Di Sebuah Kota, Akhir Pekan Lalu

Di kota kecil tempat ia berkunjung, kota dengan mall lima lantai yang sedang dibangun kelewat dekat dengan alun-alun, ada banyak tempat yang ia pikir bisa jadi tempatnya jatuh cinta.

Tempat pertama yang menjadi salah satu kandidat adalah tempat terakhir yang ia datangi kemarin. Kedai kopi yang baru sekali ia kunjungi, dengan barista yang kelewat pintar yang dengan mendadak memberitahunya bahwa,“Kopi robusta jika di-pour over akan menjadi kontraproduktif”. Ia seketika tertawa tertahan, ia tahan sebaik-baiknya tapi gagal. Karena ia tahu betul kata “kontraproduktif” tidak berarti apa-apa baginya dalam hal meminum kopi. Dia berbisik sambil menahan tawa pada orang yang bisa membuatnya jatuh cinta, yang ikut mendengus tertawa di hadapannya sambil menutup buku menu. Bagaimana sih, bisiknya lirih saat si barista menjauh. Harusnya barista ini paham bahwa ia sangat awam soal kopi.

Di kedai itu, mereka bicara soal apa saja. Sebagian besar soal hidup dan cinta, dua topik klise kesukaan mereka berdua, dua hal yang semakin lama semakin jarang ia bahas dengan orang lain. Termasuk pula dengan kekasihnya. Ah, kekasihnya. Ia mengalihkan pandang dari orang di hadapannya, menelan ludah, berharap rasa tak enak yang muncul barusan dari pikirannya ikut tertelan. Ia melihat sekitar dengan gugup. Kedai sepi, hanya ada mereka dan barista. Geragap, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sedang di kota asing. Tak ada yang kenal ia. Ia menatap orang di hadapannya. Kurang tidur dan kelelahan, matanya sayu dan kopi tak membantu, tapi orang ini masih juga menemaninya berbincang. Orang yang bisa membuatnya jatuh cinta, dengan mata sayu di hadapannya, bercerita banyak tentang pekerjaan. Sejuta proyek, sejuta rencana, sejuta ide yang membuatnya iri setengah mati pada sel abu-abu orang ini. Ia menyesap kopinya banyak-banyak. Orang di hadapannya memandang deretan ruko di sebelah mereka sambil bergumam mengajak pulang.

“Tidak mau. Sebentar lagi. Aku mau mendengar lebih banyak lagi.”

Orang itu mengangkat bahu. Mereka memesan segelas kopi lagi, masing-masing bertukar pesanan. Kebetulan yang menyenangkan, pikirnya. Ia tersenyum, otaknya mulai menghubungkan hal-hal kecil yang tak penting. Orang yang bisa membuatnya jatuh cinta menyesap kopi dari gelas keduanya, mulai bicara soal kisah cintanya di kota kecil, yang sore itu berawan. Kota yang jadi lokasi kisahnya bertahun lalu. Ia sudah sering mendengar tentang kisah cinta orang ini dengan orang-orang lain, juga kisah yang satu ini. Tapi tetap saja ia dengarkan dengan seksama, mencatat detailnya diam-diam di pikiran entah untuk apa. Mungkin agar suatu hari ia bisa mengira-ngira orang di hadapannya akan menceritakan apa pada orang lain tentang dirinya. Kisah mereka, yang mungkin juga, sebenarnya, tak pernah benar-benar ada.

Di tengah kisah cinta orang yang bisa membuatnya jatuh cinta, ia sibuk menyelisik hatinya sendiri.Teringat bagaimana di akhir pekan ini, ia banyak tertawa terbahak-bahak. Dua hari ini, banyak senyumnya yang mencapai mata. Orang yang bisa membuatnya jatuh cinta berkomentar, “Kau pasti sudah lama tidak tertawa seperti itu.” Iya, lama sekali. Ia tahu, meski diam-diam sibuk menyangkal, bahwa sumber kebahagiaannya adalah menghabiskan waktu bersama orang ini. Bodoh, batinnya. Ia menghabiskan kopinya. Orang di hadapannya mengajak pulang lagi. Kali ini ia iyakan. Mereka berjalan pulang. Tak ada yang benar-benar jauh di kota kecil itu, kata orang yang bisa membuatnya jatuh cinta. Jadi mereka terus berjalan meski sebenarnya taksi sudah melewati mereka beberapa kali. Kadang bergandengan, seringnya tidak. Kadang bicara, kadang pula diam. Ia tersenyum tanpa sadar.

