Tentang Kenyataan

Di manakah letak kenyataan yang sebenarnya? Sebagian berpendapat, kenyataan adalah apa-apa yang tertangkap oleh indera, apa adanya. Ketika seorang wanita mendapatkan buah tangan dari kawannya, yang tampak nyata adalah buah tangan tersebut dengan ciri-ciri inderawinya; sapu tangan dengan rajutan merah di pinggir dan sulaman bintang bulan di tengah.  Sapu tangan itu adalah sapu tangan sampai kemudian sang kawan memberinya makna tanda erat persahabatan mereka. Bisa jadi si wanita salah sangka, jika kawan memberi perhatian sebagai tanda cinta.

Apapun makna yang ditawarkan keduanya, sapu tangan tetaplah sapu tangan. Atau bisa jadi si wanita tak memaknainya secara berlebihan. Sapu tangan adalah benda dengan berbagai guna. Si wanita menggunakannya untuk mengelap hidung saat beringus atau keringat saat panas menyengat. Ketika si kawan mengetahui perlakuan wanita atas sapu tangan pemberiannya, bisa jadi muncul lagi makna. “Yeah! dia ternyata suka. Suka padaku dan suka pada pemberianku. Buktinya, dia tak marah padaku. Ia juga merawat sapu tanganku. Langkahku akan semakin mudah berikutnya,” mungkin begitu pikir sang kawan. Begitu seterusnya, dugaan-dugaan atas sapu tangan akan tetap ada selama sang kawan tidak memberi tahu si wanita, apa sebenarnya maksud dibalik pemberian sapu tangan itu. Ketika pertanyaan itu terjawab, sudah pasti akan mengesampingkan dugaan-dugaan termasuk segala prosesnya, artinya dengan sendirinya proses penemuan jawaban akan terhenti.

Untuk benda bernama satu sapu tangan saja bisa muncul berbagai pikiran dan pemaknaan. Itu juga lebih mudah karena sang kawan, si pemberi sapu tangan bisa ditanyai secara langsung. Sang kawan adalah pemula, karena ia adalah sebab pertama dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelahnya. Ketika kita dekat dengan si pemula ini, tentu saja kita akan lebih mudah untuk mencari jawaban. Demikian halnya sang kawan adalah orang yang membuat sapu tangan. Ketika muncul pertanyaan tentang sapu tangan yang belum dimaknai atau apa adanya sapu tangan, lagi-lagi sang kawan tersebutlah yang paling bisa menjawab. Karena dengan perbuatannya sapu tangan itu menjadi ada.

Lingkungan sekitar kita bisa dikatakan kompleks. Ada banyak benda-benda serupa sapu tangan tetapi juga ada benda-benda (dan kejadian) yang jauh lebih kompleks sapu tangan. Seringkali kita tidak bisa mengidentifikasi si pemula dari suatu benda. Dengan demikian, kita akan terus menerus menduga-duga, sampai terjadi dialog yang asyik dari dugaan-dugaan tersebut. Dugaan-dugaan itu adalah buah dari rasa ingin tahu kita, sehingga kemudian berkembang menjadi apa yang kita sebut dengan ilmu dan pengetahuan. Juga mengenai apa adanya sapu tangan. Pemikiran mengenai apa adanya sapu tangan bisa jadi adalah penyederhanaan, agar kita semakin dekat dengan pemahaman lingkungan. Apa adanya yang terlepas dari dugaan-dugaan. Tetapi apa adanya saja tidak cukup karena sapu tangan memiliki hal-hal yang terbawa olehnya, seperti motif dari pembuat sapu tangan.

Motif dari adanya suatu benda seringkali luput dari perhatian kita. Motif tidak tertangkap oleh indera. Ketika ada gawai menawan di etalase toko, kita tahu jika gawai itu bermanfaat untuk membantu kita berkomunikasi. Pun ketika kita membelinya, bisa dijadikan sarana penguat eksistensi. Kebetulan struktur kita diciptakan demikian adanya. Entah siapa yang memulai, apakah benda atau struktur itu. Keduanya seakan berjalan saling menguatkan satu sama lain, hingga kemudian tersadar ada sekelompok manusia mencoba, tetapi belum mampu mendobrak kemapanan keduanya.

Barangkali kita harus jeli. Ada satu kelompok dalam struktur yang ternyata sangat kuat. Sedemikian kuatnya sehingga itu bisa mempengaruhi struktur itu sendiri. Kelompok inilah yang pandai membaca peluang, jika pengetahuan paling mudah adalah dengan melihat benda tersebut apa adanya, itulah materi yang sunyi tanpa dialektika. Benda-benda ditanamkan hingga tumbuh subur berkembang karena kelompok ini mampu mempengaruhi sisi yang paling efektif menanamkam pemikiran, yaitu pendidikan. Kini segala sesuatunya seolah menggurita untuk satu tujuan yaitu pemaknaan diri yang bersadar pada materi yang dimiliki. Pemaknaan yang hanya sampai pada milik ini membawa konsekuensi hubungan yang eksploitatif. Memiliki atau dimiliki; memangsa atau dimangsa.

Kondisi seperti itu berjalan terus-menerus, hingga seakan tidak ada yang salah darinya dan memang seperti itulah keadaan yang harus diterima. Oleh karena itu, untuk mencegah dan menanggulangi keadaan yang seperti itu, yang perlu dilakukan pertama-tama adalah membangun kesadaran yang berangkat dari pengalaman materi. Namun seperti yang dijelaskan sebelumnya, pengalaman materi saja tidak cukup. Untuk itulah pemberian nilai dan makna atas hal-hal material tersebut penting dilakukan, yang kemudian didialogkan. Pada akhirnya memang, kenyataan tidak cukup hanya tentang materi, melainkan mencakup juga nilai dan maknanya darinya.

Salam.