Aa Gym Ndak Perlu Berhenti Facebookan!

“Saya stop menggunakan LINE karena terang terangan mempromosikan LGBT … Ayo pakai sosmed yang sehat saja,” kata Aa Gym melalui akun Twitternya.

Apa yang salah dari pernyataan itu? Selain kesalahan penulisan (tidak ada tanda hubung untuk kata ulang “terang terangan” dan tanda titik di akhir kalimat), beliau ndak salah apa-apa. Aa Gym cuma mengekspresikan sikap pribadinya, menggunakan HAM-nya, masa ndak boleh? Kebebasan berekspresi itu bagian HAM juga lho!

Soal kenapa Aa Gym yang menyampaikannya di Twitter dan Facebook, ini juga lumrah. Ndak perlu heran. Iya deh, iya, Twitter dan Facebook memang salah dua dari 379 perusahaan yang disebutkan The Huffington Post mendukung pernikahan sejenis. Sebelum membahas inkonsistensi Aa Gym, ada baiknya kita bertanya dulu kenapa perusahaan-perusahaan seperti Line, Twitter, dan Facebook mendukung LGBT?

Korporasi-korporasi itu sejatinya juga ndak peduli-peduli amat kok pada LGBT. Diskriminasi, tekanan, penderitaan, dan emosi dijual ke masyarakat, ya karena korporasi menerima manfaat dari itu semua. The capitalization of emotion. Dalam isu LGBT, korporasi memboncengi isu yang sedang ramai, menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen (masyarakat) yang sudah tersegmentasi. Selain demi efek viral, tentu ini juga bagus untuk branding. Bahwa korporasi ternyata juga loyal terhadap konsumennya seperti konsumen loyal terhadap mereka, bahwa korporasi dan konsumen sama-sama punya ikatan emosional yang terhubung pada nilai-nilai yang sama: demokrasi, anti-diskriminasi, kemanusiaan, dan tentu saja … HAM. Hidup HAM, yeah!

“Medium is the message,” kata Marshall McLuhan dalam bukunya, Understanding Media. Selain penyampai pesan, media sendiri adalah sebuah pesan. Sayangnya, McLuhan belum sempat menjelaskan kenyataan secara utuh: siapa (media) yang mengeluarkan sebuah pesan, dalam kapasitas apa, di ranah mana, dan apa yang akan didapat setelahnya. Padahal kesemuanya adalah konteks-konteks yang ndak bisa diceraikan dari pesan itu sendiri. Mudah sekali berprasangka bahwa ada motif terselubung saat sebuah korporasi menyatakan dukungannya terhadap isu-isu sosial. Line (juga Twitter dan Facebook) yang menurut Aa Gym “terang-terangan mendukung LGBT” di muka publik penggunanya, tentu berbeda dengan si Fulan yang menyatakan itu kepada teman-teman dekat di sebuah warung kopi.

Simak tragedi teror di Paris vis-à-vis Jakarta kemarin, misalnya. Atau Suriah yang jauh lebih ngeri, misalnya. Kenapa Facebook ndak memasang filter bendera Indonesia atau Suriah untuk profile picture? Lumrah saja kalau muncul argumen bahwa Suriah ndak begitu memancing banyak emosi, juga Indonesia ndak begitu ‘menjual’ dibanding Paris (meski pengguna Facebook di Indonesia termasuk yang paling banyak di dunia) untuk diberi ucapan belasungkawa. Atau seperti Starbucks yang sok humanis, apakah pernah peduli pada eksploitasi para pekerja kebun kopi yang menyuplai bahan baku ke Starbucks sendiri? Lagi-lagi, humanisme korporasi adalah humanisme yang selalu selektif.

Tapi konsumen yang LGBT kan relatif lebih kecil jumlahnya? Apa korporasi-korporasi itu justru ndak takut berkurang konsumennya? Jumlah LGBT-nya mungkin kecil tapi jumlah yang simpati terhadap mereka nyatanya terus meningkat, terutama di negara-negara yang penduduknya lebih melek HAM. Setiap negara pasti punya golongan anti-LGBT, tapi apa iya semilitan itu sampai mau meninggalkan produk-produk yang sudah diakrabi setiap harinya?

Meninggalkan Line sih relatif lebih gampang. Berapa sih jumlah teman Aa Gym di Line? Kan tinggal pindah ke WhatsApp. Toh kita juga ndak mungkin mengecek handphone Aa Gym dan memastikan apakah beliau benar-benar meninggalkan Line. Memboikot Starbucks juga gampang. Orang yang sedikit-sedikit bilang boikot Starbucks itu, aslinya juga cuma sekali-sekali saja ngopi di sana (selfie-nya saja yang diulang-ulang biar dikira sering). Lagian seruan boikot Starbucks kan sudah ada sejak konflik Israel-Palestina, nyatanya juga tetap ramai.

Tapi memboikot Facebook? Twitter? Akui sajalah, Facebookan dan Twitteran itu enak sekali, masa mau tutup akun cuma gara-gara agama? Antum saja ndak mau, apalagi Aa Gym yang di fanpage-nya tertulis 3.777.202 people like this dan akun Twitter-nya punya 1,6M followers? Mana mungkin? Ngising belih ah, Akhi!

