Coretan di Dinding

Zaman terus berubah. Konon semakin modern, beradab, dan menjadi lebih baik. Meski tentu saja klaim tersebut prematur, terkesan tergesa, hingga terbuka untuk didebatkan, utamanya soal ‘lebih baik’ itu. Perubahan terus terjadi. Deras. Tak ada yang mampu membendungnya. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Katanya, jika enggan berubah, kita akan tergilas roda zaman. Katanya pula, spesies yang mampu bertahan adalah mereka yang mampu terus beradaptasi, berevolusi, dalam pengertian yang tidak melulu merujuk pada realitas fisik.

Tetapi tentu tidak semua harus berubah. Akan selalu ada sesuatu yang tidak berubah. Tidak harus berubah. Tidak perlu berubah. Atau bahkan tidak boleh berubah. Kejujuran, misalnya. Dia tidak boleh berubah. Baik sebagai cara, terlebih sebagai prinsip nilai. Hal lain semisal kerja keras, etos belajar, atau kepedulian kepada sesama barangkali juga tidak boleh berubah. Putaran bumi pada porosnya barangkali akan berubah, menyimpang sepersekian milimeter setiap tahunnya. Tetapi matahari harus tetap ditempatnya agar bumi tidak bingung ke mana harus berputar.

Coretan di dinding adalah hal lain lagi yang tidak berubah. Tindakan ini boleh jadi bahkan lebih tua usianya dengan apa yang disebut manusia kekinian sebagai ‘peradaban’ itu sendiri. Ada yang bilang bahwa coretan di dinding bermula saat manusia mengenal konsep ‘menetap’. Saat manusia punya sebentuk ruang yang bisa memberi mereka alasan untuk kembali setelah bepergian—bolehlah kita meminjam kosakata dari bahasa Inggris untuk menyebut sebentuk ruang itu sebagai ‘home’, yang bukan sekadar ‘house’. Apapun itu, coretan di dinding adalah sebuah gagasan. Mulanya, ia guratan ide, cita-cita, atau kisah yang perlu disampaikan kepada generasi penerus. Coretan di dinding dibuat sebagai pesan kepada masa depan.

Saat saya remaja, coretan dinding juga mewabah. Ia berserakan di sembarang tempat. Meski berserak, substansinya sama. Coretan di dinding saat itu adalah bentuk ke-AKU-an yang (menurut sebagian agama) kali pertama dicetuskan oleh iblis, yaitu kebanggaan asal-usul. Dengan coretan dinding, kebanggaan soal asal-usul AKU itu lantas bermetamorfosa menjadi bentuk lain, seperti nama sekolah, geng-geng anak muda, klub sepak bola, atau lokasi tempat tinggal. Sang pencoret menuliskan asal-usulnya sebagai bentuk kebanggaan, kebesaran, juga kehebatan. Meski tentu ada saja coretan berbentuk curhat kepada lawan jenis, juga ungkapan cinta yang tak sanggup tuk disampaikan. Miris sekali nasib jomblo yang menyampaikan cintanya hanya kepada dinding.

coretan di dinding membuat resah

resah hati pencoret mungkin ingin tampil

tapi lebih resah pembaca coretannya

sebab coretan dinding adalah pemberontakan

kucing hitam yang tergolek di tiap tempat sampah

Demikian sepenggal syair Iwan Fals tentang coretan dinding.

Kini, coretan dinding masih tetap ada, baik pada dinding dalam pengertian konvensional, juga dinding pada pengertian imajiner. Dalam pengertian konvensional, paling tidak terdapat komunitas tembok-bomber yang setia pada coretan dinding dengan sentuhan artistik. Dalam pengertian imajiner, media sosial semisal Facebook adalah salah satunya. Konsepnya masih sama dengan masa ribuan tahun lalu. Dibutuhkan sebentuk ruang yang bisa disebut home’, wadah yang boleh disebut sebagai ‘dinding’ (wall), tempat kita mencoret. Dan, kita, para penggunanya adalah para pencoret. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah coretan yang kita buat adalah guratan ide? Sebuah kisah? sebentuk ‘pesan’ untuk masa depan? Atau, seperti kata Iwan Fals, coretan itu hanya semacam pemuasan hasrat kita untuk tampil? Atau barangkali, coretan kita adalah sesuatu yang membuat resah pembacanya karena terus menyoal cara orang lain mendekati Tuhan, yang tidak seperti kita? Mungkin kita sendiri yang bisa menjawabnya. Tetapi, apabila kita menganggap kita lebih beradab dari manusia masa lalu, lebih baik dari orang terdahulu, mestinya hal itu juga terpantul dari coretan dinding yang kita buat.

Pada bentuknya yang lain lagi, coretan dinding yang tetap sama adalah coretan di dinding rumah. Pencoretnya siapa lagi kalau bukan anak-anak. Puluhan tahun yang lalu saya melakukannya. Kini anak-anak saya juga melakukannya. Barangkali nanti anak-anak dari anak-anak saya juga melakukannya. Juga anak-anak dari anak-anaknya anak-anak saya. Barangkali juga dilakukan anak-anak lain yang bukan anak-anak saya. Coretan dinding bentuk ini adalah kreativitas. Sesuatu yang bukan dogmatis semacam benar atau salah, tepat atau keliru, atau yang lainnya. Ia bukan pemberontakan kucing hitam. Maka ia tidak perlu dihukumi dengan narasi rumit semacam itu. Yang perlu dilakukan adalah, cobalah untuk mulai menikmati coretan dinding jenis ini. Jika kamu bisa melakukannya, maka kamu juga bisa menikmati polah anak-anak yang lainnya. Manfaatnya, mereka akan dekat denganmu, dan kamu bisa menjadi kawan bagi mereka. Pada ujungnya, anak-anakmu juga akan melakukannya untuk anak-anak mereka kelak. Lalu anak-anak dari anak-anakmu juga akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya. Demikian seterusnya. Kamu tahu, anak-anak yang secara emosional dekat dengan orangtuanya akan memiliki potensi besar untuk menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang kokoh, tidak hanya sisi intelektual, namun juga emosional. Dan kamu tahu, pribadi semacam itu dibutuhkan untuk membuat dunia ini semakin beradab.

Maka, dalam pengertian demikian, coretan dinding di rumah adalah sebuah pesan untuk masa depan. Pesan itu berbunyi: nilai-nilai penting kehidupan, baik buruknya, selalu berawal dari rumah. Perubahan-perubahan besar di dunia ini, selalu dimulai dari perubahan-perubahan kecil dari rumah. Maka saya sepakat dengan mereka yang berkata bahwa peradaban manusia dimulai saat manusia mengenal konsep menetap, saat manusia memaknai sebentuk ruang tinggal dengan sebutan ‘home’.