Yusi Pareanom dan Raden Mandasia

Mandasia_Still

Yusi Avianto Pareanom mungkin adalah salah seorang penulis Indonesia yang paling criminally underrated. Ibarat juru masak, Yusi adalah koki sebuah rumah makan yang lezat di pinggiran Jakarta. Sebuah restoran yang tak banyak orang tahu, karena orang-orang lebih memilih datang ke restoran yang banyak dipromosikan meskipun masakannya kurang enak–dan tentu saja mahal.

Saya pertama kali diperkenalkan dengan karya Yusi melalui teman saya, Nuran Wibisono. Kala itu, saya bertanya pada Nuran tentang penulis-penulis Indonesia yang wickedly funny (lucunya brengsek?). Nuran menyebut nama Yusi. Ia membuka gawainya, lalu menunjukkan sebuah situs dimana salah satu cerpennya dimuat. Dan memang: brengsek!

Cerpen yang saya baca berjudul “Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai”. Cerpen ini diawali dengan artikel tentang santapan terakhir yang diberikan pada seorang terpidana mati. Yusi kemudian melanjutkannya menjadi cerpen tentang orang yang divonis kanker, film porno Jepang, dan bagaimana manusia tak berkuasa menentukan maut – sebuah cerita yang getir, lucu, dan reflektif di saat yang bersamaan. Dan bukan Yusi rasanya jika tak menyisipkan guyonan brengsek macam ini:

“Siong, kamu mau nggak dikasih main tiga kali sama… katakanlah Sora Aoi, atau salah satu dari merekalah, terus dibikin mati?” tanya Agus Taswin.

Tan Kok Siong garuk-garuk kepala, lalu menjawab, “Mainnya sih kebayang enaknya, Bos. Pengin sih ngrasain. Tapi ngapain juga, Bos, dapat yang biasa-biasa juga oke, asal tidak mati. Mati tidak enak, tidak bisa lihat yang bagus-bagus.”

“Dasar pandir! Kau kan bisa main dua kali saja, terus pulang,” kata Agus Taswin.

Saya lantas mencari cerpennya yang lain di internet. “Edelweiss Melayat di Ciputat”, judulnya. Cerpen ini bercerita tentang seorang pelukis yang melayat ke pemakaman istri baru mantan suaminya. Istri baru mantan suaminya tersebut tewas dimutilasi dan dibuang dalam kantong plastik hitam besar di depan Pasar Ciputat (dalam sebuah wawancara, Yusi mengatakan bahwa inspirasinya adalah plastik-plastik sampah yang ia temui sepanjang perjalanan ke Ciputat). Lagi-lagi, Yusi menunjukkan bahwa ia adalah pencerita yang lihai. Meskipun terdapat plot twist di dalamnya, itu bukan plot twist yang ‘menghebohkan’ atau ‘meledak’. Yusi pun mengakhiri cerpennya tersebut dengan sama elegannya.

“Edelweiss melihat jam tangan, pukul satu dini hari malam. Ia mengenakan pakaiannya, membasuh muka di kamar mandi. Kepalanya belum sanggup mencerna yang baru saja terjadi. Penghiburan? Ia merapikan diri dan keluar kamar. Di lorong depan kamar tak ada siapa pun. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah. Di halaman depan, ia menyalakan rokok. Ia melangkah ke arah jalan raya mencari taksi.”

Sekilas, nampak seperti sebuah ending yang terlalu biasa untuk cerita yang diawali oleh sebuah mutilasi. Namun justru itulah letak intelektualitas Yusi. Cerita tersebut berakhir tepat seperti cerita cinta antara Edelweiss dan mantan suaminya berakhir: tanpa kehebohan, tanpa melodrama. Akhir yang sangat manusiawi. Pertama kali saya membacanya, saya teringat bagaimana Kafka menutup Metamorphosis-nya dengan sama ‘biasa’-nya:

“Then all three of them left the apartment together, something they hadn’t done for months, and took the trolley out to the country on the edge of town. The car, in which they were only passengers, was brightly lit by the warm sun. Leaning back comfortably on their seats, they discussed their prospects for the future, and it proved that, on closer examination, these were not at all bad […]

Anda bisa membaca kumpulan cerpennya dalam buku Rumah Kopi Singa Tertawa. Anda akan menemukan bahwa Yusi tak hanya memiliki pengetahuan yang luas. Ia bisa memasak apapun yang menjadi inspirasinya menjadi tulisan-tulisan yang apik.

Petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia

Tahun 2016 ini, Yusi merampungkan novel debutnya berjudul “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” (selanjutnya akan ditulis “Raden Mandasia” saja). Novel ini sudah mulai ditulis sejak lama. Mulanya, “Raden Mandasia” ditulis sebagai proyek sampingan saat Yusi bosan menulis “Anak-Anak Gerhana”, novel tentang anak-anak yang tumbuh di era Orde Baru. Sebagian babnya pernah dimuat sebagai cerpen di beberapa media, termasuk dimuat ulang di Rumah Kopi Singa Tertawa.

Raden Mandasia adalah seorang pangeran. Ia salah satu anak kembar dari total 27 anak Prabu Watugunung, Raja Gilingwesi. Raden Mandasia memiliki kegemaran yang aneh, apalagi bagi seorang anak raja. Ia gemar mencuri daging sapi untuk dimasak.

Tapi, Raden Mandasia hanyalah seorang deuteragonis dalam novel ini. Protagonisnya adalah Sungu Lembu, sang narator.

Sungu Lembu berasal dari Banjaran Waru. Pada suatu waktu, negerinya ditaklukkan oleh pasukan Prabu Watugunung. Banyak anggota keluarganya menjadi korban. Karenanya, ia memiliki dendam kesumat pada Prabu Watugunung.

Sungu Lembu dan Mandasia bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Kala itu, masing-masing di antara mereka memiliki misi tersendiri. Mandasia ingin berdiplomasi dengan Kerajaan Gerbang Agung untuk mencegah perang. Sungu Lembu masih membawa dendamnya. Maka saat Mandasia mengajak Sungu Lembu pergi ke Kerajaan Gerbang Agung, ia menyanggupinya. Raden Mandasia, ia pikir, adalah jalan untuk mempertemukan dirinya dengan Prabu Watugunung. Mereka berdua lalu terseret dalam petualangan-petualangan seru nan ganjil: melawan perompak, berlari melintasi gurun bersama seorang juru masak dan anjingnya yang jelek, hingga memakai kulit seorang sida-sida (secara harafiah) agar bisa menyusup ke istana Gerbang Agung.

Sebuah Sajian yang Lezat

Bahan baku utama dari novel ini adalah babad serta folklore yang kerap berisi kisah kepahlawanan dan tawarikh raja-raja. Namun, novel ini sendiri bukanlah sebuah babad. Jika ada satu istilah yang bisa disematkan pada novel ini, ia adalah novel picaresque – novel tentang petualangan tokohnya yang brengsek di masyarakat yang sama-sama brengseknya, seperti Don Quixote.

Dalam memasak novelnya ini, Yusi mencampurkan ‘bumbu-bumbu’ lain yang ia ambil dari seluruh dunia ke dalamnya. Hasilnya, sebuah mash-up yang benar-benar nikmat. Yusi, misalnya, meramu cerita Putri Tabassum dari Kerajaan Gerbang Agung, dengan kisah Seribu Satu Malam/Turandot serta teka-teki yang konon dibikin oleh Einstein, yang sering beredar di internet. Di bagian lain, ia menyusupkan cara-cara mati yang kurang aduhai yang ia ambil dari jazirah Yunani – wabil khusus, cara matinya Aeschylus dan Chrysippus yang terlalu absurd rasanya untuk benar-benar terjadi. Meskipun begitu, bumbu-bumbu asing dan segala keabsurdan yang terjadi sepanjang perjalanan Mandasia-Sungu Lembu tak pernah terasa salah tempat. Semua mengalir secara alami dalam cerita. Ini membuat para pembacanya tak hanya tertawa bersama dengan petualangan dua orang tokoh tadi, tetapi juga mengidentifikasi trivia-trivia yang bertabur di dalamnya tanpa mengganggu pengalaman menikmati cerita. Kecakapan Yusi dalam memanfaatkan referensi yang luas ini bahkan membuat beberapa pembaca teringat dengan anime yang pernah ia tonton, hingga serial TV tentang pembunuh berantai.

