Salam Hormat bagi Parada dan Soza

Beritanya tidak lebih terangkat daripada keluarnya Ahok dari gedung KPK. Bahkan ada orang yang lebih sibuk membahas tentang seseorang bernama Sunny, tentang kenapa Ahok nggak jadi tersangka, tentang nama-nama yang ada di Panama Papers. Namun bagi saya berita yang muncul dari Pulau Nias sungguh menyayat hati saya. Adalah perih mengetahui bahwa di Banua Niha sana, dua orang yang bertugas atas nama pajak—atas nama kebutuhan negeri ini—melepaskan nyawa mereka di tangan Wajib Pajak. Adalah miris mendapati fakta bahwa Parada Toga Fransriano Siahaan dan Soza Nolo Lase dibunuh kala menjalankan tindakan penagihan pajak.

Siapapun tahu bahwa pajak adalah tulang punggung APBN. Aneka rupa upaya dikerahkan untuk menggenjot sektor ini, termasuk yang bikin heboh semisal ‘vitamin’ buat pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP), yang juga jadi bahan obrolan di warung-warung sekitar Dhanapala sana. Saya mah apa, pegawai Kementerian Keuangan juga bukan, hanya numpang makan dekat-dekat Kementerian Keuangan sembari sedikit-sedikit envy sama rombongan baju biru muda.

Pada sisi yang lain, siapapun juga tahu bahwa APBN itu digelontorkan untuk aneka rupa bentuk pengeluaran oleh Kementerian/Lembaga dalam wujud program, yang artinya oleh para birokrat, oleh para Pegawai Negeri Sipil di negeri ini, oleh para antek birokreasi nan budiman. Dan siapapun juga tahu betapa bocornya APBN itu. Sudah malas rasanya menghitung orang yang tertangkap—entah oleh Polisi, entah oleh Kejaksaan, entah oleh KPK—dalam kaitan dengan meluncurnya dana dari APBN ke kantong pribadi dengan cara-cara yang licik.

Atas nama Parada dan Soza, saya hanya hendak mengajak kita untuk merenung sejenak saja. Atas nama dua nyawa yang hilang demi penerimaan negara, sudahkah uang yang mereka upayakan sampai mati itu dikelola dengan benar? Ah, saya yakin banyak antek birokreasi yang ngeri sendiri dengan pertanyaan itu. Parada dan Soza wafat di kala masih banyak orang mengejar honor sana-sini, Parada dan Soza meninggalkan dunia kala banyak pengadaan dikerahkan semata-mata mengejar penyerapan untuk lantas menjadi barang yang tiada digunakan, yang penting kan terserap. Parada dan Soza meninggalkan dunia dalam tugas—dalam perjalanan dinas—sementara ada saja orang yang memiliki NIP layaknya Parada membawa Surat Perintah Perjalanan Dinas kosong, yang kita tahu sendiri ujung SPPD kosong itu seperti apa.

Ya, mungkin memang sebagian dari kita sudah terlalu bete dengan Gayus Tambunan yang dengan sukses menanamkan citra busuk menahun kepada pegawai pajak. Namun kini ada halak hita lain yang bukan keluar masuk penjara, tidak sedang nonton tenis, tapi mati alias hilang nyawa dalam menjalankan tugasnya untuk mengumpulkan pundi-pundi bagi negeri ini.

Bahwa harapan rekan Meidiawan Cesarian Syah tentang adanya perbaikan-perbaikan terhadap kerja dan kinerja utamanya para Jurusita adalah penting, namun akan lebih paripurna jika perbaikan itu juga ditunjang dengan dikelolanya hasil kerja keras para petugas pajak dengan baik, benar, dan optimal. Bukan apa-apa, ini urusannya sudah dengan nyawa orang. Trenyuh rasanya jika masih ada yang kejar honor sana-sini ketika Parada dan Soza meregang nyawa demi pendapatan negara. Atau sekiranya kita hendak main-main dengan SPPD kosong, setidak-tidaknya ingatlah Parada dan Soza, dan semoga karena itu SPPD tidak jadi dimain-mainkan. Dan kalau nanti di akhir tahun kita hendak berpikir tentang penyerapan, mari bawa kematian Parada dan Soza dalam perspektif kita.

Sungguh, dengan penuh kerendahan hati, segenap hormat, dan terima kasih, saya sampaikan kepada rekan Parada dan Soza. Semoga semua berbenah hingga tiada lagi nyawa manusia melayang demi pendapatan negara karena sejatinya negara dan manusia—apalagi manusia dan manusia—adalah sinergi, bukan saling meniadakan.

ariesadhar

Twitter: @ariesadhar