Pak Pri

Waktu menunjukkan pukul setengah lima, cuaca di luar sedang cerah-cerahnya tidak sebagaimana sore-sore sebelumnya, tidak ada mendung apalagi hujan. Sebagian besar pegawai di kantor ini pun mulai berkemas untuk pulang. Ada juga yang berkemas untuk terlihat hendak pulang, setidaknya hal itu dilakukan sebagai sinyal bahwa tidak ada lagi disposisi masuk untuk dikerjakan atau mungkin karena tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan. Masih ada sisa waktu setengah jam lagi sebenarnya, dan itu cukup untuk mengetik lalu mencetak satu lembar nota dinas atau membuat konsep surat atau apapun yang sudah seharusnya menjadi pekerjaan. Tetapi pegawai-pegawai di kantor ini lebih suka memilih membereskan meja dari tumpukan kertas yang berantakan atau memasukkan barang-barang pribadi ke dalam laci atau ke dalam tas atau juga ada yang mengganti sepatu dengan sandal. Kesemuanya dilakukan untuk mengisi waktu hingga tepat pukul lima lalu segera pulang.

Ada satu pertanda lain bahwa waktu sudah menunjukkan pukul lima, selain memang ada yang sengaja memasang alarm, suara seorang lelaki tua paruh baya yang memberitahukan waktu pulang bekerja akan segera tiba, tepat lima menit sebelum pukul lima sore setiap hari kerja. Kau akan bisa tahu suara ini berasal dari suara seorang lelaki tua dengan sekali mendengarkan dan tahu ini dari suara lelaki paruh baya ketika kali kedua mendengarkannya. Lelaki paruh baya ini biasa dipanggil Pak Pri, Priyo Dwi Anggun, untuk lebih lengkapnya.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore kami ucapkan kepada seluruh pegawai, alhamdulilah dari pagi hingga sore hari kita telah melaksanakan tugas kita masing-masing …,” dan seterusnya dan seterusnya. Kalimat panjang itu diucapkan dua kali.

Dengan susunan kalimat yang berbeda, suara Pak Pri ini juga muncul setiap pagi, kira-kira lima menit sebelum tepat pukul setengah delapan pagi. Kalau pagi hari, isi kalimatnya lebih untuk memberikan semangat dan mengingatkan para pegawai agar tidak lupa absen pada mesin absen finger print. Suara Pak Pri terdengar di seluruh ruangan hingga celah-celah lemari besi di gudang ATK. Suara yang keluar melalui speaker yang dipasang di tiap sudut kantor ini, ditempel di langit-langit dan di sudut ruangan, dari pintu masuk hingga pantry, dari lantai satu sampai lantai tiga.

Entah berapa banyak pegawai di kantor ini yang benar-benar masih mendengarkan suara dari Pak Pri itu. Mungkin tidak ada satu pun.

ilustrasi

Semakin mendekati pukul lima, para pegawai kantor ini satu persatu membentuk barisan di depan mesin absen. Para pegawai yang kebetulan ruangannya di lantai dua atau tiga sudah pasti kedapatan baris paling belakang. Dan ketika jam pada mesin absen juga sudah menunjukkan angka 17.00, suara rekaman yang berucap “terimakasih” dari mesin-mesin absen, bersahut-sahutan dan satu persatu pegawai mulai meninggalkan kantor.

Pak Pri selalu pulang paling akhir. Untuk ukuran seorang pegawai yang tahun depan akan pensiun, dia tergolong rajin, setidaknya untuk tetap ada di kantor. Satpam yang secara rutin memeriksa ruangan-ruangan di kantor sudah dalam keadaan terkunci, atau apakah lampu ruangan ada yang belum dimatikan, juga punya pekerjaan rutin lainnya: mengingatkan Pak Pri untuk pulang. Biasanya ketika itu, Pak Pri masih sibuk dengan mesin power amplifier dan mikrofonnya. Atau terkadang apabila semua pegawai kecuali satpam sudah tidak ada lagi di kantor, ia masih akan merapalkan kembali kalimat yang selalu ia ucapkan ketika pagi atau sore, untuk latihan atau untuk sekadar menguji apakah semua speaker masih berfungsi dengan baik. Beberapa waktu belakangan ini, dia semakin menyibukkan dirinya dengan dua benda tersebut, mengutak-atik mesin atau mikrofon atau cuma mencari letak posisi yang bagus untuk mesin dan mikrofon kesayangannya itu.

Selain semakin menyibukkan diri dengan dua benda yang sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan karirnya, Pak Pri juga semakin murung belakangan ini. Ada kegelisahan yang membuatnya jadi murung yang coba ia sembunyikan, dan itu gagal. Semua orang di kantor ini tahu dia sedang gelisah.

