Yang Kucinta Bukan Jodohku

Kalau kalian melihatku saat itu, barangkali kalian akan menemui laki-laki yang sedang tertegun di salah satu kursi tamu. Tak bergerak. Diam membisu. Tak sepatah kata pun yang keluar dari sela-sela bibirnya. Tatapannya kosong. Pikirannya menerawang.

Aku sedang memikirkan jawaban apa yang harus aku sampaikan kepada ibu gadis pujaan hatiku, Mawar, tapi semua terlihat seperti jalan buntu. Hubunganku dengan Mawar sudah berjalan lebih dari enam tahun, sejak dia baru naik kelas dua di salah satu SMA Negeri di Cirebon, hingga kini lulus kuliah. Usiaku selisih setahun dengan Mawar. Selama ini, hubungan kami belum mengarah ke tahapan yang lebih serius. Aku masih sangat muda, belum genap 23 tahun, dan baru menata jalan hidup. Beberapa pekerjaan sudah pernah kucoba namun tak sesuai harapanku. Kali ini aku baru saja diterima di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di Jakarta.

Kapan kamu melamar anak saya?”

Aku bahkan masih dalam masa ‘percobaan’ di perusahaan ini ketika tiba-tiba pertanyaan yang tak siap kuhadapi itu meluncur dari bibir ibunya.

“Jika aku harus bertunangan dengan anak ibu sekarang, terus terang aku tidak siap. Namun jika aku harus menikah dengan Mawar, aku siap. Tentu sesuai dengan kondisiku saat ini, aku baru diterima bekerja, dan adikku masih butuh biaya buat sekolahnya,” jawabku lancar, penuh keyakinan.

Entah dorongan apa yang menyebabkan aku bisa berkata selancar itu. Yang jelas, itu jawaban terbaikku. Perasaanku lega, seperti melepaskan beribu beban yang menghimpit hidupku akhir-akhir ini. Aku pamit dan pergi merantau, meninggalkan Mawar ke Jakarta. Meraih jalan hidupku.

***

“Aku sayang kamu, Ardie. Aku takut kehilangan kamu,” ucap Mawar.

“Aku juga, Nok,” jawabku sambil menatap matanya yang teduh.

Nok adalah panggilan sayangku kepadanya.

“Sekarang aku takut,” ungkapnya

“Kenapa? Apa yang kamu takutkan?”

“Aku telah lulus SMA, aku berpisah dengan teman-temanku. Dan sekarang, aku takut berpisah denganmu juga.”

Matanya mulai sembab. Perlahan, butiran air mata menetes di pipinya. Bisa kurasakan beban itu menyesaki dadanya.

“Perpisahan ini hanya sementara. Aku ke Jakarta hanya untuk mengejar mimpiku, mencari jalanku agar kita bisa bersatu dalam pernikahan. Sementara itu, kamu juga harus mengejar mimpimu, kuliah di Bandung, agar dapat membahagiakan orang tuamu. Ini episode yang harus kita lewati. Jika saatnya tiba, aku yakin semua akan indah pada waktunya,” aku mencoba menenangkannya.

Kuusap kedua pipinya, isaknya mulai reda.

“Hari sudah sore, aku antar kamu pulang ya?”

Mawar mengangguk. Kami beranjak dari tempat kami, menuju rumahnya. Mawar menggandeng tanganku erat.

***

“Ardi, aku lulus dengan Cumlaude,” teriak mawar di ujung telepon, “bisakah kamu hadir di acara wisudaku?”

“Benarkah? Selamat ya, Nok. Aku pasti hadir. Tunggu saja.”

“Makasih, Sayang. Kutunggu ya.”

***

Besok adalah hari wisuda Mawar. Segera kutelepon seorang kawan karibku yang ada di Bandung, menanyakan tempat wisudanya, dan aku berniat untuk menginap di kosannya.

