Deadpool: Memecah Dinding Keempat

deadpool

Sudah nonton “Deadpool”? Bagus. Kalau belum, segeralah. Tak perlu terlalu tergesa-gesa juga, karena saya yakin ia akan bertengger lama di daftar ‘Sedang Tayang’ bioskop-bioskop terdekat. Marvel dan 20th Century Fox sudah memproduksi iklan-iklan ‘nyeleneh’ untuk mempromosikan Deadpool, mulai dari menjiplak poster film lain sampai memoles film superhero ini seolah menjadi film Valentine. Dengan gaya pemasaran seperti ini, bohong kalau Anda bilang Anda belum pernah setidaknya dengar tentang Deadpool, apalagi kalau Anda sering hilir-mudik di jagat maya.

Deadpool adalah salah satu karakter dalam komik Marvel. Tapi, sebelum saya membahas tentang filmnya, ada satu hal yang perlu saya tekankan: jangan paksa saya menjelaskan posisinya dalam semesta Marvel yang rumit dan agak dibuat-buat itu, ya. Plis, jangan. Soalnya saya ga ngerti. Silakan tertawa, tidak apa-apa. Murni, tulisan ini hanya untuk membahas film “Deadpool” saja, bukan tentang kaitannya dengan film-film Marvel terdahulu.

Begini, menurut saya, Deadpool punya cerita yang … standar. Tokoh utamanya, Wade Wilson (Ryan Reynolds), bisa dikatakan adalah seorang kriminal. Bukan sembarang kriminal, tentu saja. Ia penjahat yang membela orang lemah dari penjahat yang lebih jahat. Dari sana, ia dapat bayaran. Pacarnya, Vanessa (Morena Baccarin), adalah seorang PSK. Sama gilanya dengan Wade. Sama seksinya dengan Wade.

Malangnya, Wade divonis kanker hati, paru-paru, prostat, dan otak. Di tengah keputusasaannya, seorang agen rahasia menemuinya untuk menjadikannya objek suatu eksperimen yang akan menjadikannya seorang superhero. Walau awalnya menolak, Wade akhirnya mengiyakan. Setelah melalui serangkaian eksperimen-setengah-penyiksaan yang dipimpin oleh Ajax (diperankan oleh Ed Skrein) dan sidekick-nya, Angel Dust (Gina Carano), Wade justru berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan. Dengan dendam membara dalam dirinya, ia menciptakan alter ego bernama Deadpool untuk memburu Ajax dan memaksanya mengembalikan tubuh Wade menjadi seperti semula.

Sudah, itu saja. Inti ceritanya cuma begitu. Tidak ada mimpi besar seperti menyelamatkan dunia dari serangan alien atau apa. Eksekusinya saja yang kemudian dibuat tidak biasa. Pertama, dari gaya penceritaannya yang dibuat dengan suatu plot yang tidak linear: dari pertengahan cerita (Wade sudah jadi Deadpool), lalu beberapa kali flashback ke awal cerita (Wade bertemu Vanessa), lalu kembali ke pertengahan cerita, baru plot maju menuju ending (Wade memburu Ajax). Kedua, seperti biasa, untuk memeriahkan suasana, dimasukkan karakter lain dari semesta Marvel: Colossus (Stefan Kapicic) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand). Ketiga, dialognya. Saya pikir Deadpool ini tidak punya ciri bawaan yang spesifik, yang menjadikannya berkarakter adalah dialognya. Gayanya. Wade a.k.a Deadpool ini mulutnya bangsat banget. Ia cerewet, mesum, dan tidak tahu aturan. Leluconnya porno, kata-katanya tidak sopan, dan tindakannya sesuka hati. Nah, kebengalan dan mulut kotornya itu menjadi kunci untuk mengarakterisasi Deadpool.

Keunikan lain dari film ini, banyak adegan di mana Deadpool memandang kamera dan seolah-olah berbicara kepada penonton. Ini disebut breaking the fourth wall, atau memecah dinding keempat. ‘Dinding keempat’ adalah istilah dalam teater, televisi, film, atau bahkan buku, yang merujuk pada batas tak nyata antara kita (sebagai penikmat cerita) dan tokoh (sebagai bagian cerita). Kenapa disebut dinding keempat? Well, karena kalau ditilik dari sejarahnya, dinding pertama, kedua, dan ketiga adalah dinding nyata yang melingkupi sisi kiri, belakang, dan kanan panggung pertunjukan.

