Star Wars: A Nostalgia, Far, Far Away

Star Wars: The Force Awakens

Menonton “Star Wars” adalah serupa menonton sejarah dunia sendiri. Kisah peperangan abadi antara yang baik dan yang jahat telah tertulis pada kitab-kitab suci sejak ribuan tahun lalu. Ribuan biografi, legenda, serta mitos tentang orang-orang biasa yang menjadi pahlawan sudah pernah kita dengar dari zaman dulu. Cerita tentang kelompok militan yang muncul dari inkompetensi pemerintah pun bisa kita saksikan hari-hari ini di Irak dan Afghanistan. Jika disandingkan dengan “Return of the Jedi” dan “A New Hope”,  “Star Wars Episode VII: The Force Awakens” garapan J. J. Abrams sesungguhnya hanyalah sebuah daur ulang dari cerita-cerita yang berkali-kali muncul sepanjang sejarah peradaban manusia.

“The Force Awakens” mengambil latar 30 tahun setelah matinya Darth Vader dan kekalahan Empire pada peperangan Endor. 30 tahun setelah menangnya Rebel Alliance, muncul ancaman baru di galaksi nun jauh di sana.

Pada trilogi prekuel “Star Wars”, diceritakan bahwa Palpatine dan Vader berkuasa akibat terlalu abainya Republik. Begitupun First Order dan Knights of Ren pada “The Force Awakens” muncul dalam vakum kekuasaan. Ini adalah konsekuensi dari gagalnya Republik yang baru menjaga perdamaian dalam situasi kacau pascakonflik.

Bahkan kita bisa melihat secuplik kisah ISIS pada First Order ini, sebuah grup teror yang terbentuk dari fragmen-fragmen kelompok musuh yang tak tertumpas habis. Sama seperti ISIS dengan Abu Bakar Al-Baghdadi, First Order dipimpin oleh seorang demagog bernama Supreme Leader Snoke (Andy Serkis), dengan dua tangan kanannya General Hux (Domnhall Gleeson) dan Kylo Ren (Adam Driver). Kedua kelompok ini memiliki visi yang sama fasisnya dengan kelompok yang sebelumnya kalah perang, yakni menyatukan semua wilayah di bawah pemerintahan satu pemimpin yang sejati. Mereka juga merekrut dan mencuci otak anak-anak menjadi serdadu perang yang siap mati.

Musuh First Order adalah Resistance, sisa-sisa pejuang Rebel Alliance yang dipimpin putri-yang-kini-jadi-jenderal Leia Organa (Carrie Fisher). Sama dengan Free Syrian Army, lawan ISIS, Resistance bukanlah bagian dari pemerintah. Namun, saat pemerintah tak sanggup melawan, perang memaksa mereka untuk ikut berjuang melawan musuh pemerintah. Mungkin ISIS akan benar-benar mirip First Order ketika ISIS akhirnya punya akses ke senjata pemusnah masal, seperti nuklir.

Lalu siapa pahlawannya? Dalam trilogi awal “Star Wars”, kita melihat tokoh seperti Luke Skywalker (Mark Hamill) si anak pengumpul embun dari Tattooine, atau Han Solo (Harrisson Ford) si penyelundup cum tukang tipu. Begitupun para pahlawan pada “The Force Awakens”. Mereka adalah contoh klasik kisah motivasi from zero to hero. Dalam “The Force Awakens”, Rey (Daisy Ridley) adalah pemulung onderdil rongsokan pesawat dari planet Jakku. Finn (David Boyega) adalah bekas Storm Trooper yang bertobat karena tak tahan dengan kegemaran First Order menembaki orang-orang tak berdosa.

