Pesan bagi Pelaku Bully

Saya punya teman di kantor, namanya Sajuan. Pertama kali bertemu, saya langsung curiga kalau dia tak pernah minum susu-susu HiLo semasa kecil. Pasalnya, dia tumbuh ke samping, bukan ke atas. Sebagaimana pria-tumbuh-ke-samping pada umumnya, Sajuan sering dibully terutama waktu Idul Adha.

“Uan, kok lo masih hidup? Bukannya udah disembelih ya”

“Uan, mana daging lo? Kita bagiin ke yang membutuhkan lah”

Bullying seperti di atas memang basi tapi keberadaannya macam Raffi Ahmad pada  acara-musik-tanah-air yang selalu disiarkan secara live di televisi: tak pernah absen. Bullying itu juga yang membuat pria-tumbuh-ke-samping tak pernah menikmati Idul Adha dengan tenang, dan saya yakin, bakal terus ada bahkan sampai Farhat Abbas jadi presiden. Sejujurnya saya iba pada pria-tumbuh-ke-samping yang tidak pernah luput dari bullying. Sebab, saya paham rasanya dibully atas sesuatu yang di luar kuasa kita.

“Namanya siapa, Mas?” kata orang pada suatu perkenalan.

“Saya Rian, Mas,” kata saya sambil bermanis-manis.

“Oh Rian Jombang ya?” yang bertanya tertawa tanpa merasa berdosa.

“Bukan, Mas.”

Itu contoh situasi yang mungkin terjadi. Ekspresi macam apa yang bisa saya suguhkan selain senyum kecut dalam situasi semacam itu? Entah kenapa saya disamakan dengan Rian dari Jombang. Ok, dia memang sempat ngetop. Tapi percayalah, saya heteroseksual. Justru saya curiga sama orang macam Gita Wirjawan yang menjomblo sejak mulai aqil baligh. Jomblonya karena ndak jago nyepik atau semata kedok untuk menutupi ketidakheteroan Beliau? Mungkin hanya Allah dan mereka berdua yang tahu.

***

“Kuliah dimana, Mas?”

“Di STAN, Mas.”

“Adiknya Gayus ya?”

“Bukan, Mas.”

Obrolan di atas sudah begitu klise untuk orang-orang yang sealmamater dengan saya. Kalau adik kelas, pasti. Tapi tentu bukan itu sindiran yang dimaksud si penanya, melainkan adik ideologis. Dan seandainya saya adik ideologisnya Gayus, pasti tak perlu merantau ke utara Kalimantan, tidak mungkin cuma naik Honda Revo tahun 2009. Mercy atau BMW tak mahal-mahal amat kok untuk adik ideologis Gayus.

Bullying bermateri Gayus—saya sebut dengan istilah ‘Gayusisasi’—berpengaruh ke kehidupan saya, terutama bidang asmara. Pernah sekali waktu, saya sedang berusaha mendekati salah satu teman SMA yang sudah saya incar sejak lama. Saat sedang dekat-dekattnya, tinggal eksekusi, saya dihantam Gayusisasi. Hubungan kami renggang gara-gara dia bilang, “Semua orang pajak sama aja kayak Gayus, Yan.”

Tapi sampai sekarang, kami masih berhubungan baik. Desember nanti dia menikah. I’m happy for her.

Lain cerita dengan kejadian yang dialami teman SD saya, Zulfikar Rakhmat. Fikar, nama panggilannya, lahir dengan kondisi tubuh yang berbeda dengan orang kebanyakan. Saya tak tahu namanya, yang saya ingat, si Fikar terganggu fungsi motorik di tubuh bagian atasnya. Dia kesulitan menggerakkan tangan serta dari mulutnya selalu keluar air liur. Keterbatasan itu yang membuatnya dibully oleh teman-teman SD dan SMP. Jorok, ngecesan, dan sederet kata-kata lain yang digunakan untuk membully doi. Bagi teman-teman Fikar, it’s a hell fun. Tapi tidak bagi Fikar. Sekolah adalah tempat yang menakutkan. Sampai Fikar tidak tahan lagi dan memutuskan pindah ke Qatar.

***

Dari pengalaman di atas, saya punya pesen bagi para pembully:

1. Be creative, please

Sekarang sudah tahun 2015, Jokowi sudah jadi presiden, bukan walikota lagi. Masak masih membully ‘Gayus’ atau ‘Rian Jombang’. Out of the date sekali. Ganti lah dengan materi lain. Lebih bagus lagi kalau berhubungan dengan peristiwa kekinian. Intinya, be creative !

2. Kita tak lebih baik dari orang yang kita bully

Kembali lagi ke Fikar, keputusannya melanjutkan studi di Qatar berbuah manis. Dia berhasil lulus dengan nilai hampir sempurna, 3,93. Bahkan mendapatkan kesempatan bertemu dengan pemimpin di Qatar. Sekarang, si Fikar melanjutkan S2 di Manchester. Bukan, saya tak ingin mengatakan bahwa karena bullying dari teman-temannya maka Fikar semaju itu, tapi betapa orang bisa sangat terhambat potensinya untuk tampil cemerlang di negeri ini cuma gara-gara manusia-manusia tukang bully. Fikar cuma satu dari sedikit yang beruntung bisa pergi menjauhi para pembullynya, yang tidak beruntung? Banyak! Dan saya yakin, para pembully Fikar sekarang, tak lebih baik kehidupannya.

3. There is other way for getting close

Saya paham gayusisasi dan rian-jombangisasi itu biar lebih akrab saja. Tapi banyak lho cara lain seandainya orang mau sedikit lebih keras menggunakan otaknya.

“Kuliah dimana, Mas?”

“di STAN, Mas.”

“Wah pinter ya. Sini saya kenalin sepupu saya. Cantik lho, Mas.”

Itu jauh lebih baik, dan saya yakin orang-orang seperti Mas Gita Wirjawan akan cepat menemukan belahan hatinya.

4. Berempatilah

Semua orang harus diperlakukan dengan baik. Terlebih yang lahir dengan kondisi berbeda, seringkali merasa rendah diri. Semestinya lingkungan justru bisa menguatkan mereka, bukannya membully. Ayolah, teman-teman.

Salam 848 !

  • Ahmad Heri

    gpp namanya juga bercanda, tanggapinnya juga bercanda