“Aku mau ke Bandung nih, kasih alamatmu dong. Selepas kerja aku langsung berangkat ke kosanmu ya?”

“Gampang kok. Kamu turun saja di Pintu Tol Padalarang, lalu naik angkot arah Cimahi. Nanti aku jemput di depan pabrik susu. Ada acara apa nih? Kok tumben mendesak banget sepertinya?”

“Mawar besok wisuda di Ledeng. Jarak kosanmu dengan Ledeng jauh ga?”

“Ooo … masalah cewek toh? Mawar yang mana ya? Yang waktu SMA itu? Aku pikir sudah putus hehehe.”

“Ya, Mawar yang itu. Gimana? Jauh ga?”

“Deket kok. Paling sejam juga sampai, asal pagi-pagi banget perginya. Cimahi macet bro.”

“Ok deh, nanti kita lanjut ngobrolnya di kosan kamu ya, oke? Bye.” Aku menutup teleponku.

Waktu terasa sangat lama. Detik-detik jam kerja seolah bergerak sangat lambat. Sudah tiga bulan aku tak bertemu dengan Mawar, rindu ini serasa mau meledak. Sudah lama aku menantikan saat-saat bahagia ini.

Jam pulang kerja pun berdentang. Aku bergegas menuju terminal bus Kampung Rambutan, segera kucari bus jurusan Bandung. Hari sudah menjelang maghrib ketika sebuah bus berpenumpang penuh melintas perlahan di depanku.

“Bandung-Bandung-Bandung, Bandung bang?” teriak kondektur bus sambil menghampiriku. Aku pun naik bus itu.

“Biarlah penuh, yang penting aku segera sampai di Bandung, kasihan temanku kalau aku sampai di Bandung dini hari, besok dia masih kerja”, gumamku.

Pukul 10 malam, bus yang kutumpangi keluar tol Padalarang, aku telepon lagi kawanku, memberitahunya agar menjemput di tempat yang sudah kita tentukan.

***

Hari masih pagi. Matahari pun belum nampak. Udara Bandung yang sangat kontras dengan Jakarta, tak lagi kuhiraukan. Aku bergegas menuju tempat wisuda Mawar.

Nampak dari kejauhan, gadis itu memakai kebaya dan berjilbab. Aku terkesima, dia sangat anggun. Cantik sekali. Dia gelisah, seperti sedang menunggu seseorang. Sesekali dia melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya. Di sekelilingnya, tampak adik dan kedua orang tuanya. Namun dia tak melihatku. Perlahan aku mendekatinya dari belakang.

“Assalamu’alaikum,” sapaku.

“Wa’alaikum salam,” jawab mawar sekeluarga, mereka agak terkejut melihat kedatanganku.

Mawar menoleh, lantas segera mencium tanganku. Senyumnya merekah. Aku salami keluarganya. Aku dan Mawar ambil jarak beberapa meter dari keluarganya.

“aku sudah lama lihatin nok dari tadi.”

“Jahat banget sih biarin Mawar nungguin.”

“Aku mau deketin, cuma ragu.” 

“Ragu kenapa?” 

“Benarkah ini Nok yang ku kenal? Kok seperti melihat bidadari yang memakai kebaya”

“Iiih… masih pagi kok sudah ngegombal!”

Tangannya mencubit pinggangku. Aku meringis. Keluarganya tampak senyum-senyum melihat tingkah kami berdua. Sayang sekali, tak lama kemudian, panitia sudah mengumumkan bahwa acara wisuda akan segera dimulai.

***

“Jangan temui lagi Mawar, Mawar sudah saya jodohkan dengan orang lain, dia akan menikah minggu depan,” pesan singkat dari ibunya mengejutkanku.

“Bagaimana bisa Mawar menikah dengan orang lain? Bukankah aku sudah menyampaikan seminggu lalu bahwa aku siap, meski sesuai kondisiku saat ini?