Berbeda dengan narasi (si tokoh bercerita kepada kita tentang isi cerita) atau gaya mockumentary dalam film (si tokoh menatap dan berbicara pada kamera padahal ia menatap dan berbicara pada tokoh lain yang memegang kamera), definisi formal dari ‘memecah dinding keempat’ bukan sekadar memecah batas antara kita dan para tokoh sehingga terjadi interaksi satu- atau bahkan dua-arah, tetapi lebih pada membuat para tokoh menyadari bahwa mereka sedang berada dalam suatu cerita. Teknik ini sering digunakan dalam film komedi sebagai cara menyampaikan lelucon agar lebih mengena kepada penonton. Sejak kerap muncul di zaman film-film bisunya Charlie Chaplin, penerapan teknik ini menjadi semakin kreatif: tidak sekadar berbicara ke penonton tetapi juga membuat pemeran menonton diri mereka tengah berperan, membuat pemeran keluar dari set panggung mereka, sampai membuat penonton memilih bagaimana cerita akan berakhir.

Dalam film “Deadpool”, dinding keempat dipecahkan sebagai salah satu cara mengarakterisasi si tokoh utama yang senang membanyol. Teknik ini memang telah diterapkan sejak di buku komiknya. Dan untuk menjaga kesamaan dengan buku komiknya, Tim Miller (sutradara) bahkan menyatakan bahwa hanya Deadpool, bukan Wade, yang bisa memecah dinding keempat. Dinding keempat bahkan dipecahkan dengan cara yang kompleks, seperti di satu bagian, di mana Deadpool bercerita kepada penonton tentang suatu flashback cerita yang di dalamnya ia bercerita kepada penonton (“Fourth wall break inside a fourth wall break—that’s like 16 walls!” kata Deadpool).

Berhasil? Tidak juga. Lelucon pornonya, akibat penerjemahan ke bahasa Indonesia, kadang sama sekali tidak membuat kita tertawa (Vanessa berkata pada Wade, “That’s the face I’m going to sit on. Seteater itu, hanya saya yang tertawa). Banyak inside jokes dan referensi yang asing bagi penonton, khususnya penonton non-Amerika, semisal Negasonic yang sering Wade panggil ‘Sinead’, merujuk pada Sinead O’Connor tahun 90-an yang secara fisik memang mirip dengan Negasonic. Atau saat Wade akan menjalankan eksperimen yang akan menjadikannya superhero, ia berkata, “Please don’t make the super suit green, or animated!”, yang sebenarnya merujuk pada karakter superhero yang dulu pernah diperankan oleh Ryan Reynolds juga, yakni Green Lantern. Adegan kekerasan dan seks juga banyak yang di-zoom-in sampai kelihatan blur layaknya DVDRip yang dipaksa fullscreen, agar darah, potongan tubuh, atau bagian vital dari badan si pemeran tidak tampil di layar.

Alhasil, walau teknik-teknik yang dilancarkan si pembuat film berhasil mengarakterisasi Deadpool sebagai tokoh yang punya ciri khas, penonton tidak berhasil dirangkul dan diajak tertawa sebagaimana si pembuat film ingin mereka tertawa. Kita akan tertawa, tetapi tertawaan kita hanya tertuju pada sedikit dari lebih banyak hal yang si pembuat film telah sediakan untuk kita tertawakan. Apalagi, terlepas dari lelucon dan level kekerasan dan seksnya, materi dasar film “Deadpool” sendiri bisa dikatakan sangat dewasa. Divonis kanker kemudian dipaksa melalui sederetan penyiksaan hingga menjadi superhero yang—menurut tokohnya sendiri—gagal, tentu suatu hal kelam yang tidak mudah dijadikan bahan tertawaan.

Tetapi begitulah Marvel, atau khususnya 20th Century Fox sebagai produser, yang belakangan getol sekali menyajikan kisah superhero dengan gaya yang santai dan penuh candaan. Dua tahun lalu kita telah melihat “Guardians of the Galaxy” yang beken tidak hanya karena karakternya, tetapi juga karena soundtrack-nya yang asyik. Atau “Ant-Man”, dengan lelucon-leluconnya yang seolah tidak menjadikan sang tokoh titular se-superhero yang kita bayangkan. Mungkin untuk menyaingi DC Comics yang hobi menyajikan nuansa gelap kejahatan-lawan-kebajikan, seperti dalam “Batman v. Superman” atau bahkan “Suicide Squad” yang akan tayang tahun ini. Marvel seperti ingin mencuci otak kita yang terlanjur terdoktrin bahwa superhero adalah tokoh mahahebat yang ditakdirkan untuk menumpas kebatilan di muka bumi.

Ide tersebut kadang berhasil, kadang tidak. Dan film “Deadpool”, dengan seabrek bahan tertawaan hasil sulapan atas materinya yang kelam, ternyata menjadi suatu produk yang tersegmentasi. Ia akan tetap disukai penonton, ia akan menyenangkan hati penonton. Tetapi … mungkin ia tidak akan dieksplorasi oleh penonton sedalam potensi yang sesungguhnya ia miliki. Dan, sungguh, itu disayangkan.

Lagipula, apakah penonton punya kewajiban untuk itu? Tidak juga, sih. Yang pasti, jangan bawa anak-anak untuk ikut nonton, ya!