusters”—saya rasa selain jajaran pemainnya, tidak ada perubahan yang inovatif dari segi cerita.

Saya hanya menyesalkan mengapa untuk ukuran materi yang ‘apa-adanya’ seperti ini, si pembuat film berusaha menjejali topik-topik yang sensitif—seolah ingin menjadikannya seksi untuk dibahas, entah sengaja atau tidak. Di Amerika sana, menonton “Ghostbusters” menjadi suatu aksi politis, mewujud dalam suatu dukungan moril menegakkan feminisme. Ya, sebutlah itu sebagai kekuatan sebuah film, tetapi saat itu berubah menjadi selebrasi dalam definisi yang-ditindas-balas-menindas (apalagi justru menyakiti agenda lainnya) kita akan sadar ada hal yang keliru di sana. Tentu saja, serangkaian kebencian yang menyerang “Ghostbusters”, dalam bentuk boikot skor di IMDB (saya yakin ia tidak sebegitu buruknya untuk dapat skor 4,4) ataupun bully terhadap pemainnya, memang tidak bisa dibenarkan. Tetapi, lihat lagi; jangan-jangan itu justru hal yang dipancing sendiri.

Jadi, saran saya, berusahalah menonton “Ghostbusters” tanpa terlalu merasa peka. Cukup tahu bahwa kali ini, anggota tim Ghostbusters seluruhnya wanita. Lalu tontonlah, tetapi jangan melihatnya lebih dalam. Lagi-lagi, datanglah ke bioskop untuk sekadar ketawa-ketawa bego, untuk sekadar cari hiburan di tengah penatnya bekerja. Tidak usah menganalisis berlebihan apapun yang disajikan: jadikanlah ia film komedi-supranatural yang menarik, lumayan keren, dan pantas—bahkan harus—Anda saksikan bersama teman-teman. Dengan begitu, saya jamin, Anda akan sangat terhibur.

Akbar Saputra

Twitter: @akb_r