A Copy of My Mind: Sebuah Salinan yang Terlalu Biasa

Apabila ada yang bisa ditarik dari film-film Joko Anwar, adalah stilistik nomor satu, pesan moral belakangan. Setidaknya, itu sebelum film teranyarnya, “A Copy of My Mind”. Dalam film-film sebelumnya, Joko menempatkan filmnya dalam semesta yang anakronis dan anatopis, yang tidak bisa diidentifikasi sebagai Indonesia. Eksperimen Joko dalam membentuk dunia liminal filmnya, membentang mulai dari noir Amerika tahun 40 atau 50-an dalam “Kala”, ke-Eropa-Eropa-an dalam “Pintu Terlarang”, hingga penggunaan bahasa Inggris sebagai alat tutur dalam “Modus Anomali”. Dalam hal ini, Joko cukup cerdik untuk tidak sekadar menyalin-tempel identitas artistik dari genre-genre yang bersangkutan, dan menjadikannya pastiche murahan.

“A Copy of My Mind” menyempal dari gaya artistik Joko. Seakan menantang dirinya sendiri, kali ini Joko membawa filmnya ke dalam gaya yang lebih realis dan ke tempat yang lebih familiar – ke negerinya sendiri. Wabilkhusus lagi, Joko membawanya ke pinggiran Jakarta pada masa gegap gempita menjelang pemilihan presiden. Jika sebelumnya Joko mengesampingkan isu-isu sosial-politik, dengan “A Copy of My Mind”, ia mencoba membawa isu yang sangat ‘Indonesia’ ke permukaan filmnya: film bajakan, korupsi, ketimpangan ekonomi, serta kemiskinan kaum pinggiran ibukota.

Sari (Tara Basro) terjepit di tengah kerasnya kehidupan Jakarta dan hiruk pikuk kampanye presiden. Pegawai salon khusus facial yang sedang dalam proses melamar kerja di salon yang lebih elit ini, memiliki kecintaan pada film-film luar negeri, terutama film bertema monster. Film ini (yang bajakan, tentu saja) bukan hanya sekadar tontonan. Film adalah candu, untuk pergi sejenak dari kehidupan yang melelahkan. Kenikmatan paripurna, bagi Sari, adalah ketika dapat menikmati film berkualitas bagus dengan home theater. Dan subtitel jelek adalah sebuah kejahatan. Menurutnya, DVD bajakan dibeli dengan uang juga, karenanya, yang menonton pun berhak atas kualitas subtitel yang layak. Demi film pula, Sari bahkan tak ragu-ragu mencuri DVD.

Subtitel jelek dan film colongan mempertemukan Sari dengan Alek (Chicco Jerikho). Alek adalah penyuplai subtitel untuk DVD bajakan. Alek tak bermodal kemampuan bahasa Inggris, modalnya hanya alat penerjemah daring. Alek inilah yang membikin subtitel ngawur dalam film-film yang ditonton Sari. Setelah memergoki Sari sedang mencomot DVD dari rak sebuah toko film bajakan, Alek membuntuti dan mengajak Sari ke kos-kosannya. Dengan ancaman akan diteriaki maling dan iming-iming suplai film berlimpah, Sari pun menurut. Film yang mempertemukan mereka, film pula yang menyatukan mereka. Di kosan Alek, mereka bercinta.

Berbeda dengan Sari yang bercita-cita punya home theater, Alek puas hanya dengan menjalani hidup. Jangankan cita-cita, KTP pun tak punya. Yang penting punya uang untuk rokok, bir, taruhan pada balap liar, dan membelikan makan untuk Budhe – induk semang Alek yang tak dipedulikan anak-anaknya sendiri. Meskipun hidup mereka sama-sama susah, pada titik ini, semua nampak indah bagi Sari dan Alek. Sampai akhirnya suatu hari, Sari mencuri sebuah film dari seorang pelanggannya, Ibu Mirna. Ibu Mirna (Maera Panigoro) adalah makelar undang-undang yang dipenjara di ruang tahanan kelas eksekutif. Sari mengira telah mencuri film monster, ternyata adalah video rekaman saat Ibu Mirna memakelari sekelompok pengusaha yang ingin membangun resort di wilayah hutan lindung dengan beberapa anggota dewan yang korup. Salah seorang dari anggota dewan tadi, sedang mencalonkan diri sebagai capres peserta pemilu. Sari dan Alek pun menjadi buron orang-orang suruhan Ibu Mirna yang ingin mendapatkan kembali DVD tersebut.

