Duka: untuk Kawan Parada dan Soza

“Diancam sama Wajib Pajak itu sudah biasa,” selarik ucapan itu sering dilontarkan oleh Jurusita Pajak yang pernah saya temui. Mereka memiliki segudang pengalaman mengenai resistensi ketika berhadapan dengan para penunggak pajak. Ada yang bisa dijadikan lelucon seperti modus penunggak pajak yang pura-pura tidak di tempat, bersembunyi, hingga memalsukan alamatnya. Ada pula yang cukup mengkhawatirkan karena beberapa Jurusita pernah diancam dengan pistol, parang, samurai, hingga dikejar anjing. Tapi puncak resistensi itu tergambar kemarin. Parada Toga Fransriano Siahaan dan Soza Nolo Lase dibunuh ketika menjalankan tindakan penagihan pajak.

“Tax is best regarded as a necessary evil,” ungkap Richard Eccleston. Paradoks yang kompleks membuat pajak berada di tengah ambivalensi kebutuhan negara dan ketidaksenangan para pembayarnya. Pajak mengurangi penghasilan dan Wajib Pajak tidak senang penghasilan mereka dikurangi. Oleh karena itu resistensi muncul. Penolakan terjadi.

Tetapi di sisi lain, pajak adalah kebutuhan negara. Roda negara diputar melalui uang pajak yang dihimpun dan dibayarkan bersama-sama. Di sana terbersit juga niat redistribusi kekayaan. Keinginan agar hak-hak dasar penghidupan bagi seluruh rakyat dipenuhi agar kesejahteraan bukan lagi sebuah mimpi.

Maka pajak hadir dalam koridor undang-undang dengan memperhatikan nilai keadilan. Ia tidak asal memajaki dan menagih. Ia pun hadir dalam sistematika proses yang rapi. Undang-undang perpajakan di Indonesia memberikan kepercayaan penuh kepada Wajib Pajak untuk melaporkan pajaknya secara benar. Undang-undang pajak juga datang dengan menjunjung presumsi tidak bersalah kepada Wajib Pajak sebelum mampu dibuktikan sebaliknya. Oleh karena itu, penagihan adalah upaya terakhir yang dimandatkan setelah Wajib Pajak memang terbukti tidak patuh. Negara turun dalam upaya yang lebih dari sekadar menjalankan undang-undang, yaitu menjamin keadilan tetap hadir dalam napas keseharian bangsa.

Di situlah Parada dan Soza berposisi. Mereka adalah garda paling belakang dalam urutan penegakan hukum pajak sekaligus garda paling depan dalam menghadapi ketidaksenangan Wajib Pajak. Parada dan Soza menemui mereka yang terbukti tidak patuh dan memiliki utang kepada negara. Parada dan Soza menagih apa yang telah menjadi hak negara. Tidak ada tendensi apapun bagi petugas seperti Parada dan Soza selain menegakkan undang-undang dan menjamin kedaulatan negara.

Di tengah tugas seperti itulah, nyawa mereka diregang oleh pisau AL, Wajib Pajak yang kabarnya memiliki utang pajak sebesar 14 Miliar. Mereka dibunuh karena AL tidak senang ditagih utang pajaknya. Parada dan Soza pun menjadi korban kebiadaban si Tauke Getah dari Gunung Sitoli.

Mungkin tidak pernah terlintas di benak Parada dan Soza, bahwa 10 jam perjalanan dari Sibolga ke Gunung Sitoli adalah tugas terakhir yang mereka pikul serta amanat undang-undang yang terakhir mereka jalankan. Amanat yang tidak selalu, atau mungkin tidak pernah, berbanding lurus dengan perlindungan hukum yang menyertai.

Peristiwa ini adalah momentum untuk memperbaiki apa yang selama ini diserahkan sepenuhnya pada individu-individu Jurusita belaka. Saya setuju, tidak perlu berbesar-besar empati jika semata berujung pada status quo. Sudah saatnya perlindungan hukum bagi petugas pajak dilembagakan karena saya yakin bahwa di seluruh sudut Indonesia, petugas pajak lain menghadapi ancaman serupa.

Kebiadaban ini juga harus berhenti saat ini juga. Kita tentu tidak ingin mereka yang pergi menjalankan tugas menjadi serdadu yang datang ke arena pertaruhan nyawa yang tidak pernah dimenangkan. Kita tentu juga tidak menginginkan peristiwa ini hanya menjadi monumen kosong yang dikomemorasi tanpa ditindaklanjuti. Maka langkah selanjutnya adalah kunci, mau dibawa ke mana arah perpajakan kita?

Selamat Jalan, kawan kami Parada dan Soza. Doa tulus saya haturkan agar Parada dan Soza berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Empati mendalam juga saya berikan bagi keluarga. Semoga kepedihan ini tidak akan terjadi lagi dan tidak perlu ada martir yang lain lagi.

Menukil Zen RS, “Darah itu ada batasnya, sedangkan air mata tidak.”

Post Scriptum:

Tulisan ini sudah dipublikasikan sebelumnya melalui status Facebook penulis dengan judul “Duka”, ditulis ulang oleh Birokreasi sebagai bentuk solidaritas kepada Parada Toga Fransriano Siahaan (pegawai KPP Pratama Sibolga) dan Sozanolo Lase (pegawai KP2KP Gunung Sitoli). Keduanya meninggal dalam menjalankan tugasnya karena ditikam.