Nikita adalah Kita

Duduk bersila di atas kursi berbusa, membelakangi meja kerja, menatap ke luar jendela, melihat romantisnya rembesan awan yang membasahi kota pensiunan. Aku merasa mulai dipeluk kantuk. Pipi kanan bersandar pada telapak tangan, siku menancap mantap di atas lengan kursi yang agak kenyal, dan sepasang mata jatuh tigapuluh derajat dari garis horizontal. Oh Tuhan, sejuknya kota ini. Apakah di situ, anak-anak SMA 7 dan SMA 1 dekat kantorku, sedang riang gembira berteduh bersama teman dan pacarnya, menunggu hujan reda untuk pulang ke hangatnya coklat di rumah kerabat dan keluarga?

Oh Tuhan, kabulkan doaku. Kantuk ini, aku ingin sekali tidur, tidur dalam rumah suci-Mu. Tidur di antara kaligrafi dan arsitektur yang dibangun dengan gotong-royong dan uang sumbangan masyarakat, termasuk beberapa saudagar kaya yang tak peduli pada tetangganya yang terlantar, terlunta-lunta, terlilit utang, dan tak sanggup memiliki harapan apa-apa tahun baru nanti, hingga yang tak ada opsi dan terpaksa menjual diri. Tuhan, bawalah aku terlelap dalam rumah suci-Mu hingga bermigrasi ke dimensi alam mimpi.

Ketika terbangun oleh suara beduk dan adzan, NM tengah duduk dan tersenyum manis di sampingku. Setelah salat, kami berbincang lama di emperan masjid hingga malam larut oleh pekatnya langit. Saatnya kami istirahat, rumah suci-Mu tak jauh dari tempatku merebahkan badan. Tapi bagaimana dengan NM, Tuhan? Dia datang dari tempat yang jauh, menembus terik dan hujan sendirian. Apakah rumah suci-Mu itu begitu angkuh untuk memperbolehkannya sekadar bermalam di dalam?

Pagi hari, aku bertemu dengan NM. Dia berdiri di depanku saat jemariku sedang mencumbu tali sepatu. Ibu dari dua anak ini pasrah, arah bicaranya terbata-bata, binar pupilnya pun seolah telah kalah. Bara di sudut hati kecil yang terbalut tubuhnya yang indah, kini telah padam oleh tumpahan air dari semua arah. Bibir lembutnya sedikit terbuka, bersuara lirih, entah mendesah, entah terengah-engah,

“Sepertinya ini adalah akhir dariku. Bisakah kutitipkan mereka berdua padamu? Tolonglah. Peluk, lindungi, dan didik mereka. Dunia ini kejam, sedangkan jalan mereka masih panjang,” ujarnya.

Aku masih duduk termangu, memastikan apa ia sedang bercanda. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum ke arahnya. Ia balas tersenyum.

“Aku akan kembali ke sini tiga hari lagi. Mereka baik, tidak akan nakal, mungkin hanya sedikit usil mirip dirimu. Sampai jumpa,” ia membalikkan badan, tanpa jabat tangan seperti telah intim dalam keakraban. Seolah ini bukanlah perpisahan. Rambut hitam panjangnya terurai, mengalun lembut dari kiri ke kanan. Dia berjalan tergesa ke pinggir jalan, membuka pintu taksi yang sudah terparkir sedari tadi. Beberapa detik, ia sudah pergi.

Kulihat jam, gawat aku akan terlambat! Tiga menit lagi, kupaksakan untuk berlari. Tiba di persimpangan, tepat di sebelah kiri, tiba-tiba aku dihantam keras oleh sepeda motor yang panik karena ada razia polisi. Tubuhku terkulai lemah ke tanah, bersimbah darah. Mataku masih terbuka, terlihat langit dan awan. Barangkali aku masih setengah sadar, ada pohon, ada teriakan, ada tukang sapu jalan, ada bayang siluet NM, ada bisikan Tuhan. Lalu semua gelap, aku seperti berada di antara sadar dan tidak.