Kosa Gambar yang Tidak Efisien

Pada paruh pertama film, Joko secara ekstensif memotret kaum marjinal urban melalui Sari. Shot-shot close-up wajah Sari yang berpeluh, dibingkaikan dengan keseharian Jakarta dengan jalannya yang macet, pasarnya yang kotor, tempat penjual DVD bajakan yang riuh, serta kos-kosan yang penuh nan kumuh. Sekitar 30 menit hanya dihabiskan untuk shot-shot ala poverty porn ini, tanpa ada informasi baru yang ditambahkan maupun perkembangan karakter lebih lanjut. 15 menit pertama saja sebenarnya sudah cukup untuk menggambarkan siapa Sari, di mana ia tinggal, serta bagaimana kondisi sosial di sekitarnya. Oleh karenanya, banyak kosa gambar yang tidak efisien pada bagian awal film. Bandingkan, misalnya, dengan cara Teddy Soeriaatmadja menggambarkan kelas penduduk miskin sub-urban Jakarta dalam “Lovely Man”. Atau Eddie Cahyono, dalam memotret kehidupan kaum miskin pesisir dalam “Siti”­. Tidak cuma mengandalkan spektakel, tetapi juga dialog dan interaksi tokoh utamanya, Teddy dan Eddie lebih efisien dalam menubuhkan potret kaum miskin pinggiran sejak awal film mereka. Mereka tak membuat tokoh utamanya statis, seperti pada menit-menit awal “A Copy of My Mind”. Hasilnya justru banyak shot dalam film ini yang terkesan superfluous alias dihambur-hamburkan hanya untuk menunjukkan kerasnya hidup di Jakarta.

Ketidakefisienan Joko tidak hanya berhenti di situ. Di awal-awal film, Joko juga cukup sering menempatkan wajah Sari secara close-up di tengah-tengah frame. Padahal, emosi yang ditunjukkan melalui wajah Sari nyaris tidak berubah, baik ketika kerja, memilih DVD bajakan, maupun saat menikmati home theater di sebuah toko elektronik. Semuanya datar. Ketika tak ada emosi yang dimainkan, lagi-lagi shot-shot tersebut terkesan superfluous. Seolah-olah menu yang disuguhkan hanyalah wajah lelah Tara Basro.

Plot Korupsi yang Bermasalah

Di paruh kedua film, lain lagi masalahnya. Plot twist itu sah-sah saja, toh Joko Anwar sering memakainya dalam film-film sebelumnya. Namun transisi dari drama romantis menuju film thriller konspirasi a la “Enemy of the State” (Tony Scott, 1998), terasa mengganjal dan kurang elegan. Ada dua masalah, yang pertama adalah pacing atau tempo. Joko menjaga tempo filmnya tetap lambat, berbeda dengan film-filmya yang lain, seperti “Modus Anomali” atau “Pintu Terlarang” yang penuh aksi. Bukan hal yang salah, tentu saja. Akan tetapi ini membuat bagian thriller dari “A Copy of My Mind”, gagal mewujud menjadi sebuah thriller – jika memang film ini dimaksudkan demikian.

Yang kedua adalah bagaimana karakter dalam film ini melakukan dumbest possible actions hanya agar plot tetap berjalan. Mengapa Sari tetap nyolong film dari Ibu Mirna, bahkan ketika Alek mempunyai stok film yang berlimpah (dan tentu tidak kesulitan menyediakan film monster yang ia mau)? Toh ia tahu bahwa pelanggannya, Ibu Mirna, bukanlah orang sembarangan. Lalu bagaimana juga DVD tadi bisa tidak ketemu padahal Ibu Mirna sudah menggeledah tas Sari sebelum pulang? Mengapa juga barang yang begitu penting, diletakkan Ibu Mirna begitu saja bersama film-film lain? Mengapa tak ditaruh di brankas? Mendatangkan brankas tentu tidak mustahil bagi Ibu Mirna (yang dengan uangnya, bisa dapat kamar tahanan rasa kamar hotel, lengkap dengan polisi dan sipir yang siap melayani, telepon, home theater, serta fasilitas facial tiap bulan).

Saat menjadi buron, alih-alih pulang kampung atau minggat dari Jakarta untuk menyelamatkan hidupnya, kenapa Sari malah kembali ke kehidupan yang lama dan pekerjaannya di salon yang lama? Lucunya lagi, dan untungnya bagi Sari, orang-orang suruhan si koruptor tadi juga tidak kompeten-kompeten amat. Kenapa mereka tidak mencari dengan lebih seksama, atau setidaknya menyatroni kawasan tersebut lebih lama? Ini konyol karena DVD yang penting itu masih ada di tangan Sari. Mereka malah berhenti mencari, seolah sudah puas hanya dengan mendapatkan Alek saja. Padahal mereka tahu di mana kos-kosan Sari yang lama. Salon tempat kerja Sari yang lama, juga hanya di ujung jalan dari salon langganan Ibu Mirna. Pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk dijawab. Apalagi sebagai film bercitarasa realis, bangunan logika sebagai fondasi realitas diegesis “A Copy of My Mind”, malah justru berlubang di sana-sini. Ini yang membuat bagian kedua dalam film ini lemah (untuk tidak menyebutnya terlalu dipaksakan atau terlalu mengandalkan kebetulan).

