Tak Berkesudahan

Ketika melihat suatu benda, pada satu tahap tertentu, tampak benda tersebut dengan berbagai sifatnya. Yang pertama ada tentu saja benda itu sendiri. Benda tersebut semakin diamati dan terbaca sifat-sifatnya sebagai hasil dari buah pikiran manusia si pengamat. Buah pikiran ini bisa jadi dinamis. Pada suatu kurun waktu-ruang tertentu, buah pikiran ini bisa jadi berbeda dengan pembacaan atas benda yang sama pada kurun waktu-ruang yang lain. Bumi yang mengelilingi matahari, berbeda dengan pembacaan atas bumi berabad-abad lalu yang menganggap dikelilingi matahari. Pembacaan atas sifat gerak bumi tersebut berawal dari keinginan untuk mengetahui sifat bumi apa adanya. Usaha tersebut ada, dan kemudian dihadapkan dengan usaha lain untuk objek yang serupa. Begitu seterusnya, sehingga pembacaan atas satu benda itu bisa jadi tak berkesudahan.

‘Tak berkesudahan’ pun bisa menjadi perangkap. Jebakan ‘tak berkesudahan’ tersebut bisa membawa pembacaan atas benda menjadi tak bermakna dan absurd, seperti mitos Sisifos. Usaha-usaha yang ada hanya sekedar mengetahui kemudian mengulangi, begitu seterusnya tanpa ada maksud untuk menjadikan pemaknaan tersebut menjadi sesuatu hal yang lebih berguna, yang berkembang dan terhubung dengan banyak hal lain di dunia. Atau pemaknaan tersebut terkesan formalitas dan hanya berdasar tendensi pribadi, seperti pengakuan diri. Tidak akan menjadi masalah jika lingkungan yang menilai adalah lingkungan yang berjiwa progresif. Dengan apresiasi yang produktif, kondisi tersebut setidaknya bisa memenuhi dua hal sekaligus; pengakuan atas karya progresif sekaligus menumbuhkembangkan misi progresif tersebut dalam masyarakat. Yang perlu dikhawatirkan adalah jika lingkungan yang menilai diisi oleh individualis gelap mata yang bisa dianggap sebagai anak turun dari struktur yang diciptakan oleh sistem kapitalistik. Kondisi demikian akan membawa pada kemandegan sebagai konsekuensi logis sifat dari sistem kapitalis selama ini, yang senantiasa berupaya mempertahankan status quo yang telah menguntungkan dirinya.

Disadari pula bahwa hantu kemandegan tersebut juga berasal dari kejumudan kekuasaan, baik kekuasaan feodal pra-kapitalis maupun kekuasaan modern-kapitalis seperti sekarang. Socrates dihukum karena dianggap penyebar bidah yang meracuni pikiran anak muda pada zaman itu. Pemikiran revolusioner Socrates bertentangan dengan kemapanan kaum sophis, sehingga berakibat hukuman. Demikian halnya dengan Galileo, yang dihukum mati karena berbeda pendapat mengenai gerak bumi-matahari. Keduanya adalah martir bagi semangat pembaharuan. Orang seperti mereka telah berjuang dan mampu menginspirasi untuk mendobrak ‘tak berkesudahan’ yang tidak menghasilkan apa-apa atau kemandegan dan kejumudan, diberbagai ruang dan waktu. Dengan demikian, usaha-usaha untuk melawan kemandegan tersebut bersifat universal, yang seharusnya menjadi pola kita untuk menuju peradaban dan kehidupan sosial yang lebih baik.

‘Tak berkesudahan’ yang diharapkan adalah tak berkesudahan yang progresif, yang membawa misi-misi kemajuan. Hanya kemudian muncul pertanyaan, dengan apakah kita menakar misi kemajuan tersebut? Menetapkan kriteria di menara gading hanya akan menjadikan kita tercerabut dari akar dimana kita tumbuh. Padahal kriteria tersebut penting sebagai cita dan cerminan komitmen bersama. Dengan demikian, buta akan kriteria yang seharusnya bukan tidak mungkin akan menjebak kita pada sesat pikir, seperti memberi obat pusing kepala pada penderita asma sebagai akibat salah kira asma yang dianggap pusing kepala. Kriteria tersebut seharusnya mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan atas manusia-manusianya.

Tak berkesudahan tersebut adalah sebuah ikhtiar bersama. Bisa jadi diantara ikhtiar tersebut berbeda sudut pandang yang terkadang muncul perbedaan atau bahkan pertentangan atas satu objek pengamatan. Hal tersebut wajar adanya. Jangan sampai lingkungan yang ada tidak mendukung untuk tumbuh berkembangnya ide atas pengamatan dan pemaknaan objek tersebut, sebab jika munculnya ide dihambat maka proses ‘tak berkesudahan’ tersebut akan terhenti. Yang ada adalah kemandegan dan tidak lagi ruang yang dinamis, seperti tragedi Socrates dan Galileo.

Ada sementara kalangan yang berhenti pada proses ide dan dialog atasnya. Padahal perwujudan atas ide tersebut lebih penting dari sekedar dialog. Dialog adalah satu tahap dan pelaksanaan adalah tahap selanjutnya. Mau-tak-mau memang harus ada sebuah kesepakatan bersama, sehingga bisa menjadi semacam dasar bertindak bagi manusianya. Berhenti pada dialog bisa mengakibatkan kita terjebak kembali pada absurditas. Dan seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa berangkat dari kerelatifan, kesepakatan tersebut terbatas pada suatu ruang-waktu tertentu. Dengan demikian, kesepakatan tersebut sangat mungkin untuk diubah, dengan proses dialog tentu saja. Mendogmakan suatu kesepakatan berpotensi mengancam kondisi-kondisi dinamis yang sedang diupayakan.

Untuk memudahkan gerak pelaksanaan komitmen, para manusianya hendaknya bersatu pada suatu wadah gerak. Dengan wadah, gerak menjadi terstruktur sehingga pengerahan sumber daya diharapkan menjadi lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam perkembanganya sebagai hasil proses ‘tak berkesudahan’, sangat mungkin komitmen berkembang dalam penafsiran dan penjabaran. Dengan demikian, pada tahap inilah kondisi sosial menjadi penting. Kondisi sosial menjadi sarana implementasi ide, meskipun pada awalnya ide timbul karena objek yang non-sosial sekalipun. Artinya, setiap ide-ide yang berkembang pada dasarnya memiliki fungsi sosial, sehingga ketika ide yang tidak memiliki fungsi sosial akan dianggap tidak relevan.

Agar setiap ide menjadi tepat sasaran, yang diperlukan adalah pemahaman yang baik atas kondisi sosial tempat ide tersebut tumbuh dan berkembang. Pemahaman tersebut setidaknya mencakup atas apa yang sedang terjadi, bagaimana dan mengapa hal tersebut bisa terjadi serta apa yang harus dilakukan selanjutnya. Identifikasi tersebut dilakukan untuk membawa kondisi sosial ke arah kemajuan (progresif). Maju, bergerak. agar kita tidak seperti orang terdiam, yang tetap menghirup nafas tetapi tidak kemana-mana, yang lantas apa bedanya dengan tiadanya kehadiran? Bagi kepentingan diri, gerak maju adalah sarana yang tepat untuk memaknai kehadiran kita.