Bisakah kita berhenti mempermainkan perasaannya? Tentu akan mudah bagimu, kawan, menjalani sebuah siklus hidup yang lahir dari keluarga baik, tumbuh dan berkembang hingga dewasa dalam kondisi hunian dan keuangan yang mapan. Juga jauh dari jangkauan-jangkauan zona setan.

Engkau mungkin tak sadar, Kawan, setiap bulir nasi yang engkau santap hangat tiap pagi, gabahnya diantar oleh sopir yang hanya mampu membayar jasa perlendiran murah di sudut-sudut gelap untuk melepaskan libido mereka. Mereka, sopir-sopir yang dipaksa merasa tak memiliki asa untuk berkeluarga, karena tidak masuk klasifikasi stereotipe pria sukses di dunia kerja. Barangkali di mata buruh-buruh kelas menengah berkerah putih, mereka juga cuma berstempel sebagai buruh pemalas yang tak pantas bergaji tinggi. Yang mengantarkan beras-berasmu, yang tak pernah kau pedulikan. Siapa pun mereka, hanya mampu bergelut dengan pinggiran prostitusi, untuk sekedar menghibur diri di tengah kejam dan tidak bersahabatnya negeri ini.

Hidupmu enak ya, kawan, tak perlu memikirkan besok jatah apa yang mesti dimakan. Bisa tidur nyenyak di malam hari, lalu bangun pagi, menyantap hangatnya nasi yang telah tersaji, sembari menyalakan acara gosip selebriti di televisi. Berangkat kerja ke tempat ber-AC sambil memijat gadget untuk ikut guyup meramaikan festival penistaan sosok NM biar makin viral. Seolah NM dan perempuan lain yang terpaksa berada di lingkar prostitusi, tak lebih dari seonggok daging busuk yang najis lagi hina. Hanya halal untuk dibully, diintimidasi, serta didiskriminasi. Tapi haram mendapatkan pasangan pria yang baik, haram mendapatkan perlakuan dan kehidupan yang layak, dan fardhu ‘ain untuk membenamkannya dalam neraka selama-lamanya. Tak pernah sedikitpun terbesit kepedulian dalam relung hatimu, kenapa bisa seperti itu.

Nikita adalah kita, kawan. Yang bertampang alim, yang akhir-akhir ini tiba-tiba sok suci, yang sama sekali tak memiliki rasa peduli, tapi diam-diam menggandakan film yang dibintanginya secara gratis untuk bahan coli. Alih-alih mengulurkan tangan kepada para wanita penjaja tubuh, kita masih saja sibuk dengan urusan wagu dan tidak mutu macam hijaber-hijaber itu. Kita tak pernah sudi menyisihkan rezeki untuk mereka, yang terlilit riba, yang terjebak dosa, yang terlahir dan tumbuh tidak seberuntung kita.

Apakah bagimu Nikita adalah wanita yang hina? Jika iya, aapakah engkau tidak hina? Karena Nikita adalah kita, wujud hasil kebiadaban kita. Namun bagiku, ia adalah dan tetaplah seorang ibu dari dua anaknya yang masih kecil dan memerlukan kasih sayang. Wahai Mbak Nikita yang pijakan telapak kakimu terdapat aliran sungai surga, abaikan para netizen dan tetaplah tabah menghadapi semuanya, meskipun dunia sedang berpaling darimu dan engkau terpuruk tak berdaya. Di sini, aku tetap mendoakan yang terbaik, terkhusus Dek Laura dan Dek Azka. Bahwa sesungguhnya cinta yang istiqomah adalah cinta yang tidak goyah karena marah ataupun salah.

Post Scriptum:

NM paragraf 3 untuk Nabi Muhammad

NM paragraf 4 dan seterusnya untuk Nikita Mirzani

Farid Hilmi R.

Antek Tuhan