Celoteh Nasi Puyung

Sebenarnya ini ditulis karena portable harddrive saya tertinggal di kantor, padahal semua draft postingan dan foto-foto yang saya ambil selama ini (agak berisiko memang meninggalkannya di sana terlebih setelah beberapa insiden kehilangan yang terjadi) ada di dalam penyimpan portabel itu. Jadilah, saya menggali komputer jinjing untuk mencari apa ada remah-remah yang tersisa.

Di samping itu, supaya hari ini ada yang bisa saya tulis. Kata orang, untuk menjadi seorang penulis, seseorang mesti rajin menulis. Anggaplah kalau saya sedang berusaha untuk menjadi seorang di antaranya jadi hari ini saya juga latihan menulis. Sambil berusaha menyelesaikan buku-buku yang saya baca.

Kalau saya boleh mengingat, seumur-umur baru dua kali saya makan nasi puyung. Pertama saat kuliner asal Desa Puyung ini baru ada satu warung di Mataram yang menjualnya.

puyung 1

Pertemuan pertama saya dengan nasi puyung tidak bisa dibilang menyenangkan. Sukses mencret selama beberapa hari. Pedasnya itu bagaikan masuk ke tenggorokan. Selama beberapa jam sesudahnya, perut dibuat melilit. Pencernaan bagaikan dicahar tanpa perlu minum obat ini atau ramuan itu. Satu bungkus, pencernaan lancar. Dua bungkus, diare. Tiga bungkus, dehidrasi.

Tapi nasi puyung ini bikin nagih! Justru karena itu, saya semakin dilarang orang tua untuk makan nasi puyung. Yah apa mau dikata, titah orang tua adalah titah Tuhan. Selama beberapa tahun sesudahnya, saya tidak pernah menyentuh kuliner ini. Salahnya, justru ketika saya tidak menyantapnya lagi, nama nasi puyung bergaung sampai keluar pulau seperti abu Gunung Barujari.

Saya tidak heran melihat banyak blogger menulis soal nasi puyung dan menganggap nasi bungkus satu ini kuliner yang tingkat pedasnya ekstrim. Beberapa media juga memuat kalau kuliner ini pedasnya tidak manusiawi, saking mereka menggunakan sekian kilogram cabe untuk memasak satu kilogram daging sapi.

Ha, saya memberi cap nasi puyung sebagai kuliner yang idealis Lombok. Bagaimanapun ini Lombok, yang terkenal dengan, yah, lombok (bahasa lain dari cabai). Jadi namanya cita rasa masakan pedas bersantan yang tak begitu bersahabat dengan perut (meski membuat ketagihan) memang mesti dipertahankan, toh?

Kedua kalinya adalah beberapa bulan lalu, dua bulan lalu, tepatnya. Dibungkus daun pisang, uuuh sangat menggoda! Saya membayangkan nasi yang gesar (bahasa lain untuk pera) sampai membuat lelenan (susah bernapas karena makan terlalu banyak), kacang yang keras-keras enak. Daging suwir yang pedasnya menggigit sampai ke tenggorokan. Kering kentang yang renyah dan enak. Delay yang lebih lama gara-gara saya sibuk berdeskripsi.

puyung 2

Satu suapan pun masuk, dan …,

Saya keheranan. “Heh?”

Tidak sepedas dulu. Maksud saya, pedas sih, tapi segini mah biasa banget. Saya mengharapkan yang lebih dan saya harus akui kalau harapan saya kelewat tinggi. Tetap enak, tapi beda dengan rasa nasi puyung yang sempat saya santap beberapa tahun silam. Nasi puyung yang terkenal pedas, kini tak terasa lagi kepedasannya. Habis itu, nama kuliner ini apa dong?

“Tak sepedas dulu, ya,” saya berkomentar, walau santapan itu tak urung saya habiskan, “kayaknya dulu lebih pedas deh dari ini.”

“Memang,” sahut kakak saya santai, “sekarang kan lombok mahal.”

Saya terdiam. Drama harga lombok yang merangkak naik dan belum ada pertanda hendak turun, memang sudah kejadian sejak beberapa tahun lalu di pulau kampung halaman saya. Dan saya mestinya tidak heran, kalau akhirnya para perajin nasi puyung mesti berkompromi dengan ekonomi. Mengalahkan idealisme supaya mereka bisa tetap bertahan hidup. Mengorbankan nama, reputasi, dan ciri yang paling dasar dari kuliner ini supaya besok bisa makan nasi (yang tentu saja saya tak tahu, berlauk atau tidak).

Sepanjang beberapa puluh tahun saya hidup di dunia, ada beberapa idealisme yang saya harapkan tetap hidup, ternyata mesti berkompromi dengan keadaan. Kalau boleh jujur, sebagian besar keadaan yang dikompromikan adalah soal ekonomi, soal bagaimana bisa menyambung hidup di esok hari.

Dalam tingkatan yang mendekat pada penguasa dan raja, komprominya lebih ke soal politik, soal keinginan. Ketika idealisme yang satu meski kalah dengan idealisme yang “lebih”. Itu cuma di dalam ruangan, tak pernah mendengar orang-orang yang lantang memutuskan urat suara di depan pagar.

Ah, kalau semua berkompromi, adakah idealisme murni yang tetap sejati, sesejati saat kelahirannya dulu? Adakah nasi puyung yang terasa pedas, sepedas ketika saya pertama kali mencobanya? Ataukah, semua mesti berkompromi dengan kantong, lantaran rasa di kantong jauh lebih “terasa” ketimbang rasa di lidah?

Anggara Pradnya Widhiantara

Twitter: @gara_pw