Beragam tanya berkecamuk dalam pikiranku. Kucoba menghubungi Mawar, nomornya tak aktif. Aku putuskan untuk pulang ke Cirebon. Tujuanku langsung bertemu dengan Mawar dan orang tuanya.

Sesampainya di rumah Mawar, tak ku lihat Mawar. Ibunya mempersilahkanku masuk.

“To the point ya, Bu. Maksud ibu apa sms seperti itu?”

“Bukannya kamu bilang minggu lalu, waktu aku tanya kapan kamu akan melamar Mawar?, kamu jawab seperti itu. Bagiku, itu adalah penolakan secara halus, kamu ga serius dengan Mawar. Maka itu, aku jodohkan dia dengan anak temanku, seorang tentara. Kebetulan dia suka sama Mawar. Kemarin, orang tuanya datang melamar Mawar, dan Mawar menerima lamaran itu. Maka aku mohon sama kamu agar menjauhi mawar. Dia akan menikah minggu depan.” 

“Berarti, Mawar ‘selingkuh’ dibelakangku,” ujarku penuh emosi.

“Jangan sekali-kali lagi kamu ngomong seperti itu! Mawar setia sama kamu tapi kamu yang tak kunjung melamarnya, membuatnya ragu!”

“Aku sudah bilang, aku siap menikah dengannya asal mau menerima kondisiku saat ini. Bukan seperti yang ibu pikirkan! Sekarang Mawar di mana? Aku ingin bicara dengannya.”

“Maafkan ibu, Ardie, ibu salah paham. Ibu serahkan keputusannya sama Mawar, meskipun ibu akan menanggung malu jika perjodohan ini tidak terjadi.”

Aku tak memperdulikan omongannya.

“Mawar ke mana?”

“Dia sedang diajak calonnya berkunjung ke rumahnya.”

“Baik, permisi bu, aku akan ke rumahnya.”

Dengan emosi tinggi, aku bergegas ke salah satu temanku, meminjam pistolnya. Lantas menuju rumah calon suaminya, akan aku selesaikan ini secara laki-laki. Sesampainya di sana, kulihat Mawar dan calonnya sedang ngobrol di teras rumah. Temanku yang kupinjam pistolnya, tak kuketahui ternyata membuntutiku bersama kawan-kawannya yang lain. Dia khawatir melihat tingkahku. Aku keluarkan pistol. Kutodongkan ke kepala calonnya. Mawar terkejut bukan main dan menangis sejadinya.

“Apa maksud kamu merebut cewekku?” Ujarku.

Aku hajar kepalanya dengan gagang pistol. Teman-temanku mencegahku, merangkul, dan merampas pistol itu.

“Aku tak merebut siapa pun, aku tak tahu kalau Mawar sudah punya cowok.” ucapan calonnya terlihat jujur.

“Aku yang salah, Ardie. Aku yang menerima lamarannya. Aku meragukan cintamu karena jawabanmu minggu lalu, kamu seolah tak serius berhubungan denganku. Tapi asal kamu tahu, dengan siapapun aku menikah, aku tak kan berhenti mencintaimu. Dulu aku pernah bersumpah pada diriku sendiri, siapa pun yang melamarku lebih dulu, aku akan menerimanya meskipun aku tak mencintainya.”

Pipiku terasa hangat. Air mataku menetes perlahan. Badanku terasa lemas. Kucoba tegar tapi tiba-tiba semua menjadi gelap.

“Cinta memang tak harus memiliki.”

***

sepoci madu
masihkah tertuang
dalam cawan hati
kiranya
madu dalam cawan hatiku
tidak memabukan
bila kau menikmati separuhnya
dan
cawan dengan arak dan anggur jenuh
karna ku tak mau tertawa
dalam pantai hayalan
dentingan kasih
masihkah angan mengalun
bersama aliran madu-madu
walau kau kian jauh

(22/02/2002)

Post Scriptum: kisah ini terinspirasi dari kisah seorang sahabat.