Kendali plot dari “The Force Awakens” pun tak berbeda amat dengan “Star Wars” versi awal. Sebuah benda penting (dulu cetak biru Death Star, sekarang peta keberadaan Luke Skywalker), diselundupkan pada unit android (dulu R2-D2, sekarang BB-8), kemudian jadi rebutan kedua belah pihak (dulu Rebel Alliance v. Galactic Empire, sekarang Resistance v. First Order.) Bahkan ketika “Star Wars” dilihat sebagai sebuah kesatuan sinematik, sesungguhnya ia tak lebih hasil comotan George Lucas dari berbagai karya terdahulu. Sebut saja: Dune-nya Frank Herbert, Foundation-nya Isaac Asimov, serial “Flash Gordon” pada tahun 1940-an, serta film-film Akira Kurosawa seperti “The Hidden Fortress” dan “Thrones of Blood” (yang juga dicomot oleh Kurosawa dari Macbeth, karya Shakespeare). Inilah sifat paradoksikal dari “Star Wars”. Meskipun sejatinya ceritanya sama sekali tidak orisinil, banyak dari kita begitu menyukainya dan menunggu-nunggu kehadirannya. Meskipun tak seartistik dan sebagus karya Kurosawa, “Star Wars” dan elemen-elemen di dalamnya (seperti lightsaber, seragam Storm Trooper, atau pesawat Millenium Falcon) justru menjadi sesuatu yang lebih intim dan familiar dalam kehidupan kita.

Paradoks ini mungkin bisa kita pahami dari sisi psikologis kita sendiri.  Kita nampaknya menggemari “Star Wars” sama seperti kita menggemari dongeng semasa anak-anak. Kita menggemari pelajaran tentang kebaikan melawan kejahatan yang dikisahkan dengan cerita yang sederhana. Kita tidak mempertanyakan mengapa Luke atau Rey adalah pihak yang baik, atau Harry Potter atau Frodo adalah pihak yang baik—seperti Abraham/Ibrahim hendak menyembelih anaknya sendiri atas perintah Tuhan, yang kita tahu, mereka orang baik yang punya tujuan baik yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Tak perlu ada kompleksitas moral. Tak perlu ada karakter yang multidimensional. Star Wars bisa jadi adalah seperti antitesis terhadap serial-serial populer yang dianggap “berat” dan “kompleks” seperti “Game of Thrones”. Ia adalah “The Avengers” bagi “The Dark Knight”. Dan Hollywood tahu, keduanya sama-sama bisa dikapitalisasi. Saat yang satu dijual untuk menarik sisi dewasa kita, yang satu dijual untuk menarik sisi kanak-kanak kita. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan menonton film-film  seperti “Star Wars” ini, kini telah dewasa dengan pundi-pundi uang yang penuh namun batin yang haus akan nostalgia.

Film, wabil khusus film-film Hollywood, merupakan anak-anak kapitalisme. George Lucas paham benar tentang hal ini ketika ia menjual hak milik atas franchise “Star Wars” kepada Disney, yang notabene sang kapitalis terbesar yang hidup dari sifat kanak-kanak manusia. Harga bagi hak untuk mengeksplotiasi sifat kanak-kanak manusia ini tak tanggung-tanggung, empat milyar dolar. Empat milyar dolar mungkin harga yang murah jika dibandingkan dengan penjualan tiket dan mainan-mainan “Star Wars” selama bertahun-tahun ke depan. J. J. Abrams pun mahfum bahwa nostalgia bisa laris dijual. Ia pernah menyutradarai dua film daur ulang dari “Star Trek”, salah satu franchise fiksi-sains yang paling populer di samping “Star Wars”. Walaupun mungkin secara plot buruk, fakta bahwa nostalgia bisa tetap laris dijual ternyata terbukti benar. “Star Trek” tetap laris di pasaran. “Jurassic World” (sekuel “Jurassic Park”) memecahkan pendapatan di atas satu miliar dolar. Film-film “Transformers” arahan Michael Bay—yang sesungguhnya tak memiliki plot, hanya ledakan—secara kolektif menjadi salah satu franchise film terlaris sepanjang masa. Oleh karena itu, membicarakan aspek-aspek artistik dari “Star Wars” sesungguhnya tidaklah penting. Membicarakan bagaimana sesungguhnya “The Force Awakens” hanyalah sebuah daur ulang yang formulaic juga tidaklah penting, sebab yang kita nikmati dari “Star Wars” bukanlah film sebagai karya seni dengan tetek-bengek artistiknya, tetapi film sebagai pemuas rasa nostalgia.

