Seks dan Tuhan yang Kehilangan Peran

Sains dan agama adalah potret relasi-cinta-benci abadi. Kadang relasi tersebut berisi gairah yang membuncah, keinginan saling memeluk, bergandengan, dan berusaha menyatukan visi. Tapi di sisi lain, mereka tak jarang mempertontonkan percik-percik benci, usaha saling memunggungi, hingga pengejawantahan laku egoistik.

Potret tersebut muncul salah satunya dalam usaha menelaah seks. Kajian agama menjelaskan seks sebagai sebuah aktivitas kudus karena seks menjadi media regenerasi; penciptaan makhluk hidup berikutnya (pada tulisan ini konteks seks dimaksudkan khusus untuk manusia). Proses penciptaan (prokreasi) yang semula menjadi tugas mutlak Tuhan, sebagian dialihkan secara cuma-cuma kepada manusia. Karena terkait dengan proses prokreasi—semestinya berada dalam ranah absolut Tuhan, ada prasyarat ihwal seks yang kudus. Seks disebut kudus ketika berada di bawah konstruksi yang diridai Tuhan, sehingga harus dilaksanakan oleh sepasang laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan yang sah menurut agama. Jika seks dilakukan di luar koridor tersebut, kekudusan aktivitas seks tidak berlaku lagi. Sementara kaidah sains berlaku sebaliknya, tidak memperhatikan kekudusan seks. Sains merujuk seks sebagai aktivitas untuk bereproduksi.

Persepsi terhadap seks oleh sains dan agama semakin beragam terkait fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Konsepsi tradisional agama-agama samawi dengan tegas menolak perilaku LGBT meskipun kini beberapa orang mencoba menawarkan interpretasi baru atas ayat-ayat atau dalil-dalil yang semula dimaknai berisi pengharamaan atas perilaku tersebut. Konsepsi awal ini jelas mengakibatkan aktivitas seks pasangan sesama jenis tidak hanya dikatakan tidak kudus, tetapi juga dicap sangat kotor. Sementara sains, dengan semesta ilmu yang lentur, memberikan aneka sudut konsep sikap terhadap orientasi seksual, khususnya LGBT. Sains membelah pendapat ilmuwan soal orientasi seksual menjadi dua bagian besar. Di satu sisi, beberapa ilmuwan memperoleh simpulan orientasi seksual kepada sesama jenis (same sex attraction) merupakan varian dari gen sehingga dapat dikatakan normal. Di sisi yang lain, penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan yang berbeda menyatakan, faktor gen berpengaruh sangat minimal pada orientasi seksual sesama jenis.

Adanya dua persepsi, baik di agama dan sains, membuat interpretasi seksualitas mendekati kemungkinan-kemungkinan tak terbatas. Apalagi teknologi, seperti biasanya, membuat aturan prokreasi menjadi samar. Jika semula prokreasi memerlukan satu ayah genetis dan satu ibu genetis yang menghasilkan masing-masing sperma dan ovum lalu bertemu dalam proses pembuahan, kini beberapa penelitian memberikan sebuah tawaran baru: bayi yang lahir dari dua ayah genetis atau dua ibu genetis. Mereka yang berpasangan sesama jenis. Berkat alasan tersebut, proses prokreasi yang sedianya dititipkan hanya melalui aktivitas seksual menjadi tidak berlaku utuh. Beberapa orang yang berpegang teguh pada konsep tradisional agama samawi, dan seringkali mengutarakan argumen yang berusaha menggandeng sains untuk bersama-sama memunggungi perilaku LGBT, juga terkena senjata makan tuan ketika argumen yang dikemukakan adalah “jika pasangan sesama jenis adalah wajar, ras manusia akan punah karena tidak akan berketurunan”.

Sains mengambil inti dari proses prokreasi yaitu pertemuan antara sperma dan sel telur. Bertolak dari dasar ini, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, ilmuwan telah mampu merekayasa pembuahan di luar rahim, tepatnya di dalam sebuah tabung, dengan mempertemukan sperma dan sel telur. Berangkat dari landasan serupa, sains menawarkan jejak yang lebih radikal: bioengineering sperma dan sel telur.

