Mojok: Dilema Freeport dan Orang yang Hendak Membakarnya

12 Juni 2016, Yasir Dayak menulis Surat Peringatan untuk Mojok.Co di blog pribadinya. Mojok.Co (selanjutnya disebut Mojok saja) yang banyak mengangkat kritik terhadap isu-isu sosial, dituduh Yasir “melakukan pembelaan terhadap penyelenggara Art Jog (#ArtJOKE) yang disponsori oleh PT. Freeport” dan “telah ikut serta menjadi bagian penindas masyarakat di Papua.”

Yasir menulis surat itu sebagai respon atas tulisan Agus Mulyadi, Mandiri ArtJog 9 Menanti Kalian Wahai Pribadi-Pribadi yang Artsy. Tulisan Agus tayang 25 Mei 2016 dalam Mojok Sore, rubrik yang secara khusus disediakan oleh Mojok.Co untuk advertorial. Agus mempromosikan Mandiri Artjog 9 (selanjutnya disebut Artjog saja), yang dia sebut sebagai “ajang perayaan tahunan seni rupa kontemporer internasional yang rutin diselenggarakan di Jogja”.

Selain Yasir yang menghubungkan Mojok, Artjog, dan Freeport, ada juga yang mencoba menghubungkan Artjog dan Mojok dengan pro dan kontra industri semen di pegunungan Kendeng. Entah siapa yang memulai, setidaknya itulah yang coba dijawab Andre Barahamin secara sarkastik dalam Mojok adalah Antek Semen Indonesia dan Freeport. Tulisan Andre diangkat oleh Mojok pada 13 Juni 2016. Sejak lima tahun terakhir, Bank Mandiri adalah sponsor utama Artjog. 10 Mei 2016 kemarin, Bank Mandiri mengucurkan kredit sebesar Rp3,96 triliun untuk Semen Indonesia melalui anak perusahaannya, Semen Gresik.

***

Melihat apa yang terjadi antara Mojok, Freeport, dan orang-orang yang hendak membakarnya, mengingatkan kita pada John Oliver. Oliver adalah seorang komedian asal Inggris, namun karirnya besar di Amerika Serikat. Ia membuat sebuah acara berita satir berjudul Last Week Tonight yang tayang di HBO.

Dalam satu episodenya, Oliver membahas tentang net neutrality dan bagaimana penyedia jasa internet melakukan praktik tak sehat dengan memberi jalur yang lebih cepat bagi situs-situs yang mau membayar mereka. Untuk situs berduit banyak, hal ini tak jadi masalah. Bagi mereka yang tak berduit, tentu mereka akan kalah saing dengan situs yang membayar untuk jalur cepat tersebut. Pengguna internet, kita tahu, lebih suka mengakses situs yang loading-nya cepat. Praktik seperti ini mengancam netralitas internet, karena hanya menguntungkan mereka yang berduit seperti sudah dijelaskan di atas.

Lucunya, salah satu perusahaan yang dikritik Oliver di acaranya adalah Time Warner, dan Time Warner memiliki HBO. Dengan kata lain, Oliver makan dari perusahaan yang ia kritik sendiri. Lebih ironisnya lagi, peraturan yang menguntungkan perusahaan penyedia jasa internet (termasuk Time Warner) akhirnya dikandaskan Federal Communications Commission (FCC). Salah satunya karena para penonton acara Oliver membombardir FCC dengan petisi. FCC adalah komisi independen yang berwenang mengatur komunikasi radio, televisi, kabel, dan satelit di seluruh Amerika Serikat.