Sepanjang jalan, ia tahu, kandidat kedua tempatnya bisa jatuh cinta adalah trotoar. Bukan rahasia bahwa ia menyukai aktivitas jalan kaki lebih dari siapapun di kalangannya. Kota kecil tempatnya berada adalah salah satu bagian dunia yang baik untuk berjalan kaki. Di sore sebelumnya, hari pertama ia datang, langit kota itu berawan, mobilnya tak banyak, trotoarnya lebar, dan yang membuatnya senang, ia suka bila digandeng saat menyeberang. Konyolnya, ia mungkin malah jatuh cinta di zebra cross. Ia ingat, saat menyeberang, otaknya menganalisis betapa halus kulit orang yang bersamanya di kota kecil itu, pikirannya terlempar pada punggung orang itu dan sabun bayi di kamar mandi hotel. Dan ia setengah berharap jalanan di kota ini melebar jadi sebesar jalanan protokol ibukota, hanya agar ia bisa merasakan jemari orang itu lebih lama beberapa detik. Ia tertawa dalam hati. Bodoh, batinnya.

Di seberang jalan, mereka duduk memesan makan siang terenak di kota. Dan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta bergumam bahwa dia sebenarnya ragu mengundang ia ke kota kecil itu karena takut harinya yang malas terganggu. Ia tertawa. Sial, gumamnya. Kalau saja mereka tidak menghabiskan seharian bercinta, ia pasti sedang bertanya-tanya apa ia memang begitu tidak diinginkan. Ia sendiri nyaris membatalkan kepergiannya. Untuk apa, pikirnya, ia repot-repot naik kereta sendirian ke kota kecil asing menemui orang yang selama sebulan terakhir nyaris tidak bicara dengannya. Sebulan terakhir, yang ia ingat dari orang di hadapannya hanyalah kata-kata negatif. Kecewa. Marah. Abai. Orang itu, duduk di hadapannya sambil merokok dengan tenang, berkali-kali merajuk karena ia abaikan. Ia ingin sekali bilang bahwa kalau ia bisa, ia akan menjadikan orang itu prioritasnya. Kalau ia bisa, ia akan bertemu dengan orang itu tiap hari, menemaninya kemana-mana, mendengarkannya bicara sehari-semalam. Tapi kata-kata tidak akan mengubah apapun. Ia putus asa. Manusia favoritnya merajuk. Ia bisa apa selain langsung mengiyakan saat ada kesempatan berbaikan?

Kemarin, saat ia sampai di stasiun, orang yang bisa membuatnya jatuh cinta, si perajuk handal itu, menjemputnya. Pukul tiga pagi di kota kecil sesepi yang sudah ia duga. Ia sendiri tidak tahu akan dijemput, ia sudah berencana tidur-tidur ayam di stasiun berpura menjadi turis kere. Lagipula meminta orang yang sedang kesal padamu untuk menjemput terdengar tidak pantas, tapi saat keluar pintu stasiun dan menemukan sosok yang ia rindu setengah mati menunggunya di sebelah taksi, ia merasa seringan awan.

Stasiun. Ah, tentu ia bisa jatuh cinta di stasiun. Di sela nada familiar pengawal pengumuman yang ia akui sebenarnya membuatnya gelisah, stasiun selalu jadi salah satu tempat favoritnya. Ia ingat mereka pernah melewatkan kereta mereka dengan sengaja, hanya demi bisa bersama lebih lama. Kali ini, di perjalanan pulang dengan kereta, yang seharusnya mereka isi dengan tidur karena jadwal tidur di akhir pekan milik orang yang bisa membuatnya jatuh cinta terganggu karena kehadirannya, ia sibuk menatap-natap wajah orang di sebelahnya. Ia tahu, begitu kereta sampai di stasiun dan mereka berpisah, kembali pada kekasih masing-masing, mereka akan kembali jadi mereka yang biasa. Mereka yang bertemu sebisanya, menyapa sebisanya, bercinta sebisanya. Pun, ia memutar tubuh, balik menatap jendela kereta, ia tahu orang di sebelahnya punya banyak kekasih lain yang bisa menggantikannya saat ia tak bisa. Belum pernah ia peduli sebelumnya. Tapi saat kereta melaju pulang setelah akhir pekan yang jarang ini, ia pikir, mungkin sebenarnya ia hanyalah sekadar nomor lain. Apalah ia. Ia menatap gelap di luar jendela, tak berani mengutarakan isi kepalanya pada orang di sebelahnya. Untuk apa, pikirnya. Ia menelan ludah, berharap getir yang ia tak sangka akan muncul bisa menghilang segera.

Mereka semakin mendekati rumah, mendekati pisah. Orang yang bisa membuatnya jatuh cinta terbangun, bersandar ke bahunya. Ia mengecup pelipisnya lembut.

Ia bisa jatuh cinta.

Tak seharusnya.