Renee Reijo Pera, ahli fertilitas dari Stanford University, memaparkan terobosan yang lahir pada tahun 2007 dimana peneliti dapat mengambil sel kulit (skin cells) dan mentransformasikannya ke dalam keadaan mula-mula kehidupan, yaitu keadaan embrionik. Sel ini kemudian direkayasa hingga menjadi embryonic stem cell, sebuah sel yang ada dalam embrio manusia dan juga dapat diubah menjadi sel apapun yang ada di dalam tubuh manusia.

Embryonic stem cell sering direkayasa peneliti guna mereparasi sel tubuh yang terdegradasi akibat penyakit tertentu. Renee lalu melontarkan gagasan yang lebih radikal, yaitu bioengineering atau rekayasa genetik. Ia berkehendak untuk memprogram Embryonic stem cell tersebut dengan instruksi-instruksi kimiawi—terdiri dari piramida protein yang sangat banyak dan bahan kimia lainnya—yang membuatnya berkembang menjadi sebuah sperma dan sel telur untuk kemudian saling membuahi. Cara ini sangat mungkin dilakukan pada pasangan gay (tentunya terdiri dari dua laki-laki) yang memiliki kromosom X dan Y pada masing-masing orang. Untuk pasangan lesbian (terdiri dari dua perempuan), aplikasi menjadi lebih sulit karena perempuan tidak memiliki kromosom Y, walau bukan berarti mustahil. Renee memperkirakan 5-10 tahun pengembangan ide dan penelitian untuk dapat mengonversi stem cell pada perempuan menjadi sebuah sperma.

Gagasan ini memiliki pekerjaan rumah berikutnya, yaitu tempat perkembangan janin. Pembuahan di luar tubuh yang telah ada masih memerlukan rahim sebagai tempat berkembangnya embrio. Bagi pasangan gay, misalnya, mencari orang untuk menjadi inang dari pembuahan hasil rekayasa genetiknya bukan hal yang mudah. Itu pun belum menyertakan risiko yang menyertai perkembangan janin tersebut.

Nick Otway, seorang ahli biologi kelautan, mencoba menjawab persoalan yang mengemuka itu. Ia dengan sukses membuat rahim mekanis untuk melahirkan Hiu Wobbegong. Rahim mekanis buatan Nick benar-benar meniru fungsi rahim induk Hiu Wobbegong. Nick mengatur kompleksitas cairan yang ada di rahim mekanik sesuai dengan urutan waktu perubahan cairan yang terjadi secara natural. Perlakuan serupa, menurut Nick, dapat diterapkan kepada embrio manusia asalkan peneliti mampu mengetahui (bukan sekadar memprediksi) bagaimana dan kapan komposisi cairan dalam rahim sang ibu berubah. Dengan demikian, manusia bukan hanya dapat menjalani pembuahan di luar tubuh, melainkan juga dapat mengalami proses kelahiran di luar tubuh.

Perkembangan sains mampu menjawab alternatif prokreasi secara radikal. Jika kesemua ide-ide itu terwujud, manusia bukan hanya tidak perlu memedulikan soal gender dalam bereproduksi. Manusia bahkan dapat bereproduksi tanpa sekalipun melakukan hubungan seksual. Imbasnya, kelenturan sains membuat alternatif prokreasi tadi mampu mendekonstruksi ide mengenai keluarga yang telah berjalan puluhan ribu tahun.

Ide keluarga dalam perspektif agama samawi terdiri dari seorang laki-laki sebagai ayah, perempuan sebagai ibu, dan anak-anak. Konstruksi agama samawi lalu diadopsi sebagai konstruksi sosial yang berlaku di masyarakat. Alhasil, keluarga dalam norma sosial memiliki kesamaan dengan konsep keluarga agama samawi: seorang lelaki, perempuan, beserta anak-anak. Betapa elaborasi dari alternatif prokreasi pasti akan ditantang langsung oleh konstruksi sosial yang telah mapan ini. Tidak mudah memperlakukan anak yang lahir bukan dari sebuah keluarga umum.