Meskipun demikian, beberapa apresiasi layak diberikan kepada Abrams. Salah satunya, Abrams memakai wanita sebagai pahlawan utamanya. Finn bagi saya bukanlah protagonis, hanya deuteragonis yang membantu Rey. Di sisi lain, Finn, yang berkulit hitam bisa dibilang adalah hal yang progresif pada karya pop culture, setelah Nick Fury (yang sebenarnya berkulit putih pada komik Marvel) diperankan oleh pria Afro-Amerika, Samuel L. Jackson.

Dalam beberapa hal, karakter Finn, Rey, dan pilot X-Wing Fighters, Poe Dameron (Oscar Isaac) tidak se-unidimensional Luke, Leia, dan Han Solo. Setidaknya, Finn dan Rey digambarkan dengan motif personal, konflik batin, dan masa lalu walaupun hanya secuplik. Bisa dibilang, karakter-karakter yang ada dalam Luke, Leia, dan Han Solo (bahkan selera humor C-3PO) bercampur pada Finn dan Rey. Absennya figur kebapakan yang bijak (seperti Qui-Gon Jinn atau Obi-Wan Kenobi) sebagai pembimbing moral bagi Rey dan Finn justru semakin memperkuat karakterisasi mereka berdua. Ada pula upaya untuk lebih menghumanisasi Storm Trooper, serdadu yang pada film-film terdahulu hanya berfungsi seperti robot tanpa emosi. Dengan demikian, menurut saya, Abrams dan Lawrence Kasdan sebagai penulis naskah melakukan kerja yang lebih baik daripada keenam film Star Wars terdahulu dalam membikin penokohan. Dari segi teknis, Daniel Mindel dan timnya menggunakan Computer Generated Imagery (CGI) dengan pas. Hasilnya adalah adegan-adegan perang udara dan duel lightsaber yang dikoreografikan dan dicitrakan secara rancak, sehingga dapat menjaga aksi tanpa menjadi terlalu overwhelming.

“The Force Awakens” adalah sebuah hiburan yang menyenangkan. Dan di tahun-tahun mendatang, dua sekuel (“Episode VII” dan “Episode IX”) serta satu film spin-off (“Rogue One”) siap dijual kepada kita. Kemudian, sekali lagi, kita tak akan peduli terhadap kapitalisme a la Disney, atau bahwa film-film tersebut nantinya akan mengikuti formula yang terus diulang. Kita tak akan peduli bahwa semesta “Star Wars” hanya dibangun dengan peperangan demi peperangan akibat Force—kekuatan demiurge yang melingkupi jagad raya itu—sedang berusaha mengembalikan keseimbangan pada dirinya. Kita tak peduli pada fakta bahwa “Star Wars” adalah film tentang genosida di luar angkasa. Kita tetap bersorak hip-hip-hore meskipun ratusan ribu, atau mungkin jutaan makhluk juga menjadi korban dari serangan militer yang dilakukan oleh pihak-pihak yang dianggap baik. Persetan dengan moralitas. Persetan dengan realitas. Film-film yang mengglorifikasi perang dan militerisme sama menjualnya dengan nostalgia. Celakanya, keduanya ada dalam serial “Star Wars” ini. Maka tepatlah kata Jean Baudrillard tentang hiperrealitas sinema yang begitu membius. Pada akhirnya yang kita pedulikan adalah bahwa di galaksi nun jauh di sana ada dunia yang serba tak logis yang menawarkan petualangan. Dan kita semua akan kembali memasuki gedung bioskop sebagai kanak-kanak, sebagai infantil. Sampai kapan? Mungkin sampai Force—dan kapitalisme itu sendiri—hancur. Atau mungkin saat kita semua tumbuh menjadi orang-orang tua yang membosankan.

Long live the Force! May the Force be with you.