Apa yang Dipikirkan Joko Anwar Saat Membuat “A Copy of My Mind” Sebenarnya?

Dalam film-filmnya terdahulu, bisa dibilang Joko menyindir (secara simbolis) kebahagiaan semu kaum borjuis dalam potret keluarga yang disfungsional. Dalam “A Copy of My Mind”, kebahagiaan kaum pinggiran yang sederhana namun terasa nyata itu, ternyata ujung-ujungnya dicincang juga olehnya. Kebahagiaan wong cilik itu sama superfisialnya dengan kaum berada. Orang-orang seperti Sari bisa menipu diri sejenak dengan menonton film, senggama, dan makan mie ayam. Esok harinya, kembali banting tulang sambil sesekali tergencet kemiskinan. Hidup tetap jalan terus. Apakah ini intensi Joko: bahwa kehidupan itu memang absurd, dan satu-satunya menjadi bahagia adalah dengan menjadi tak peduli – entah menjadi gila (seperti dalam “Modus Anomali” dan “Pintu Terlarang”), entah bercinta dengan pria yang baru dikenal, dan tanpa beban?

Di samping itu, agak susah untuk membicarakan mengenai korupsi per se di “A Copy of My Mind”, karena memang tak ada apa-apa untuk dibicarakan tentangnya. Joko bahkan cenderung skeptis dengan kemampuan dan kemauan orang-orang biasa seperti Sari untuk mampu membuat perubahan bagi negerinya. Lihat bagaimana prioritas utama Sari adalah menyelamatkan Alek dan dirinya sendiri. Korupsi, termasuk konteks politik pemilihan presiden dan si pejabat korup yang dengan gagahnya ikut mencalonkan diri, tidak lebih penting untuk dibahas dibanding DVD berisi video rekaman Ibu Mirna tadi. Setidaknya kita tahu bagaimana nasib DVD tersebut di akhir cerita, tak seperti bagaimana nasib si pejabat dan Ibu Mirna. Joko cuma menunjukkan bahwa pejabat-pejabat yang korup justru mendapat banyak privilese, sementara rakyat kecil jadi susah karenanya. Kalau tak terpaksa jadi penjahat, ya sengsara saat coba-coba jadi pahlawan. Dengan kata lain, Joko hanya mengulang apa yang biasa kita lihat di berita: korupsi itu buruk, negara abai pada rakyat kecil, dan di Indonesia, masih susah mencari keadilan. Sebuah eksplorasi yang terlalu biasa untuk sebuah film, apalagi bagi seorang sineas yang mampu membikin cerita yang genre-defying seperti Joko.

a-copy-of-my-mindJudul: A Copy of My Mind

Tahun Produksi: 2015

Durasi: 118 menit

Sutradara: Joko Anwar

Pemeran: Tara Basro, Chicco Jerikho, Maera Panigoro, Paul Agusta, Ario Bayu, Tony Setiaji, Ronny P Tjandra

Penulis: Joko Anwar

Produksi: Lo-Fi Flicks, CJ Entertainment

Negara: Indonesia

  • amuba

    ada pertanyaanmu yg bisa dijawab. knp DVD yg dicolong Sari tetap lolos, padahal tasnya sudah digeledah Bu Mirna sebelum pulang? krn keping DVD itu disimpan di punggung Sari.
    sisanya aku setuju dgn bagian dumbest possible actions itu. kenapa yg ketangkep Alek, padahal lebih gampang melacak Sari. toh si bos salon elite tinggal nyebutin nama salon lama tempat Sari bekerja sebelumnya, lalu dari situ bisa ketahuan alamat kos sampe kampung halaman Sari. eh, tapi mereka udah tahu kos Sari, makanya Alek ketangkep. dan kenapa nangkep Alek, itu adalah suatu misteri yg mungkin bahkan tukang pukul kelas kampung aja nggak paham logika Joko Anwar.
    dan tentang isi DVD itu. kalo aku nggak salah ingat, film di DVD itu layaknya film yg direkam serius -bukan hasil rekaman dari kamera tersembunyi. seingatku, wajah-wajah pejabat yg minta disuap itu disorot satu per satu. so, mereka pasti tahu dong kalo sedang direkam. pertanyaannya, apa ada pejabat yg pengen disuap merelakan gambar dirinya direkam saat sedang minta suap?