Mati

Petugas menghentikan langkah lelaki itu. Mereka memintanya membuka tas ransel yang dia gendong. Dia belum paham apa yang sedang terjadi, dia tak merasa akan ada apa-apa. Pasti ada kesalahpahaman, pikirnya. Dia ingat betul barang-barang yang sudah dia susun rapi ke dalam ranselnya malam tadi: sepotong kaos, celana jins, sebuah buku komik, dua buah charger handphone, laptop, dan sisanya baju-baju untuk anak pertamanya. Sejak kelahiran anak pertama, istrinya keranjingan belanja online, yang pengirimannya ditujukan ke kantornya di Jakarta. Dia akan membawa barang-barang itu setiap pulang ke Makassar.

***

Aku sedang ada di ruang tunggu bandara Sultan Hasannudin sekarang, bertolak menuju bandara Soekarno-Hatta. Ini adalah rute yang kutempuh setidaknya sebulan sekali. Tentu ini bukan prestasi yang layak dipamerkan, tapi kalau dianggap pamer, barangkali ada benarnya.

Ketika terbang dari Cengkareng hari Jumat kemarin, pesawatku mengalami turbulen, bohong kalau aku tidak takut. Semasa masih lajang, aku selalu bisa menghibur diri sendiri: memangnya bisa apa kalau pesawat kita jatuh? Kalaupun mati, toh banyak temannya. Sejak punya anak, kata-kata itu tak berguna lagi. Aku makin takut mati.

Ketakutan itu bertambah akhir-akhir ini, bukan cuma ketika turbulen, tapi juga ketika melewati mesin scanner. Aku sering membayangkan bagaimana jika tanpa sepengetahuanku, ada orang yang memasukkan kokain ke dalam tasku?

Aku ingat berita di tv tadi malam. Memperingati tujuhbelas Agustus, presiden berencana memberi remisi untuk narapidana seperti tahun yang sudah-sudah. Beberapa narapidana yang beruntung itu justru adalah mereka yang terjerat pasal Tipikor. Untuk kasus Narkoba, aku tak tahu apakah ada istilah remisi atau tidak. Kalaupun ada, aku tak yakin vonis mati bisa diremisi.

***

Lelaki itu digelandang ke kantor polisi. Berita acara menyebut dia diinterogasi, nyatanya dia dipukuli agar mengakui kokain yang bukan miliknya. Dia diproses ke meja hijau. Sepanjang sidang, dia cuma bilang tidak tahu. Dan dia memang benar-benar tidak tahu kenapa dalam tasnya bisa ada benda haram itu. Hakim menjatuhkan vonis mati bukan karena apa-apa selain karena dia tak bisa membuktikan bahwa kokain itu bukan miliknya. Padahal hukum yang justru tak bisa membuktikan kebalikannya, bahwa kokain itu miliknya.

“Merdeka ataoe mati!” Begitu pesan-pesan yang tertulis di tembok-tembok lusuh, di gerbong-gerbong kereta, di film-film tentang perjuangan kemerdekaan. Tapi frasa itu hanya cocok diucapkan oleh mereka yang punya pilihan, mereka yang sanggup melawan, mereka yang mati pun tetap berhak disebut pahlawan. Bukan bagi lelaki itu, yang entah bagaimana ceritanya, harus mati di tangan regu tembak. Frasa itu tak lebih dari lelucon yang tak lucu belaka. Di negeri yang sudah tujuhpuluh tahun merdeka ini, hukum bisa mencabut nyawa warga negaranya cuma karena salah paham.

Dia tahu istrinya pasti bisa membesarkan anak mereka seorang diri. Yang menjadi pikirannya adalah bagaimana cara istrinya menjawab jika anak mereka bertanya bagaimana bapak mati. Bagaimana kerasnya masa kecil yang harus dihadapi anak semata wayangnya jika orang tahu bahwa dia adalah anak seorang terpidana mati kasus Narkoba.

***

Dor!

Tak penting lagi senapan mana yang betul-betul ada pelurunya, yang jelas sebuah peluru sudah menerjang dadanya. Satu peluru dan itu cukup. Jantungnya pecah. Dadanya bolong. Tubuh yang ceking itu roboh, diikuti darah segar keluar membasahi tanah. Waktu berjalan sangat lambat. Bayangan wajah istri dan anaknya datang bergantian. Bertubi-tubi. Bertambah cepat lalu lenyap. Semuanya gelap. Di antara sengal-sengal nafasnya yang terakhir, dia sempat menyebut anak semata wayang yang baru belajar tengkurap. Suaranya nyaris tak terdengar, lindap dalam desir angin dan gesek dedaunan.

“Bapak pasti pulang, Nak …”

Makassar, 17 Agustus 2015