***

Hidup di zaman yang serba kapitalistik memang merepotkan. Betapa kapitalisme begitu mengakar dalam hampir semua aspek hidup kita, hingga kita dibuat susah menghindar darinya. Rumah kita disemen dari semen pabrik yang mungkin menggusur tanah warga. Pakaian dan sepatu kita boleh jadi dibuat oleh buruh dengan upah kelewat murah, bahkan mungkin dibuat oleh buruh anak. Gawai yang kita pakai dibuat oleh buruh Tiongkok, dengan kondisi kerja yang tidak manusiawi (sampai-sampai ada dari mereka yang bunuh diri loncat dari gedung pabrik). Kita biasa mengungkapkan pikiran melalui blog dan media sosial, dimana banyak penyedianya adalah perusahaan teknologi raksasa yang dicurigai mengemplang pajak (selain juga praktik-praktik curang lain).

Kalau mau jujur, kita semua adalah anak kandung kapitalisme, yang dibesarkan oleh kapitalisme, dan hidup dari kapitalisme. Semua kontributor Birokreasi sendiri makan dari uang rakyat. Beberapa personel Birokreasi malah bekerja pada institusi yang mengumpulkan uang rakyat secara paksa. Kami adalah selaknat-laknatnya manusia, boleh jadi.

Tidak semua orang adalah aktivis, termasuk kami. Tetapi protes terhadap kapitalisme adalah milik semua orang. Begitupun Mojok, yang kami perhatikan beberapa kali menayangkan artikel bernada protes terhadap Freeport. Bahkan protes yang dilayangkan Mojok dibaca lebih banyak orang daripada celometan pribadi kita yang lirih.

Apakah kami yang hidup dari kapitalisme munafik? Ya. Tapi siapa yang tidak? Inilah dilema kita di era kapitalisme yang renta: memboikot semua yang dari kapitalisme, tetapi menjadi manusia zaman batu. Memboikot sebagian besar produk kapitalisme, tetapi dicap tidak konsisten. Atau memakai produk kapitalisme – termasuk untuk melakukan protes terhadap kapitalisme – tetapi dicap munafik?

Kami mungkin yang ketiga. Bagi kami, apa yang dihasilkan oleh kapitalisme juga bisa dihasilkan oleh sistem lain seperti sosialisme. Kapitalisme bukanlah conditio sine qua non bagi kenyamanan era sekarang untuk mengada. Masalahnya bukan terletak pada produk itu sendiri, tak seperti mereka yang mengharamkan media sosial semata karena ia produk asing. Masalahnya (salah satunya) ada pada kepemilikan alat-alat produksi dan penumpukan nilai lebih pada sekelompok pemilik modal saja.

Ini tentu tidak idealis. Ini mungkin tidak menghapuskan cap munafik yang terlanjur melekat. Tapi bukankah para pendiri bangsa kita juga mendapat pendidikan Belanda – Belanda yang sama yang menjajah negeri kita dan membunuh orang-orang kita? Apakah mereka tetap munafik kalau ilmu baca tulis yang mereka pakai untuk membantu memerdekakan kita berasal dari para penjajah itu sendiri?

Maka ujian bagi Mojok, menurut hemat kami, bukan ketika ada ancaman yang dilayangkan padanya. Ujian sebenarnya bagi integritas Mojok adalah menjadi tetap adil, tetap dengan nakal dan menyentil hal-hal yang tidak benar, termasuk yang dilakukan Freeport atau Mandiri. Mari kita tunggu saja, apakah di kemudian hari kita tetap bisa baca tulisan baru di Mojok yang berisi protes terhadap Freeport.

Sampai saat itu, mari kita simpan korek api dan bensin itu dulu. Tunggu, bukankah kayu dari korek api itu berasal dari hutan-hutan yang ditebang, dan bensin itu berasal dari perusahaan-perusahaan minyak yang eksploitatif? Ah, kapitalisme!

***

Disclaimer: Sebagian personel Birokreasi juga pernah beberapa kali menulis di Mojok. Lingkar pertemanan kami pun beririsan dengan beberapa penulis dan personel Mojok. Namun dalam beberapa hal, kami juga tidak sependapat dengan Mojok, termasuk tentang hak-hak LGBT dan beberapa tulisan lain yang karena satirnya malah jadi terlalu simplistik dalam melihat masalah. Tapi, yah, siapa yang sempurna?