***

Tentu kita ndak bisa meragukan iman Aa Gym, juga nawaitu-nya yang pasti lillahi ta’ala. Tapi setebal apapun iman Aa Gym, beliau punya kesamaan dengan Line, Facebook, Twitter, dan Starbucks: sama-sama entitas usaha. Silakan cek Wikipedia untuk melihat bisnis Aa Gym yang begitu moncer di masa kejayaannya. Hingga penghujung 2006, Aa Gym dihantam badai besar bernama poligami. Semua bisnis dan popularitasnya merosot drastis, ditinggalkan groupies-nya yang sebagian besar ibu-ibu, dan akhirnya lama sekali menghilang dari permukaan.

Sekarang, Aa Gym sudah kembali. Tapi Aa Gym yang ini bukanlah Aa Gym yang dulu lagi. Barangkali beliau sadar, gaya dakwahnya yang lama (santun, menyejukkan, dan berusaha menghindari isu-isu sensitif) sudah ndak relevan dengan segmentasi pasar saat ini. Umat sekarang seleranya dengan yang beringas-beringas. Segmennya ada, demand-nya besar. Mau ndak mau, Aa Gym harus beradaptasi. Karena dasarnya memang pebisnis, beliau pasti paham betul soal segmentasi pasar, perilaku konsumen, strategi marketing, positioning, dan branding.

Aa Gym yang sekarang, ndak malu-malu lagi meraba area sensitif. Beliau berani tampil konfrontatif. Ketika The Jakarta Post memuat karikatur tentang ISIS, Aa Gym berteriak-teriak ndak rela sampai bawa-bawa demi Alloh segala. Begitu juga terhadap Susi Pujiastuti, beliau ndak ragu-ragu menyoal perkara rokok dan tattoo menteri eksentrik itu. Setelah lama ditenggelamkan badai poligami, Aa Gym seperti berusaha keras menggapai-gapai apa saja yang bisa digapai demi kembali ke permukaan.

Sama seperti Line, Aa Gym butuh konsumen. Dan itu yang sedang diupayakannya sekarang, menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen yang sebelumnya sudah tersegmentasi oleh isu LGBT. Kepentingannya sama. Cuma niat, cara, dan segmen pasarnya saja yang berseberangan.

Dan omong-omong soal segmentasi pasar, semula saya pikir relasi yang terbangun antara Aa Gym dan Line ini memang saling bertentangan. Tapi kemudian saya sadar, Line dan Aa Gym baru bisa dikatakan benar-benar saling bertentangan seandainya masyarakat belum tersegmentasi, ndak lebih dari massa mengambang berhadapan dengan isu LGBT, konsumen yang masih harus diperebutkan. Kenyataannya, pro-kontra LGBT bukan sesuatu yang baru-baru ini saja terjadi. Sebelum Aa Gym menyatakan berhenti menggunakan Line, segmentasi pro-kontra LGBT sudah terbentuk dari dulu. Yang terjadi sekarang ini hanyalah sekuel dari polemik SGRC UI, filter rainbow flag di profile picture Facebook, dan episode-episode yang lebih lawas lagi.

Saya jadi kepikiran, relasi antara Aa Gym dengan Line (Twitter, Facebok, dan korporasi pendukung LGBT lainnya) yang seolah saling kontradiksi itu, sejatinya justru saling dukung. Line membutuhkan orang-orang seperti Aa Gym biar pendukung LGBT lebih solid dan gampang dikapitalisasi. Sebaliknya, Aa Gym butuh ‘antagonis’ seperti Line, biar orang-orang yang anti-LGBT merapatkan shaf untuk kemudian … bikin pengajian. Simbiosis antara Aa Gym dengan Line sebenarnya adalah mutualisme.

***

“Then why do you want to kill me?” Tanya Batman.

Cuma ada mereka berdua dalam ruangan itu. Itu adalah sebuah ruang segi empat, satu-satunya pintu terbuat dari baja dan terlihat berat, dinding dan atapnya dari beton yang sepertinya sengaja tidak dicat. Tak ada warna apa-apa selain warna beton itu sendiri. Di salah satu dinding, menempel cermin dua arah khas ruangan interogasi, beberapa polisi Gotham melihat mereka dari balik kaca ini. Batman dan Joker. Musuh bebuyutan ini akhirnya bertatap muka. Dan jarak dekat. Lebih dari itu, mereka berdialog. Barangkali ini dialog yang paling kuat dalam keseluruhan film The Dark Knight. Jawaban yang diberikan Joker lebih dari cukup untuk menjelaskan hubungan keduanya yang janggal. Bahwa Batman, musuhnya, sejatinya juga hal yang paling ‘berharga’ dalam hidup Joker. Melebihi apapun.

“I don’t! I don’t want to kill you. What would I do without you? Go back to ripping off mob dealers? No-no-no-no,” kata Joker.

“You …, you complete … me!”