Kecakapan Yusi, yang menjadi kekuatan novel ini, juga terletak pada deskripsi dan penokohannya. Yusi menggambarkan sensasi indrawi yang dirasakan Sungu Lembu sebagai narator secara mendetail dan vivid.

Dari kiri ke kanan, atas ke bawah, Raden Mandasia berturut-turut akan meletakkan potongan lamusir rusuk keempat sampai kedua belas yang lunak berkat butiran lemaknya dan yang sangat enak jika dibakar atau dibuat sup, daging tanjung dari tulang punggung belakang yang nikmat jika dipanggang atau digoreng bumbu taosi, daging paha depan dengan potongan segi empat setebal dua sampai tiga ruas yang enak diolah setelah dicincang, beberapa potong daging iga—jumlahnya tak pasti karena kadang ia kepingin mencicipi sepotong dua—yang selain gurih dan empuk jika dibakar juga sedap jika dibuat sup atau semur, […]

Tak hanya saat menggambarkan pengalaman kuliner – yang bisa membuat Anda mengidam steak daging sapi setelah membacanya – Yusi pun menulis tentang proses membuat kapal dan pelayaran dengan begitu mendetail. Detail yang bisa membuat Anda lupa bahwa penulisnya tak pernah menjadi seorang pembuat kapal atau pelaut sebelumnya. (Brengseknya, ketika menulis sebuah guyonan yang melibatkan kotoran dan dua ekor anjing pun, Yusi tetap menulisnya dengan terperinci. Tapir buntung!)

Saat menulis karakter, Yusi pun menubuhkan karakter-karakter dalam novel ini secara utuh. Sungu Lembu, misalnya. Sebagai seorang laki-laki yang hidup di milleu kerajaan zaman dulu yang keras dan merendahkan perempuan, tentu mudah untuk menulis Sungu Lembu sebagai seorang macho yang misoginistik sesuai dengan semesta cerita di novel ini. Kenyataannya, Sungu Lembu relatif lebih progresif dibanding pria lainnya dalam cerita. Ia mudah terharu (dan tak malu mengakuinya), ia menolak membunuh jika tak perlu, ia tak mau memerkosa wanita, dan ia menghormati Nyai Manggis – baik sebagai wanita maupun pemimpin gerakan pemberontak. Oleh karenanya, pembaca mampu bersimpati dengan karakternya, betapapun memalukan atau menyedihkannya pengalaman karakter tersebut. Dengan karakter yang utuh pula, maka satir dan parodi yang hendak dipakai Yusi untuk mengusili banyak hal (termasuk kondisi masyarakat kita) tidak sekadar berakhir menjadi sebuah karikatur. Bahkan, beberapa karakter sampingan seperti Prabu Watugunung, Nyai Manggis, dan Putri Tabassum juga ditulis dengan beberapa dimensi lain tentangnya. Hal ini menjadikan mereka tak hanya menjadi stock character yang klise dan bisa dibuang.

Singkatnya, novel ini memiliki banyak segi untuk dipuji, mulai dari humornya yang wickedly funny, karakterisasinya yang utuh, deskripsinya yang ‘hidup’, sampai logika ceritanya yang terjalin rapi. Anda pun bisa membacanya berulangkali, menikmati kembali setiap episode petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia yang disajikan Yusi.

Maka untuk melewatkan sajian seenak ini, adalah sebuah kejahatan.