Hukum Amerika Serikat dan beberapa negara lain memang sudah mengakomodasi tentang legalitas perkawinan sesama jenis, tetapi konstruksi sosial lebih dari legalisasi perkawinan semata. Bagaimana, misalnya, alternatif prokreasi yang bisa membuat sebuah manusia super dengan merekayasa gen-gen terbaik dari beberapa macam makhluk hidup seperti gagasan Randy Lewis—yang telah merekayasa gen kambing hingga mampu menghasilkan pintalan jaring laba-laba dari hasil pengolahan susu kambing tersebut—dari Utah Utara?

Konstruksi sosial menuntut manusia melakukan aktivitas seksual dengan partnernya. Anak hasil perkawinan tersebut nantinya harus dibesarkan dalam lembaga keluarga. Preferensi seperti ini diperkirakan masih akan terus berlaku hingga beberapa ratus tahun ke depan, meskipun telah terjadi perubahan radikal dalam persediaan makanan hingga perkembangan sains yang menyebabkan prokreasi memiliki aneka alternatif. Persepsi terhadap ide keluarga nampaknya telah melekat kuat dalam masyarakat sehingga ruang yang tersisa untuk meletakkan konsep anak yang dilahirkan dan tumbuh di luar keluarga umum sangat kecil.

Agama, terutama agama samawi, membuat posisi Randy Lewis, Nick Otway, atau Renee Reijo Pera, menjadi sangat sulit. Prokreasi tradisional melalui hubungan seksual yang telah diterima umum menyebabkan alternatif lainnya dianggap, meminjam istilah Jamiroquai, ‘kegilaan virtual’ sekaligus usaha mempermainkan peran Tuhan. Peran Tuhan yang kudus semakin tidak penting jika prokreasi dapat dilakukan seperti membuat kue atau produk dengan atribut-atribut tertentu yang diinginkan.

Tapi sains memang memiliki kelenturan yang tidak menyerupai keterbatasan dinding-dinding agama. Ketika seks ditafsir agama dengan pendekatan-pendekatan yang statis, sains berusaha melompati tafsiran-tafsiran tersebut. Dengan pencapaian-pencapaian hasil penelitian terbaru, kekudusan seksual sebagai aktivitas prokreasi akan menurun, apalagi jika agama mampu menempatkan akrobat sains tadi ke dalam tafsiran-tafsirannya. Agama bisa jadi masih akan diimani oleh para pemeluknya yang teguh, dengan terbitnya fatwa-fatwa atas lesatan teknologi ini. Namun dengan perwujudan pelbagai macam cara untuk bereproduksi, bisa jadi hubungan seksual tidak terlalu kudus lagi. Ia berubah dari aktivitas prokreasi menjadi aktivitas rekreasi semata.

  • Abby Pangeran Aziz

    Tulisan yang menarik dari mas Meidiawan. Bahwa lesatan teknologi yang tak terbendung itu membawa hampir semua khayalan manusia menjadi kenyataan memang benar adanya. Tak dapat dipungkiri juga bahwa penemuan terbaru seringkali mematahkan apa yang didalilkan agama samawi; jika dilihat dari kacamata yang sama yaitu setiap kejadian melibatkan unsur alamiah yang sejatinya dapat dijabarkan secara ilmiah. Tentu dengan logika demikian, saya hampir yakin bahwa suatu saat nanti seluruh ajaran agama akan patah di hadapan kebesaran ilmu. Oleh karena itu, saya pribadi mengedepankan “keyakinan” ketimbang “kepercayaan” saya dalam mencerna hubungan dengan Tuhan.

    Sementara itu,
    izinkan saya menikmati nasi bogana sambil disuapi istri.

    Salam.