Berilmu tanpa Rasa Takut

Seorang rektor pertama-tama dipilih karena keberaniannya. Keberanian menjaga kehormatan lembaga pendidikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam hal kehormatan lembaga pendidikan, seorang rektor pantang melakukan penyimpangan (fraud). Sebab bila ia terperosok dalam kerlingan pesona duniawi, dampaknya bakal struktural, sistematis, dan masif. Dan hukumannya harusnya berkali-kali lipat dibanding penyimpang biasa. Ini soal pendidikan, Bung, jangan main-main.

Seorang rektor—ini juga berlaku buat kaum terpelajar lainnya—berkewajiban pula untuk mengembangkan ilmu pengetahuan hingga batas yang sejauh-jauhnya. Ilmu pengetahuan tidak untuk diperdagangkan, Bung, tapi dikembangkan. Peran minimal yang bisa dilakukan seorang rektor demi pengembangan ilmu pengetahuan adalah menjaga supaya segenap ikhtiar pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan di dalam lembaganya berlangsung lancar, tanpa rintangan apa pun juga. Dimulai dengan pencarian, pembebasan, lalu diakhiri dengan pencerahan; itulah kredo ilmu pengetahuan.

Peristiwa yang melibatkan dua rektor dari dua perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah beberapa waktu belakangan tidak menunjukkan adanya keberanian itu. Di era reformasi yang penuh kebebasan dan keterbukaan seperti sekarang—di mana, bahkan, orang mengatakan, sang kebebasan sudah kebablasan—ternyata masih ada rasa takut. Dan rasa takut itu justru tumbuh di lingkungan kampus: dunia yang seharusnya steril dari pelbagai macam rasa takut.

Saya tak mengerti bagaimana seorang rektor di Salatiga mengumbar rasa takutnya ke mana-mana hanya karena tulisan mahasiswanya sendiri. Yang membuat saya semakin tak mengerti, bagaimana bisa seorang rektor di Semarang tak mau kalah dan mengumbar rasa takutnya dengan melarang diskusi mahasiswa yang dilakukan sembari ngopi-ngopi. Adakah yang menakutkan dari kegiatan ngopi-ngopi? Minum secangkir kopi tidak akan membuat Anda teler dan berurusan dengan polisi, bukan?

Ternyata pangkal soalnya bukan terletak pada apakah minum kopi dapat membuat teler atau tidak, melainkan pada tema diskusi itu. Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan, tulis wartawan Tempo.co (13/11/2015), gagal menggelar diskusi dengan tema lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sebabnya, pihak Dekanat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro mendapat tekanan dari ormas tertentu. Lebih jauh, tulis wartawan The Jakarta Post (13/11/2015), pelarangan itu merupakan instruksi langsung dari Rektor Universitas Diponegoro yang mengatakan bahwa LGBT adalah tema sensitif dan rentan dibelokkan pihak tertentu ke arah yang tidak baik.

Bagaimana bisa seorang rektor mengumbar kecurigaan yang sama sekali tak ilmiah semacam itu? Kita bisa mengendus rasa takut hanya dari ujaran kalimatnya, begitu seseorang pernah berkata, entah dari masa lalu entah dari fiksi yang saya baca. Tambahan lagi, si rektor juga menyinggung soal ajaran agama. Seingat saya, Universitas Diponegoro adalah lembaga pendidikan dan bukan lembaga keagamaan. Sungguh, institusi pendidikan tinggi macam apa yang mendadak paranoid hanya karena ormas tidak jelas. Kalau lembaga yang menjunjung tinggi rasionalitas saja belum-belum sudah ciut nyali oleh sesuatu yang irasional, apa kabar dunia pendidikan kita?

Sudahlah, gadis manis dari suatu tempat yang jauh menepuk bahu saya. Kalau sudah begitu, ya begitulah, katanya lembut. Mari kita ngobrol soal film saja.

The Imitation Game (2014) adalah film tentang seorang pahlawan utama Perang Dunia II. Kalau Anda membayangkan pahlawan yang saya maksud itu berseragam, bersenjata, dan militer sekali begitu, berarti Anda keliru. Pahlawan utama Perang Dunia II, paling tidak menurut film ini, justru bukan manusia yang memanggul senjata dan bertarung dan menggunakan insting hewani dasariahnya untuk membunuh sesama, melainkan dia yang bekerja di atas meja, berjuang untuk menciptakan mesin yang dapat memecahkan kode-kode. Mesin yang mampu berpikir selaiknya manusia.

Alan Turing (Benedict Cumberbatch), pahlawan itu, meraih gelar doktor pada Matematika di Universitas Cambridge pada usia 24 tahun. Ia kemudian bekerja pada Bletchley Park, sebuah badan kriptografi yang menyaru jadi sebuah pabrik radio, pada 1939. Alan memimpin suatu tim yang diserahi tugas rahasia untuk memecahkan kode-kode Enigma, mesin yang digunakan tentara Jerman (NAZI) untuk saling berkomunikasi.

Konflik demi konflik disajikan Morten Tyldum dalam film yang diangkat dari buku karangan Andrew Hodges, Alan Turing: The Enigma, itu. Misalnya saja soal betapa angkuh dan arogannya sikap Alan dalam memimpin tim sehingga menumbuhkan rasa ketidaksukaan dari para anggotanya. Kehadiran Joan Clarke (Keira Knightley) membuat segalanya jadi lebih mudah. Berkat Joan, Alan berhasil mengakrabi rekan-rekannya dan hal ini benar-benar mempermudah pekerjaan.

Konflik juga muncul antara Alan dan Alastair Denniston (Charles Dance), komandan militer pemimpin Bletchley Park. Kucuran dana seratus ribu poundsterling tanpa hasil apa pun membuat Alastair gusar. Hanya karena dukungan rekan setimnyalah Alan diperkenankan untuk bertahan.

Konflik selanjutnya melibatkan Alan dengan Joan, kendati kritikus mengatakan hubungan mereka secara riil tak pernah sedekat itu. Pada mulanya Alan nekat melamar Joan agar dia terus berada di tim. Akan tetapi Alan kemudian memutuskan pertunangan itu dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang homoseksual alias gay. Joan tak bergeming sedikit pun dan memutuskan untuk terus bekerja bersamanya hingga Mesin Turing berhasil mengakhiri perang dengan cara yang tak disangka-sangka.

Ada yang bilang, pengalaman masa kecil berpengaruh pada diri seorang gay. Alan adalah contoh kecilnya. Ia memiliki kawan dekat bernama Christopher yang kepadanya ia betul-betul jatuh cinta. Hingga Christopher mati muda lantaran TBC, kecintaan Alan padanya tidak pernah hilang dan ia pun menjadi seorang homoseksual. Pada masa itu, di Inggris, homoseksualitas adalah tindak kriminal. Alan Turing pun dihukum dengan obat-obatan untuk menormalkan kembali hormonnya. Ia benar-benar tersiksa dan sindrom Asperger pun menyerangnya. Namun, Joan Clarke yang datang untuk menghiburnya berkata, “Dunia menjadi tempat yang lebih baik justru karena kau tak normal.”

Pada 7 Juni 1954, profesor brilian yang mempersingkat perang lebih dari dua tahun dan peletak dasar teknologi komputer itu wafat bunuh diri dalam usia 41 tahun. []