Jenaka dan Mendunia: Mengenal Eka Kurniawan, Murakami-nya Indonesia

Berani, membumi, dan jenaka, Eka Kurniawan mungkin adalah penulis Asia Tenggara paling ambisius di generasinya.

20160123_BKP003_1

Padat, semrawut, tak pernah mati, namun menawan, Jakarta dipandang bukan lagi sekadar sebuah kota, melainkan sebentuk kehidupan organik yang mendominasi bagian barat laut pulau Jawa. Jakarta punya lebih banyak penduduk daripada Australia; mereka mengirim lebih banyak tweet daripada penduduk kota-kota lain. Tetapi jutaan penduduk Jakarta lainnya masih tinggal di daerah kumuh yang dialiri listrik (curian) tapi tidak dialiri air. Kemacetan mengisi jalanan dari subuh hingga malam—‘kita tua di jalan’, begitu keluh para pengendara—dan orang-orang dari setiap sudut Indonesia berjejalan masuk ke setiap sudut kota ini.

Eka Kurniawan, novelis muda, tinggal di pinggiran Jakarta bersama istri dan putrinya. Kalau ia ada pertemuan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta jam 16.30, kemacetan menjadikannya mustahil untuk sampai di rumah sebelum jam 22.00. Jadi Eka dengan senang hati memilih untuk duduk-duduk dulu sambil menunggu. Dalam beberapa bulan terakhir ia tampil dalam festival-festival buku di Melbourne, Brisbane, Brooklyn, dan Frankfurt—di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan nasional. Tahun lalu, penerbitnya di Amerika, New Directions, membawanya berkeliling dalam tur buku di enam kota di Amerika. Benedict Anderson, dari Cornell University, yang terkenal akan studinya tentang Asia Tenggara (dan baru saja wafat), menyebutnya sebagai “novelis dan cerpenis paling orisinil di Indonesia saat ini” dan menganggapnya sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer, penulis karya realisme-sosial “Tetralogi Buru” sekaligus novelis Indonesia terbaik sepanjang masa menurut banyak kalangan.

Di usianya yang tahun ini menginjak 40 tahun, Eka telah menulis empat buku kumpulan cerpen dan tiga novel, yang dua di antaranya telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris: “Cantik Itu Luka” (“Beauty is a Wound”) oleh penerbit New Directions—yang telah diterbitkan dalam 27 bahasa dan masuk dalam delapan daftar buku terbaik internasional tahun 2015—dan “Lelaki Harimau” (“Man Tiger”) oleh penerbit Verso—yang masuk nominasi penghargaan Man Booker International tahun 2016. Hak cetak berbahasa Inggris untuk novel ketiganya, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” (“Love and Vengeance”), belakangan telah dikantongi penerbit New Directions dan Pushkin Press untuk tahun 2017.

Eka tidak pernah kelihatan terbebani dengan ekspektasi orang lain. Kecil, langsing, dan berkacamata, dengan pembawaan bijak dan senyum lebar, ditambah gaya ngobrolnya yang bebas, santai, dan tak pernah kelihatan serius layaknya penulis, ia kelihatan jauh lebih muda dari usianya. Eka berasal dari tanah Sunda dan tumbuh besar di kota kecil di Jawa Barat, yang ia gunakan dalam “Cantik Itu Luka” sebagai model untuk menggambarkan Halimunda dan menjadikannya suatu prisma yang memfilter dan membiaskan sejarah Indonesia—layaknya dalam novel-novel karya William Faulkner. Ia pernah membuka toko cinderamata seperti Kliwon, tokoh pemberontak yang manis, cemerlang, dan penuh tekad dalam novel yang sama.

Saat sedang tidak mengerjakan novel, Eka blogging dan menulis untuk acara televisi—“sinetron, atau apapun yang mereka order untuk saya”. Seperti banyak penulis, ia berkata, “Saya selalu berpikir untuk melakukan hal lain. Tapi pada akhirnya saya duduk dan kembali menulis.” Dan lagi-lagi: bukunya berjudul “O”—sebuah fabel yang menurutnya terinspirasi dari novel “Animal Farm” karya George Orwell”—akan terbit dalam bahasa Indonesia di tahun ini.