Setidaknya ada tiga hal yang mungkin membuat Pak Pri gelisah, pertama adalah salah satu speaker di ruangan Bagian Umum ada bunyi “kresek-kresek”, Pak Pri mengira ada yang salah dengan sambungan kabelnya. Kedua, batas waktu pengisian pendaftaran ulang pegawai yang tinggal sedikit sementara dia masih kelimpungan menata dan mengurutkan sertifikat-sertifikat hasil diklat yang pernah diikutinya (yang jumlahnya lebih dari dua puluh lima sertifikat, termasuk diklat persiapan purnabhakti yang baru saja dia ikuti). Dan yang ketiga -rasanya hal ini yang paling membuatnya gelisah- adalah instruksi dari Kepala Kantor tadi pagi, “Pak Pri buat rekaman suaranya saja, jadi tidak lagi harus repot mengucapkannya setiap pagi dan sore.” Instruksi itu seperti dentam godam tepat di samping telinganya, pikirannya mendadak sering kelana sejak itu. Besok perekaman suara dilakukan, artinya sejak besok dia tidak lagi mengucapkan salam setiap pagi dan sore sebelum waktu pulang.

Pak Pri tentu tidak merasa repot setiap hari harus mengucapkan salam pagi dan sore, berisi motivasi dan himbauan serta pengingat. Toh beberapa tahun ini hanya itu yang benar-benar bisa dia kerjakan, sama tak repotnya dengan Sisyphus yang mendorong batu dari puncak gunung hanya untuk melihatnya menggelinding berulang-ulang kali.

Beberapa tahun sebelumnya, suara Pak Pri masih lebih sering terdengar daripada sekarang ini, tugasnya adalah memanggil urutan satuan-satuan kerja yang berurusan dengan kantor, tetapi semenjak ada mesin nomor antrian, rekaman suara perempuan dari mesin yang sama akan keluar secara otomatis, menyebutkan nomor antrian tersebut dan loket yang harusnya dituju. Mesin itu menggantikan tugas Pak Pri. Suara Pak Pri bergeser sebagai pemberi informasi-informasi yang dianggap penting kepada seluruh pegawai. Namun lagi-lagi tugasnya digantikan oleh kecanggihan teknologi, informasi yang dia berikan kalah cepat dari portal informasi masing-masing pegawai maupun jaringan komunikasi lainnya. Kali ini Pak Pri sendiri yang berinisiatif untuk menggeser tugasnya menjadi pemberi salam pagi dan sore, motivasi kerja, himbauan serta pengingat agar tidak lupa absen kepada para pegawai.

Gelisah dan kekhawatiran Pak Pri wajar-wajar saja. Dia memang tidak perlu dan tidak pernah lagi khawatir memikirkan hidupnya setelah pensiun, anak-anaknya sudah tamat sekolah, punya pekerjaan dan menikah. Lagipula ada uang pensiun yang setiap bulan bisa diambil di bank, tidak banyak memang, cuma tujuhpuluh lima persen dari gajinya saat ini. Cukuplah kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur, bayar listrik dan air untuk dia dan istrinya. Kalau itu pun masih kurang buat hidup, Pak Pri boleh jadi bikin usaha pijat urut dan bekam, sesuai keahliannya. Seandainya semua berjalan dengan baik-baik saja, selepas pensiun, Pak Pri tinggal menikmati hidup dengan merawat cucu dan burung-burung kesayangannya.

Ia pun tidak perlu khawatir dengan mutasi, seperti hampir seluruh pegawai di kantor ini. Rasanya, atasannya tidak akan sampai hati harus memindahkan seorang pegawai yang akan pensiun dalam hitungan bulan. Tetapi waktu kurang dari setahun menjelang pensiun adalah waktu yang lama baginya dan itu cukup membuatnya khawatir tentang apa yang harus dia lakukan di sisa-sisa waktu yang inginnya tidak menjadi sia-sia. Pak Pri tidak pernah muluk-muluk dalam hidup, datang ke kantor, bekerja apa pun yang bisa dia kerjakan, dan menerima gaji plus tunjangan tiap bulan, sudah cukup baginya. Sepanjang hidupnya, ia tidak mempersoalkan karir. Tidak juga harus sikut-kiri-sikut-kanan buat dapat tugas-tugas tertentu, apalagi harus harus menjilat atasannya. Pak Pri cuma ingin hidup tenang di rumah dan di kantor. Itu saja.

Hari ini juga sudah cukup baginya untuk terus berada di kantor. Waktunya untuk pulang, pikirnya, sambil membereskan dua benda kesayangan itu. Hari ini, dua puluh tiga menit lebih cepat dari kemarin-kemarin, selain memang karena tidak hujan, mungkin Pak Pri pingin buru-buru menenangkan pikirannya yang sedang mawut di rumah.

Pak Pri berjalan lemas menyusuri anak tangga, kepalanya sedikit tertunduk seperti mencari-cari ada yang jatuh di jalan. Ia hanya melempar senyum kepada satpam saat berpapasan, bukan sapaan atau obrolan basa-basi seperti biasa, itu pun dengan kepala yang tetap sedikit tertunduk.

Kepala Pak Pri kembali tegak ketika sudah sampai di depan mesin absen, dadanya coba ia busungkan. Lantas ia tempelkan jempol tangan kanannya ke scanner mesin absen, tiga sampai lima detik sampai ada tanda centang hijau pada monitor mesin absen dan ada suara rekaman yang keluar dari mesin absen itu, “Terimakasih.

Pontianak, 26 November 2015