Dua bukunya yang tersedia dalam bahasa Inggris sangat jauh berbeda. “Cantik Itu Luka”—diceritakan dari sudut pandang para gangster, pemberontak, pelacur, dan penggali kubur di Halimunda—sedikit banyak mencakup sejarah Indonesia sejak akhir periode kolonial hingga 31 tahun pemerintahan presiden kedua Indonesia, Suharto. Novel tersebut dibuka dengan kalimat sublim “Di suatu siang di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburnya setelah mati selama 21 tahun”. Eka mengatakan bahwa ia banyak menghabiskan masa mudanya membaca sastra picisan—stensilan yang berisi seks dan kekerasan, dan karyanya banyak mengandung keduanya.

Eka menentang pendapat bahwa “Cantik Itu Luka” memfiksikan sejarah: “Saya mencoba berlelucon tentang novel sejarah,” katanya, “dan leluconnya adalah bahwa kita tidak bisa punya novel sejarah”. “Cantik Itu Luka” bukan tentang sejarah Indonesia, melainkan tentang karakter yang diterpa sejarah tersebut. Dari cakupan dan caranya menyulam kisah fantasi maupun kisah sehari-hari, “Cantik Itu Luka” banyak mencomot gaya Gabriel Garcia Marquez, meskipun realisme sihir Eka jauh lebih membumi dan tidak terlalu liris dibandingkan penulis asal Amerika Latin tersebut (ironisnya, satu-satunya karakter yang mampu memanfaatkan sihir untuk keuntungan pribadi adalah Kliwon, seorang komunis yang mengingkari agama dan hal-hal gaib).

Buku keduanya, “Lelaki Harimau”, lebih ramping dan lebih cepat untuk dibaca—suatu kisah misteri pembunuhan yang dibuka dengan kalimat yang justru mengungkapkan siapa pembunuh dan korbannya. Bahkan motif pembunuhannya pun bukan rahasia. “Lelaki Harimau” adalah suatu testamen atas bakat Eka sebagai pencerita, khususnya atas kemampuannya membumbungkan ketegangan lalu menebarnya sehingga kita akan terikat untuk terus membaca. Margio, si protagonis, dibuat layaknya Raskolnikov dari Jawa (Raskolnikov adalah protagonis dalam “Crime and Punishment” karya Dostoyevsky), walaupun secara teknis harimau putih dalam diri Margio lah yang membunuh, bukan Margio sendiri. Eka menyebut “Lelaki Harimau” adalah bukunya yang paling personal: “Ada kesamaan antara saya dan Margo… Di Indonesia kita terbiasa menyimpan amarah, kita terbiasa menekan emosi, tetapi pada akhirnya… sang harimau akan muncul dan kita tidak tahu bagaimana mengendalikan harimau ini.”

Perhatian Eka terhadap hal-hal personal alih-alih politis, dan penolakannya terhadap realisme konvensional dalam “Cantik Itu Luka”, membebaskan ruh realisme-sosialis ala Pramoedya. Menuliskan kisah menuju akhir kolonialisme, yang paling diinginkan Pramoedya adalah sebuah identitas bagi masyarakat Indonesia. Jika ia adalah Zola-nya Indonesia, maka Eka mewujud jadi Murakami-nya Indonesia: menatap perihal sosial dari suatu sudut alih-alih membahasnya empat-mata, namun tetap dengan surealisme dan ironi jenaka berdosis tinggi.

 

***

 

Post Scriptum:

Ini adalah terjemahan artikel “Burning Bright” yang diterbitkan oleh The Economist tanggal 23 Januari 2016.

  • Pingback: Komunisme - Birokreasi()

  • http://atmonadi.wordpress.com atmoon

    heran banyak yg muji eka ya , padahal menurut saya ia cuma meramuracik khoo ping ho, enny arrow, abdullah harahap dengan gaya bahasa pram